BAB 2 ORGANISASI DAN SARANA PENDUKUNG
2.6 Anggaran Belanja
2.6 Anggaran Belanja
Pada awal tahun 2012, anggaran DIPA P2E-LIPI sebesar Rp13.675.606.000,- yang direncanakan untuk membiayai 10 kegiatan Penelitian Tematik (DIPA) dan 16 Penelitian Kompetitif. Tetapi akibat adanya pemotongan anggaran pada Maret 2012 anggaran DIPA P2E-LIPI menjadi Rp12.408.046.000,- (dua belas milyar empat ratus delapan juta empat puluh enam ribu rupiah). Akibatnya 4 kegiatan penelitian tematik (DIPA) dihentikan dan anggaran tersebut digunakan untuk 6 kegiatan penelitian tematik, kegiatan tata kelola pendukung
! " # 9. Kredit Usaha Rakyat Di Era Otonomi Daerah: Membangun
Sinergi antara Kelembagaan Pasar, Pemerintah Daerah dan Komunitas dalam Pengelolaan Kredit Program untuk Pemberdayaan UMKM
Tim Peneliti : Agus Eko Nugroho (Koordinator), Bahtiar Rifai, Rita Pawestri Setyaningsih, dan Firmansyah
Abstrak :
Salah satu permasalahan utama usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) adalah kesulitannya mengakses kredit perbankan. Perbankan enggan memberikan kredit skala kecil kepada UMKM karena tingginya risiko kredit macet dan besarnya biaya pengelolaan kredit tersebut. Dalam hal ini perbankan menghadapai tingginya resiko dan biaya akibat masalah ketidaksamaan informasi (assymetric information problems) yang menyebabkan kesulitannya dalam menilai kelayakan kredit UMKM. Di sisi lain, ketidakmampuan UMKM menyediakan kolateral dan sistem akuntansi yang baik menyebabkan bank tidak mampu menilai tingkat pengembalian kredit mereka. Kegagalan pasar (market failure) dalam menyediakan kredit kepada UMKM ini mendorong pemerintah untuk memberikan berbagai skim kredit bersubsidi kepada UMKM, seperti Kredit Usaha Tani (KUT), Kredit Usaha Kecil (KUK), dan sejak tahun 2007 Kredit Usaha Rakyat (KUR). Program KUR telah menjadi strategi utama dalam kebijakan penanggulangan kemiskinan pada Klaster 3, melalui pemberdayaan UMKM. Namun demikian, bagaimana kinerja KUR tersebut mampu mendorong kinerja UMKM masih menjadi pertanyaan besar. Pendekatan yang terlalu menekankan prinsip komersial/pasar (commercial-based approach) menyebabkan lambatnya proses penyaluran karena sangat mungkin hanya
diperoleh dianalis secara kualitatif dan kuantitatif, menghasilkan temuan yang relatif beragam sebagai berikut. Meskipun ketiga provinsi berada dan terkait dengan Kawasan Karimata, namun Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memiliki ekonomi pesisir yang lebih besar terutama sumber daya perikanan dan hal ini terjadi karena wilayah provinsi ini sebagian besar terdiri dari lautan. Potensi ekonomi industri berbasis kelautan dan perikanan, serta wisata bahari di ketiga provinsi begitu beragam dan menjanjikan tetapi belum dikelola secara maksimal sehingga kontribusinya pada perekonomian masing-masing daerah belum signifikan. Infrastruktur perhubungan (darat, laut, dan udara) dan energi listrik di ketiga provinsi relatif memadai untuk mendukung pengembangan industri maritim, meskipun terdapat kerusakan jalan darat (Kalimantan Barat) dan terbatasnya angkutan laut (Bangka Belitung) yang memerlukan perhatian di kedua provinsi. Belum ada kebijakan secara nasional yang berkaitan dengan kawasan pesisir khususnya yang berkaitan dengan pengembangan industri maritim yang dapat jadi pedoman pemerintah provinsi dan perintah kabupaten/kota. Demikian pula halnya di ketiga provinsi belum memiliki tata ruang wilayah pesisir yang diperdakan, sehingga menjadi kendala bagi pemangku kepentingan terutama di kabupaten/kota dan pelaku usaha dalam mengelola kawasan pesisir bagi pengembangan industri maritime. Bagi pengembangan industri maritim ke depan, diperlukan ada kebijakan nasional, di samping Peraturan Daerah mengenai Tata Ruang Wilayah Pesisir yang dapat member kepastian pemanfaatan wilayah ini untuk pengembangan industri maritim.
