• Tidak ada hasil yang ditemukan

a. Angka kunjungan wisatawan di Pulau Liukang Loe

Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bulukumba, 2012.

b. Perkembangan jumlah dan Kepadatan Penduduk di Pulau Liukang Loe.

Tahun Jumlah Penduduk Kepadatan

Penduduk 2007 460 0,23 2008 497 0,25 2009 502 0,25 2010 578 0,29 2011 586 0,29 2012 650 0,3

Sumber : Kantor Desa Bira, 2012.

No. Bulan Tahun

2008 2009 2010 2011 2012 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 10 8 10 11 12 23 40 63 18 17 15 15 15 - 15 30 15 30 40 105 15 30 15 15 15 - 15 30 15 30 45 105 15 30 30 30 15 15 15 30 30 30 45 15 90 60 30 - 15 15 30 15 45 30 15 105 30 75 30 36 Jumlah 232 330 360 375 441

Lampiran 10. Foto Lokasi Stasiun Penelitian Pantai Berpasir

Stasiun 1 (Pengamatan Pantai berpasir) Stasiun 2 (Pengamatan Pantai berpasir)

Stasiun 3 (Pengamatan Pantai berpasir) Stasiun 4 (Pengamatan Pantai berpasir)

Lampiran 11 Foto Lokasi Stasiun Penelitian Terumbu Karang

Stasiun 1 (Pengamatan Terumbu karang) Stasiun 2 (Pengamatan Terumbu karang)

Lampiran 12 Foto Sarana dan Prasarana di Pulau Liukang Loe

Dermaga di Pulau Liukang Loe Sarana Kesehatan di Pulau Liukang Loe

Sarana Air Tawar di Pulau Liukang Loe Masjid di Pulau Liukang Loe

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jeneponto, Sulawesi Selatan pada tanggal 1 April 1989 sebagai anak sulung dari pasangan Abd. Rajab Makele dan Nurhayati. Pendidikan strata satu (S1) ditempuh di Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan, Universitas Hasanuddin Makassar, lulus pada tahun 2011. Kesempatan untuk melanjutkan ke program magister sains pada Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB) diperoleh pada tahun 2011.

Selama mengikuti perkuliahan, Penulis aktif di lembaga Forum Mahasiswa Pascasaarjana IPB (Forum Wacana IPB) dan lembaga Forum Mahasiswa Pascasarjana Asal Sulawesi Selatan (Rumana IPB Sul-Sel). Penulis juga aktif berpartisipasi mengikuti kegiatan seminar, workshop, dan pelatihan-pelatihan, baik dalam lingkup IPB maupun dalam lingkup nasional.

1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pulau-pulau kecil memiliki potensi pembangunan yang besar karena didukung oleh letaknya yang strategis dari aspek ekonomi, pertahanan dan keamanan serta adanya ekosistem khas tropis dengan produktivitas hayati tinggi. Selain potensi terbarukan pulau-pulau kecil juga memiliki potensi yang tak terbarukan seperti pertambangan dan energi kelautan serta jasa-jasa lingkungan yang tinggi nilai ekonomisnya. Dari sekian ribu konfigurasi pulau-pulau di Indonesia, sebagian besar merupakan pulau-pulau kecil yang jumlahnya diperkirakan lebih dari ± 10 000 pulau. Dalam perkembangannya bahwa keberadaan pulau-pulau kecil di Indonesia belum mendapat perhatian serius sehingga dalam pengelolaannya belum optimal. Berawal dari munculnya Peraturan Presiden No. 78 tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar hingga lahirnya UU No. 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil menunjukan betapa pentingnya wilayah pesisir dan keberadaan pulau-pulau kecil yang perlu dijaga kelestariannya dan dimanfaatkan untuk kemakmuran seluruh masyarakat baik bagi generasi sekarang maupun bagi generasi yang akan datang sehingga dibutuhkan aturan khusus dalam pengelolaannya.

