2.3. Angkatan Kerja
2.3.2. Angkatan Kerja Menurut Golongan
Bila dilihat dari sisi kelompok umur, angkatan kerja Sulawesi Selatan pada dua tahun awal masih didominasi golongan umur 30-34 tahun yaitu sebanyak 490.831 orang, juga pada kelompok umur 25-29 tahun yaitu sebanyak 490.033 orang pada tahun 2008 dan 489.755 orang pada tahun 2009, sedangkan untuk tahun 2010, 2011 dan 2012 angkatan kerja tertinggi adalah golongan umur 30-34 tahun yaitu pada kisaran 490 ribuan orang, dan golongan umur 25-29 sebanyak 492.020 orang. Hal ini diduga karena golongan umur ini telah menyelesaikan pendidikannya baik pada tingkat pendidikan menengah, maupun pendidikan tinggi, sehingga memungkinkan golongan umur ini mampu menembus pasar kerja dan lebih bersaing dalam dunia kerja demi mengisi lowongan yang umumnya
sekarang ini banyak mengutamakan latar belakang pendidikan yang lebih tinggi. (Lihat Tabel 2.9)
Tabel 2.9
Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur Provinsi Sulawesi Selatan,Tahun 2008 – 2012
Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2008 – 2012
2.3.3. Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan
Komposisi angkatan kerja menurut tingkat pendidikan selama tahun 2008–2012 masih didominasi oleh angkatan kerja dengan latar belakang pendidikan Sekolah Dasar yaitu pada tahun 2008 sebanyak 1.760.898 orang atau 51,07 persen1.767.856 orang atau 49,98 persen pada tahun 2009 dan 1.787.625 orang atau 50,06 persen pada tahun 2010, dan 1.757.138 orang atau 48,64 persen pada tahun 2011. Pada tahun 2012 sebanyak 1.665.050 orang atau 46,76 persen.
Golongan Umur 2008 2009 2010 2011 2012 15 – 19 291.677 296.560 289.372 284.438 264.971 20 – 24 439.048 431.308 387.943 421.004 380.621 25 – 29 490.033 489.755 469.983 492.020 476.790 30 – 34 457.094 490.831 490.430 477.093 495.687 35 – 39 442.424 449.322 464.937 444.925 447.822 40 – 44 357.244 383.549 402.996 424.679 447.295 45 – 49 311.692 319.571 317.776 322.056 338.075 50 – 54 248.159 254.114 269.675 274.542 264.486 55 – 59 164.878 161.669 178.745 182.686 183.180 60 + 245.630 260.241 299.460 288.981 261.964 Jumlah 3.447.879 3.536.920 3.571.317 3.612.424 3.560.891
Sedangkan angkatan kerja pada tingkat pendidikan SMTP ke atas, masih berfluktuasi, dan pertambahan angkatan kerja yang cukup mengesankan akan terjadi pada mereka yang berpendidikan SMTA Umum. Meskipun perubahan jumlah angkatan kerja pada tingkat SMTA keatas selama tahun 2008-2012 menunjukkan itu, namun menunjukkan kondisi sebaliknya, dimana pada tahun 2008 jumlah tersebut sebesar 16,76 persen, mengalami kenaikan tahun 2009 sebesar 17,31 persen, dan meningkat kembali pada tahun 2010 menjadi sebesar 16,97 persen dan sedikit meningkat pada tahun 2011 menjadi 17,54 persen. Pada tahun 2012 sebesar 18,19 persen.
Hal ini terjadi karena adanya pergeseran yaitu angkatan kerja yang berpendidikan SMTA Umum bergeser ke angkatan kerja yang berpendidikan SMTA Kejuruan, hal ini menunjukkan bahwa pada periode 2008-2012 sebesar 5,43 persen pada tahun 2008, meningkat pada tahun 2009 menjadi sebesar 6,20 persen, kemudian menurun lagi pada tahun 2010 sebesar 5,87 persen, pada tahun 2011 menjadi 6,69 persen, dan pada tahun 2012 sebesar 5,98 persen.
