• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. Status Keanekaragaman Hayati

4.3. Ancaman penyakit infeksius pada Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di

Forum HarimauKita

Konflik satwaliar dengan manusia merupakan fakta yang sering terjadi selama dua dekade terakhir ini. Penyebab konflik tersebut dapat dikategorikan menjadi empat bagian, yaitu fragmentasi habitat, populasi mangsa, aktifitas manusia dan perilaku alami satwaliar. Saat ini, laju fragmentasi habitat merupakan hal yang semakin sulit dibendung, apalagi ditambah dengan meningkatnya aktifitas antropogenik di kawasan hutan, seperti perambahan, pembukaan lahan perkebunan, dan illegal logging turut menambah percepatan perubahan habitat. Akibatnya, wilayah jelajah hewan-hewan dengan daya jelajah yang luas semakin berkurang, termasuk habitat dan populasi mangsa dari satwaliar juga ikut berkurang. Adanya perubahan ekologis di alam ini, memicu perubahan perilaku alami satwaliar. Pencarian mangsa sampai di areal pemukiman manusia hingga konflik dengan manusia merupakan resiko ekologis yang dialami oleh satwaliar. Bengkulu merupakan salah satu kantong konflik satwaliar. BKSDA Bengkulu melaporkan bahwa telah terjadi 143 kasus konflik satwaliar sepanjang 2007 hingga 2014. Konflik satwaliar tersebut didominasi oleh konflik antara harimau dan manusia (human tiger conflict/HTC) sebanyak 78 kasus, dan sisanya merupakan konflik antara gajah dan manusia (human elephant conflict/HEC). Konflik HTC terjadi di 8 kabupaten, dengan frekuensi kejadian terbesar ditemukan di Kabupaten Seluma (36,8%) dan frekuensi terkecil ditemukan di Kabupaten Bengkulu Selatan (1,5%). Frekuensi kasus HTC pada 6 kabupaten lainnya meliputi, Kabupaten Kaur (23,5%), Kabupaten Lebong (23,5%), Kabupaten Bengkulu Utara (19,1%), Kabupaten Mukomuko (8,8%), Kabupaten Kepahiang (4,4%) dan Kabupaten Bengkulu Tengah (4,4%). Konflik HEC terjadi di 2 titik, yaitu Kabupaten Bengkulu Utara (49,2%) dan Kabupaten Mukomuko (21,5%). Sejak tahun 2012, sebaran titik konflik HTC telah merata di setiap tipe lanskap yang ada di Bengkulu, seperti kawasan suaka alam maupun hutan produksi.

Konflik antara harimau dan manusia, maupun hewan/ternak lainnya menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan manusia, harimau maupun hewan ternak. Sepanjang

tahun 2007 hingga 2014, konflik tersebut menyebabkan kematian manusia (7 orang), harimau (4 ekor), hewan peliharaan (4 ekor) dan hewan ternak (96 ekor), maupun korban luka (manusia terluka sebanyak 9 orang dan harimau terluka 5 ekor). Hingga kini, kejadian konflik antara harimau dan manusia masih terus terjadi di Bengkulu.

Upaya penanggulangan konflik antara harimau dan manusia dapat menggunakan pendekatan kesehatan harimau. Berdasarkan data pengamatan BKSDA Bengkulu, 9% dari 78 kasus konflik antara harimau dan manusia disebabkan oleh penyakit infeksius dan perilaku abnormal. Dua indikator konflik HTC ini tersebar merata di seluruh lanskap Bengkulu, secara spesifik ditemukan di 6 desa.

Jenis penyakit infeksius yang menyerang harimau terdiri atas: 1) penyakit yang disebabkan oleh parasit (parasitic disease), 2) penyakit yang disebabkan oleh bakteri (bacteria disease), 3) penyakit yang disebabkan oleh virus, namun sifatnya masih dugaan (suspect viral desease). Ketiga penyakit ini ditemukan di lanskap yang berbeda-beda (Gambar 1). Parasitic disease ditemukan di wilayah Desa Mekar Jaya, Kabupaten Seluma (Gambar 1 - kiri), banyaknya serangan yang terdiri dari parasitic disease dan suspect viral disease ditemukan di wilayah Desa Talang Sebaris, Kabupaten Seluma (Gambar 1 - tengah), dan bacteria disease ditemukan di wilayah desa Tebat Nonot, kabupaten Kepahyang (Gambar 1 – kanan). Karakteristik penyakit parasitic disease dan bacteria disease adalah bersifat zoonosis, artinya penyakit ini bersumber dari hewan dan dapat menulari manusia. Ketiga jenis penyakit ini mendukung perubahan perilaku harimau dan berujung pada resiko konflik.