Pulau-pulau kecil memiliki potensi sumberdaya yang sangat besar ditandai dengan adanya keanekaragaman ekosistem seperti pada ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang beserta biota yang hidup di sekitar wilayah pulau- pulau kecil. Keberadaan potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk peningkatan produksi perikanan, ekowisata bahari, konservasi dan jenis pemanfaatan lainnya. Pulau-pulau kecil rentan terhadap perubahan, oleh sebab itu diperlukan kebijakan dalam pengelolaan yang dapat menyeimbangkan tingkat pemanfaatan pulau-pulau kecil untuk kepentingan ekonomi tanpa mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang.

Kabupaten Bulukumba sebagai salah satu kabupaten pesisir di Sulawesi Selatan memiliki sejarah dan budaya masyarakat yang kaya dengan khazanah kehidupan pesisir dan laut. Secara antropologis, pola pikir, ekonomi dan perilaku sosial budaya masyarakat di Kabupaten Bulukumba tidak dapat dipisahkan dari lingkungan kelautan dan perikanan. Sebagai daerah pesisir, corak budaya dan kegiatan perekonomian Kabupaten Bulukumba banyak dipengaruhi oleh kondisi pesisir, baik dalam bentuk mata pencaharian maupun adat istiadat. Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu kabupaten yang terletak di wilayah pesisir di bagian selatan Provinsi Sulawesi Selatan sekitar 153 km dari Makassar (Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan). Kabupaten Bulukumba memiliki panjang garis pantai 128 km yang memungkinkan mayarakat melakukan aktivitas pada sektor kelautan dan perikanan (DKP Provinsi Sulawesi Selatan, 2012).

Kecamatan Bontobahari merupakan salah satu kecamatan yang terletak di wilayah pesisir Kabupaten Bulukumba dan sangat berpotensi untuk pengembangan aktivitas pesisir dan lautan termasuk ekowisata bahari. Kabupaten

Bulukumba memiliki ikon wisata yaitu Tanjung Bira, akan tetapi seiring dengan meningkatnya tekanan menyebabkan degradasi sumberdaya, belum lagi ditambah dalam pengelolaannya yang belum maksimal dan berkelanjutan.

Pulau Liukang Loe merupakan pulau yang terletak di Kabupaten Bulukumba yang telah ditetapkan Pemerintah Daerah sebagai destinasi wisata. Pulau Liukang Loe sangat unik dengan karakteristik budaya masyarakat lokal yang khas dan secara fisik wilayah pulau hampir dikelilingi pasir putih dan rataan terumbu karang yang tentu dapat mendukung kegiatan wisata bahari di Pulau Liukang Loe seperti aktivitas wisata pantai (rekreasi/bersantai), snorkling dan menyelam. Sampai saat ini, belum ada perhatian serius dalam hal pengelolaan Pulau Liukang Loe sehingga kontribusinya bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Bulukumba juga terbilang masih minim. Oleh karena itu diperlukan instrumen tepat dalam pengelolaan Pulau Liukang Loe untuk lebih memberdayakan wilayah kepulauan menjadi kawasan yang menguntungkan secara ekologi, sosial dan ekonomi (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab. Bulukumba, 2012).

Salah satu tipologi kegiatan wisata yang menjadi alternatif kegiatan wisata bahari saat ini adalah ekowisata bahari yang mengedepankan keaslian alam yang dapat memberikan manfaat ekonomi, ekologis dan sosial budaya (Bookbinder et al. 2000; Bjork, 2000). Pengembangan kawasan pulau-pulau kecil sebagai lokasi ekowisata bahari memerlukan koordinasi dan integrasi dari beberapa unsur dengan mengacu pada kondisi internal lokasi yang menyangkut aspek ekologi, kesesuaian, daya dukung dan sosial budaya masyarakat. Oleh karena itu perlu dirancang desain pengelolaan yang terpadu. Selain itu juga pulau-pulau kecil sangat rentan karena sifatnya yang khas akibat kecilnya ukuran dibanding daratan (smallness) serta terisolasi dari pulau besar/induk (remotness) serta akibat tekanan dari aktivitas manusia yang sifatnya destruktif (Dahuri, 2003; Bengen, 2003).