Sejalan dengan diterapkannya sistem pendidikan melalui Program Pendidikan Dasar 9 (sembilan) Tahun, diharapkan jumlah angkatan kerja berpendidikan SD dari tahun ke tahun akan semakin menurun. Demikian pula sebaliknya, angkatan kerja berpendidikan SMTP keatas diharapkan akan terus mengalami peningkatan, sehingga struktur angkatan
kerja beberapa tahun kedepan diperkirakan akan banyak mengalami perubahan dibandingkan tahun– tahun sebelumnya. (Lihat Tabel 2.10)
Tabel 2.10
Angkatan Kerja Menurut Tingkat Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan,Tahun 2008 – 2012
Tingkat Pendidikan 2008 2009 2010 2011 2012 Maksimum S D 1.760.898 1.767.856 1.787.625 1.757.138 1.665.050 SMTP 623.641 613.361 597.575 630.778 565.610 SMTA Umum 577.950 612.169 606.095 633.765 647.669 SMTA Kejuruan 187.093 219.152 209.525 211.551 212.615 Diploma 98.998 98.558 101.857 95.997 92.624 Universitas 199.299 225.824 268.640 283.195 377.323 Jumlah 3.447.879 3.536.920 3.571.317 3.612.424 3.560.891 Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2008 – 2012
2.3.4. Angkatan Kerja Menurut Kabupaten/Kota
Angkatan kerja pada Kabupaten/Kota di Sulawesi Selatan sejak tahun 2008 sampai 2012 mengalami fluktuasi yang cukup beragam dimana Kota Makassar sebagai ibukota provinsi memiliki persentase angkatan kerja tertinggi diantara semua daerah yaitu pada tahun 2008 sebesar 16,39 persen dan pada tahun 2009 sebesar 16,95 persen, tahun 2010 mengalami penurunan menjadi 16,41 persen dan menurun lagi pada tahun 2011 dan 2012 yaitu sebesar 16,35 persen dan 15,67 persen.
Selanjutnya di Kabupaten Bone angkatan kerja pada tahun 2008 sebesar 9,38 persen, tahun 2009 sebesar 9,17 persen, tahun 2010 sebesar 9,10 persen, tahun 2011 sebesar 9,07 persen dan pada tahun 2012 sebesar 9,3 persen. Di Kabupaten Gowa pada
tahun 2008 angkatan kerja sebesar 7,05 persen, pada tahun 2009 sebesar 7,62 persen, tahun 2010 meningkat menjadi 8,18 persen, pada tahun 2011 dan 2012 sebesar 8,25 persen dan 7,99 persen.
Daerah dengan angkatan kerja terendah adalah Kota Parepare dan Kabupaten Selayar dengan persentase angkatan kerja pada tahun 2008 – 2012 hanya berkisar pada angka 1,5 persen – 1,6 persen. Angkatan kerja di Kota Pare – Pare pada tahun 2008 sebesar 1,52 persen, tahun 2009 sebesar 1,55 persen, tahun 2010 sebesar 1,64 persen, tahun 2011 sebesar 1,53 persen dan tahun 2012 sebesar 1,52 persen. Sedangkan di Kabupaten Selayar angkatan kerja tahun 2008 sebesar 1,52 persen, tahun 2009 sebesar 1,55 persen, tahun 2010 sebesar 1,59 persen, tahun 2011 sebesar 1,52 persen dan tahun 2012 sebesar 1,51 persen.
Kondisi yang terjadi di Kabupaten Selayar dan Kota Parepare sebagai kota pelabuhan dimana angkatan kerjanya paling rendah diantara 24 kabupaten/kota yang ada di Sulawesi Selatan kiranya perlu dikaji dengan lebih mendalam dimana seharusnya daerah ini memiliki angkatan kerja yang lebih besar mengingat potensi bahari yang dimilikinya. (Lihat Tabel 2.11).
Tabel 2.11
Angkatan Kerja Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Sulawesi Selatan, Tahun 2008 – 2012
Kabupaten/Kota 2008 2009 2010 2011 2012 Selayar 52,083 54,996 56,886 54,791 53,814 Bulukumba 202,798 195,722 183,755 179,363 193,496 Bantaeng 85,482 90,539 96,583 81,326 91,228 Jeneponto 156,233 150,287 158,822 156,073 163,723 Takalar 107,925 111,143 113,743 123,648 121,317 Gowa 243,021 269,388 292,030 298,089 284,628 Sinjai 97,043 103,782 103,177 101,317 115,778 Maros 128,723 120,926 140,270 143,857 143,570 Pangkep 120,871 124,697 127,854 137,482 123,574 Barru 62,018 60,736 65,907 74,576 67,192 Bone 323,583 324,189 325,112 327,771 333,803 Soppeng 104,371 105,064 95,030 105,796 104,376 Wajo 188,753 186,905 180,682 188,353 173,902 Sidrap 104,812 103,279 111,338 124,680 112,583 Pinrang 149,411 149,148 140,074 156,732 133,883 Enrekang 88,275 93,309 91,171 82,075 93,577 Luwu 128,674 123,558 138,551 145,583 132,656 Tana Toraja 194,314 212,207 97,979 94,481 111,070 Luwu Utara 128,371 132,708 130,718 126,624 128,024 Luwu Timur 98,703 106,213 122,037 111,759 110,759 Toraja Utara 93,166 87,880 94,810 Kota Makasar 565,099 599,605 586,178 590,718 557,904 Kota Pare-Pare 52,478 54,825 58,522 55,230 54,095 Kota Palopo 64,838 63,694 61,732 64,220 61,129 Jumlah 3,447,879 3,536,920 3,571,317 3,612,424 3,560,891 Sumber : Sakernas Agustus 2008-2012
2.4. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK)
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sulawesi Selatan pada tahun 2008, 2009, 2010, 2011 dan 2012 secara umum cenderung menunjukkan sentimen positif dan mengalami kenaikan, meskipun di beberapa kelompok umur maupun tingkat pendidikan tertentu masih fluktuatif secara kuantitas, TPAK selama periode tersebut masing-masing 62,02 persen pada tahun 2008,tahun 2009 sebesar 62,48 persen, tahun 2010 sebesar 64,14 persen,dan tahun 2011 sebesar 64,32 persen. Pada tahun 2012 sebesar 62,82 persen.
