BAB IV PEMBAHASAN
A. Strategi Advokasi Walhi Sulsel Melalui Model Information Politics 38
Strategi advokasi ini merupakan strategi advokasi yang digunakan oleh NGO guna memperbesar / memperluas informasi atau isu yang mereka angkat menjadi isu atau topik transnasional. oleh karena itu, penulis sebelumnya pada Bab III Gambaran Umum menyebutkan bahwa walhi sulsel secara khusus untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat dengan cepat mengenai isu reklamasi CPI bekerjasama dengan BothENDS selaku NGO asal Belanda
yang merupakan asal perusahaan dari aktor utama reklamasi proyek CPI Makassar.
Hasil analisis penulis mendapati bahwa walhi sulsel dalam menyuarakan dan menginformasikan terkait penolakannya terhadap proyek reklamasi CPI terbagi kedalam beberapa model Information Politics diantaranya:
1. Pemanfaatan Internet
Walhi Sulsel menyadari bahwa untuk mendapatkan efek yang lebih dengan apa yang mereka perjuangkan pada protes proyek reklamasi CPI mereka harus menggunakan internet sebagai media penyebarluasan informasi yang lintas negara.
Pada sisi lain, zaman yang serba digital membuat walhi sulsel dengan mudah mendapatkan aliansi dengan penyebarluasan informasi yang telah mereka lakukan sebelumnya.
Memobilisasi gerakan untuk melakukan aksi bahkan menciptakan opini publik terkait bagaimana isu reklamasi CPI mempengaruhi kondisi lingkungan, sosial bahkan ekonomi masyarakat pesisir dilakukan walhi sulsel guna melampaui kekuatan dari pemerintah.
Walhi sulsel turut memandang Sosial media sebagai platform yang tidak mengenal batasan gender, usia, warna kulit bahkan jabatan. Oleh karena itu sosial media merupakan jaringan yang kuat untuk membantu menyuarakan terkait protes isu reklamasi CPI.
Berikut adalah beberapa contoh bagaimana Walhi Sulsel dan BothENDS memanfaatkan internet sebagai salah satu bentuk gerakan information politics nya:
a) Pers Rilis Walhi Sulsel 1) Website Walhi Sulsel
Website yang beralamat di https://walhisulsel.or.id/ merupakan website resmi milik walhi sulawesi selatan. Pada website ini walhi sulsel menggalang kampanye dengan tagline
#PULIHKANINDONESIA, kampanye ini terbagi menjadi 3 tema besar yakni TOLAK REKLAMASI DAN TAMBANG PASIR LAUT, JAGA KARST JAGA KEHIDUPAN, SELAMATKAN RIMBA TERAKHIR. Sementar itu, untuk kegiatan advokasi yang lebih detail walhi sulsel mempostingnya di media sosial mereka. Pada website resmi walhi sulsel ini terdapat tiga akun media sosial milik walhi sulsel. Akun – akun tersebut seperti akun twitter @walhi_sulsel, Akun fanspage Facebook Walhi Sulawesi Selatan dan akun instagram walhi.sulsel.
2) Twitter
Pada akun twitter resmi @walhi_sulsel, tercatat telah bergabung sejak maret 2015, memposting 1.529 tweet dengan total 3.728 pengikut. Pada akun twitter walhi, retweet walhi sulsel pada tanggal 26 maret 2018 menyebutkan bahwa Aliansi Selamatkan Pesisir (ASP) sebagai salah satu NGO yang berafiliasi dengan walhi sulsel
melakukan aksi di sela rapat dengar pendapat pansus RZWP3K Sulsel (walhi sulsel, 2018). Ini merupakan salah satu contoh bagaimana walhi sulsel melakukan gerakan advokasi nya dengan cara menyebarluaskan informasi melalui media sosial twitter.
Postingan lain yang secara langsung diterbitkan oleh walhi sulsel terkait protes reklamasi CPI adalah berupa poster dengan tagline
“proyek reklamasi cpi itu merusak”. Pada poster tersebut, walhi menuliskan bagaimana proyek cpi telah menimbulkan kerusakan di pesisir kota makassar dan takalar dengan dampak 17 desa abrasi, 19 rumah rusak dan 43 orang tergusur (walhi sulsel, 2018).
Walhi sulsel pada tweet lain memposting poster yang berisikan 9 alasan tambang pasir harus dihapus dari rencana zonasi pesisir sulsel, pada tweet ini walhi sulsel menggalangkan aksi 4 hari menjelang kampanye serentak terkait peringatan hari lingkungan hidup sedunia yang akan diperingati setiap tahunnya pada tanggal 5 juni (sulsel, 2018).
