• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN POLITIK MUHAMMAD HUSAIN

A. Agama dan Negara di Indonesia

1. Antara Islam, Indonesia, dan Dasar Negara

Indonesia, dikenal sebagai bangsa Muslim tersebar di dunia. Sekitar 87% rakyat Indonesia beragama Islam sekalipun Islam tidak disebut dalam konstitusi sebagai agama negara, seperti halnya negara Malaysia misalnya. Terlepas dari kurangnya kematangan intelektual sebagian besar rakyat dalam memahami ajaran Islam, baik karena faktor sejarah maupun kultural, Islam di Indonesia adalah suatu agama yang hidup dan vital, yang saat ini sedang terlibat dalam proses transformasi dari posisi kuantitas ke posisi kualitas. Dengan kata lain, Islamisasi di Indonesia bukanlah suatu produk sejarah yang telah rampung, tapi merupakan proses yang berkelanjutan.8

Dalam lembaran sejarah politik Islam Indonesia modern, sejak Indonesia berdiri sebagai negara bangsa (nation state) memiliki catatan menarik. Jika kita bandingkan pemikir Islam di Indonesia dengan di Timur Tengah misalnya atau dunia Islam lainnya, pemikiran Islam Indonesia memiliki khazanah pemikira n yang berbeda. Hal ini disebabkan karena corak pemikiran para tokoh pemikir politik Islam saat itu sangat beragam. Yang menurut Munawar Ahmad ada lima macam corak pemikiran saat itu, antara lain: Nasionalisme Radikal yang digagas oleh Soekarno dan aktivis PNI, Tradisionalisme Jawa seperti Supomo,

Islam diwakili Muhammad Natsir, dan Komunisme diwakilkan oleh Aidit.9

Lahirnya gerakan pendirian negara agama ini pun tak lepas dari masalah akan belum selesainya pemahaman yang komprehensif mengenai hubungan agama dan negara yang ideal, sehingga gerakan-gerakan formalisasi agama dalam kehidupan kenegaraan selalu muncul pada setiap kurun waktu. Oleh sebab itu, kajian mengenai hubungan antara agama dan negara yang ideal memilik i makna yang penting dalam kehidupan negara di Indonesia.

Terjadi perdebatan serius dan alot antara para wakil golongan nasionalis Islam dan nasionalis sekular dalam BPUPKI mengenai dasar negara

8 Ahmad Syafi’i Ma’arif, Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara: Studi Tentang

Perdebatan dalam Konstituante, (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2006), h. 1.

9 Munawar Ahmad, Menurut Ak ar Pemik iran Politik Krisis Di Indonesia dan Penerapan

59

berdasarkan Islam, muncul pertama kali dalam sejarah modern Indonesia. Isu yang paling krusial dalam perdebatan itu adalah pembicaraan tentang dasar filsafat ideologi negara bagi Indonesia setelah kemerdekaan. Masalah pokok yang dibahas dalam BPUPKI ini berkisar pada persoalan mengenai bentuk negara, batas negara, dasar filsafat negara, dan hal lain yang menyangk ut dengan pembuatan suatu konstitusi baru bagi sebuah negara baru. Untuk pembahasan mengenai masalah tersebut berjalan dengan lancar, semisal bentuk negara disepakati berbentuk republik. Namun bahasan mengenai dasar negara, suasana politik dalam ruang sidang tersebut menjadi hangat.10

Pada tanggal 9 April 1945, BPUPKI (dalam bahasa Jepang : Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai) dibentuk sebagai realisasi janji Jepang untuk memberika n kemerdekaan kepada Indonesia sebagaimana yang diumukan oleh Perdana Menteri Koiso pada tanggal 9 September 1944. Panitia ini dilantik pada tanggal 28 Mei dan mengadakan sidang-sidang yang dapat dikelompokkan menjadi dua masa persidangan; Sidang pertama, dimulai dari tanggal 29 Mei 1945-1 Juni 1945 dan; masa persidangan kedua tanggal 10 Juli-17 Juli 1945. Dari persidangan-persidangan BPUPKI tersebut berhasil disusun naskah komplit Rancangan Undang-Undang Dasar meliputi pernyataan Indonesia merdeka, Pembukaan Undang-Undang Dasar, dan Undang-Undang Dasar terdiri atas pasal-pasal.