Fluktuasi TPAK tersebut salah satunya disebabkan oleh adanya perubahan sistem pendidikan yakni melalui pendidikan dasar 9 tahun disatu sisi, sedangkan disisi lain semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap jenjang pendidikan yang lebih tinggi sejalan dengan tuntutan dunia kerja. Hal tersebut tampaknya memberikan pengaruh terhadap laju pertumbuhan Angkatan Kerja. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pertambahan jumlah angkatan kerja pada tahun–tahun berikutnya relatif lebih kecil dibandingkan dengan pertambahan jumlah penduduk usia kerja. Sedangkan pada tahun 2012mengalami sedikit penurunan yaitu 62,82 persen.
2.4.1. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut Jenis Kelamin
Tingkat partisipasi angkatan kerja laki–laki dari tahun 2008–2012 berada pada kisaran 80 persen sementara tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan berada pada kisaran 40 persen sehingga selama kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir ini
perbedaan antara TPAK laki–laki dan perempuan cukup tinggi yakni sekitar 50 persen.
Tabel 2.12
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Jenis Kelamin Provinsi Sulawesi Selatan,Tahun 2008 – 2012 (%)
Jenis Kelamin 2008 2009 2010 2011 2012
Laki - Laki 81.73 81.97 82.40 84.86 81.76 Perempuan 44.35 44.94 47.56 45.60 45.56
Jumlah 62.02 62.48 64.14 64.32 62.82 Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2008-2012 (Data Diolah)
2.4.2. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut Golongan Umur
Secara umum, semakin tinggi golongan umur, maka tingkat partisipasi angkatan kerja semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan hidup, dan mulai pada golongan golongan umur tertentu mulai menurun. Kondisi tersebut terlihat pada golongan umur 15-19 tahun sedangkan mulai umur 35-49 tahun selama tahun 2008-2012 menunjukkan peningkatan, sedangkan golongan umur 50-54 hingga diatas 60 tahun lebih dalam periode yang sama menunjukkan penurunan di beberapa tahap.
TPAK pada golongan umur 15-19 tahun pada periode 2008-2012 cenderung fluktuatif dimana pada tahun 2008 sebesar 36,09 persen, terjadi penurunan menjadi 35,47 persen pada tahun 2009 namun dalam periode yang sama mengalami peningkatan sebesar 36,85 persen pada tahun 2010, meningkat lagi pada
tahun 2011 sebesar 37,21 persen dan pada tahun 2012 mengalami penurunan menjadi sebesar 32,61 persen.
Begitu pula dengan TPAK pada golongan umur 20-24 tahun dalam periode yang sama juga mengalami fluktuasi dimana pada tahun 2008 sebesar 62,58 persen menurun menjadi 61,47 persen pada tahun 2009, kemudian meningkat lagi pada tahun 2010 menjadi 61,89 persen, bahkan juga meningkat 63,00 persen pada tahun 2011. Pada tahun 2012 menurun menjadi sebesar 60,10 persen. Sedangkan TPAK pada golongan umur yang lebih tua cenderung berfluktuasi. (Lihat Tabel 2.13)
Tabel 2.13
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Golongan Umur Provinsi Sulawesi Selatan,Tahun 2008 – 2012 ( % ) Golongan Umur 2008 2009 2010 2011 2012 15 – 19 36,09 35,47 36,85 37,21 32,61 20 – 24 62,58 61,47 61,89 63,00 60,10 25 – 29 70,74 71,60 74,31 75,14 73,60 30 – 34 73,30 74,77 75,01 74,08 74,76 35 – 39 74,20 75,39 77,24 75,83 76,58 40 – 44 73,44 75,67 75,86 76,44 78,73 45 – 49 74,28 74,05 75,53 76,87 76,96 50 – 54 69,28 70,56 73,72 73,40 73,70 55 – 59 66,20 65,37 68,91 65,74 67,19 60 + 39,36 40,63 43,40 43,01 38,20 Jumlah 62,02 62,48 64,14 64,32 62,82 Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2008-2012 (Data diolah)
2.4.3. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut Pendidikan
Salah satu indikator yang menunjukkan kualitas tenaga kerja secara umum adalah tinggi rendahnya tingkat pendidikan.Sejalan dengan perubahan sistem pendidikan diharapkan TPAK lulusan SD dari tahun ketahun semakin menurun, TPAK lulusan SD walau sempat menurun di tahun 2009 justru mengalami peningkatan pada tahun berikutnya. Ini berarti bahwa sistem pendidikan belum terlaksana dengan baik. Seperti pada tahun 2008 lulusan pendidikan SD sebesar 61,78 persen menurun pada tahun 2009 menjadi 61,48 persen, namun pada tahun 2010 meningkat menjadi 63,70 persen, dan kembali meningkat pada tahun 2011 sebesar 63,73 persen, dan pada tahun2012 sebesar 62,70 persen. Sedangkan TPAK lulusan pendidikan SMTP dalam periode yang sama menunjukkan peningkatan meskipun terjadi fluktuasi, dimana pada tahun 2008 sebesar 53,40 persen, meningkat menjadi 54,06 persen pada tahun 2009, dan meningkat lagi menjadi 54,97 persen pada tahun 2010 dan bertambah pada tahun 2011 sebesar 56,69 persen. Pada tahun 2012 menurun signifikan menjadi sebesar 51,05 persen.