Wisata beresiko menjadi tidak berkelanjutan jika sistem ekologi dan kapasitas kultur sosial ekonomi masyarakat lokal tidak dihargai (Wall 1997 in Teh dan Cabanban, 2007). Terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara aktivitas ekowisata bahari wisatawan dengan kualitas lingkungan perairan, ekosistem dan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Dimana kualitas lingkungan perairan dan ekosistem yang baik akan mendukung pengembangan aktivitas ekowisata bahari dan secara tidak langsung akan mendukung peningkatan kapasitas sosial ekonomi masyarakat lokal.

Saat ini kegiatan wisata yang telah berlangsung di Pulau Liukang Loe adalah wisata pantai (rekreasi pantai), snorkling dan diving yang dilakukan oleh wisatawan lokal yang umumnya berasal dari Kota Makassar dan sekitarnya maupun wisatawan mancanegara. Berbagai kelompok masyarakat baik dalam rombongan keluarga, kelompok mahasiswa dan instansi pemerintah biasanya memanfaatkan hari libur untuk berwisata di kawasan Pulau Liukang Loe. Untuk sampai ke kawasan Pulau Liukang Loe, wisatawan dapat menggunakan sarana transportasi berupa motor laut milik masyarakat, sarana transportasi pribadi berupa speed boat atau yang disewa selama kurang lebih 30 menit dari Pantai Pasir Putih Tanjung Bira.

Kunjungan wisatawan ke obyek wisata Pulau Liukang Loe berlangsung setiap tahunnya. Akan tetapi, kunjungan mencapai puncak pada bulan Juni hingga

akhir tahun. Hal ini terkait dengan periode musim yang terjadi pada bulan tersebut yakni musim kemarau dimana kondisi pantai cenderung bersih. Permasalahannya adalah peningkatan kunjungan pada musim puncak juga meningkatkan seluruh aktivitas wisata baik aktivitas wisata maupun aktivitas transportasi antar pulau, perdagangan souvenir dan kegiatan perikanan lainnya. Keragaman jenis bahan pencemar pun bertambah salah satunya pencemaran oleh bahan organik.

Adanya peningkatan kegiatan tersebut menyebabkan tekanan terhadap ekosistem semakin meningkat, sehingga berpengaruh terhadap kondisi ekologi sumberdaya laut di Pulau Liukang Loe yaitu terumbu karang serta penurunan kualitas perairan laut. Kondisi perairan tersebut jika terus berlanjut dan nilai parameter perairan melebihi batas baku mutu peruntukkan wisata bahari yang telah ditetapkan, maka perairan laut tersebut telah tercemar baik secara fisik, kimia maupun biologi.

Oleh karena itu diperlukan penelitian strategi pengembangan ekowisata bahari di Pulau Liukang Loe dengan mengacu pada daya dukung kawasan untuk keberlanjutan sumberdaya dan ekosistem Pulau Liukang Loe.

1.2 Perumusan Masalah

Sebagai kawasan pesisir dan pulau kecil, Pulau Liukang Loe memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata bahari. Selain itu, adanya keragaman budaya dan sejarah yang ada di pulau ini menjadikan Pulau Liukang Loe menjadi sangat prospektif untuk pengembangan lebih lanjut. Kegiatan wisata yang telah ada di Pulau Liukang Loe adalah wisata pantai (rekreasi), snorkling dan diving menikmati panorama alam sehingga dapat dikatakan Pulau Liukang Loe memiliki potensi wisata yang lengkap dan beragam.

Pulau Liukang Loe dengan kondisi potensi sumberdaya yang cukup besar namun belum dimanfaatkan secara optimal. Belum optimalnya kegiatan wisata ini disebabkan karena kurangnya dukungan pemerintah karena dalam pengelolaan belum dilakukan secara serius dan professional dalam mengembangkan Pulau Liukang Loe menjadi suatu kawasan wisata bahari. Kurangnya dukungan pemerintah ini yaitu dalam hal ketersediaan fasilitas sarana dan prasarana yang mendukung perjalanan wisata bahari relatif kurang tersedia dan tidak memadai sehingga belum dapat memberikan kesejahteraan pada masyarakat lokal.

