• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

E. Interdependensi dan Relasi Sosial Dalam Proses Daur Ulang

2. Antar pekerja sektor informal daur ulang sampah dan

Model Interdependensi dan Relasi Antara Pekerja Sektor Informal Daur Ulang Sampah dan Pihak Pemerintah Tahun 2016

(Sumber : Data Penelitian 2016)

Menurut Ken Butler dalam Prakarsa (2013:25) Sektor Informal dapat menjadi mitra penting bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan masyarakat dalam mengelola sampah perkotaan. Agar partisipasi yang dilandasi kepentingan komersial ini dapat berhasil, perlu dilakukan eksplorasi terhadap potensi sumber daya bahan baku sampah, pembuatan peraturan yang mendukung, penerapan teknologi tepat guna, dan pertimbangan atas kebutuhan semua pemangku kepentingan.

Keterlibatan sektor informal dalam manajemen persampahan perkotaan di Surakarta memerlukan “pergeseran paradigma” dalam cara sektor informal dan pemerintah memandang isu persampahan di perkotaan. Pandangan pada masa lalu dan saat ini adalah bahwa persampahan perkotaan merupakan masalah pembuangan. Alih‐alih, sektor informal maupun pemerintah perlu menggali potensi sumber bahan baku persampahan perkotaan.Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memainkan peran penting dalam menciptakan peluang bagi investasi pekerja sektor informal dengan mengembangkan kebijakan, peraturan, dan

PEMULUNG PELAPAK BANDAR P E L A K U S E K T O R I N F O R M A L DKP KELURAHAN/ RT/RW

109

insentif/disinsentif yang mendukung untuk mendorong peningkatan manajemen persampahan perkotaan.

Perlu disadari bahwa partisipasi sektor informal dalam kegiatan persampahan perkotaan mengandung sejumlah risiko komersial.Kemungkinan besar sektor informal akan bersedia berpartisipasi dalam manajemen persampahan perkotaan, jika pemerintah menyediakan lingkungan usaha yang memadai. Kondisi ini akan memungkinkan sektor informal untuk memperoleh keuntungan komersial yang sepadan dan meminimalisir risiko komersial. Pemerintah harus menyediakan mekanisme insentif, seperti status bebas pajak atau pajak yang lebih rendah untuk peralatan terkait dengan pengolahan persampahan perkotaan; preferensi atau kemudahan dalam perizinan; dukungan keuangan atau teknis.Selain itu, proyek‐proyek sektor informal harus dapat memberi solusi realistis, tepat, dan berkelanjutan bagi manajemen persampahan perkotaan berdasarkan prinsip‐prinsip komersial dan pembagian risiko. Menurut hasil temuan lapangan terkait hubugan interdependensi dan relasi sosial yang terjalin antara pekerja dalam kelangsungan usaha diantaranya adalah:

a. Hubungan DKP dan para pekerja sektor informal daur ulang sampah

DKP adalah leading sector di bidang kebersihan, Dinas lain hanya sebagai pelengkap atau membantu meringankan tugas DKP. Dasar kepentingan DKP terkait persampahan yaitu terciptanya kebersihan di beberapa titik yang menjadi tanggungjawabnya yaitu : jalan protokol, jalan dekat pasar (bukan dalam lingkungan pasar), jalur protokol sekitar pusat perdagangan/pertokoan, jalur protokol sekitar terminal (bukan dalam terminal), jalur protokol sekitar permukiman (teratur maupun tidak teratur) yang ada TPS dan terjangkau truk sampah.

Sebagai leading sector dalam hal sampah yang masuk dalam sektor formal membuat pekerja dalam sektor ini juga turut berkontribusi dalam bisnis usaha daur ulang persampahan di Mojosongo Surakarta.DKP menghandel segala tempat dimana para pekerja sektor informal mengais sampah baik di TPA, TPS, maupun wilayah pemukiman.Sehingga hampir setiap hari para pekerja DKP juga melakukan interaksi secara intensif dengan para pekerja khususnya pemulung. Diwilayah TPS, DKP memberikan pasokan dari sampah rumah tangga dan menggangkut kembali menuju TPA. Proses pengangkutan dari TPS ke TPA seringkali berkoordinasi kepada pemulung karena kerapkali pemulung melakukan pemilahan terlebih dahulu sebelum dilarikan ke TPA. Seperti yang diungkapkan oleh Pemulung TPS :

“…saya setiap hari ambil sampah disini, kalau pagi nunggu truk DKP dulu nanti setelah sampah di buang disana saya pilah dulu sebelum dilarikan ke TPA…” (W/P.NGT/28/12/2016)

110

Setelah sampah di buang ke TPA, banyak pula para pemulung yang berbondong-bondong untuk menunggu sampah yang diturunkan petugas DKP dari truk.Aktivitas kerja yang setiap hari berlangsung, yakni pemulung sebagai pengais sampah dan para petugas DKP sebagai perantara pemasok sampah membuat hubungan diantara mereka terjalin baik. Selain itu dalam pembuatan keputusan oleh DKP terkait sampah juga melibatkan pemulung sebagai salah satu sektor informal yang berperan besar mengolah sampah kota.

