BAB XIII INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
13.1. Angka Harapan Hidup
13.2. Angka Harapan Lama Sekolah Dan Rata-rata Lama Sekolah Provinsi
Aceh dan Kabupaten Aceh Tamiang, 2012-2015 (tahun)
58
13.3. Pengeluaran per Kapita Penduduk per Tahun Provinsi Aceh dan
Kabupaten Aceh Tamiang, 2013-2015 (ribu rupiah)
59
13.4. Indek Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Aceh dan Kabupaten Aceh
Tamiang, 2012-2015
60
14.1. Persentase Penduduk menurut Jaminan Kesehatan yang Dimiliki di
Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
61
14.2. Persentase Rumah Tangga yang Menerima Kredit Usaha Selama
Setahun Terakhir di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
xii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1.1 Luas Wilayah dan Jumlah Desa Menurut Kecamatan di Kabupaten Aceh
Tamiang, 2015
1
1.2 Indikator Kependudukan di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015 3
1.3. Jumlah dan Persebaran Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Aceh
Tamiang, 2015
4
1.4. Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten
Aceh Tamiang, 2015
5
1.5. Persentase Penduduk dan Angka Beban Ketergantungan Kabupaten Aceh
Tamiang, 2013-2015
6
1.6. Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas Menurut Status Perkawinan
Di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
8
2.1. Persentase Anak Berumur Kurang dari 2 Tahun yang Pernah Diberi ASI Menurut
Lamanya Disusui di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015 (Bulan)
13
2.2. Persentase Balita yang Pernah Mendapat Imunisasi Menurut Jenis Imunisasi
di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
14
3.1. Persentase Penduduk Umur 5 Tahun ke Atas Menurut Status Pendidikan di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015 16
3.2. Persentase Penduduk Umur 15 Tahun ke Atas Menurut Ijazah/STTB Tertinggi
yang Dimilki di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
17
3.3. Persentase Penduduk Berumur 15 Tahun ke Atas Menurut Kemampuan
Baca/Tulis dan Jenis Kelamin di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
18
3.4. Angka Partisiasi Sekolah (APS) Menurut Kelompok Usia Sekolah di Kabupaten
Aceh Tamiang, 2015
19
3.5. Angka Partisiasi Murni (APM) Menurut Kelompok Usia Sekolah di Kabupaten
Aceh Tamiang, 2015
Tabel Halaman
8.1. Komposisi Penduduk 15+ yang Bekerja Seminggu yang Lalu Menurut Tingkat
Pendidikan di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015 (persen)
45
9.1. Peranan PDRB Menurut Lapangan Usaha, 2011-2015 (persen) 48
xiv
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1 PDRB Kabupaten Aceh Tamiang Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan
Usaha (Juta Rupiah)
63
2 PDRB Kabupaten Aceh Tamiang Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut
Lapangan Usaha (Juta Rupiah)
64
3 Distribusi Persentase PDRB Kabupaten Aceh Tamiang Atas Dasar Harga Berlaku
Menurut Lapangan Usaha (Persen)
65
4 Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Aceh Tamiang Atas Dasar Harga Konstan
2010 Menurut Lapangan Usaha (Persen)
66
5 Persentase Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota dan Status Kepemilikan
Rumah, 2015
67
6 Indeks Pembangunan Manusia dan Komponen Pendukungnya Tahun
2011-2015
Data kependudukan sangat diperlukan terutama bagi seluruh aspek ketatanegaraan, baik itu masyarakat, pemerintah, swasta, dll. Khusus untuk pemerintah selaku otoritas pemangku kebijakan (stakeholders) yang dibebankan untuk mengelola suatu wilayah. Disadari atau tidak, keberhasilan pembangunan tidak terlepas dari ketersediaan data tentang penduduk yang akurat. Dengan mengetahui jumlah, sebaran dan komposisi penduduk maka langkah-langkah besar yang benar dan tepat sasaran dapat diambil oleh pemerintah.
Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk maka akan meningkatkan juga jumlah permasalahan kependudukan antara lain kemiskinan, ledakan penduduk yang tidak terkendali, pengangguran, dll. Ketidakseimbangan antara pertumbuhan penduduk dengan pertumbuhan produksi pangan juga akan mempengaruhi kualitas hidup manusia
1.1. Gambaran Kabupaten Aceh
Tamiang Secara Umum
Kabupaten Aceh Tamiang secara geografis terletak antara 03053’18,81” – 04032’56,76” Lintang Utara dan 97043’41,51” – 98014’45”41 Bujur Timur dengan luas 1.957,02 Km2 (195.702,5 Ha). Tinggi rata-rata wilayah Kabupaten Aceh Tamiang sekitar 20-700 m di atas permukaan laut.