TPAK lulusan SMTA keatas dalam periode yang sama juga menunjukkan peningkatan meskipun tetap berfluktuasi. Tahun 2008 sebesar 63,05 persen, tahun 2009 sebesar 63,23 persen, tahun 2010 sebesar 63,50 persen, dan tahun 2011 turun menjadi 63,00 persen, sedangkan tahun 2012 sebesar 62,50 persen.Disisi lain
terlihat bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka tingkat partisipasi terhadap dunia kerja menjadi semakin tinggi, kecuali TPAK pendidikan SMTP.Hal ini mencerminkan bahwa sebagian besar lulusan SMTP melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sehingga lulusan SMTP yang memasuki pasar kerja jumlahnya relatif kecil.Seperti pada tahun 2008 sampai tahun 2012 menunjukkan bahwa TPAK lulusan Universitas, merupakan angka yang tertinggi, namun terjadi fluktuasi pada tahun 2008 sebesar 85,90 persen, meningkat pada tahun 2009 menjadi 88,86 persen, dan menurun pada tahun 2010 sebesar 87,81 persen, tahun 2011 sebesar 88,36 persen. Pada tahun 2012 sebesar 88,20 persen. (Lihat Tabel 2.14)
Tabel 2.14
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja ( TPAK ) Menurut Tingkat Pendidikan
Provinsi Sulawesi Selatan,Tahun 2008 – 2012 ( % ) Tingkat Pendidikan 2008 2009 2010 2011 2012 Maksimum S D 61,78 61,48 63,70 63,73 62,70 SMTP 53,40 54,06 54,97 56,69 51,05 SMTA Umum 63,05 63,23 63,50 63,00 62,50 SMTA Kejuruan 68,40 70,82 72,89 70,42 66,07 Diploma 83,01 83,20 80,62 80,01 78,05 Universitas 85,90 88,86 87,81 88,36 88,20 Jumlah 62,02 62,48 64,14 64,32 62,82 Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2008 – 2012
2.4.4. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Menurut Kabupaten/Kota
Ada beberapa kabupaten dengan TPAK diatas TPAK provinsi selama tahun 2008-2012 diantaranya Kabupaten Bulukumba dengan TPAK pada tahun 2008 sebesar 74,41 persen, tahun 2008 sebesar 67,85 persen, tahun 2010 sebesar 66,45 persen, tahun 2011 sebesar 64,22 dan tahun 2012 sebesar 68 persen. Selanjutnya di Kabupaten Bantaeng dengan TPAK tahun 2008 sebesar 69 persen, tahun 2009 sebesar 71,95, tahun 2010 sebesar 77,92 persen, tahun 2011 dan 2012 sebesar 65,50 dan 72,20 persen. Kabupaten yang cukup stabil adalah kabupaten Enrekang yang pada tahun 2008 sebesar 70,65 persen dan sampai pada tahun 2012 mencapai 74,50 persen.(Lihat Tabel 2.15).