Dari beberapa postingan awal, terlihat bahwa walhi sulsel secara terus menerus menggalakkan gerakan untuk menolak terkait proyek reklamasi cpi makassar. Postingan media sosial twitter yang begitu cepat tersebar membuat gerakan ini merupakan gerakan penyebarluasan informasi yang efisien.
Walhi sulsel dalam postingannya di media sosial twitter seringkali berharap agar para pejabat, stakeholder yang mereka tag / tandai pada postingan melihat dan merespon postingan mereka.
3) Instagram
Akun instagram milik walhi sulsel merupakan akun sosial media milik walhi sulsel yang terbilang baru namun sangat aktif dalam menyebarluaskan informasi, tercatat postingan pertama yang walhi sulsel posting adalah pada tanggal 12 mei 2018 (Walhi Sulsel, 2018).
Pada hari yang sama, walhi sulsel memposting sebuah poster ajakan melakukan gerakan bersama Aliansi Selamatkan Pesisir dengan memanfaatkan Car Free Day pada minggu 13 mei 2018. Walhi sulsel dalam postingannya menyebutkan bahwa reklamasi telah memberikan dampak negatif bagi kehidupan nelayan di pesisir makassar dan takalar serta merusak ekosistem dan biota laut (Walhi Sulsel, 2018).
Gerakan aksi solidaritas ini kemudian terulang ketika walhi sulsel dalam postingannya tanggal 20 juli 2018 memposting aksi kampanye di pintu gerbang proyek CPI 19 juli 2018, aksi kampanye ini dilakukan bersama dengan Aliansi Selamatkan Pesisir (ASP) (Walhi Sulsel, 2018).
Walhi sulsel dalam sosial media instagram nya secara rutin memposting poster – poster yang berisi ajakan untuk melakukan gerakan, ajakan – ajakan tersebut secara umum seperti undangan konsolidasi serta undangan menghadiri kegiatan aksi.
b) Pers Rilis BothENDS
Merespon apa yang dilakukan oleh walhi sulsel pada ranah lokal, website resmi milik BothENDS terdapat sebuah rilis, dimana pada rilis tersebut mereka menjelaskan bahwa BothENDS bersama – sama Walhi Sulawesi Selatan pada akhir november 2019 telah mengajukan pengaduan resmi ke lembaga kredit ekspor Belanda, Atradius DSB.
Atradius Dutch State Business NV merupakan sebuah perusahaan pemberi kredit yang berada di dalam Atradius Group bertugas untuk mengelola Fasilitas Kredit Ekspor Resmi Belanda atas nama Negara Belanda sejak tahun 1932 (Atradius DSB).
Atradius DSB sendiri merupakan aktor yang bertanggung jawab atas mengalirnya dana bantuan kredit berbentuk asuransi yang diberikan kepada Boskalis Royal Westminster N.V selaku perusahaan induk dari PT. Boskalis Indonesia yang mengerjakan proyek Reklamasi CPI.BothENDS dan Walhi mengatakan bahwa Atradius DSB sebagai selaku pemberi kredit berbentuk asuransi kepada PT Boskalis dalam menjalankan proyek Reklamasi nya menghiraukan peringatan masyarakat lokal atas konsekuensi negatif dari proyek reklamasi di pesisir makassar dan tetap menyarankan kepada pemerintah Belanda untuk memberikan asuransi kepada perusahaan pengerukan PT Boskalis untuk pelaksanaan proyek tersebut (BothENDS, 2019).
Muhammad Al Amin, Direktur Eksekutif WALHI Sulawesi Selatan yang berkunjung ke Belanda mendapatkan wawancara dan mengatakan kepada BothENDS bahwa
“Komunitas Nelayan tidak serta merta menentang proyek reklamasi lahan, namun mereka ingin agar terlibat dalam perancangan dan implementasi proyek. Cukup memungkinan untuk melakukan projek seperti ini tanpa segala jenis bahaya terhadap rakyat dan alam” (Amin, 2019) c) Rilis Laporan Rutin
1) Walhi Sulsel
Catatan akhir tahun walhi sulsel pada tahun 2018 dengan judul
“Catatan Akhir Tahun Walhi Sulawesi Selatan 2018 : Degradasi Lingkungan dan Pengkaplingan Ruang Hidup Rakyat Terus Meningkat, Keselamatan Rakyat Terancam”
dan juga 2019 yang berjudul “Catatan Akhir Tahun Walhi Sulsel 2019 : Degradasi Lingkungan & Bencana Ekologis Di Sulawesi Selatan” merupakan dua laporan catatan akhir tahun yang dirilis oleh walhi sulsel di internet dan website resmi walhi sulsel.