Para wakil golongan Islam tersebut antara lain : K.H.A Sanusi (Persatuan Ummat Islam), Ki Bagus Hadikusumo, K.H. Mas Mansur, Abdul Kahar

Muzakkir (Muhammadiyah), K.H.A. Wachid Hasjim, K.H Masjkur

(Nahdhatul Ulama), Sukiman Wirjosandjodjo (Partai Islam Indonesia, sebelum perang), Abikusno Tjokrosujoso (Partai Sarekat Islam Indonesia), Agus Salim (Partai Penyadar sebelum perang), dan K.H Abdul Halim (Persatuan Ummat Islam). Ketua BPUPKI adalah Dr. Radjiman Wedyodiningrat, seorang tokoh mistik Jawa, sekalipun ketua formal BPUPKI adalah orang Jepang. Dan

10 Ahmad Syafi’i Ma’arif, Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara: Studi Tentang

tokoh terkemuka dari golongan nasionalis sekular adalah Dr. Radjiman, Soekarno, Muhammad Hatta, Profesor Soepomo, Muhammad Yamin, Wongsonegoro, Sartono, R.P. Suroso, dan Dr.Buntaran Martoatmodjo. Mereka ini adalah hasil didikan barat.11

Juru bicara dari golongan nasionalis Islam adalah Ki Bagus Hadikusumo, K.H Ahmad Sanusi, Kahar Muzakkir, dan K.H.A Wachid Hasjim. Perdebatan mengenai dasar negara dalam sidang BPUPKI, dua aliran politik muncul ke permukaan, yakni Islam, dan aliran pemisahan negara dan agama. Profesor Soepomo menjelaskan mengenai perbedaan dua aliran ini. Aliran pertama adalah para ahli agama membela paham ini yan bertujuan mendirikan suatu negara Islam di Indonesia; aliran kedua adalah paham yang memisahkan antara urusan negara dan urusan Islam, singkatnya bukan suatu negara Islam. Pendapat ini dikemukakan oleh Soepomo pada tanggal 31 Mei 1945, yakni sehari sebelum Soekarno menyampaikan usul Pancasila sebagai dasar ideologi

negara.12 Soepomo mengakui bahwa Islam adaah suatu sistem kehidupan

manusia yang komprehensif, namun karena Indonesia memiliki keistime waa n yang khas, maka gagasan mengenai negara Islam harus ditolak. Menurutnya, Indonesia tidaklah sama dengan Irak, Iran, Mesir, atau Suriah yang jelas-jelas bercorak Islam. Selain alasan ini, Soepomo meragukan apakah syari’ah yang ada sekarang dapat memenuhi kebutuhan modern manusia. Namun, dalam batas tertentu, Soepomo mungkin benar penilaianya terhadap isi syari’ah yang ada sekarang; tetapi untuk memasangkan sistem politik yang sekuler sepenuhnya dalam kehidupan umat Islam, disamping tidak akan berjalan juga dalam jangka panjang akan membahayakan eksistensi Islam itu sendiri.13

Isu yang krusial ini telah memaksa para pendiri Republik Indonesia untuk menjalani masa-masa sulit dalam sejarah modern Indonesia. Namun akhirnya, sebuah kompromi politik yang berwujud Piagam Jakarta dapat dicapai. Piagam

11 Ahmad Syafi’i Ma’arif, Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara: Studi Tentang

Perdebatan dalam Konstituante, h. 103-104.

12 Ahmad Syafi’i Ma’arif, Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara, h. 105-106. 13 Ahmad Syafi’i Ma’arif, Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara, h.108.

61

Jakarta adalah hasil kerja panitia kecil dalam BPUPKI yang diketuai oleh Soekarno, dan ditandatangani oleh 9 anggota terkemuka, yakni Mohammad Hatta, A.A Maramis, Abikusno Tjokrosujoso, Abdul Kahar Muzakkir, Agus Salim, Achmad Subardjo, Wachid Hasjim, dan Muhammad Yamin. Dari kesembilan anggota dalam panitia kecil ini, kecuali A.A Maramis (beragama Kristen), semuanya adalah beragama Islam dan hanya empat wakil saja yang mewakili aspirasi politik Islam. Keempat wakil tersebut adalah Abikusno Tjokrosujoso, Abdul Kahar Muzakkir, Agus Salim dan Wachid Hasjim, sedangkan lainnya sudah sejak awal menolak Islam sebagai dasar negara.14

Piagam Jakarta sebenarnya adalah sebuah mukaddimah bagi konstitus i yang diajukan dalam sidang BPUPKI. Di dalamnya juga disepakati bahwa Pancasila sebagai dasar negara. Dengan sila pertama, yakni sila Ketuhanan yang diikuti klausul “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, dinilai strategis bagi umat Islam. Dikarenakan, dengan itu tugas pelaksanaan syari’at Islam secara konstitusional terbuka untuk waktu yang akan datang. Klausul ini juga terdapat dalam Pasal 29 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 yang diusulkan itu. Inilah salah satu alasan para wakil nasionalis Islam berkompromi dengan nasionalis sekuler dalam sidang BPUPKI. Soekarno, sebagai ketua dari panitia kecil ini mengharapkan agar semua pihak, khususnya untuk wakil yang beragama Kristen, untuk menerima hasil kompromi tersebut. Sekalipun para wakil yang beragam Kristen menerima dengan perasaan berat, perumusan konstitusi 1945 pada akhirnya diterima secara aklamasi pada 16 Juli 1945.15