Tabel 2.15
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja Menurut Kabupaten/Kota
Provinsi Sulawesi Selatan, Tahun 2008-2012
Kabupaten/Kota 2008 2009 2010 2011 2012 Selayar 60.52 62.75 67.72 65.10 62.72 Bulukumba 71.41 67.83 66.45 64.22 68.42 Bantaeng 69.00 71.95 77.92 65.50 72.20 Jeneponto 65.80 62.68 66.86 64.53 66.98 Takalar 58.75 59.54 59.75 64.48 62.33 Gowa 57.23 61.97 64.69 65.60 62.08 Sinjai 60.81 64.05 66.64 65.08 73.06 Maros 62.30 57.56 64.09 64.93 64.31 Pangkep 58.98 59.85 61.02 64.99 57.57 Barru 53.63 51.85 56.95 64.23 56.75 Bone 64.13 63.38 64.67 64.02 64.84 Soppeng 58.99 58.83 57.72 63.44 62.05 Wajo 65.43 64.01 63.70 67.03 59.92 Sidrap 56.58 55.03 57.80 64.56 57.19 Pinrang 61.28 60.17 58.86 64.50 54.96 Enrekang 70.65 73.37 74.31 66.57 74.50 Luwu 62.35 58.90 64.23 65.28 59.67 Tana Toraja 65.11 69.48 68.62 67.11 76.25 Luwu Utara 65.30 65.42 69.11 65.95 65.63 Luwu Timur 65.39 67.99 75.85 68.33 67.32 Toraja Utara 69.54 63.49 68.29 Kota Makasar 58.42 60.79 60.70 61.00 57.94 Kota Pare-Pare 60.85 62.91 65.23 62.03 60.37 Kota Palopo 62.72 59.34 60.18 63.12 59.64 Jumlah 62,02 62,48 64,14 64,32 62,82 Sumber : Sakernas Agustus 2008-2012
2.5. Penduduk Yang Bekerja
Perekonomian di Sulawesi Selatan dalamlima tahun terakhir (2008-2012) menunjukkan perkembangan yang cukup signifikan, dimana pertumbuhan ekonomi melewati ambang 5,12 persen pada tahun 2008, kemudian tumbuh 6,72 persen pada tahun 2009, walaupun sedikit ada penurunan pada tahun 2010 menjadi 6,34 persen, namun di tahun 2011 menunjukkan peningkatan yang sangat berarti hingga mencapai 8,1 persen yang melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya menyentuh angka 6,7 persen. Sedangkan pada tahun 2012 pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan mencapai angka 8,3 persen, masih berada diatas pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 6,3 persen. Meskipun pertumbuhan ekonomi dalam periode tersebut cukup baik, namun sementara ini kemampuan ekonomi masih cukup rendah dalam menciptakan lapangan kerja.
2.5.1. Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis Kelamin
Kecenderungan laki-laki untuk berperan aktif dalam dunia kerja terlihat masih sangat dominan dengan selisih rata-rata sekitar 25,7 persen dengan perempuan yang bekerja, dimana pada tahun 2012 laki–laki yang bekerja sebesar 62,85 persen sedangkan perempuan yang bekerja hanya sebesar 37,15 persen. Hal ini dimungkinkan karena dalam masyarakat masih beranggapan bahwa laki-laki adalah pencari nafkah utama dalam keluarga sehingga kontribusi perempuan dalam dunia kerja masih kurang diperhitungkan. (Lihat Tabel 2.16)
Tabel 2.16
Penduduk Yang Bekerja Menurut Jenis Kelamin Provinsi Sulawesi Selatan,Tahun 2008 – 2012
Jenis Kelamin 2008 2009 2010 2011 2012
Laki - Laki 1,989,733 2,026,732 2,077,953 2,155,593 2,106,671 Perempuan 1,146,378 1,195,524 1,194,412 1,219,905 1,245,237
Jumlah 3,136,111 3,222,256 3,272,365 3,375,498 3,351,908 Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2008 - 2012
2.5.2. Penduduk Yang Bekerja Menurut Golongan Umur
Komposisi penduduk yang bekerja selama periode 2008-2012 secara umum didominasi oleh golongan umur 25-29 tahun, 30-34 tahun dan 35-39 tahun yang jumlahnya mengalami perubahan secara berfluktuasi.
Golongan umur 25-29 tahun pada tahun 2008 sebesar 13,51 persen kemudian menurun pada tahun 2009 menjadi 13,19 persen, tahun 2010 mencapai 13,81persen, dan tahun 2011 sebesar 13,67 persen, pada tahun 2012 sebesar 13,25 persen. Pada golongan umur 30-34 tahun sebesar 13,24 persen pada tahun 2008, meningkat pada tahun 2009 menjadi 13,97 persen, dan terus mengalami kenaikan hingga mencapai 14,07 persen pada tahun 2010, kemudian tahun 2011 menurun 13,61 persen, dan pada tahun 2012 sebesar 14,23 persen. Sedangkan golongan umur 35-39 tahun, pada tahun 2008 sebesar 12,97 persen, ditahun berikutnya menjadi sebesar 13,04 persen pada tahun 2009, dan kembali meningkat pada tahun 2010 sebesar 13,54 persen tahun 2011 mengalami
penurunan sebesar 12,82 persen, dan pada tahun 2012 sedikit meningkat sebesar 12,93 persen.
Golongan umur yang juga cukup diperhitungkan selama periode 2008-2012 adalah golongan umur 20-24 tahun dan golongan umur 40-44 tahun. Golongan umur 20-24 tahun pada tahun 2008 sebesar 11,29 persen, tahun 2009 sebesar 11,06 persen, tahun 2010 sebesar 9,71 persen,tahun 2011sebesar 10,91 persen, dan pada tahun 2012 sebesar 9,43 persen. Golongan umur 40-44 tahun pada tahun 2008 sebesar 11,77 persen, tahun 2009 sebesar 10,15 persen, tahun 2010 sebesar 11,2 persen, tahun 2011 meningkat sebesar 12,23 persen dan tahun 2012 sebesar 13,01 persen.
