Pemberitaan yang dilansir oleh beberapa mass media baik cetak maupun elektronik tentang kanibalisme, rasanya membuat diri kita bergidik dan agak terusik. Dunia ini terasa semakin aneh saja, perihal penangkapan Sumanto (31) warga Purbalingga Jawa Tengah yang saat ini masyarakat telah dibuat geger. Penyebabnya ia diduga kuat telah memakan daging manusia (Duta Masyarakat, 17/1/2003).
Kejadian seperti itu tidak hanya dilakukan oleh Sumanto saja. Peristiwa manusia makan manusia (kanibalisme) tampaknya menjadi hal yang sudah sering terdengar di telinga kita. Setelah kanibalisme di Jerman (sepasang gay makan alat vitalnya sendiri), kasus serupa terjadi pula di Kongo. Jean Pierre Bemba pemimpin Gerakan Pembebasan Kongo (MLC) mengaku sangat terkejut dengan adanya laporan kanibalisme tersebut. Tim PBB menemukan sebagian tentara MLC terlibat kekejaman di Kongo bagian utara yang dikuasai MLC dengan ditemukannya bukti-bukti kanibalisme, pemerkosaan, pembunuhan, dan penyiksaan. Sedangkan di belahan dunia lain, warga Ukraina, Mykola Tsivashov (42) memakan seorang gadis di bawah umur. Tsivashov memasak bagian-bagian tubuh anak tersebut dan memakannya dengan tanpa rasa jijik atau bersalah. Selesai makan kemudian membuangnya ke sampah. Dan beberapa hari kemudian polisi menangkapnya, selanjutnya dia dijatuhi hukuman seumur hidup oleh pengadilan Appellate, di timur wilayah Donetsk Ukraina (Surabaya News,18/1/2003).
Fenomena-fenomena tersebut menunjukkan bahwa kanibalisme seperti dilakukan Sumanto, menurut pengakuannya ketika ditangkap polisi mengatakan sedang menjalani lelaku ilmu kebatinan (black magic), ia mengakui terus terang yang mencuri mayat Ny. Rinah (80) dari pekuburan umum desa Srengseng sekaligus telah memakannya. Kanibalisme ala-Sumanto itu dapat ditengarai ada beberapa gejala, sebab kalau melihat latar belakang
39 dia, ada kemungkinan penyebabnya frustasi-ketidakpuasan-dalam hidup ini yang bisa diakibatkan beberapa faktor salah satunya ekonomi, dengan semakin membumbungnya kebutuhan hidup sehari-hari sehingga ia berlaku aneh dengan alasan melakukan black magic.
Demikian halnya, yang dilakukan oleh tentara MLC di Kongo, tidak menutup kemungkinan ada indikasi ke arah ketidakpuasan dalam hidup dan juga yang dilakukan Mykola Tsivashov dari Ukraina. Ketidak puasan itu menyebabkan mereka melakukan kanibalisme, secara tidak terkontrol mereka berbuat semaunya. Padahal menurut pandangan umum hal itu merupakan perbuatan yang tidak patut dilakukan oleh manusia yang normal (waras).
Ketidak puasan masyarakat seperti dialami Sumanto dengan dalih sedang ‘nglakoni’ ilmu tertentu atas perintah gurunya ini ada indikasi bahwa ada suatu keinginan mengadakan suatu perubahan apakah dalam bentuk –idiologi-sebagai manifestasi terhadap perubahan sosial hidup karena merasa tertindas dengan kehidupan yang makin menjepit ini dan merasakan adanya ketidak adilan dalam masyarakat. Dapat pula ada indikasi ingin membuat jiwanya menjadi kuat/tega terhadap kondisi yang sedang dihadapinya. Dan bisa pula ingin melahirkan suatu pertentangan/kejutan di tengah-tengah masyarakat-secara psikologis- agar ada perhatian dari orang-orang sekelilingnya. Semua indikasi tersebut lepas dari “gangguan kejiwaan”, gejala-gejala tersebut dapat dialami dan menimpa masyarakat.
Meminjam istilah Maslow (1993:65) berkaitan dengan psikologi “Tingkat Kepastian Hierarki Kebutuhan Pokok”, ia mengatakan bahwa “hierarki” bukan merupakan satu tertib yang tetap, dan tidak sekaku yang tersirat. Lebih lanjut Maslow menjelaskan bahwa pasti akan diperoleh kesan yang salah bila hanya memandang perilaku semata. Orang menghendaki kebutuhan yang lebih utama dari dua kebutuhan pokok, apabila ia terenggut dari kedua-duanya. Di situ tidak tersirat keharusan bertindak sesuai keinginannya.