Namun, setelah melewati masa-masa yang cukup kritis itu, pada tanggal 18 Agustus 1945 para wakil nasionalis Islam menyetujui usul penghapusa n klausul “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk -pemeluknya” dari Pancasila dan Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945. Adapun yang menetapkan konstitusi atau Undang-Undang Dasar 1945 adalah

14 Ahmad Syafi’i Ma’arif, Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara, h. 109. 15 Ahmad Syafi’i Ma’arif, Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara, h. 109-110.

PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia).16 Tetapi, sila pertama mendapat tambahan atribut yang sangat inti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Modifikasi sila pertama ini membuat para wakil nasionalis Islam merasa keberatan. Demikian, Ahmad Syafi’i Ma’arif menilai bahwa perubahan konstitusi pada masa kritis tersebut cukup jelas, yakni setiap usaha untuk mengubah Indonesia menjadi negara Islam saat itu menjadi tidak mungk in, dikarenakan hal itu berlawanan dengan konstitusi yang baru diterima itu.17

Perubahan tersebut dipandang oleh sebagian orang sebagai suatu kekalahan politik wakil nasionalis Islam. Namun, menurut Alamsjah Ratu Perwiranegara, seorang Menteri Agama tahun 1978, perubahan tersebut adalah hadiah umat Islam kepada bangsa dan kemerdekaan Indonesia demi menjaga persatuan.18 Oleh karena itu, banyak kalangan yang melihat sebagai bentuk “kesuksesan” dari para tokoh Islam dalam melahirkan falsafah dasar negara, yaitu Pancasila melalui deklarasi Piagam Jakarta tahun 1945. Meski demikia n, harus diakui juga bahwa tidak sedikit yang menilai hal tersebut sebagai suatu “kegagalan” ulama atau tokoh nasionals Islam dalam perumusan final Piagam Jakarta, terutama terkait dengan penghapusan klausul dalam sila pertama Pancasila, yaitu “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, yang kemudian berubah menjadi empat kata yaitu sila “Ketuhanan Yang Maha Esa”.19 Inilah antara lain hasil dari berbagai dialog dan diskusi panjang, penuh kemelut dan melelahkan umat Islam Indonesia pasca kemerdekaan dalam menyikapi tema “relasi Islam dan negara”.20

16 Abu Tamrin, “Perubahan Konstitusi dan Reformasi Ketatanegaraan Indonesia”, Cita Hukum, Volume II. No. 1, (Juni 2015), h. 93.

17 Ahmad Syafi’i Ma’arif, Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara, h.110.

18 Ahmad Syafi’i Ma’arif, Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara, h.111.

19 Sila pertama, yakni “Ketuhanan Yang Maha Esa” diyakini sebagai sila yang terpenting dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, Harun Nasution menyatakan bahwa benarlah Ulama dan pemimpin Indonesia yang mengatakan bahwa, umat Islam yang menjalankan ajaran Islam dengan baik adalah Pancasialis yang menjalankan Pancasila dengan baik pula. Lihat Harun Nasution, Islam

Rasional; Gagasan dan Pemik iran, Cet. V (Bandung: Mizan, 1998), h. 259.

20 Hamsah Hasan, “Hubungan Islam Dan Negara: Merespon Wacana Politik Islam Kontemporer di Indonesia”, Al-Ahk am, Volume 25, Nomor 1, (April, 2015), h.20

63

Dalam Majelis Konstituante, Pancasila yang sudah di modifikasi tersebut dipertanyakan lagi oleh para wakil nasionalis Islam karena merasa belum puas dengan rumusan itu. Kali ini, Pancasila dikategorikan sebagai konsep murni, netral, dan sekuler oleh Muhammad Natsir yang dalam pidatonya menegaskan “Pancasila ingin terus netral tanpa warna”. Oleh karena itu, penafsira n seseorang terhadap Pancasila bisa bermacam-macam, tergantung pada pandangan filosofis seseorang itu. Jadi masih belum jelas, sila mana yang menjadi sumber sila yang lain, atau Natsir mengatakan apakah kelima sila tersebut mempunyai lima sumber pula?.21

Dalam menolak Pancasila dan mempertahankan Islam sebagai dasar negara, partai-partai Islam bersatu. Namun, dari pihak pembela Pancasila pun nampaknya tidak mampu meyakini para pendukung dasar negara Islam bahwa Pancasila bukanlah sekuler, yang dengan kata lain adalah suatu hal yang sangat ditentang oleh nasionalis Islam. Pendapat yang paling banyak dikutip dalam Pancasila oleh para pendukungnya ialah pendapat dari Profesor Drs. Notonagoro S.H. dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Beliau adalah seorang Muslim yang bukan santri, dan nampaknya ia tidak tertarik pada isu tentang sumber dari Pancasila, apakah itu sosiologis, sekuler, atau yang lain.

