• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 PEMBANGUNAN PENDIDIKAN

5.1 Angka Melek Huruf

Melek aksara (juga disebut dengan melek huruf) adalah

kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan baca-tulis

dianggap penting karena melibatkan pembelajaran berkelanjutan

oleh seseorang sehingga orang tersebut dapat mencapai

tujuannya, dimana hal ini berkaitan langsung bagaimana

seseorang mendapatkan pengetahuan, menggali potensinya, dan

berpartisipasi penuh dalam masyarakat yang lebih luas.

Angka melek aksara merupakan tolak ukur penting dalam

mempertimbangkan kemampuan sumber daya manusia di suatu

daerah. Hal ini didasarkan pada pemikiran yang berdalih bahwa

melatih orang yang mampu baca-tulis jauh lebih mudah daripada

melatih orang yang buta aksara, dan umumnya orang-orang yang

mampu baca-tulis memiliki status sosial ekonomi, kesehatan, dan

prospek meraih peluang kerja yang lebih baik. Kemampuan

baca-tulis juga berarti peningkatan peluang kerja dan akses yang lebih

luas pada pendidikan yang lebih tinggi.

Di dunia internasional salah satu aspek penentu tingkat

pembangunan suatu bangsa diukur dari tingkat keaksaraan

penduduknya. Angka melek huruf merupakan salah satu variabel

dalam menentukan indeks pembangunan manusia (IPM) atau

Human Development Index (HDI).

Pemberantasan buta aksara tidak dapat langsung dilaksanakan.

Namun memerlukan waktu dan perancangan program yang tepat.

Dalam Pengembangan Masyarakat, program biasanya

dikembangkan untuk menyediakan pelayanan sosial yang secara

langsung menyentuh sasaran perubahan.

Berbagai program yang telah dilaksanakan dalam pemberantasan

buta aksara diantaranya adalah kursus A-B-C, Program

Pemberantasan Buta Huruf Fungsional, Kejar Paket A, dan

program Keaksaraan Fungsional (KF) yang dijalankan oleh

pemerintah sejak tahun 1995.

Kondisi keaksaraan di Jawa Tengah ditunjukkan pada Tabel 5.1

yang menyajikan persentase penduduk melek huruf yang berusia

Indikator untuk mengukur hasil

pembangunan pendidikan

seperti angka melek huruf,

rata-rata lama sekolah, pendidikan

tertinggi yang ditamatkan dan

alasan tidak/belum pernah

sekolah/tidak sekolah lagi.

Catatan:

- AMH 15 tahun ke atas;

- AMH 15-24 tahun;

- AMH 15-45 tahun;

- AMH 45 tahun ke atas.

Statistik Pendidikan Jawa Tengah 2014

| 53

10 tahun ke atas menurut tipe daerah, jenis kelamin dan

kelompok umur berdasarkan hasil Susenas 2014. Dari tabel

tersebut terlihat bahwa persentase penduduk 10 tahun ke atas

yang melek huruf sebesar 93,73 persen, sedangkan untuk yang

berusia 15 tahun ke atas sebesar 92,98 persen. Rendahnya

angka melek huruf pada kelompok umur 15 tahun ke atas ini

dipengaruhi oleh kelompok umur 45 tahun ke atas. Persentase

penduduk 45 tahun ke atas yang melek huruf sebesar 83,32

persen.

Tabel 5.1 Persentase Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas yang Melek Huruf menurut Tipe Daerah, Jenis Kelamin dan Kelompok Umur, 2014 10 - 14 15 - 24 25 - 44 45+ 10+ 15+ (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Perkotaan Laki-laki 99,66 99,99 99,44 86,67 96,97 96,62 Perempuan 99,57 99,97 99,21 82,45 93,48 92,81 Laki-laki+Perempuan 99,66 99,99 99,44 86,67 95,20 94,67 Perdesaan Laki-laki 99,53 99,94 98,70 80,63 95,41 94,81 Perempuan 99,46 99,96 98,16 73,76 89,63 88,35 Laki-laki+Perempuan 99,53 99,94 98,70 80,63 92,48 91,52 Perkotaan+Perdesaan Laki-laki 99,59 99,96 99,04 83,32 96,12 95,64 Perempuan 99,51 99,97 98,64 77,67 91,40 90,42 Laki-laki+Perempuan 99,59 99,96 99,04 83,32 93,73 92,98 Tipe Daerah / Jenis Kelamin Kelompok Umur

Dilihat menurut tipe daerah, persentase penduduk melek huruf

umur 10 tahun ke atas di daerah perdesaan sebesar 92,48

persen, lebih rendah dibandingkan daerah perkotaan sebesar

95,20 persen. Kondisi yang sama terjadi pada kelompok umur

lainnya dimana persentase penduduk yang melek huruf di

perdesaan lebih rendah dibandingkan di perkotaan. Hal ini

disebabkan di daerah perkotaan lebih banyak tersedia fasilitas

pendidikan dibandingkan daerah perdesaan.

Persentase penduduk perempuan melek huruf umur 10 tahun ke

atas sebesar 91,40 persen, lebih rendah dibandingkan penduduk

laki-laki sebesar 96,12 persen. Kondisi tersebut terjadi baik di

AMH 10 Tahun ke Atas 93,73 persen.