Wilayah utara berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa dan Selat Malaka. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara dan Selat Malaka. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara dan Kabupaten Gayo Lues. Kemudian
BAB I
KEPENDUDUKAN
Tabel 1.1.
Luas Wilayah dan Jumlah Desa Menurut Kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
Kecamatan Luas (Km2) Jumlah Desa Tamiang Hulu 194,63 9 Bandar Pusaka 252,37 15 Kejuruan Muda 124,48 15 Tenggulun 295,55 5 Rantau 51,71 16
Kota Kuala Simpang 4,48 5
Seruway 188,49 24 Bendahara 132,53 33 Banda Mulia 48,27 10 Karang Baru 139,45 31 Sekerak 257,95 14 Manyak Payed 267,11 36 Total 1.957,02 213
2
sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur dan Kabupaten Gayo Lues. Wilayah Kabupaten Aceh Tamiang sebagian besar berupa wilayah perbukitan dan pegunungan pada wilayah bagian timur dan berupa pesisir pada bagian utara dan barat laut yang letakya berbatasan langsung dengan Selat Malaka.Secara administrasi, Kabupaten Aceh Tamiang terdiri dari 12 Kecamatan dan 213 Desa, serta 705 Dusun. Tingginya laju pertumbuhan penduduk menggambarkan kuatnya tekanan terhadap kesejahteraan rumah tangga, yang pada akhirnya akan membebani tingkat perekonomian rumah tangga tersebut.
Jumlah/komposisi dan distribusi penduduk merupakan salah satu masalah yang perlu diperhatikan dalam proses pembangunan. Jumlah penduduk yang besar dapat menjadi potensi tetapi dapat pula menjadi beban dalam proses pembangunan jika berkualitas rendah. Oleh sebab itu, untuk menunjang keberhasilan pembangunan, pemerintah tidak saja mengarahkan pada upaya pengendalian jumlah penduduk tetapi juga menitikberatkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusianya.
Ketersediaan data kependudukan yang berkualitas menentukan arah perencanaan maupun evaluasi pembangunan. Dari segi perencanaan, data ini dapat menjadi dasar untuk menyusun program pembangunan guna memenuhi fasilitas penunjang kesejahteraan masyarakat, misalnya fasilitas perumahan, pendidikan, fasilitas kesehatan masyarakat, tempat ibadah, tempat rekreasi dan lainnya. Sedang dari segi evaluasi, data ini dapat menjadi gambaran sampai sejauh mana program yang menyangkut hal kependudukan sudah berjalan, seperti; Program Keluarga Berencana yang bertujuan untuk menekan/mengurangi jumlah kelahiran, Program Wajib Belajar maupun Program lain yang berkaitan dengannya. Pada bagian ini, data kependudukan yang disajikan adalah data tentang jumlah dan laju pertumbuhan penduduk, persebaran dan kepadatan penduduk, komposisi penduduk menurut umur berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2015.
1.2. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk
Penduduk adalah semua orang yang berdomosili di wilayah geografis Republik Indonesia selama 6 bulan atau lebih atau mereka yang berdomisili kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan menetap.
Jumlah penduduk dapat menjadi aspek modal sekaligus aspek beban pembangunan. Kata kunci yang penting untuk bisa mensiasati agar memanfaatkan jumlah penduduk yang sebelumnya adalah beban pembangunan menjadi modal pembangunan adalah Sumber Daya Manusia (SDM)-nya. Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali juga berpotensi menghambat pencapaian kesejahteraan masyarakat. Jumlah penduduk di suatu wilayah mempengaruhi taraf kehidupan ekonomi masyarakat di wilayah tersebut.
Kebijakan untuk meningkatkan SDM yang bermutu sangat diperlukan dilakukan secara berkesinambungan dan masiv. Berkesinambungan artinya terus melakukan inovasi sesuai karakteristik dan perkembangan jaman sehingga peningkatan mutu SDM dapat terus diperbaharui. Masiv diharapkan agar peningkatan mutu SDM tidak hanya befokus pada klasifikasi tertentu baik jenis kelamin, kota-desa, tua-muda, dll, karena perlu diyakini setiap jenjang umur memiliki potensi SDM-nya masing-masing.