$ " % % " penelitian, penguatan kelembagaan, dan 16 penelitian program kompetitif. Penyerapan anggaran 2012 sebesar Rp12.250.191.932,- (dua belas milyar dua ratus lima puluh juta seratus sembilan puluh satu ribu sembilan ratus tiga puluh dua rupiah) atau sebesar 98,73%
Selain melaksanakan kegiatan penelitian yang dibiayai oleh anggaran DIPA, P2E-LIPI untuk tahun anggaran 2012 juga melaksanakan program penelitian kerjasama antar departemen atau lembaga. Adapun dana kerjasama (dana lain) yang diterima P2E-LIPI tahun 2012 sebesar Rp1.400.000.000,- (satu milyar empat ratus juta rupiah). Dana tersebut untuk 4 kegiatan penelitian Insentif PKPP dan 1 kegiatan Iptekda LIPI, dengan penyerapan anggaran sebesar Rp1.399.899.800,- (satu milyar tiga ratus sembilan puluh sembilan juta delapan ratus sembilan puluh sembilan ribu delapan ratus rupiah) atau sebesar 99,99%. Perincian penyerapan seluruh anggaran P2E-LIPI tahun 2012 dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 2.10 Penelitian Tematik/ DIPA
!" ### " $$! ### $% ### % & ' ( ) & * ) + % % ### ,"" ### -! , ###. ! / & ) ' & ' * ) ! # ### $0 !0 ### , ! ### $ & ) 0# $ ### 0# #! ### ###
- &. * 1 2 3/* * * 0 0"# ### $ ,# ### ! 0 ### , & + ) ) !, $$# ### ! $"# ### ,# ### 0 4 * % $$# ### % $$# ### 5 " & 1 3/ 6 3/* " ! ### " ! ## - ##. ) ) + 1 + + - 1 . %# #%$ ### %# #%$ ### 5 # 578 % ### , ### !, ### ) 8 !0 # # ### !0 #%! ## %, ## % 4+ $" 0## ### $, %! ### % 00 ### ! " # 8. Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Pesisir Melalui
Pengembangan Industri Maritim
Tim Peneliti : Zarmawis Ismail (Koordinator), Jiwa Sarana, Hadi Kardoyo, dan Panky Tri Febriyansyah
Abstrak :
Penelitian dengan judul” Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Pesisir Melalui Pengembangan Industri Maritim” ini didasarkan bahwa perekonomian kawasan pesisir hanya memanfaatkan hasil laut saja tanpa proses penciptaan nilai tambah dari hasil laut tersebut. Akibatnya tingkat kesejahteraan masyarakat terutama yang tinggal di kawasan pesisir tidak mengalami peningkatan. Mengantisipasi dinamika internasional, regional, dan nasional yang akan terjadi, memberi peluang pada kawasan laut untuk mengambil manfaat ekonomi secara maksimal. Langkah ini hanya dapat dilakukan, kalau para pemangku kepentingan (stakeholders) pusat dan daerah yang bertanggungjawb pada kawasan pesisir memberi perhatian penuh pada industri maritim. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk menghasilkan konsep kebijakan pembangunan ekonomi kawasan pesisir melalui pengembangan industri maritim sehingga tercipta pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut. Secara khusus, penelitian bertujuan: (1) mengkaji potensi ekonomi kawasan pesisir bagi pengembangan industri maritim, (2) mengkaji pola pertumbuhan ekonomi kawasan pesisir, dan (3) merumuskan konsep langkah konkrit sebagai bahan penyusunan kebijakan pengembangan industri maritim. Pada tahun pertama ini, penelitian yang dilakukan di tiga provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kepulauan Bangka Belitung, dan Banten dengan menggunakan pendekatan sosial dan ekonomi serta data/informasi yang
