• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANGIN GRADIEN

Dalam dokumen DI JAWA TIMUR ATMOSFERA 3 (Halaman 26-38)

Angin gradien (gambar 13) tanggal 26 Juli 2017 jam 00.00 UTC bertiup dari arah Timur-Tenggara s e h i n g g a m e n y e b a b k a n menurunnya peluang pertumbuhan awan penghujan, uap air akan tum-buh terutama di tempat pertemuan angin dan belokan angin.

Gambar 13. Angin Gradien ketinggian 1.000 meter tanggal 1 Juli 2017 00.00 UTC (Sumber:http://www.bom.gov.au/australia/charts/glw_00z.shtml)

Jenis Udara yang mempengaruhi cuaca di Jawa Timur pada bulan Agustus 2017 dan analisa RAOB (Rawinsonde Observation)

Bila angin gradien bertiup dari arah Tenggara maka merupakan jenis udara tropis Benua Australia yang sifatnya dingin dan kering serta

mantap, bila angin bertiup dari arah Timur maka merupakan jenis udara Tropis Lautan Pasifik Barat Daya (sebelah Timur Australia) yang si-fatnya hangat dan mantap.

Pada tanggal 26 Juli 2017 jam 07.00 WIB (00.00 UTC), data METAR WIEE (Padang) tanggal 26 Gambar 14. Citra Satelit Himawari-8 IR - uap air

tanggal 26 Juli 2017 jam 21.00 UTC

(Sumber:http://www.goes.noaa.gov/dimg/jma/fd/wvblue/10.gif)

Juli 2017 jam 07:00 : METAR WIEE 260000Z 32006KT 270V010 5000 -RA BKN019 25/24 Q1010 NOSIG=

dan data METAR WATT (Kupang) 26 Juli 2017 jam 07.00 WIB (00.00 UTC): METAR WATT 260000Z 12015KT 9999 FEW018 SCT060 28/22 Q1013 NOSIG=

Dari pengaruh jenis udara yang mempengaruhi cuaca Jawa

Timur dan perbedaan tekanan udara antara Kupang yang lebih tinggi dari pada Padang serta angin yang do-minan dari arah Timur – Timur Teng-gara, maka pada bulan Agustus 2017 Jawa Timur dipengaruhi oleh perpaduan dua jenis udara tersebut sehingga pertumbuhan awan peng-hujannya normal, diprakirakan masih mengalami musim kemarau.

Gambar 15. Data RAOB tanggal 26 Juli 2017 jam 00.00 UTC di Juanda (Sumber:BMKG Juanda dan http://weather.uwyo.edu/upperair/sounding.html)

KESIMPULAN

Dengan mempertimbangkan : 1. Tekanan udara permukaan Jawa Timur masih dipengaruhi oleh perpaduan dua jenis udara yaitu jenis udara hangat-mantap dan jenis udara dingin-kering–mantap, sehingga curah hujan Jawa Timur pada bulan 2017 mendekati rata-ratanya di sebagian besar wilayah Samu-dera Pasifik di Ekuator, maka wilayah laut Indonesia dip-rakirakan mengalami anomali

dingin terutama di Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera, untuk NINO3,4 diprakirakan anomali suhunya sekitar + 0,1 o C, dengan mulai meningkatnya anomali suhu muka laut di NI-NO3,4 tersebut maka curah hujan Jawa Timur pada bulan Agustus diprakirakan normal;

5. Angin Pasat di Samudera Pasi-fik Barat di sekitar Ekuator selama 5 hari terakhir sampai dengan 16 Juli 2017 mendekati rata-rata klimatologinya di se-bagian besar Samudera Pasifik di sekitar Ekuator, maka curah hujan Jawa Timur pada bulan Agustus diprakirakan normal;

6. Indeks Monsun Australia untuk b u l a n A g u s t u s 2 0 1 7 diprakirakan berfluktuasi di bawah dan di sekitar harga rata -rata klimatologinya, maka cu-rah hujan Jawa Timur pada bu-lan Agustus diprakirakan nor-mal;

7. Indeks Dipole Mode pada bulan Agustus 2017 diprakirakan ne-tral di sekitar nilai threshold (+

0,4) dengan peluang 87,9 % maka curah hujan Jawa Timur pada bulan Agustus diprakira-kan normal;

8. Peluang terjadinya siklon di

Se-latan Ekuator diprakirakan tang-gal 22 Juli 2017 sampai dengan tanggal 6 Agustus 2017 me-nunjukkan Jawa Timur pada bulan Agustus 2017 mengalami periode tidak banyak pertum-buhan awan (convectively sup-pressed);