Hasil proyeksi penduduk tahun 2015 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Kabupaten Aceh Tamiang adalah 278.324 jiwa yang tersebar di 12 Kecamatan. Penduduk laki-laki berjumlah 140.307 jiwa dan perempuan 138.017 jiwa, dengan rasio jenis kelamin (sex ratio) sebesar 102. Ini berarti untuk setiap 100 penduduk perempuan terdapat 2 penduduk laki-laki lebih banyak. Laju pertumbuhan penduduk tahun 2014-2015 sebesar 2,24 persen (Tabel 1.2.)
Tabel 1.2.
Indikator Kependudukan di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
Indikator 2015
Luas Wilayah (km2) 1.957,02
Jumlah Penduduk (jiwa) 278.324
- Laki-laki 140.307
- Perempuan 138.017
Sex Ratio (L/P) (%) 102
Laju Pertumbuhan Penduduk Per Tahun (%) 2,24
Sumber: Aceh Tamiang dalam Angka 2016
1.3. Persebaran dan Kepadatan Penduduk
Persebaran penduduk antar kecamatan terlihat masih belum merata. Kepadatan penduduk biasanya terkonsentrasi di pusat perekonomian yang umumnya memiliki segala fasilitas yang dibutuhkan oleh penduduk. Masalah yang sering timbul akibat kepadatan penduduk pada umumnya berhubungan dengan perumahan, kesehatan, dan keamanan. Oleh karena itu, distribusi penduduk harus menjadi perhatian khusus pemerintah dalam melaksanakan pembangunan, seperti memprioritaskan pembangunan yang dilaksanakan di daerah-daerah yang masih terisolir dan kekurangan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan perekonomian masyarakat setempat. Hal ini sekaligus harus berkaitan dengan daya dukung lingkungan dan dapat menciptakan lapangan kerja yang luas bagi penduduk setempat.
4
Tabel 1.3.
Jumlah dan Persebaran Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa) Persebaran Penduduk (%) Tamiang Hulu 19.100 6,86 Bandar Pusaka 12.663 4,55 Kejuruan Muda 35.312 12,69 Tenggulun 17.763 6,38 Rantau 36.490 13,11
Kota Kuala Simpang 20.075 7,21
Seruway 26.217 9,42 Bendahara 20.463 7,35 Banda Mulia 11.663 4,19 Karang Baru 40.110 14,41 Sekerak 6.630 2,38 Manyak Payed 31.838 11,44 Total 278.324 100,00
Sumber: Aceh Tamiang dalam Angka 2016
Persebaran penduduk di Kabupaten Aceh Tamiang terlihat sangat tidak merata. Pada Tabel 1.3 di atas terlihat bahwa konsentrasi penduduk berada di Kecamatan Karang Baru, yaitu 14,41 persen dari penduduk Kabupaten Aceh Tamiang. Berikutnya berturut-turut yang memiliki persentase di atas 10 persen yaitu di kecamatan Rantau, Kejuruan Muda dan manyak Payed masing-masing sebesar 13,11; 12,69; dan 11,44 persen. Kecamatan dengan penduduk paling sedikit adalah kecamatan Sekerak, Banda Mulia dan Bandar Pusaka masing masing sebesar 2,38; 4,19; dan 4,55 persen. Persebaran yang tidak merata ini disebabkan oleh tidak meratanya fasilitas dan pembangunan ekonomi di setiap kecamatannya.
Selain persebaran, kepadatan penduduk di Kabupaten Aceh Tamiang merupakan salah satu masalah demografi di daerah ini. Dari Tabel 1.4 di bawah terlihat bahwa kepadatan penduduk antar kecamatan di wilayah Kabupaten Aceh Tamiang terlihat juga tidak merata. Kecamatan terpadat adalah Kecamatan Kota Kuala Simpang, dengan luas wilayah hanya 4,48 km2 (0,23 persen dari total luas Kabupaten Aceh Tamiang), penduduk nya mencapai 20.075 jiwa , sehingga kepadatan penduduknya sebesar 4.481 jiwa per km2
tahun 2015. Kecamatan terjarang penduduknya adalah Kecamatan Sekerak, dengan luas wilayah 257,95 km2 (13,18 persen dari total luas Kabupaten Aceh Tamiang) jumlah
penduduk kecamatan ini hanya sebesar 6.630 jiwa. Dengan begitu, kepadatan penduduk Kecamatan Sekerak hanya sebesar 26 jiwa per km2 pada tahun 2015 (Tabel 1.4.).