formal. Sebab utamanya adalah karena tidak memenuhi kriteria kredit perbankan yaitu collateral (agunan), capacity (kemampuan membayar utang), capital (modal awal), character (watak), dan condition (kondisi sosial ekonomi). Pertanyaannya adalah kalau nelayan dianggap tidak layak kredit dan dianggap kurang mampu mengembalikan kredit secara teratur yang diterimanya dari perbankan dan lembaga keuangan formal lainnya, mengapa sampai saat ini sumber keuangan non-formal masih bersedia memberi pinjaman dan pembiayaan kepada nelayan?Pada satu sisi kegiatan nelayan tangkap dianggap tidak bankable, tetapi pada sisi yang lain kegiatan tersebut ternyata cukup layak untuk dibiayai oleh sektor informal berbasis bagi hasil. Dengan demikian usaha nelayan tangkap berskala kecil sebenarnya layak terhadap akses permodalan tetapi diperlukan model pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik usaha, perilaku dan budaya nelayan. Untuk memahami semuanya itu, penelitian ini dimaksudkan untuk memahami secara mendalam aspek pembiayaan bagi masyarakat nelayan. Penelitian lapangan di Bagansiapi-api, (Rokan Hilir, Riau), Prigi (Trenggalek, Jawa Timur) dan Karangsong (Indramayu, Jawa Barat). Penelitian tahun pertama ini telah berhasil merumuskan embrio model pembiayaan nelayan, yang bersifat sangat sementara. Masih diperlukan penelitian lapangan dalam jumlah yang lebih banyak guna menarik pelajaran dari pengalaman empiris para nelayan dalam mengatasi masalah pembiayaannya.
$ " % % "
Tabel 2.11 Penguatan Kelembagaan
Tabel 2.12 Tata Kelola Pendukung Penelitian Ekonomi
) + 9 ' ' $ %% % $ ## # $ $ # " ""0 # "0 ,$% % + : #, #" ### " ### 0## 0 #0 !## ! 1 -1 . ! 0 " ### ! "$ ### !$ ### $ & % " ### !% %## ",0 "## ; ) !# %% ### %" ! % ## "# ## % 1 2 4 4 < -1 . !% ## ### !# %$, ### 0,! ### ! */ + & 0 0%$ ### 0 0%$ ### 5 $ ) * : ,, 0%! ### ,$ $" ## 00$ ## ) = ) $ %,! ## ! 0!! ### !# ### , / 2 & 0! 0, ### ,0 " # ### , %, ### 0 = ) & & 0 $## ### , % " ### $% ###
Tabel 2.13 Penelitian Kompetitif ) = + ) / ) * + ) 9 !!# ### ### !%" $0 $## $ % ,## % / ) 2 + & / 2 ) + / + & ) > & !,# ### ### ! "$# ## ## ! 2 * + * ) * + & 4 * / !%# ### ### ! " ",0 $## !% ,## $ 9 ) / & ) / : ?1: !"# ### ### !0" , 0 0!# !#% %0# 4 & 4 ! # ### ### !$ , "! , 1 4 & > 2 & * / 3 + 8 + %%# ### ### % # # ### # ### 0 ) = + & / + !,# ### ### ! ,## $## " / ( ) ) + 3 1 + ) !,# ### ### ! , $## !$ ,## & / ) & / + %0# ### ### %0# ### # # / + / & 2 / 2 !!# ### ### !!# ###### # 4 ) & / ) / !,# ### ### !,# ### ### # ! " # pengembangan energi mikrohidro di Indonesia. Hasil penelitian lapangan yang dilakukan di Desa Cinta Mekar, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat telah memberikan informasi dan data empiris terkait dampak positif dari pengembangan energi mikrohidro bagi perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bentuk kelembagaan dari pengelolaan mikrohidro yang berbasis pada partisipasi masyarakat melalui pembentukan koperasi mampu untuk mengelola dan memanfaatkan mikrohidro bagi peningkatan aktivitas ekonomi di wilayahnya. Oleh karena itu hasil penelitian ini memberikan rekomendasi bahwa dalam upaya pengembangan energi mikrohidro maka pemerintah perlu untuk (1) meningkatkan kapasitas terpasang listrik nasional melalui optimalisasi mikrohidro (2) perlu adanya kelembagaan partisipasif berbasis masyarakat lokal sebagai pengelola mikrohidro (3) perlu adanya fasilitator dan proses pendampingan dalam proses penguatan kelembagaan pengelola mikrohidro, dan (4) pengembangan mikrohidro sebagai sarana untuk mendorong pemberdayaan masyarakat.