Keberadaan potensi sumberdaya yang beranekaragam dapat memberikan manfaat baik secara ekologi maupun ekonomi. Manfaat tersebut akan dapat diterima jika dikelola secara baik dan benar berdasarkan konsep pengelolaan yang komprehensif dengan mempertimbangkan daya dukung yang dimiliki baik biofisik maupun sosial ekonomi. Jika melebihi batas tersebut dan pembangunan yang tidak terencana akan mengalami degradasi lingkungan dan konflik sosial (Wong, 1991).

Selain itu, dalam pengelolaan Pulau Liukang Loe perlu juga diperhatikan aktivitas wisatawan dan keberadaan masyarakat lokal yang telah ada. Berbagai aktivitas masyarakat kemudian ditambah dengan adanya kunjungan wisatawan akan berpengaruh terhadap penurunan kualitas ekosistem. Tekanan terhadap sumberdaya ekosistem akan terus berlanjut jika persepsi masyarakat lokal dan

wisatawan dalam memanfaatkan sumberdaya yang ada cenderung eksploitatif dan mengesampingkan aspek pelestarian terhadap sumberdaya yang ada. Hal ini terkait dengan tingkat pembangunan yang secara keseluruhan tidak boleh melebihi daya dukung (carrying capacity) sesuai dengan kaidah-kaidah ekologis sehingga dampak negatif dapat ditekan seminimal mungkin sesuai dengan kemampuan ekosistem pesisir dan pulaunya. Selain itu, kontribusi limbah yang dihasilkan dapat dilakukan prediksi status pencemaran di Pulau Liukang Loe. Dimana pengaruh yang ditimbulkan bukan hanya pada penurunan daya dukung tapi dapat mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut.

Upaya meminimalkan dampak negatif dengan adanya aktivitas wisata bahari dapat ditempuh dengan pengalokasian aktivitas wisata bahari dengan mempertimbangkan kesesuaian kawasan untuk peruntukkan wisata bahari dan daya dukung dalam menyediakan lahan dan sumberdaya bagi setiap kegiatan. Oleh karena itu, pemanfaatan Pulau Liukang Loe untuk pengembangan wisata bahari harus memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan secara lestari dan berkelanjutan.

Berdasarkan uraian tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.Bagaimana kondisi sumberdaya untuk mendukung aktivitas ekowisata bahari di Pulau Liukang Loe.

2.Bagaimana kesesuaian lahan dan daya dukung kawasan Pulau Liukang Loe untuk pengembangan ekowisata bahari.

3. Bagaimana strategi dalam pengelolaan Pulau Liukang Loe untuk ekowisata bahari berkelanjutan.

1.3 Tujuan

Penelitian ini bertujuan :

1.Mengkaji kondisi sumberdaya perairan untuk mendukung aktivitas ekowisata di Pulau Liukang Loe.

2.Mengukur kesesuaian lahan dan daya dukung kawasan untuk aktivitas ekowisata di Pulau Liukang Loe.

3. Menentukan strategi pengelolaan untuk pengembangan Pulau Liukang Loe berbasis ekowisata bahari.

1.4 Manfaat

Penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi dasar dalam perumusan perencanaan pembangunan pulau-pulau kecil (PPK) terutama untuk pengelolaan untuk mengatasi/meminimalisir beban limbah akibat aktivitas wisatawan dan masyarakat lokal di Pulau Liukang Loe. Selain itu, dapat menjadi bahan informasi bagi pihak swasta ataupun stakeholder yang ingin terlibat dalam kegiatan ekowisata bahari Pulau Liukang Loe dan menjadi acuan atau pedoman ilmiah bagi pengembangan pulau-pulau kecil yang berkelanjutan.

1.5 Kerangka Pemikiran

Pulau Liukang Loe merupakan sumberdaya pulau kecil yang memiliki potensi yang cukup besar. Variabel penelitian dengan inventarisasi sumberdaya berupa ekosistem alami yang tersedia di Pulau Liukang Loe antara lain terumbu karang dan pantai berpasir, analisis kesesuaian wisata, analisis daya dukung di tinjau dari aspek ekologi dengan pendekatan ruang/ketersediaan ruang serta kualitas air sehingga diperoleh rekomendasi pengelolaan Pulau Liukang Loe untuk ekowisata bahari berkelanjutan.