Dapat dikatakan bahwa peran antara pekerja sektor formal (DKP) dan informal (pemulung) dalam mengolah sampah memang dibutuhkan kerjasama yang menguntungkan diantara kedua belah pihak.Pihak pemulung dapat memperoleh sampah yang mereka inginkan.Dan para petugas DKP dapat menjalankan kerja dengan baik dalam mengangkut sampah.Relasi sosial antara kedua belah pihak tergolong tinggi khususnya bagi pemulung dalam mengantungkan hidupnya dari pasokan sampah DKP.Dengan adanya pola relasi ini membuat jalinan hubungan antar para pekerja dapat telaksana dengan baik.

b. Hubungan Kelurahan RT/RW dan para pekerja sektor informal daur ulang sampah

Hubungan yang terjalin antara pemerintahan lokal yakni kelurahan/RW/RT sangat berpengaruh besar dalam keberlangsungan usaha daur ulang sampah.Pelayanan yang di berikan oleh pihak pemerintah kepada para pekerja sektor informal biasanya seperti status bebas pajak atau pajak yang lebih rendah untuk peralatan terkait dengan pengolahan persampahan perkotaan; preferensi atau kemudahan dalam perizinan; dukungan keuangan atau teknis.

Terkait status bebas pajak biasanya digunakan oleh para pelapak dan bandar dalam mendirikan usaha sektor daur ulang sampah. Seperti yang diutarakan oleh salah satu petugas kelurahan :

“…kalau mendirikan usaha biasanya para pelapak dan bandar itu larinya kesini agar diberi bebas pajak atau dikasih pajak rendah, karena kan sektor ini masih masuk dalam sektor informal…” (W/P.EKS/11/01/2017).

Pemberian bebas pajak atau pajak rendah bertujuan agar dengan adanya perkembangan sektor informal persampahan ini dapat meningkatkan perekonomian para pekerja didalamnya yang masih masuk dalam masyarakat miskin.Selain itu ada pelayanan perizinan untuk diberikan rekomendasi dari pihak kelurahan agar mereka bisa diberi akses untuk meminjam modal disalah satu bank. Hal tersebut sama dengan pernyataan yang diungkapkan oleh salah satu petugas kelurahan:

111

“…selain itu mereka kesini untuk pinjam bank mbak, dan setelah saya cek ternyata penghasilan mereka itu berpuluh-puluh juga mbak sebulannya. Sangat

besar sekali. Kaya pelapak itu besar mbak apalagi

bandar…”(W/P.EKS/11/01/2017).

Dengan pemberian akses untuk meminjam modal kepada bank pihak kelurahan memberikan keleluasaan bagi para pengusaha sektor persamahan untuk mengembangkan usahanya sesuai dengan pinjaman modal yang di ajukan.Pihak kelurahan hanya memberikan legalitas saja tanpa menarik biaya retribusi kepada mereka.Selain itu ada pula layanan pemberian bantuan bagi para pekerja sektor persampahan yang masuk kategori miskin.Menurut data dari pihak RT dan RW banyak masyarakat yang berprofesi sebagai pemulung masuk dalam kategori miskin.Banyak bantuan yang disalurkan dari pihak, RT, RW sampai kelurahan baik dalam hal bantuan pendidikan gratis sampai pemberian Raskin kepada mereka.

Sehingga dapat dikatakan bahwa instansi pemerintahan baik di wilayah Kelurahan, RT, RW semuanya ikut andil dalam kesejahteraan para pekerja bisnis daur ulang sampah.Terlebih lagi relasi hubungan antar pemerintah kepada masyarakat sektor persampahan sangatlah baik.Sehingga terjalin hubungan interdependensi antara para pekerja dengan pihak pemerintahan setempat.Diharapkan dengan adanya relasi dan interdependensi antara para sektor formal pemerintahan mampu mengerakkan perekonomian para pekerja sektor informal yang ada di Mojosongo Surakarta.

2. Antar Pekerja Sektor Informal Daur Ulang Sampah Dan Masyarakat

Masyarakat memiliki peranan besar dalam usaha daur ulang sampah ini.Kebanyakan masyarakat yang tidak memiliki usaha daur ulang sampah turut mendukung dari keberadaan usaha ini di wilayahnya. Seperti yang diungkapkan oleh petugas DKP :

“… setuju mbak, karena cari pekerjaan juga sulit jadi kalau mereka bisa bekerja halal yaudah monggo saja …” (W/P.Pam/14/01/2017).

Namun tidak jarang juga masyarakat yang merasa terganggu dengan adanya usaha ini. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu pelapak yang mendapat komplain dari masyarakat:

“…kalau usaha daur ulang sampah itu boleh-boleh saja, namun jangan sampai menimbulkan bau yang menyengat karena menggangu masyarakat lain…”(W/P.Pam/14/01/2017).

Berbagai tanggapan yang didapatkan oleh para pekerja sektor informal memang beraneka ragam khususnya dalam keberadaan sektor ini di wilayahnya.Namun sepanjang perjalanan yang dialami oleh pemulung, pelapak dan bandar dari tahun ke tahun di wilayah Mojosongo

112

semua itu tidak menjadi masalah. Karena itu semua profesi, namun setelah mereka pulang ke rumah mereka akan dianggap masyarakat biasa oleh orang lain. Seperti yang disampaikan salah satu pemulung di TPA Putri Cempo:

“…hubungan masyarakat sini baik-baik saja, kalau ada kegiatan ya saya ikut.Jadi orang sini itu udah pada sadar mbak.Kalau sini itu wilayah usaha

Dokumen terkait