Tabel 2.17
Penduduk Yang Bekerja Menurut Golongan Umur Provinsi Sulawesi Selatan,Tahun 2008 – 2012 Golongan Umur 2008 2009 2010 2011 2012 15 – 19 234.312 246.701 230.906 210.975 216.494 20 – 24 354.064 356.385 317.642 368.157 316.083 25 – 29 423.795 425.174 419.160 461.400 444.116 30 – 34 415.071 450.015 460.283 459.298 476.865 35– 39 406.749 420.314 443.164 432.682 433.590 40 – 44 343.697 361.798 385.520 411.673 435.801 45 – 49 307.520 304.251 306.404 314.698 329.341 50 – 54 244.959 244.226 261.130 268.292 256.220 55 – 59 162.584 156.428 169.922 175.628 182.074 60 + 243.360 256.964 278.234 272.695 261.324 Jumlah 3.136.111 3.222.256 3.272.365 3.375.498 3.351.908 Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2008 – 2012
Pada periode yang sama menunjukkan bahwa penduduk yang bekerja pada golongan umur 50-54
tahun dan 55-59 tahun jumlahnya juga menunjukkan perubahan yang fluktuatif. Kondisi seperti ini dimungkinkan sebagai akibat adanya kecenderungan bahwa mereka yang sudah habis masa kerjanya, setelah beberapa tahun kemudian tetap menjalankan kegiatan yang memiliki nilai ekonomi baik dalam kegiatan ekonomi formal maupun kegiatan ekonomi informal. Namun bila dilihat secara keseluruhan golongan umur yang tidak pernah mengalami penurunan selama periode 5 tahun terakhir ini adalah golongan umur 30-34 tahun, dimana golongan umur ini setiap tahun mengalami kenaikan yang cukup signifikan dan menunjukkan kecenderungan yang positif bagi dunia kerja. (Lihat Tabel 2.17)
2.5.3. Penduduk Yang Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan
Kualitas sumberdaya manusia selain dapat dilihat menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan, juga dapat dilihat dari Human Development Index (HDI). Sejalan dengan membaiknya perekonomian memberikan dampak positif terhadap tingkat pendidikan penduduk yang bekerja. Kondisitersebut disatu sisi tercermin dari komposisi penduduk yang bekerja dengan pendidikan universitas yang diharapkan terus meningkat dan dalam periodeempat tahun terakhir telah menunjukkan hal tersebut, tahun 2008 sebesar 4,09 persen, meningkat pada tahun 2009 menjadi 4,50 persen, dan semakin meningkat pada tahun 2010 menjadi 5,49 persen bahkan bertambah di
tahun 2011 menjadi 7,6 persen. Sedangkan pada tahun 2012 meningkat lagi menjadi 10,51 persen.
Penduduk yang bekerja dengan pendidikan SD kebawah, meskipun masih menduduki peringkat pertama dari segi kuantitas namun mulai menunjukkan sentimen positif yaitu terjadi penurunan dari 54,22 persen pada tahun 2008, turun menjadi 53,75 persen pada tahun 2009 dan menurun lagi menjadi 51,05 persen pada tahun 2010, dan tahun 2011 sebesar 48,88 persen. Sedangkan pada tahun 2012 menurun lagi menjadi 47,91 persen. Ini sangat berarti bagi dunia pendidikan karena Program Pendidikan Dasar 9 Tahun telah menunjukkan hasil yang baik meskipun mungkin masih jauh dari target, tapi telah dapat dikategorikan sebagai momentum yang tepat untuk hasil yang lebih dimasa datang. Pada tingkat pendidikan SMTP pada tahun 2008 persentasenya mencapai 18,57 persen kemudian meningkat pada tahun 2009 ke level 19,25 persen, namun kembali turun pada tahun 2010 menjadi 18,37 persen, tahun 2011 sebesar 18,19 persen. Pada tahun 2012 sebesar 15,71 persen. Pendudukyang bekerja berpendidikan SMTA sampai dengan lulusan universitas masih tetap berfluktuasi. Kondisi tersebut kemungkinan disebabkan semakin meningkatnya jumlah pencari kerja lulusan perguruan tinggi, sementara lapangan kerja yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya sangat terbatas, maka dengan sukarela mereka menerima jenis pekerjaan pada tingkatan yang lebih rendah. Demikian juga bagi
mereka yang berpendidikan dibawahnya seperti diploma, SMTA umum/kejuruan dan SMTP dengan sukarela menerima jenis pekerjaan pada level bawahnya demi memenuhi kebutuhan dasar setiap manusia yaitu bekerja.(Lihat Tabel 2.18)
Tabel 2.18
Penduduk Yang Bekerja Menurut Tingkat Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan,Tahun 2008 – 2012
2.5.4. Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama
Meskipun komposisi penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha menunjukkan jumlah penduduk yang bekerja di sektor angkutan, perdagangan, jasa dari tahun ke tahun menuju peningkatan, namun karakter Provinsi Sulawesi Selatan sebagai daerah agraris menyebabkan komposisi penduduk yang bekerja di sektor pertanian masih cukup mendominasi dalam penyerapan tenaga kerja dibandingkan dengan sektor lain, namun pada periode lima tahun terakhir ini mulai mengalami Tingkat Pendidikan 2008 2009 2010 2011 2012 S D 1.682.808 1.710.611 1.684.142 1.682.868 1.605.877 SMTP 574.089 580.757 558.975 581.536 526.733 SMTA UMUM 482.715 506.254 526.822 559.637 588.542 SMTAKEJURUAN 151.763 175.029 180.891 197.960 191.140 DIPLOMA 82.132 71.565 86.154 89.555 87.226 UNIVERSITAS 162.604 178.040 235.381 263.942 352.390 Jumlah 3.136.111 3.222.256 3.272.365 3.375.498 3.351.908 Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2008–2012
penurunan. Pada tahun 2008 sebesar 52,75 persen, tahun 2009 turun menjadi 50,69 persen, tahun 2010 menurun lagi menjadi 49,44 persen, tahun 2011 sebesar 46,95 persen dan pada tahun 2012 semakin menurun hingga menyentuh 44,03 persen.