10. Fase MJO pada akhir bulan Juli 2017 dan awal bulan Agustus 2017 diprakirakan melintas di Fase 4, maka maka Jawa Ti-mur pada akhir bulan Juli 2017 dan awal bulan Agustus 2017 mengalami periode basah yaitu periode banyak awan peng-hujan;

11. Menurut Climate Prediction Centre IRI periode Juli – Agus-tus - September (JAS) penga-ruh La Niña peluangnya sekitar 2% kemudian pada bulan-bulan berikutnya peluangnya di Darwin relatif lebih rendah, ma-ka curah hujan Jawa Timur pa-da bulan Agustus diprakirakan normal;

13. Jumlah Bintik Matahari di bulan Agustus 2017 diprakirakan ber-fluktuasi di sekitar 30, menye-babkan berkurangnya kedala-man dan luasan air laut yang mengalami peningkatan tempe-ratur, maka curah hujan Jawa Timur pada bulan Agustus di-prakirakan normal.

14. Dengan mempertimbangkan 13 faktor tersebut , maka Jawa Timur pada bulan Agustus 2017 diprakirakan mengalami musim kemarau dengan curah hujan normal.

“Jika mereka berpaling maka kata-kanlah: “Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum ‘Aad dan Tsa-mud.” (QS: Fushilat [41]: 13).

(Tonny S )

1. Prakiraan Curah Hujan Bulan Agustus 2017

Prakiraan hujan untuk bulan Agustus 2017 wilayah Jawa Timur dan sekitarnya, secara umum

dip-rakirakan masuk pada kategori ren-dah, ini terlihat dari curah hujan yang berkisar antara 0 - 100 mm. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 1 di bawah ini :

Gambar 1. Peta prakiraan curah hujan Agustus 2017 (Sumber : Stasiun Klimatologi Malang)

2. Prakiraan Sifat Hujan Bulan Agustus 2017

Sifat hujan merupakan per-bandingan antara jumlah curah hu-jan yang terjadi selama satu bulan atau periode dengan nilai rata-rata atau normalnya dari bulan atau pe-riode tersebut. Berdasarkan gambar di bawah, prakiraan sifat hujan bulan Agustus 2017 adalah sebagai beri-kut :

Secara umum diketahui bahwa sebagian besar wilayah Jawa Timur pada bulan Agustus 2017 berada pada sifat hujan normal dan atas normal. Sedangkan wilayah yang diprakirakan mempunyai sifat hujan bawah normal diantaranya yaitu di sebagian wilayah Pacitan, Treng-galek, Ponorogo, Malang bagian Se-latan, Lumajang dan Banyuwangi.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2 di atas.

Gambar 2. Peta prakiraan sifat hujan Agustus 2017 (Sumber : Stasiun Klimatologi Malang)

3. Arah dan Kecepatan Angin Lapisan Atas

Berdasarkan klimatologi angin untuk bulan Agustus 2017 di lapisan 250 dan 500 mb diprakirakan untuk wilayah Jawa Timur, angin pada lapisan 250 mb atau pada ketinggian 34.000 feet akan berhembus secara

umum dari arah Timur Laut dengan kecepatan berkisar antara 7 - 11 m/

detik. Sedangkan untuk lapisan 500 mb atau pada ketinggian 18.000 feet, cenderung dari arah Timur Laut – Timur dengan kecepatan berkisar antara 3,5 – 5 m/detik.

Peta Klimatologi Streamline dan Vektor Angin Lapisan Atas 250 mb Bulan Agustus (1981-2010)

Peta Klimatologi Streamline dan Vektor Angin Lapisan Atas 500 mb Bulan Agustus (1981-2010)

Gambar 3. Arah dan kecepatan angin lapisan atas Agustus (Sumber: ITACS dan ESRL)

4. Potensi Kebakaran Hutan/

Lahan

Kejadian kebakaran hutan ber-peluang besar terjadi di musim kemarau didukung oleh curah hujan rendah, suhu tinggi, kelembaban udara rendah dan kecepatan angin yang memicu peningkatan kekerin-gan tanah.

Mulai dasarian pertama bulan Juli 2017, tercatat adanya hujan di Stasiun Meteorologi Juanda Sura-baya, jumlah curah hujan tercatat hingga tanggal 30 Juli 2017 sebesar 29.3 mm. Temperatur maksimum harian berkisar antara 21.3 0C hingga 32.6 0C.

Hasil pantauan satelit NOAA

18 (ASMC), TERRA, NPP (LAPAN) hingga tanggal 31 Juli 2017 menun-jukkan adanya 181 titik api terpan-tau, di antaranya Pasuruan, Bon-dowoso, Gresik, Sidoarjo, Surabaya, Malang, Kediri, Jombang, Bojone-goro, Probolinggo, Tulungagung, Mojokerto, Malang, Lumajang, Trenggalek, Situbondo, Tuban, Magetan, Blitar, Ngawi, Nganjuk, Banyuwangi, Madiun, Magetan, Po-norogo, Jember, Pacitan, Bang-kalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep Semua titik api terpantau dengan tingkat kepercayaan ≥80 %.