AMH 15 Tahun ke Atas 92,98 persen.

54 |

Statistik Pendidikan Jawa Tengah 2014

perkotaan maupun perdesaan dan hampir di semua kelompok

umur.

Hasil Susenas 2014 menunjukkan bahwa angka melek huruf

umur 15 tahun ke atas mencapai 92,98 persen. Jika dibandingkan

dengan tahun-tahun sebelumnya, angka melek huruf umur 15

tahun ke atas mengalami peningkatan (Gambar 5.1).

Gambar 5.1 Perkembangan Persentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Melek Huruf menurut Kelompok Umur, 2011 - 2014

99,38 99,73 99,73 99,96 97,99 98,53 98,53 99,04 98,44 98,92 98,92 99,35 89,75 91,27 91,27 92,98 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 2011 2012 2013 2014 15‐24 25‐44 15‐44 15+

Salah satu program pemerintah dalam penuntasan buta aksara

adalah program keaksaraan fungsional (KF). Program KF

merupakan program terpadu yang terdiri dari membaca, menulis,

berhitung, dan keterampilan. Sasaran program keaksaraan

fungsional adalah mereka yang buta huruf umur 15-44 tahun.

Persentase penduduk berusia 15-44 tahun yang melek huruf pada

tahun 2014 sebesar 99,35 persen. Perkembangan angka melek

huruf umur 15-44 tahun pada beberapa tahun terakhir cenderung

fluktuatif, namun jika dibandingkan dengan tahun 2013, angka

melek huruf umur 15-44 tahun pada tahun 2014 mengalami

peningkatan.

Salah satu target MDGs adalah menjamin pada 2015 semua anak

dimanapun, laki-laki maupun perempuan dapat menyelesaikan

pendidikan dasar. Salah satu indikator yang digunakan untuk

memantau pencapaian tersebut adalah angka melek huruf

penduduk 15-24 tahun. Jika dibandingkan dengan kelompok umur

Angka Melek Huruf 2014 :

15-24 Tahun 99,96 persen.

25-44 Tahun 99,04 persen.

15-44 Tahun 99,35 persen.

15 Tahun ke Atas 92,98 persen.

Statistik Pendidikan Jawa Tengah 2014

| 55

lainnya, angka melek huruf kelompok umur 15-24 tahun

cenderung lebih tinggi. Angka melek huruf umur 15-24 tahun pada

tahun 2014 mencapai 99,96 persen, meningkat dibandingkan

tahun 2013 sebesar 99,73 persen (Gambar 5.1).

85,94 87,25 88,46 88,51 89,42 89,58 91,31 91,50 91,85 92,11 92,17 92,35 92,44 92,65 92,89 92,98 93,15 93,44 93,61 94,37 94,48 94,60 94,78 94,83 94,90 94,91 94,98 95,41 95,49 95,75 95,77 96,17 96,78 97,54 97,62 98,26 75 80 85 90 95 100 Kab. Wonogiri Kab. Sragen Kab. Boyolali Kab. Brebes Kab. Blora Kab. Pemalang Kab. Rembang Kab. Kendal Kab. Kebumen Kab. Pati Kab. Sukoharjo Kab. Temanggung Kab. Klaten Kab. Cilacap Kab. Magelang Jawa Tengah Kab. Karanganyar Kab. Banjarnegara Kota Tegal Kab. Batang Kab. Tegal Kab. Demak Kab. Banyumas Kab. Semarang Kab. Grobogan Kab. Jepara Kab. Purworejo Kota Salatiga Kab. Kudus Kab. Wonosobo Kab. Purbalingga Kab. Pekalongan Kota Magelang Kota Semarang Kota Surakarta Kota Pekalongan Ga m bar 5 .2

Pe rsentase Penduduk Usia 15 Tahun ke Atas yang Melek Huruf m e nurut Kabupaten/Kota, 2014

Gambar 5.2 menyajikan persentase penduduk berusia 15 tahun

ke atas yang melek huruf menurut kabupaten/kota. Dari gambar

tersebut terlihat bahwa persentase penduduk yang melek huruf

sangat bervariasi antar kabupaten/kota. Untuk kelompok

penduduk 15 tahun ke atas persentase penduduk yang melek

AMH 15th+ Jawa Tengah

sebesar 92,98 persen.

Sebanyak 20 kabupaten/kota

(57,14 persen) memiliki AMH

15th+ diatas angka provinsi.

Sebanyak 15 kabupaten/kota

(42,86 persen) memiliki AMH

15th+ dibawah angka provinsi.

56 |

Statistik Pendidikan Jawa Tengah 2014

huruf tertinggi terdapat di Kota Pekalongan (98,26 persen), Kota

Surakarta (97,62 persen), dan Kota Semarang (97,54 persen).

Sedangkan kabupaten/kota dengan persentase melek huruf

terendah terdapat di Kabupaten Wonogiri (85,94 persen),

Kabupaten Sragen (87,25 persen), dan Kabupaten Boyolali (88,46

persen).

Dokumen terkait