Tabel 1.4.
Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa) Luas Wilayah (km2) Kepadatan Penduduk (jiwa/km2) Tamiang Hulu 19.100 194,63 98 Bandar Pusaka 12.663 252,37 50 Kejuruan Muda 35.312 124,48 284 Tenggulun 17.763 295,55 60 Rantau 36.490 51,71 706
Kota Kuala Simpang 20.075 4,48 4.481
Seruway 26.217 188,49 139 Bendahara 20.463 132,53 154 Banda Mulia 11.663 48,27 242 Karang Baru 40.110 139,45 288 Sekerak 6.630 257,95 26 Manyak Payed 31.838 267,11 119 Total 272.228 1.957,02 142
Sumber: Aceh Tamiang dalam Angka 2016
1.4. Komposisi Penduduk dan Angka Beban Ketergantungan
Dampak keberhasilan pembangunan kependudukan diantaranya terlihat pada perubahan komposisi penduduk menurut umur yang tercermin dengan semakin rendahnya proporsi penduduk usia tidak produktif (kelompok umur 0-14 tahun dan kelompok umur 65 tahun atau lebih) yang berarti semakin rendahnya rasio ketergantungan hidup. Rasio ketergantungan hidup adalah angka yang menyatakan perbandingan antara penduduk yang tidak produktif (usia muda dan usia tua) terhadap penduduk usia produktif. Semakin kecil rasio ketergantungan hidup akan memberikan kesempatan bagi penduduk usia produktif untuk meningkatkan produktivitasnya.
6
Gambar 1.1.
Piramida Penduduk Kabupaten Aceh Tamiang, 2015 (jiwa)
Sumber: Aceh Tamiang dalam Angka 2016
Grafik piramida penduduk Kabupaten Aceh Tamiang di atas menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang berada pada kelompok umur di bawah 10 tahun cenderung bertambah karena peningkatan jumlah penduduk selama 10 tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kelahiran Kabupaten Aceh Tamiang masih cukup tinggi. Dengan demikian, perlu adanya upaya dari pemerintah untuk menekan angka kelahiran, misalnya dengan menggalakkan program KB dan menunda usia perkawinan pertama.
Berdasarkan tabel 1.5., penduduk Kabupaten Aceh Tamiang sebagian besar berada pada kelompok umur produktif atau masih tergolong umur muda, yaitu 63,68 persen. Hal ini ditunjukkan dari persentase penduduk umur muda (di bawah 15 tahun) sebesar 32,76 persen pada tahun 2015 serta penduduk umur 65 tahun ke atas sebesar 3,56 persen.
Untuk mengetahui sejauh mana besarnya beban yang ditanggung oleh penduduk berusia produktif terhadap penduduk non produktif, dapat dilihat dari angka rasio beban ketergantungan baik anak-anak (0-14 tahun) maupun
16.197 16.154 14.096 12.477 11.699 12.015 11.258 10.200 9.355 7.876 6.807 4.815 2.808 4.550 15.933 15.144 13.648 11.570 11.458 12.222 11.468 10.501 9.241 7.920 6.469 4.546 2.541 5.356 20000 15000 10000 5000 0 5000 10000 15000 20000 0 - 4 5 - 9 10 - 14 15 - 19 20 - 24 25 - 29 30 - 34 35 - 39 40 - 44 45 - 49 50 - 54 55 - 59 60 - 64 65 + Laki-laki Perempuan Tabel 1.5.
Persentase Penduduk dan Angka Beban Ketergantungan Kabupaten Aceh Tamiang,
2013-2015 Kelompok Umur 2013 2014 2015 (1) (2) (3) (4) 0-14 tahun 33,05 32,91 32,76 15-64 tahun 63,48 63,59 63,68 ≥ 65 tahun 3,47 3,50 3,56 Jumlah 100,00 100,00 100,00 Angka Beban Ketergantungan 57,53 57,27 57,03
lansia (≥ 65 tahun). Tabel 1.5. memperlihatkan bahwa pada tahun 2015 angka beban ketergantungan Kabupaten Aceh Tamiang sebesar 57,03 persen artinya setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung 57 penduduk usia tidak produktif.