Konflik antara harimau dan manusia juga dapat disebabkan oleh luka traumatis harimau (traumatic injury). Rekaman medis harimau ini ditemukan di 5 kabupaten, yaitu Kabupaten Seluma (5 kasus), Kabupaten Bengkulu Utara (1 kasus), Kabupaten Lebong (2 kasus), Kabupaten Mukomuko (3 kasus) dan Kabupaten Bengkulu Selatan (1 kasus).

Penyimpangan perilaku harimau juga menjadi salah satu penyebab adanya konflik antara harimau dan manusia. Perilaku abnormal harimau dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu untuk harimau kelompok anak akan mengalami ketidakmampuan dalam mengenali wilayah jelajah, sedangkan untuk harimau dewasa akan mengalami kehilangan preferensi ruang hidup, sehingga akan mengikuti manusia, mendatangi pemukiman manusia dan bahkan tidur di pemukiman manusia. Sebaran perilaku abnormal harimau ditemukan di 4 kabupaten, yaitu Kabupaten Seluma, Kabupaten Bengkulu Utara, Kabupaten Lebong, dan Kabupaten Kepahiang. Masing-masing kabupaten ditemukan 1 kasus.

Gambar 1. Peta lokasi sebaran penyakit infeksius yang menyerang harimau Sumatera di Bengkulu

Metode perawatan harimau pasca konflik dilakukan melalui dua jenis pendekatan, yaitu pendekatan untuk spesimen hidup dan pendekatan untuk spesimen mati. Untuk spesimen hidup, prosedur yang harus dilakukan meliputi 2 tahapan, yaitu: tahap 1 adalah anamnesa dan gejala klinis, dan tahap 2 pemeriksaan spesimen, meliputi pemeriksaan darah (hematologi, blood chemistry, blood smear), pemeriksaan kotoran/feces (sedimentasi & flotation) dan pemeriksaan parasit (identifikasi). Jika spesimen mati, maka prosedur yang dilakukan lebih kompleks, yang terbagi atas 2 tahapan juga, yaitu: tahap 1 terdiri atas 3 tindakan (anamnesa, gejala klinis dan pemeriksaan nekropis), dan tahap 2 adalah tahap pemeriksaan spesimen, meliputi: pemeriksaan organ-histopatologi (hematosin eosin/ he), pemeriksaan kotoran (feces)–parasitologi (sedimentasi & flotation), pemeriksaan parasit–parasitologi (identifikasi), pemeriksaan darah–blood smear (uji giemsa), pemeriksaan darah–hematologi & blood chemistry dan kultur bakteri.

Upaya konservasi harimau dapat digali melalui pendekatan kesehatan harimau berbasis konflik. Pendekatan ini mengedepankan masalah kesehatan harimau untuk menekan resiko konflik. Dukungan para pihak sangat diperlukan untuk menyukseskan pendekatan ini, seperti penyediaan unit perawatan harimau yang maksimal. Saat ini, konflik harimau-manusia banyak terjadi di areal konsesi perusahaan, namun, fasilitas perusahaan untuk menangani keberlangsungan hidup satwa masih minim. Untuk itu, kebijakan pro keberlanjutan hidup satwa pasca konflik sangat penting diterapkan di perusahaan dengan potensi konflik yang tinggi. Penguatan kebijakan hukum untuk kasus-kasus kejahatan satwaliar sangat diperlukan sehingga dapat memperkuat sistem konservasi satwaliar.

Menyikapi tantangan di atas, BKSDA bersama pemerintah lokal, LSM lokal, pihak swasta dan masyarakat Bengkulu telah melakukan berbagai upaya penanggulangan konflik satwaliar bersama. Penyelamatan satwaliar dari konflik dan perburuan dalam kondisi hidup merupakan capaian yang berhasil dilakukan oleh BKSDA sejak tahun 2007. Penyadartahuan masyarakat melalui edukasi lingkungan, baik melalui inisiatif mandiri maupun bantuan asing juga telah dilakukan. Kegiatan patroli rutin juga dilakukan oleh BKSDA & mitra untuk kawasan TWA Seblat, sedangkan patrol di kawasan di Mukomuko dilakukan oleh masyarakat lokal. Pelatihan mitigasi konflik satwaliar juga telah dilakukan oleh BKSDA pada kelompok masyarakat dan swasta dengan resiko konflik tinggi. Saat ini, pengembangan ekowisata berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat juga sedang digagas oleh masyarakat dan LSM lokal, dengan menggunakan bantuan dana Tropical Forest Conservation Action/TFCA. Pada tahun 2014, penguatan kolaborasi bersama para pihak dalam penanganan konflik juga telah diperkuat melalui penandatanganan MoU kerjasama antara KKH-PHKA dengan pemerintah daerah Provinsi Bengkulu.