Menurunnya proporsi penduduk yang bekerja di sektor pertanian menunjukkan kecenderungan yang positif dimana para pencari kerja mulai melirik sektor pekerjaan lain selain bidang pertanian.
Tabel 2.19
Penduduk Yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Utama Provinsi Sulawesi Selatan,Tahun 2008 – 2012
Lapangan Usaha 2008 2009 2010 2011 2012
1. Pertanian 1.613.949 1.588.626 1.572.479 1.469.245 1.475.783 2. Pertambangan 18.230 17.509 16.902 29.038 25.753 3. Industri 183.430 214.668 197.342 223.246 225.880 4. Listrik, Gas, Air 7.473 8.845 10.552 7.831 14.256 5. Bangunan 148.467 168.301 158.753 178.717 181.433 6. Perdagangan 578.961 636.714 603.655 654.516 614.082 7. Angkutan 194.483 187.010 174.098 181.214 181.602 8. Keuangan 38.545 38.123 38.646 55.828 58.143 9. Jasa Kemasyarakatan 352.573 362.460 499.938 575.863 574.976 Jumlah 3.136.111 3.222.256 3.272.365 3.375.498 3.351.908
Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2008 – 2012
Fenomena ini mencerminkan bahwa pekerjaan di sektor pertanian bukan merupakan pilihan akhir bagi sebagian pencari kerja, terlebih bagi mereka yang memiliki latar belakang pendidikan SMTP keatas dan berdomisili di daerah perkotaan. Jika tidak sedang musim tanam mereka menjadi pekerja di sektor lain seperti buruh bangunan, penggalian, dll.
Meskipun sektor–sektor pekerjaan yang lain tidak memiliki fleksibilitas yang sama seperti halnya sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja, namun dalam perkembangannya para pencari kerja lebih menunggu kesempatan kerja di sektor non pertanian daripada sektor pertanian. (Lihat Tabel 2.19)
2.5.5. Penduduk Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan
Secara umum status pekerjaan dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) besaran utama yakni sektor formal (kegiatan ekonomi formal) dan sektor informal (kegiatan ekonomi informal). Sektor formal terdiri dari mereka yang berusaha dengan buruh tetap dan pekerja/buruh/karyawan. Sedangkan sektor informal terdiri atas mereka yang berusaha sendiri tanpa bantuan, berusaha dengan dibantu buruh tetap, pekerja bebas di sektor non pertanian, dan pekerja tak dibayar.
Adanya kecenderungan perubahan perekonomian ternyata ikut mendorong peningkatan proporsi penduduk yang bekerja dengan status formal.
Penduduk yang bekerja sebagai
pekerja/buruh/karyawan pada tahun 2008 sebanyak 726.281 orang sementara yang berusaha dengan dibantu buruh tetap sebanyak 103.010 orang. Pada tahun 2009-2012 pekerja/buruh/karyawan terus mengalami kenaikan dan mencapai 1.065.676 pada tahun 2012, sedangkan yang berusaha dengan dibantu buruh tetap sempat mengalami penurunan pada tahun 2009 menjadi 93.464 orang namun pada tahun
selanjutnya kembali meningkat dan mencapai 143.543 orang pada tahun 2012.
Secara proporsional walaupun jumlahnya masih lebih kecil dibanding pekerja sektor informal, pekerja sektor formal cenderung mengalami kenaikan dimana pada tahun 2008 sebesar 26,44 persen, tahun 2009 meningkat menjadi 27,01 persen selanjutnya meningkat sampai tahun 2012 sebesar 36,08 persen.