Baginya, yang terpenting adalah bahwa kelahiran Pancasila dan

perkembangannya pada periode awal tidak dapat dipisahkan dari proses kelahiran Indonesia sebagai sebuah negara baru. Secara implisit, hal ini berarti kelahiran Indonesia merdeka adalah identik dengankelahiran Pancasila. Argumen inilah yang ditentang oleh para wakil nasionalis Islam sebagai sesuatu yang tidak mempunyai dasar yang kuat. Dan bila mau diturutkan jalan pemikiran ini, maka pada waktu proklamasi kemerdekaan, UUD kita adalah UUD yang dirumuskan pada tanggal 22 Juni 1945 yang dikenal dengan Piagam Jakarta.22

21 Ahmad Syafi’i Ma’arif, Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara, h. 147. 22 Ahmad Syafi’i Ma’arif, Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara, h. 147-148.

Para tokoh nasionalis Islam memiliki tafsir yang berbeda mengena i hubungan agama dan negara yang ideal, sehingga sebagian kelompok menganggap bahwa yang dimaksud dengan hubungan agama dan negara yang ideal adalah Piagam Jakarta. Tetapi, setelah melewati perdebatan dan diskusi yang serius, K.H.A Wahid Hasyim sebagai salah satu tim yang mengakomod ir dan menerima penghapusan tujuh kata dalam sila Ketuhanan dengan hasil yang termaktub dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD-NRI) Tahun 1945 dengan ideologi Pancasila. Dalam rumusan ideologi dan konstitusi tersebut, substansi negara Indonesia adalah berbentuk negara yang religius (religious nation state). Dengan kata lain, negara tidak menafika n peran agama. Begitupun agama, juga tidak menolak eksistensi negara. Hubungan diantara agama dan negara memiliki peran penting dalam menyukseskan cita-cita kemerdekaan RI, yaitu mewujudkan kesejahteraan sosial dan mencerdaskan kehidupan berbangsa dalam wadah Negara Kesatuan

Republik Indonesia (NKRI).23

Pengakuan terhadap eksistensi agama dalam kehidupan bernegara diwujudkan dalam bentuk pengakuan resmi akan berbagai lembaga keagamaan tertentu, juga mengadopsi nilai dan norma agama dalam sistem nasional dan pengambilan kebijakan publik, seperti legislasi hukum-hukum agama (Islam) tertentu yang menjadi hukum nasional. Banyak kalangan memandang bahwa nilai- nilai dari ajaran agama, termasuk Islam, secara representatif telah dimuat di sebagian besar dari keseluruhan Undang-Undang dan peraturan negara, baik secara normatif maupun yuridis yang sesuai dengan amanat masyarakat. Mulai

dari Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,24

pengesahan Undnag-Undang Pendidikan Nasional (UUPN) tahun 1988, hingga

23 Moh. Dahlan, “Hubungan Agama Dan Negara Di Indonesia”, Analisis: Jurnal Studi

Keislaman, Volume 14, Nomor 1, (Juni 2014), h. 14.

24 Menganalisis Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, setelah mengalami amandemen hingga empat kali dalam era reformasi yang masing -masing pada tahun 1999, 2000, 2001, dan 2004, terlihat keseluruhan isinya adalah sesuai dengan pesan dalam ajaran Islam, dan tidak ditemukan pertentangan yang fatal. Lihat : UUD ’45 dan Amandemennya di bawah kabinet Indonesia Bersatu, terbitan Fokus Media.

65

pada legalitas lembaga-lembaga Islam seperti Peradilan Agama (Islam) melalui

pengesahan Undang-Undang Peradilan Agama (UUPA) 1989,25 Mejelis

Ulama Indonesia (MUI),26 Kompilasi Hukum Islam (KHI)27 di Indonesia tahun 1991. Di samping itu, negara juga mengakui akan keberagaman partai-partai politik dan organisasi-organisasi massa yang berbasis agama seperti Nahdhatul

Ulama (NU) dan Muhammadiyah.28