Sebagai pulau kecil, Pulau Liukang Loe rentan terhadap berbagai tekanan baik dari masyarakat lokal dengan segala aktifitas pemanfaatan sumberdaya alam untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya, selain itu juga dari aktivitas wisatawan yang mengunjungi dan memanfaatkan sumberdaya dan jasa lingkungan di kawasan tersebut untuk kebutuhan wisata. Oleh karena itu sangat penting untuk mempertimbangkan aspek ekologi dalam pengembangan kawasan ini.

Pengembangan Pulau Liukang Loe untuk kegiatan ekowisata bahari tentu perlu dikaji terlebih dahulu potensi dan informasi terkait mengenai sumberdaya dan kondisi masyarakat lokal yang berada di sekitar kawasan pemanfaatan sumberdaya pulau-pulau kecil dengan maksud mengidentifikasi karakteristik sumberdaya dan kesesuaian lahan pemanfaatan agar dalam pemanfaatannya secara optimal. Dalam penelitian ini, penentuan zona pengembangan wisata bahari dilakukan dengan pendekatan Sistem Informasi Geografis (SIG) yang didasarkan pada kriteria kesesuaian untuk setiap aktivitas wisata bahari dimana melaui pendekatan ini akan diperoleh kawasan mana saja yang sesuai dan tidak sesuai untuk berbagai jenis wisata.

Selanjutnya, dilakukan penentuan daya dukung kawasan untuk menampung wisatawan yang masuk tanpa mengganggu keseimbangan ekologis. Perhitungan daya dukung dilakukan dengan dua pendekatan yaitu pendekatan ruang/spasial untuk mengetahui jumlah wisatawan yang dapat ditampung ditiap sub zona kegiatan wisata berdasarkan luas kawasan yang sesuai dan pendekatan kualitas air terkait dengan limbah yang dihasilkan oleh masyarakat dan wisatawan selama melakukan aktivitas di Pulau Liukang Loe.

Informasi tersebut sangat diperlukan dalam pengelolaan dan pengembangan Pulau Liukang Loe untuk ekowisata bahari untuk keberlanjutan system sumberdaya dan aktivitas wisata itu sendiri. Adapun kerangka pikir dalam penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 1.1 sebagai berikut.

Gambar 1.1 Kerangka Pikir Penelitian Pengelolaan

Sumberdaya Pulau Liukang Loe

Pengelolaan Pulau Liukang Loe UntukEkowisata Bahari

Identifikasi Pemanfaatan Identifikasi Potensi Sumberdaya PPK Wisata Pantai Snorkling Selam Analisis Sistem Informasi Geografis (SIG)

Limbah Masyarakat Limbah Wisata

Daya Dukung Ruang

Lingkungan Pesisir Analisis Kesesuaian Ekowisata Bahari

2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil

Setiap pulau memiliki format pengelolaan yang berbeda disesuaikan dengan latar geografisnya, karakteristik ekosistem dan sosial budaya masyarakat setempat. Dalam arah kebijakan pengelolaan pulau-pulau yang berkelanjutan dan berbasis masyarakat terdapat beberapa pendekatan yang dikombinasikan yaitu : 1). Hak 2). Ekosistem dalam alokasi ruang wilayah pulau dan gugusan pulau 3). Sesuai kondisi sosial budaya setempat (Dahuri, 2003).

Pengembangan pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir dan laut pulau- pulau kecil perlu mempertimbangkan berbagai faktor berdasarkan karakteristik yang dimiliki sebuah pulau atau gugusan pulau dan diperlukan pendekatan yang lebih sistematik serta lebih spesifik berdasarkan lokasi (Adrianto, 2005). Mengingat rentannya ekosistem pulau dan gugusan pulau kecil, pemerintah melakukan pembatasan kegiatan yang cenderung menimbulkan dampak negatif yang sangat luas, baik secara ekologis maupun sosial.