Pada tahun 2014 angka beban ketergantungan sebesar 57,27 persen yang artinya pada tahun 2014 setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung sekitar 58 penduduk usia tidak produktif. Dengan demikian, semakin kecil angka beban ketergantungan akan memberikan kesempatan bagi penduduk usia produktif untuk meningkatkan kualitas dirinya.
1.5. Status Perkawinan
Status Perkawinan merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat fertilitas dan secara tidak langsung akan mempengaruhi pertumbuhan penduduk. Umur perkawinan pertama bagi wanita mempunyai dampak demografis karena berpengaruh terhadap angka fertilitas. Semakin muda seorang wanita kawin, semakin panjang masa reproduksinya dan semakin besar kemungkinan untuk mempunyai anak. Untuk itulah penduduk dimotivasi untuk menunda usia perkawinan pertamanya hingga mencapai usia di atas 20 tahun untuk perempuan dan di atas 25 tahun bagi laki-laki.
Penundaan usia perkawinan dapat juga berdampak pada penurunan kematian ibu saat melahirkan maupun kematian bayi dan anak, karena usia perkawinan pertama pada usia muda, misalnya di bawah 17 tahun dapat berpengaruh terhadap stabilitas keluarga serta kesehatan wanita itu sendiri maupun anaknya. Semakin dewasa seseorang melangsungkan perkawinan pertamanya, maka semakin sehat waktu melahirkan dan makin sempurna dalam perawatan anak. Pada dasarnya ada dua bentuk perkawinan, yaitu:
1. Perubahan status dari status belum kawin ke status kawin. 2. Kawin kembali yaitu perubahan dari status cerai menjadi kawin.
Berdasarkan Tabel 1.6., penduduk berumur 10 tahun ke atas yang belum kawin di Kabupaten Aceh Tamiang tahun 2015 mencapai 37,44 persen, persentase penduduk berstatus kawin lebih tinggi dari penduduk yang berstatus belum kawin yaitu sebesar 55,06 persen. Penduduk Aceh Tamiang yang cerai hidup sebanyak 1,09 persen untuk laki-laki dan sebesar 1,42 persen perempuan yang cerai hidup pada tahun 2015.
Persentase laki-laki yang belum kawin lebih besar dibanding perempuan, yaitu masing-masing sebesar 41,80 persen dan 33,06 persen. hal ini mengindikasikan bahwa laki-laki mengutamakan pekerjaan dan hidup yang mapan dibandingkan memikirkan untuk kawin.
8
Angka cerai mati pendudukperempuan sebesar 10,13 persen atau lebih besar dibandingkan angka cerai mati penduduk laki-laki, hal ini menunjukkan bahwa angka ketahanan hidup laki-laki lebih rendah dibandingkan perempuan yang disebabkan faktor biologis dan psikologis.
Secara umum, angka cerai penduduk perempuan lebih tinggi dibandingkan cerai pada laki-laki, hal ini dikarenakan laki-laki biasanya tidak bisa hidup berlama-lama dalam kesendirian dan cenderung untuk menikah lagi ketika sudah bercerai.
1.6. Akta Kelahiran
Akta kelahiran adalah bukti sah mengenai status dan peristiwa kelahiran seseorang yang dikeluarkan oleh Disdukcapil. Bayi yang dilaporkan kelahirannya akan dicatat dalam Kartu Keluarga dan diberi Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai dasar untuk memperoleh pelayanan masyarakat.
Pemerintah sangat menyarankan untuk secepat mungkin mengurus akta kelahiran setelah bayi dilahirkan. Akta kelahiran dapat dikatakan dasar identitas anak sebagai seorang warga egara untuk memperoleh berbagai manfaat lainnya seperti mengurus administrasi kependudukan, buat paspor, dll.
Pad tahun 2015, tercatat sebesar 12,28 persen yang tidak memiliki akta kelahiran, lebih dari 70 persen memiliki dan mampu menunjukkan akta kelahirannya serta 7,69 persen memiliki tetapi tidak dapat menunjukkannya dikarenakan beberapa alasan seperti akta belum terbit dan alasan yang tertinggi persentasenya adalah tidak mempunyai biaya untuk mengurus akta.
Tabel 1.6.