Mungkin dalam menyikapi kanibalisme ala-Sumanto ini kita perlu melihat kebutuhan-kebutuhan pokok Sumanto. Dua kemungkinan kebutuhan utama Sumanto ialah pertama, keinginan mengangkat taraf hidupnya. Kedua, ingin
40
menyelamatkan dirinya terhadap penindasan yang selama ini dia rasakan. Kedua kebutuhan tersebut mungkin belum terpenuhi bagi Sumanto, namun kedua kebutuhan itu ada yang lebih dipentingkan atau diutamakan yaitu menyelamatkan diri dari penindasan yang selama ini dirasakan. Sebab ia yakin dengan kekuatan fisik semata mungkin tidak mampu melawan penindasan orang-orang sekelilingnya. Maka, salah satu cara yang ditempuh walau dengan prasyarat sebagai kanibal untuk melakukan aksinya (black magic)-kekuatan metafisik-inilah yang ia anggap ampuh dapat menyelamatkan dirinya (for self of safety) dari penindasan yang makin hari bertambah keras.
Dengan argumen tersebut bukanlah berarti tindakan Sumanto itu dapat dibenarkan. Pernyataan Maslow, untuk menyikapi fenomena ini setidaknya mengandung dua pengertian. Pertama, jika seseorang menghendaki dua kebutuhan pokok, sedang dua kebutuhab itu hendak terenggut, maka ia akan memilih yang lebih diutamakan. Kedua, dalam situasi yang demikian, tidak ada keharusan bertindak sesuai keinginannya. Dalam hal ini barangkali keinginan Sumanto seharusnya tidak menjadi kanibal, tapi apa boleh buat situasi yang demikian membuatnya mau tak mau bertindak menyalahi keinginannya. Sebenarnya sikap demikian dapat dihindari dan masih banyak jalan yang lebih kompromis dan manusiawi. Sehingga tidak terjerumus pada sikap-sikap yang akan dapat mengorbankan segalanya untuk mencapai ideal atau nilai tertentu, yang mana nilai-nilai itu orang akan bersedia menjadi martir.
Kanibalisme ala-Sumanto termasuk cukup disayangkan dan memprihatinkan, kemungkinan hanya beberapa orang saja yang dijadikan sasaran. Tetapi yang lebih memprihatinkan adalah bagaimana dengan “warok-warok kanibalisme” yang tidak hanya manusia yang mereka makan. Lebih dari itu mereka tidak manusiawi lagi, mereka memakan apa saja yang kelihatan kasat mata. Ada manusia dimakan manusia, ada uang dimakan uang, ada hutan dimakan hutan, ada batu dimakan batu, ada Indosat dimakan Indosat, ada BBM dimakan BBM, ada listrik dimakan listrik- (semua itu merupakan metafora saja)- ada kesan rakyat dijadikan mangsa oleh “warok-warok kanibal” ketika mereka mempunyai kesempatan.
41 Perilaku-perilaku penyimpangan dan pelanggaran terhadap norma masyarakat seperti itu, menunjukkan bahwa nilai-nilai humanisme di panggung dunia ini mengalami reduksi. Bagaimana tidak, jika para penguasa apakah eksekutif, legislatif, dan yudikatif, serta aparatnya bila menjadi tiranik yang kejam, maka suatu ketika bom waktu akan meledak, sebagaimana fenomena yang muncul belakangan ini. Seperti USA dengan keadikuasaannya menjadi kanibalisme bagi rakyat Irak pada tahun 90-an dan rencananya akan terulang kembali. Sejarah juga mencatat diperkirakan 60 juta orang telah menjadi korban akibat penerapan komunisme di Uni Sovyet termasuk suatu pembunuhan yang luar biasa pada saat itu. Pembunuhan orang-orang Yahudi oleh Nazi Jerman sebanyak 6 juta orang-orang. Menurut Handbook of Current Affairs yang diterbitkan tahun 1954 menyatakan bahwa hampir 38 juta muslim telah dilenyapkan dalam waktu10 tahun sebelum proklamasi RRC yang komunis pada tahun 1944.
Kalau mau jujur dan mengoreksi diri tentulah kanibalisme yang dilakukan penguasa negeri ini, pejabat dan konglomerat yang tidak bertanggung jawab, mereka tidak hanya memakan manusia, tapi juga merampas dan memakan hak-hak jutaan orang.**
42