Keadaan ini menunjukkan bahwa pengelolaan pembangunan pada kawasan tersebut apabila tidak terencana dengan baik dapat mengakibatkan dampak eksternal yang cukup nyata. Dengan demikian kegiatan dalam bentuk apapun itu yang dilakukan akan berdampak pada fungsi ekosistem pulau-pulau kecil. Oleh karena itu dalam pengelolaan pulau-pulau kecil harus memperhatikan persyaratan pengelolaan lingkungan yang serius.

Wisata memberikan keuntungan dalam mengatasi keterbatasan ukuran dalam tiga cara. Pertama, menyediakan volume barang dan jasa yang cukup memenuhi permintaan pasar secara efisien dan skala ekonomi yang mampu menyediakan lebih barang dan jasa sehingga menurunkan biaya satuan produksi. Kedua, meningkatkan persaingan dengan mendorong pendatang baru di pasar, sehingga memberikan dampak positif pada tingkat harga barang dan layanan. Ketiga, wisata dengan memberikan skala dan kompetisi bersama dengan pilihan konsumen yang lebih besar dan keterbukaan perdagangan, dapat meningkatkan taraf hidup sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup di sebuah negara kecil.

Konsep pengelolaan wisata tidak hanya berorientasi pada keberlanjutan tetapi juga mempertahankan nilai sumberdaya alam dan manusia. Oleh karena sifat sumberdaya dan ekosistem pesisir dan lautan alami sering rentan dan dibatasi oleh daya dukung, maka pengembangan pasar yang dilakukan menggunakan pendekatan product driven, yaitu disesuaikan dengan potensi, sifat, perilaku objek daya tarik wisata alam dan budaya yang tersedia, seperti tidak tahan lama (perishable), tidak dapat pulih (non recoverable) dan tidak tergantikan (non substitutable) diusahakan untuk menjaga kelestarian dan keberadaannya (Yulianda, 2007).

Gambar 2.1 Interaksi Antar Komponen Pulau-Pulau Kecil

Pada Gambar 2.1 dapat diidentifikasi bahwa dalam sistem pulau-pulau kecil terdapat 5 (lima) proses alam, proses sosial, proses ekonomi, perubahan iklim dan proses pertemuan antara daratan dan lautan yang masing-masing merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari 3 komponen pulau-pulau kecil yaitu sistem lingkungan daratan, sistem lingkungan laut dan sistem aktivitas manusia (Debance, 1999).

Secara umum kegagalan dalam mengatasi masalah pengelolaan memberikan implikasi antara lain percepatan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan hidupnya. Penyebab utama terjadinya kegagalan tersebut antara lain : 1). Perbedaan hak-hak (entelimen) yang sangat mencolok antara berbagai lapisan masyarakat 2). Sumberdaya alamnya mengalami semacam akses terbuka (aquasi-

open-access resources) yang semua pihak cenderung memaksimumkan

keuntungan dalam pemanfaatannya 3). Kekurangan dalam sistem penilaian (undervaluation) terhadap sumberdaya alam terhadap sistem ekonomi pasar yang terjadi dimana sangat erat kaitannya dengan aspek teknis finansial dan aspek sosial ekonomi budaya masyarakat setempat.

Menurut Bengen (2002), pemanfaatan pulau-pulau kecil secara optimal dan lestari terwujud apabila memenuhi tiga persyaratan ekologis, yaitu : (1). Keharmonisan spasial (2). Kapasitas asimilasi dan daya dukung lingkungan (3). Pemanfaatan potensi sesuai daya dukungnya. Keharmonisan spasial berhubungan dengan bagaimana menata suatu kawasan pulau-pulau kecil bagi peruntukan pembangunan (pemanfaatan sumberdaya) berdasarkan kesesuaian (suitability) lahan (pesisir dan laut) dan keharmonisan antara pemanfaatan. Keharmonisan spasial mensyaratkan suatu kawasan pulau-pulau kecil tidak sepenuhnya diperuntukan bagi zona pemanfaatan tetapi juga harus dialokasikan untuk zona preservasi dan konservasi. Keharmonisan spasial, juga menuntut pengelolaan pembangunan dalam zona pemanfaatan dilakukan secara bijaksana. Artinya

Hubungan Keterkaitan Komponen Aktivitas Manusia Lingkungan Perairan Laut Lingkungan Daratan

kegiatan pembangunan di tempatkan pada kawasan yang secara biofisik sesuai dengan kebutuhan pembangunan yang dimaksud.