Pada bulan Agustus 2017, dip-rakirakan wilayah Jawa Timur masih berada pada musim kemarau,

den-Gambar 4. Jumlah curah hujan di Juanda Surabaya Bulan Januari - Juli 2017

gan demikian peluang kejadian ke-bakaran hutan masih relatif tinggi.

Prakiraan kemudahan terjadinya ke-bakaran hutan di Jawa Timur pada awal Agustus 2017 ditampilkan pada gambar di bawah ini.

5. Potensi penyakit demam berda-rah

Penyakit demam berdarah memiliki peluang besar terjadi pada musim penghujan dengan kondisi suhu udara yang hangat dan kelem-Gambar 5. Peta Sebaran Titik Api bulan Juli 2017 di Jawa Timur

(Sumber : Data Satelit NOAA 18)

1 Agustus 2017 2 Agustus 2017

baban udara yang tinggi. Selain itu, curah hujan yang tinggi meningkat-kan jumlah genangan air yang men-dukung perkembangbiakan nyamuk demam berdarah.

Walaupun curah hujan dip-rakirakan relatif rendah pada bulan Agustus, namun penyakit demam berdarah masih berpotensi terjadi dengan frekuensi dan peluang ke-jadian yang relatif rendah pula.

Gambar 6. Prakiraan kemudahan terjadinya kebakaran hutan di Jawa Timur pada awal Agustus 2017

3 Agustus 2017 4 Agustus 2017

Gambar 7. Jumlah curah hujan per dasarian (10 harian) Januari – Juli 2017 Stamet Juanda Surabaya

Residu pertumbuhan nyamuk dari bulan sebelumnya juga bisa berkon-tribusi memicu kejadian demam berdarah.

6. Tingkat kenyamanan terkait dengan kondisi cuaca

Kesehatan dan aktivitas manu-sia terkait erat dengan parameter cuaca seperti temperatur udara, kelembaban relatif, radiasi matahari dan kecepatan angin. Aktivitas manusia terkadang terganggu oleh kondisi cuaca yang menyebabkan ketidaknyamanan badan dan pikiran, bahkan pada kondisi yang ekstrim dapat menyebabkan gangguan ke-sehatan. Hubungan antara parame-ter cuaca seperti temperatur udara

dan kelembaban relatif dengan ke-sehatan dan aktivitas manusia dapat dinyatakan dengan suatu indeks yang disebut dengan Discomfort In-dex (DI).

Pada gambar 8 berikut ditam-pilkan grafik Discomfort Index ber-dasarkan data Stasiun Meteorologi Juanda Surabaya bulan Januari hingga Juli 2017 ditentukan dengan persamaan :

DI = T – 0,55 x(1-0,01 x RH)*(T-14,5)

Keterangan:

DI = Discomfort Index

T = Temperatur bola kering (oC) R = Kelembaban relatif (%)

Gambar 8. Grafik Discomfort Index Stamet Juanda Januari – Juli 2017

Dari gambar 8 dapat dilihat bahwa nilai Discomfort Index men-ingkat seiring dengan menmen-ingkatnya temperatur ambient dan begitu pula sebaliknya. Kelembaban relatif yang rendah dapat meningkatkan keti-daknyamanan karena mengurangi pelepasan panas dari dalam tubuh.

Nilai Discomfort Index pada bulan Juli 2017 berkisar antara 24.2

hingga 26.8 dengan rata-rata 25.6 Nilai rata-rata indeks ketidaknya-manan tersebut lebih rendah diband-ingkan dengan bulan sebelumnya.

Interpretasi nilai Discomfort Index disajikan pada tabel 1 berikut ini.

Ditinjau dari prakiraan cuaca, kisaran Discomfort Index harian un-tuk bulan Agustus 2017 berpotensi mengalami kenaikan.

Tabel 1. Interpretasi Nilai Discomfort Index

DI (oC) Interpretasi

<21 Tidak dirasakan adanya ketidaknyamanan 21-24 <50% populasi merasakan ketidaknyamanan 24-27 >50% populasi merasakan ketidaknyamanan 27-29 Mayoritas populasi merasakan ketidaknyamanan 29-32 Setiap orang merasakan stress

>32 Kondisi darurat dan memerlukan bantuan medis

Dalam dokumen DI JAWA TIMUR ATMOSFERA 3 (Halaman 26-38)

Dokumen terkait