Hasil pencarian penulis yang kemudian dapat memperoleh dan menganalisis catatan akhir walhi sulsel menjadi bukti bahwa walhi sulsel menyebarluaskan informasi dalam rilis laporan yang berdasarkan kajian ilmiah dan studi lapangan. Penyebarluasan informasi dalam bentuk rilis laporan ini merupakan penyebarluasan data yang diperoleh walhi sulsel kepada hal layak umum terkait kondisi lingkungan di sulawesi selatan selama periode satu tahun.
2) Walhi Sulsel Bekerjasama Dengan BothENDS
Terdapat juga laporan lain walhi sulsel yang bekerjasama dengan BothENDS selaku NGO asal Belanda dibawah naungan FoEI yang berjudul “Laporan Final Advokasi Penyelamatan Pesisir WALHI Sulsel-BothENDS” . laporan ini merupakan laporan khusus yang walhi sulsel buat untuk melaporkan kegiatan advokasi walhi sulsel terkait kegiatan advokasi yang walhi sulsel lakukan dalam menyelamatkan pesisir sulawesi.
Laporan ini juga membuktikan bahwa walhi sulsel bekerja sama dengan organisasi transnasional dalam kegiatan advokasi nya, rilis laporan yang kemudian disebarluaskan hingga organisasi transnasional turut membuktikan walhi sulsel melakukan kegiatan penyebarluasan informasi yang sistematis dan lintas batas.
B. Strategi Advokasi Walhi Sulsel Melalui Model Symbolic Politics
Strategi symbolic politics adalah bentuk strategi advokasi yang digunakan yang dilakukan oleh walhi sulsel dengan cara memberikan informasi tentang isu yang sedang diangkat oleh NGO mereka. Namun penyebarluasan informasi ini menggunakan simbol – simbol, tanda – tanda, hingga peringatan atau momen – momen tertentu yang sifatnya transnasional.
Pada kasus reklamasi makassar, hasil analisis penulis mendapatkan bahwa baik Walhi sulsel maupun BothENDS, keduanya melakukan strategi advokasi model ini dengan mengangkat simbol keadilan atau kesetaraan bagi masyarakat nelayan lokal. Hal ini sesuai dengan hasil dibawah ini:
1. Walhi Sulsel
Akibat dari dampak yang ditimbulkan oleh reklamasi proyek CPI makassar terhadap masyarakat membuat jalur masyarakat nelayan yang berada dekat dengan proyek terkurung. Hal ini dikarenakan akses yang nelayan miliki sebelumnya adalah dengan menggunakan perahu untuk membawa ikan dengan perahu kecil berupa kanal kecil (Rusdianto, 2015).
Tidak hanya itu, Reklamasi yang jelas merusak lingkungan kemudian menimbulkan efek dampak sosial dari pembangunan reklamasi dirasakan oleh masyarakat sekitar pesisir. Selain karena kerusakan daerah pesisir yang telah menghilangkan daerah hasil tangkapan masyarakat nelayan, kajian Walhi Sulsel mendapati bahwa terdapat sekurangnya 3000 kapal dan perahu nelayan yang terdampak dan terancam dengan adanya kegiatan reklamasi mega proyek CPI, terdampak nya mereka ini berasal dari wilayah kecamatan Mariso dimana mereka kesulitan dalam mencari ikan serta jalur transportasi perahu mereka yang juga semakin menyempit seiring pelaksanaan Mega Proyek CPI (Aspan, 2017, p. 175).
Daya rusak yang lebih detail dan massif dampaknya disebutkan oleh kajian walhi dimana alokasi ruang reklamasi yang diberikan oleh pemerintah akan menimbulkan dampak buruk terhadap terumbu karang, ekosistem perairan pesisir seperti mangrove yang habitat alaminya terdapat di wilayah kecamatan mariso, tallo, biringkanayya hingga tamalanrea diprediksi akan hilang. Hilangnya habitat alami seperti
mangrove akan berdampak domino terhadap kehidupan biota laut alami yang mendiami habitat mangrove (Aspan, 2017, p. 186).