2.2 Ekowisata Bahari

Terminologi ekowisata bahari akhir-akhir ini semakin popular di seluruh dunia. Kebanyakan negara-negara yang memiliki wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil termasuk Indonesia mulai mendengungkan ekowisata bahari sebagai suatu bentuk baru dari pariwisata yang berlawanan dengan bentuk pariwisata massal yang tradisional dan berbasis industri. Hal ini tentu saja selain didasarkan atas tuntutan dari para pecinta lingkungan bahwa kegiatan wisata seharusnya memperkecil dampak negarif terhadap lingkungan melalui kegiatan konservasi, tetapi lebih dari itu adalah bentuk kesadaran dan tanggung jawab manusia dalam memelihara keberlanjutan sumberdaya alam. Konsep ekowisata bahari (marine ecotourism) merupakan pengembangan dari wisata bahari (marine tourism). Selanjutnya Orams (1999) mendefenisikan wisata bahari sebagai aktivitas rekreasi yang meliputi perjalanan jauh dari suatu tempat tinggal menuju lingkungan laut (dimana yang dimaksud dengan lingkungan laut sendiri adalah perairan yang bergaram dan dipengaruhi oleh pasang surut). Secara spesifik, Yulianda (2007) mendefenisikan ekowisata bahari sebagai ekowisata yang memanfaatkan karakter sumberdaya pesisir dan laut serta manusia yang dapat diintegrasikan menjadi komponen terpadu bagi pemanfaatan wisata.

Gambar 2.2 Skema Konsep Ekowisata Bahari

Ekowisata bahari merupakan kegiatan pesisir dan laut yang dikembangkan dengan pendekatan konservasi laut. Konsep ekowisata bahari dari pengembangan suatu kawasan seperti terlihat pada Gambar 2.2 di atas bahwa output langsung yang diterima wisatawan berupa hiburan dan pengetahuan dan untuk alam yaitu insentif yang dikembalikan untuk mengelola kegiatan konservasi alam. Output

Alam Output langsung konservasi alam Output tidak langsung Input Ekowisata Bahari Input Manusia Output lansung (hiburan, pengetahuan)

tidak langsung yaitu tumbuhnya kesadaran wisatawan untuk memperhatikan sikap hidup yang tidak berdampak buruk bagi alam. Kesadaran ini tumbuh akibat kesan yang diperoleh wisatawan selama berinteraksi langsung dengan lingkungan di kawasan konservasi.

2.3 Analisis Kesesuaian dan Daya Dukung Pulau-Pulau Kecil

2.3.1 Analisis Kesesuaian

Pada dasarnya suatu kegiatan pemanfaatan yang akan dikembangkan hendaknya disesuaikan dengan potensi sumberdaya dan peruntukannya. Oleh karena itu, analisis kesesuaian yang dimaksud adalah analisis kesesuaian dari potensi sumberdaya untuk dikembangkan sebagai objek ekowisata bahari karena setiap kegiatan wisata mempunyai persyaratan sumberdaya dan lingkungan yang sesuai dengan objek wisata yang akan dikembangkan (Yulianda, 2007).

Kesesuaian lahan (land suitability) merupakan kecocokan (adaptability) suatu lahan untuk tujuan penggunaan tertentu, melalui penentuan nilai (kelas) lahan serta pola tata guna lahan yang dihubungkan dengan potensi wilayahnya, sehingga dapat diusahakan penggunaan lahan yang lebih terarah berikut usaha pemeliharaan kelestariannya. Pengembangan daerah yang optimal dan berkelanjutan membutuhkan suatu pengelolaan keruangan wilayah pesisir yang matang. Berkaitan dengan hal tersebut, maksimum kajian tentang model pengelolaan dan arahan pemanfaatan wilayah pesisir yang berbasis digital dengan

Dokumen terkait