Sementara itu, pekerja sektor informal selama lima tahun terakhir mengalami penurunan dimana pada tahun 2008 sebesar 73,56 persen, tahun 2009 sebesar 72,99 persen, tahun 2010 sebesar 70,82 persen, tahun 2011 sebesar 66,92 persen dan tahun 2012 menurun lagi menjadi 63,92 persen. Masih dominannya jumlah penduduk yang bekerja pada sektor informal dari tahun ke tahun mengindikasikan berbagai hal antara lain masih rendahnya produktivitas kerja, rendahnya kemampuan ekonomi dalam menyerap tenaga kerja sehingga berdampak pada tingginya angka setengah penganggur dan meningkatnya pekerja paruh waktu. Disamping itu pekerja informal tidak terikat oleh suatu peraturan hukum yang mengikat dan tidak terdaftar, berdampak pada kurangnya perlindungan jaminan kerja bagi pekerjanya. Hal ini menunjukkan bahwa secara riil sektor informal masih berfungsi sebagai filter dalam penyerapan tenaga kerja. (Lihat Tabel 2.20).
Tabel 2.20
Penduduk Yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Provinsi Sulawesi Selatan, Tahun 2008–2012
Status Pekerjaan 2008 2009 2010 2011 2012
Berusaha Sendiri 570,471 563,232 595,311 552,027 538,997 Berusaha dibantu Buruh
Tdk Tetap 862,061 846,819 834,573 842,490 757,676 Berusaha dgn Buruh Tetap 103,010 93,464 112,117 136,612 143,543 Pekerja/buruh/karyawan 726,281 777,005 842,855 979,860 1,065,676 Pekerja bebas di Pertanian 127,756 141,251 125,039 91,015 81,535 Pekerja bebas di Non
pertanian 70,292 96,673 78,093 94,276 95,426 Pekerja Keluarga 676,240 703,812 684,377 679,218 669,055
Jumlah 3,136,111 3,222,256 3,272,365 3,375,498 3,351,908
Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2008-2012
2.5.6. Penduduk Yang Bekerja Menurut Jabatan
Sejalan dengan komposisi penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha, ditinjau berdasarkan jabatannya penduduk yang bekerja menurut jabatan atau jenis pekerjaan selama tahun 2008–2012 ini masih didominasi oleh tenaga usaha pertanian, tenaga produksi/operator/pekerja kasar dan tenaga usaha penjualan, dimana jenis jabatan ini terdapat pada sektor lapangan usaha pertanian, sektor industri dan sektor perdagangan.
Tabel 2.21
Penduduk Yang Bekerja Menurut Jabatan Provinsi Sulawesi Selatan, Tahun 2008–2012
Jenis Pekerjaan/Jabatan 2008 2009 2010 2011 2012
Tenaga Profesional 167,605 161,688 239,639 270,861 281,457 Tenaga Kepemimpinan
dan Ketatalaksanaan 27,818 25,934 36,026 40,710 38,115 Tenaga Tata Usaha 140,278 132,072 176,937 196,086 191,532 Tenaga Usaha Penjualan 530,475 580,407 513,377 586,165 542,336 Tenaga Usaha Jasa 101,958 97,885 111,322 123,114 118,331 Tenaga Usaha Pertanian 1,592,722 1,581,837 1,562,437 1,456,400 1,464,124 Tenaga Produksi,
Operator, dan Pekerja Kasar
560,936 627,918 609,227 662,462 677,075 Lainnya 14,319 14,515 23,400 39,700 38,938
Jumlah 3,136,111 3,222,256 3,272,365 3,375,498 3,351,908
Sumber : BPS, Sakernas Agustus 2008-2012
Proporsi penduduk yang bekerja sebagai tenaga usaha pertanian pada tahun 2008 mencapai 50,79 persen, menurun pada tahun 2009 menjadi 49,09 persen dan terlihat terus menurun sampai tahun 2012 menjadi 43,68 persen. Penurunan tersebut diimbangi dengan kenaikan pada tenaga produksi yang pada tahun 2008 sebesar 17,89 persen, tahun 2009 sebesar 19,49 persen sampai tahun 2012 sebesar 20,2 persen. Kenaikan juga terjadi di beberapa sektor jabatan seperti tenaga profesional, tenaga kepemimpinan/ketatalaksanaan, tenaga tata usaha, tenaga usaha jasa dan tenaga lainnya. Sedangkan tenaga usaha penjualan cenderung mengalami fluktuasi yang beragam dimana pada tahun 2008 sebesar 16,92 persen, meningkat pada tahun 2009 menjadi 18,01 persen namun menurun pada tahun 2010 sebesar 15,69 persen, meningkat lagi pada tahun
2012 sebesar 17,37 persen, namun kembali mengalami penurunan pada tahun 2012 sebesar 16,18 persen. (Lihat Tabel 2.21).
2.5.7. Penduduk Yang Bekerja Menurut Jam Kerja
Perekonomian yang membaik dari suatu daerah biasanya dapat terlihat dari meningkatnya berbagai