Ketidakadilan akan dampak positif akan dibangunnya proyek CPI dengan banyaknya dampak negatif yang ditimbulkannya membuat walhi melakukan gugatan ke PTUN Makassar, dimana Walhi Sulsel menilai bahwa AMDAL yang dikeluarkan untuk proyek tersebut haruslah ditinjau karena dampak yang ditimbulkan nya. Walhi sulsel tercatat melakukan gugatan pada 29 Januari 2016 dengan nomor perkara No.11/6/2016/PTUN.MKS (Chandra, 2016).
2. BothENDS
Setelah BothENDS melakukan upaya klarifikasi dan tuntutan kepada Boskalis dalam rangka permintaan informasi terkait proyek ekstraksi pasir yang kontroversial namun tidak digubris, BothENDS melakukan tuntutan hukum terhadap boskalis terkait dampak yang ditimbulkan oleh proyek reklamasi yang mereka kerjakan, proyek reklamasi CPI (BothENDS, 2020).
Niels Hazekamp, salah seorang penasihat kebijakan BothENDS yang sempat mengunjungi Makassar untuk melihat dampak yang ditimbulkan oleh reklamasi proyek CPI kemudian mengatakan bahwa
“Para nelayan merasa diabaikan, karena mereka tidak diberi informasi tentang risiko sosial, ekonomi dan lingkungan dari proyek atau terlibat dalam pengambilan keputusan seputar pelaksanaannya,” kata Niels Hazekamp dari Both ENDS. "Bersama dengan mitra lokal kami WALHI Sulawesi Selatan, kami telah mendorong Boskalis selama setahun untuk berdialog dengan para nelayan dan untuk memberikan informasi
dasar, seperti penilaian dampak lingkungan. Itu wajib menurut undang-undang dan di bawah standar internasional bahwa Boskalis sendiri mengklaim mendukung. Sayangnya, perusahaan tidak memenuhi permintaan kami, sehingga kami tidak punya pilihan lain selain membawanya ke pengadilan. "
Sehingga melalui jalur hukum, Both ENDS menginginkan pengadilan Belanda memerintahkan Boskalis untuk memberikan informasi tentang proyek tersebut, termasuk risiko sosial dan lingkungan. "Informasi ini akan memberikan wawasan tentang risiko yang ditimbulkan proyek bagi para nelayan," kata Hazekamp. "Itu akan memberi mereka posisi yang lebih setara dan memungkinkan mereka untuk mempertahankan hak-hak mereka."
Tercatat bahwa ini adalah pertama kalinya pengadilan Belanda diminta memutuskan apakah perusahaan Belanda yang aktif di luar negeri dapat diwajibkan memberikan informasi kepada pemangku kepentingan langsung jika hak mereka dilanggar.
Menurut bothends, Ketidakadilan yang masyarakat dialog adalah ketika proyek reklamasi dilakukan tanpa dialog dan tidak ada informasi yang diberikan terhadap masyarakat lokal. Dimana bothends mencatat bahwa ketegangan lokal meningkat dengan cepat Dalam beberapa bulan terakhir dimana sekitar 1.000 nelayan telah melakukan protes terhadap kegiatan kapal Boskalis Queen of the Netherlands.
Hasil analisis penulis juga menunjukkan bahwa bothends prihatin tentang bahaya eskalasi dan mengutuk kekerasan dalam bentuk apapun dimana bothends terus mendorong Boskalis untuk terlibat dalam dialog
yang damai dan konstruktif, di mana semua pemangku kepentingan perlu mendapatkan informasi dengan baik.
Akibat proyek ekstraksi pasir Boskalis di Sulawesi Selatan nelayan lokal mengalami penurunan hasil tangkapan hingga 80% bagi sebagian komunitas nelayan dan erosi pantai, mengakibatkan kuburan dan sejumlah rumah menghilang ke laut.
Melalui aksi hukum ini, Both ENDS bertujuan untuk meningkatkan posisi nelayan dalam proyek yang sedang berjalan. Kasus ini juga diharapkan dapat memperjelas kewajiban perusahaan untuk beroperasi secara transparan dan memberikan informasi kepada masyarakat lokal yang terdampak.
C. Strategi Advokasi Walhi Sulsel Melalui Model Leverage Politics
Strategi Advokasi Model Leverage Politics adalah sebuah model gerakan dimana kemampuan untuk menyerukan isu yang diangkat kepada aktor terkait untuk mempengaruhi situasi tertentu terkait isu dimana ketika salah satu anggota jejaring tampak tidak memiliki peluang untuk memberikan pengaruhnya dalam isu yang diangkat maka mereka menggalang kekuatan untuk memperkuat posisi mereka.