3.2 Penelitian Kompetitif
7. Studi Model Lembaga Pembiayaan Usaha Rakyat Pada Subsektor Perikanan Tangkap
Tim Peneliti: Mahmud Thoha (Koordinator), Masyhuri, Mochammad Nadjib, dan Moch. Azzam Manan Abstrak :
Salah satu permasalahan mendasar yang dihadapi oleh usaha rakyat pada subsektor perikanan tangkap adalah nyaris tertutupnya akses permodalan terhadap lembaga keuangan
yang dihadapi BUMD dalam mengembangkan usahanya yang pada akhirnya akan dirumuskan suatu langkah konkrit kebijakan dalam hal peningkataan peran BUMD dalam perekonomian daerah. Dalam hal ini peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
6. Analisis Kelayakan Ekonomi Pengembangan Energi Alternatif Non Pangan: Energi Baru dan Terbarukan
Tim Peneliti: Purwanto (Koordinator), Sukarna Wiranta, Inne Dwiastuti, Thee Kian Wie, dan Tuti Ermawati
Abstrak :
Pengembangan energi baru dan terbarukan semakin diutamakan pada saat ini sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas kelistrikan di Indonesia. Peran energy baru dan terbarukan semakin meningkat seiring dengan persoalan yang dihadapi dalam penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi pembangkit listrik karena adanya fluktuasi harga minyak yang meningkatkan struktur biaya produksi listrik. Indonesia perlu untuk mengambil langkah-langkah strategis pengembangan energi baru dan terbarukan yang berkelanjutan seperti pengembangan energi baru dan terbarukan berbasis non pangan dari sumber energi mikrohidro. Untuk itu, penelitian ini memfokuskan pada kelayakan ekonomi dari pengembangan mikrohidro berikut intervensi pemerintah yang dibutuhkan dalam mengoptimalkan pengembangannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peta pengembangan energi baru dan terbarukan berbasis non pangan, kelayakan ekonomi dari pembangkit listrik mikrohidro, dan kontribusinya terhadap penyediaan listrik bagi masyarakat, dan memberikan rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung
$ " % % " % ) + / + * 7 9 & 4 5 / ' & 2 ( !%# ### ### ! #, !## ! 0## ! ) 1 3 / !!# ### ### !!# ### ### # $ & / + & 4 ( !$ ### ### !$% %# ### % $"# ### ) ( & % # ### ### %$ , ## ! ## , * / & 3 / ) / !$# ### ### !!0 !"# ## %, ## 0 & %0 ### ### %0 0 , # ! #%" ! #
Tabel 2.14 Penelitian Insentif PKPP Ristek
3 & * ; ) * 1 4 ) ( % # ### ### %$ " ## ## % & * ) % # ### ### % # ### ### # ! ) * + 8 + ' & 8 ( ) & / / ! % # ### ### %$ " !## 0## $ : + % # ### ### %$ #% ,## 0 $## ; ### ### ### " "## ## %##
Tabel 2.15 Pengabdian Masyarakat/Iptekda
No. Uraian Kegiatan Dana Pagu Jumlah Pengeluaran Sisa 1. Pengembangan Usaha Perbenihan Kentang Unggulan Melalui Pemanfaatan Teknologi Aeroponik Mendukung Produksi Massal Benih secara Simultan dan Ramah Lingkungan
400.000.000 400.000.000 0
Jumlah 400.000.000 400.000.000 0