Persentase Penduduk 10 Tahun ke Atas Menurut Status Perkawinan Di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
Status Perkawinan L P Total (1) (2) (3) (4) Belum Kawin 41,80 33,06 37,44 Kawin 54,72 55,39 55,06 Cerai Hidup 1,09 1,42 1,25 Cerai Mati 2,39 10,13 6,25 Jumlah 100,00 100,00 100,00 Sumber: Susenas, 2015
Gambar 1.2.
Persentase Penduduk 0-17 Tahun yang Mempunyai Akte Kelahiran di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
Sumber: Susenas, 2015
Ya, dapat ditunjukkan
79,80 Ya, tidak dapat
ditunjukkan 7,69 Tidak memiliki 12,28 Tidak tahu 0,23
10
Melihat tingkat kesejahteraan masyarakat tidak boleh mengabaikan tentang aspek kesehatan. Cerminan tingkat kesejahteraan yang penting lainnya adalah derajat kesehatan penduduk. Pemerataan taraf hidup sehat adalah fokus utama pembangunan dalam bidang kesehatan. Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan yang mudah, murah serta mencakup keseluruhan lapisan masyarakat wajib tersedia.Salah satu aspek penting kesejahteraan adalah kualitas fisik penduduk yang dapat dilihat dari derajat kesehatan penduduk. Derajat kesehatan penduduk antara lain dapat diukur dengan angka kesakitan dan rata-rata lama sakit. Sementara untuk melihat gambaran tentang kemajuan upaya peningkatan dan status kesehatan masyarakat dapat dilihat dari indikator penolong persalinan bayi, ketersediaan sarana kesehatan dan jenis pengobatan yang dilakukan. Oleh karena itu, usaha untuk meningkatkan dan memelihara mutu pelayanan kesehatan melalui pemberdayaan sumber daya manusia secara berkelanjutan, dan sarana prasarana dalam bidang medis termasuk ketersediaan obat yang dapat dijangkau oleh masyarakat perlu mendapat perhatian utama.
Pembangunan di bidang kesehatan bertujuan agar semua lapisan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, murah dan merata. Dengan adanya upaya tersebut diharapkan akan tercapai derajat kesehatan masyarakat yang baik. Tingkat kesehatan masyarakat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tercapai atau tidaknya pembangunan di suatu daerah karena hal tersebut merupakan bagian dari peningkatan kualitas sumber daya manusia baik secara fisik maupun mental. Daerah yang memiliki tingkat derajat kesehatan yang tinggi akan lebih berhasil dalam melaksanakan pembangunan. Semakin tinggi derajat kesehatan dapat diartikan semakin baik kualitas sumber daya manusia, terlebih bila dihubungkan dengan kesehatan ibu dan anak.
2.1. Angka Kesakitan
Keluhan kesehatan menggambarkan rasa sakit yang dikeluhkan masyarakat disebabkan penyakit tertentu. Melihat cerminan tingkat kesejahteraan penduduk paling mudah dari indikator utama yaitu keluhan kesehatan yang dialami penduduknya, dimana semakin sehat suatu penduduk dapat tercermin dari tingkat kesakitan yang semakin rendah.
BAB II
KESEHATAN
Angka kesakitan ini dapat dicerminkan oleh banyaknya penduduk yang mempunyai keluhan kesehatan dalam sebulan berdasarkan jenis keluhan yang dideritanya. Berdasarkan gambar 2.1., persentase penduduk perempuan yang mengalami gangguan kesehatan sebesar 33,44 persen, angka ini lebih banyak dibandingkan angka kesakitan yang dialami oleh laki-laki yaitu sebesar 28,94 persen.
Dari gambar 2.2., mayoritas penduduk Kabupaten Aceh Tamiang pada tahun 2015 menderita sakit selama ≤ 3 hari dengan persentase sebesar 54,54 persen, sedangkan 34,83 persen menderita sakit selama 4-7 hari. Sementara itu penduduk yang menderita sakit selama 8-14 hari sebesar 3,85 persen. Penduduk yang menderita sakit selama 15-21 hari sebanyak 2,97 persen dan 22-30 hari hanya sebesar 3,82 persen. Secara rata-rata, lama sakit atau terganggunya kesehatan penduduk di Kabupaten Aceh Tamiang adalah selama 5 hari.
Gambar 2.1.
Persentase Penduduk yang Mempunyai Keluhan Kesehatan dan Terganggu Aktivitasnya di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
Sumber: Susenas, 2015
28,94
33,44
31,18
Laki-laki Perempuan Total
Gambar 2.2.