Pada sisi lain, ketika saluran antara suatu negara dengan aktor domestik seperti walhi terhalangi akibat kekurangan sumber daya hingga kekuatan, maka muncul suatu pola bumerang yang menunjukkan karakteristik jejaring transnasional. Dimana walhi selaku NGO lokal akan mencari aliansi internasional untuk memperoleh dukungan serta semakin menambah tekanan dari luar terhadap negara yang bersangkutan.
Walhi sulsel seringkali melakukan aksi protes secara simbolis bersama CSO terkait proyek reklamasi CPI, dimana walhi sulsel seringkali melakukan aksi demonstrasi baik itu didarat, tepatnya di lokasi proyek reklamasi CPI bahkan melakukan demonstrasi hingga ke area proyek penambangan pasir.
Namun aksi protes yang walhi lakukan bersama CSO tidak berdampak signifikan terhadap pembangunan proyek reklamasi CPI.
Untuk itu, Walhi Sulsel bekerjasama dengan BothENDS memfungsikan jaringan advokasi yang mereka bangun untuk mengembangkan isu terutama dampak reklamasi terhadap nelayan lokal. Jejaring yang mereka bangun kemudian disebut The Fair Green and Global (FGG) Alliance.
FGG Alliance sendiri adalah organisasi bersama yang terdiri dari organisasi masyarakat sipil dari seluruh dunia, FGG bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang adil secara sosial, inklusif, dan berkelanjutan lingkungan baik di Belanda dan maupun secara global.
Penulis mendapati melalui website resmi BothENDS bahwa FGG Alliance mengakui bahwa masyarakat di seluruh dunia setiap hari turut merasakan akibat dari bagaimana kebijakan dan praktik Belanda, internasional atau lokal menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia dan kerusakan lingkungan (BothENDS, 2018).
Hasil analisis penulis melalui annual report oleh BothENDS tahun 2018 (BothENDS, 2018) dan 2019 (BothENDS, 2019) kemudian mendapati bahwa Anggota FGG dan mitranya menghubungkan kondisi lokal atau isu lokal dengan proses kebijakan nasional dan global, serta menantang aturan
yang mempertahankan atau memperburuk kondisi perubahan iklim, keanekaragaman hayati dan kelangkaan sumber daya.
Pada bagian lain, penulis mendapati bahwa Anggota dan mitra organisasi FGG kemudian memanfaatkan dua strategi utama mewujudkan dunia yang adil dan berkelanjutan: diantaranya adalah pengembangan kapasitas lokal hingga lobi dan advokasi. FGG mendefinisikan pengembangan kapasitas lokal sebagai proses penguatan keterampilan, pengetahuan, dan kontak jaringan, yang melibatkan mitra serta anggota FGG. Tujuan lobi dan advokasi oleh FGG adalah untuk memastikan pembangunan 'adil' dan 'hijau', dimana FGG bekerja sama dengan LSM lokal, organisasi masyarakat sipil, organisasi berbasis komunitas, komunitas, dan individu, yang menghadapi tantangan yang berkaitan dengan tenaga kerja dan hak asasi manusia, penggunaan dan kontrol atas sumber daya alam.
Oleh karena itu, analisis penulis berdasarkan laporan walhi sulsel (WALHI SULSEL, 2019) mendapati bahwa berdasarkan kerjasama Walhi dan BothENDS dalam aliansi FGG dalam program yang berjudul “Strengthening Takalar and Makassar Coastal Communities to Face Environmental Degradation Caused by Reclamation and Sea Sand Dredging Project”, Walhi Sulsel dan BothENDS melakukan penguatan terhadap masyarakat pesisir yang terdiri atas komunitas nelayan dan perempuan pesisir dalam upaya penyelamatan ekosistem pesisir dan laut beserta kehidupan nelayan lokal sebagai bentuk dari proses penguatan keterampilan, pengetahuan, dan kontak jaringan Aliansi FGG.
Walhi Sulsel dalam laporannya menyebutkan bahwa komunitas nelayan lokal secara mandiri terlibat dalam advokasi dimana nelayan semakin aktif untuk melibatkan diri serta aktif mengajak nelayan lainnya untuk menggelar pertemuan dan membangun kekuatan di level desa. Keberhasilan program yang dilakukan oleh Walhi bekerjasama dengan BothENDS dalam FGG Alliance dapat dilihat pula dari bagaimana program ini membuat masyarakat nelayan lokal sadar akan posisi tawar mereka dan dapat secara aktif menyuarakan kepentingan serta hak mereka.
BAB V
KESIMPULAN & SARAN