Persentase Penduduk yang Menderita Sakit Selama Sebulan yang Lalu Menurut Jumlah Hari Sakit di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
Sumber: Susenas, 2015 54,54 34,83 3,85 2,97 3,82 <=3 4-7 8-14 15-21 22-30
12
Gambar 2.3. menunjukkan upaya penduduk untuk mengatasi keluhan kesehatan dimana 50,18 persen penduduk memilih untuk melakukan pengobatan sendiri dan sebesar 65,09 persen penduduk memilih berobat jalan. Alasan utama penduduk tidak berobat jalan selain mengobati sendiri adalah penduduk merasa tidak perlu karena percaya bahwa sakit yang diderita akan sembuh dengan sendirinya (40,23 persen).Fasilitas kesehatan yang paling banyak dimanfaatkan oleh penduduk untuk berobat jalan adalah puskesmas/pustu karena selain terjangkau bagi semua kalangan masyarakat, pelayanan di puskesmas juga semakin membaik. Tahun 2015, persentase penduduk yang berobat jalan di puskesmas/pustu sebesar 47,53 persen, berobat jalan di praktek dokter/bidan sebesar 32,73 persen dan yang memilih berobat ke rumah sakit pemerintah sebanyak 8,40 persen dan rumah sakit swasta sebanyak 0,84 persen.
2.2. Penolong Kelahiran
Penolong kelahiran sangat berpengaruh terhadap keselamatan dan kesehatan bayi dan ibu pada saat proses melahirkan. Persalinan yang ditolong oleh tenaga medis seperti dokter atau bidan dapat dianggap lebih baik dibandingkan tenaga non medis seperti dukun, famili atau lainnya. Penanganan yang kurang baik oleh penolong kelahiran dapat mengakibatkan kondisi kesehatan bayi dan ibu menjadi berbahaya seperti terjadinya kejang-kejang, pendarahan pada saat ibu melahirkan maupun kematian ibu dan anak yang tentunya tidak diinginkan oleh siapapun.
Gambar 2.3.
Persentase Penduduk yang Mengobati Sendiri dan Berobat Jalan Di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
Sumber: Susenas, 2015
65,09
50,18
Berobat Jalan Mengobati Sendiri
Gambar 2.4.
Persentase Penduduk yang Berobat Jalan berdasarkan Fasilitas Kesehatan yang Dikunjungi di Kabupaten Aceh Tamiang, 2015
Sumber: Susenas, 2015 8,40 0,84 32,73 7,11 47,53 3,42 1,82 0,92
Pada tahun 2015, secara umum persentase penolong kelahiran bayi di Aceh Tamiang sudah dilakukan oleh tenaga kesehatan. Hal ini disebabkan oleh tingkat kepercayaan masyarakat terhadap tenaga medis untuk membantu persalinan bayi yang tinggi.
Penolong persalinan bayi yang dilakukan oleh tenaga medis terdiri atas dokter kandungan dan bidan. Penolong persalinan terakhir bayi di
Kabupaten Aceh Tamiang didominasi oleh bidan yaitu sebesar 73,40 persen kemudian diikuti oleh dokter kandungan sebesar 26,60 persen. Pada tahun 2015, Penduduk Aceh Tamiang sudah tidak ada lagi yang menggunakan jasa dukun bersalin untuk membantu proses persalinannya.
2.3. Pemberian ASI
Tingkat kecerdasan anak dipengaruhi oleh kualitas makanan yang diberikan pada saat anak tersebut berusia balita dan pemberian Air Susu Ibu (ASI) sewaktu bayi. ASI merupakan kebutuhan pokok bagi bayi karena mengandung zat-zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan otak, pembentukan tulang
serta sebagai alat untuk memerangi penyakit dan melindungi tubuh dari kuman karena selain mengandung nilai gizi yang cukup tinggi juga mengandung zat pembentuk kekebalan tubuh terhadap penyakit. Oleh karena itu, semakin lama anak disusui akan semakin baik tingkat pertumbuhan dan kesehatannya. ASI ekslusif (pemberian asi tanpa makanan tambahan sampai usia 6 bulan), dianjurkan oleh para ahli kesehatan karena dipercaya mempunyai manfaat yang sangat besar baik bagi ibu sebagai suatu bentuk perwujudan kasih sayang maupun bayi untuk