BAB II. LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
4. Antibiotik
Beberapa infeksi disebabkan oleh bakteri yang secara umum dianggap
patogen tidak menampakkan gejala (asimptomatik). Suatu penyakit terjadi jika
bakteri atau reaksi imunologi yang ditimbulkannya menyebabkan suatu bahaya bagi seseorang. Maka untuk menghambat daya infeksi agar tidak berkelanjutan lebih tinggi, bahkan kematian, perlu adanya antibakteri atau antibiotik sebagai obatnya (Jawetz dkk., 2005).
Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri yang memiliki khasiat mematikan atau menghambat pertumbuhan bakteri, sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatif kecil. Antibiotik dapat dibuat dengan cara fermentasi, semi sintetis dan sintesis. Penggunaan antibiotika khususnya berkaitan dengan penyakit infeksi.
Amo -laktam dengan spektrum luas,
digunakan untuk pengobatan infeksi pada saluran nafas, saluran empedu dan saluran seni, gonorhoe, gastroenteritis, meningitis dan infeksi karena Salmonella
sp., seperti demam tipoid (Siswandono dan Soekardjo, 2000). Amoksisilin
mempunyai spektrum antibiotik serupa dengan ampisilin. Beberapa keuntungan amoksisilin dibanding ampisilin adalah absorbsi obat dalam saluran cerna lebih sempurna, sehingga kadar darah dalam plasma dan saluran seni lebih tinggi. Efek
terhadap Bacillus dysentery amoksisilin lebih rendah dibanding ampisilin karena
lebih banyak obat yang diabsorbsi oleh saluran cerna(Siswandono dan Soekardjo,
2000). Amoksisilin dapat juga menyebabkan gangguan-gangguan usus dan kulit
tetapi lebih jarang dibandingkan ampisilin (Tjay dan Rahardja, 2002). Struktur amoksisilin ditunjukkan pada gambar 5.
NH2 NH O HO N O H COOH
commit to user
Amoksisilin merupakan turunan dari penisilin semi sintetik dan stabil dalam suasana asam lambung. Amoksisilin diabsorpsi dengan cepat dan baik pada saluran pencernaan, tidak tergantung adanya makanan. Amoksisilin terutama diekskresikan dalam bentuk tidak berubah di dalam urin. Ekskresi Amoksisilin dihambat saat pemberian bersamaan dengan probenesid sehingga memperpanjang efek terapi (Siswandono dan Soekardjo, 2000).
Kloramfenikol adalah antibiotik yang dihasilkan oleh Steptomyces
venezuelae (Perlman, 1970). Antibiotik ini mempunyai spektrum kerja seperti
tetrasiklin namun sekarang sudah jarang dipakai. Indikasi kloramfenikol untuk mengobati tifus, paratifus dan menginitis (Mutschler, 1991). Kloramfenikol termasuk antibiotik spesifik untuk bakteri gram negatif dan juga masih sensitif terhadap golongan anaerob. Golongan bakteri yang sensitif terhadap
kloramfenikol adalah Streptococcus, Proteus, Klebsiella, Neiseria.
NO2 C H OH H C CH2OH NH C O CH Cl Cl
Gambar 6. Struktur kimia kloramfenikol
Kloramfenikol merupakan penghambat sintesis protein yang kuat pada mikroorganisme. Obat ini menghalangi pelekatan asam amino pada rantai peptide yang baru timbul pada unit 50S pada ribosom, dengan mengganggu daya kerja peptidil transferase. Kloramfenikol pada dasarnya bersifat bakteriostatik, spektrum, dosis serta kadarnya dalam darah mirip dengan tetrasiklin. Resistensi kloramfenikol merupakan akibat dari perusakan obat oleh suatu enzim yang dikendalikan oleh plasmid (Jawetz dkk., 2005).
Kloramfenikol kadang menyebabkan gangguan saluran pencernaan, mual, muntah. Efek toksin lain yang jarang terjadi adalah terjadi reaksi hipersensitivitas dan penglihatan yang kabur. Pada pemberian pada jangka waktu yang lama, kloramfenikol menekan perkembangan sel sumsum tulang dan dapat menyebabkan anemia aplastik yang bersifat ireversibel dan biasanya fatal.
commit to user
18
Pemberian kloramfenikol pada bayi dapat menyebabkan gray sindrome karena mekanisme normal detoksifikasi belum terbentuk (Jawetz dkk., 2005)
Antibakteri obat atau senyawa kimia yang digunakan untuk membasmi bakteri, khususnya bakteri yang merugikan manusia. Berdasarkan sifat toksisitas selektif, ada antibakteri yang bersifat menghambat pertumbuhan bakteri, dikenal aktivitas bakteriostatik. Kadar minimal yang diperlukan untuk menghambat pertumbuhan bakteri atau membunuhnya, masing-masing dikenal dengan Kadar Hambat Minimal (KHM) dan Kadar Bunuh Minimal (KBM). Antibakteri tertentu aktivitasnya dapat meningkatkan kemampuan bakterisida. Aktivitas antibakteri dibagi dalam lima kelompok :
a. Antibakteri yang menghambat metabolisme sel bakteri
Pada mekanisme ini diperoleh efek bakteriostatik. Antibakteri yang termasuk dalam golongan ini adalah sulfonamide, trimetoprim, asam p-aminosalisilat dan sulfon. Kerja antibakteri ini adalah menghambat pembentukan asam folat, bakteri membutuhkan asam folat untuk kelangsungan hidupnya dan bakteri memperoleh asam folat dengan mensintesis sendiri dari asam para amino benzoat (PABA). Sulfonamid dan sulfon bekerja bersaing dengan PABA dalam pembentukan asam folat. Sedang trimetoprim bekerja dengan menghambat enzim dihidrofolat reduktase (Setiabudy dan Gan, 1995).
b. Antibakteri yang menghambat sintesis dinding sel bakteri
Dinding sel bakteri terdiri dari peptidoglikan, sintesis peptidoglikan akan dihalangi oleh adanya antibiotik seperti penisilin, sefalosporin, basitrasin, vankomisin, sikloserin. Sikloserin akan menghambat reaksi paling dini dalam proses sintesis dinding sel sedang yang lainnya menghambat di akhir sintesis peptidoglikan, sehingga mengakibatkan dinding sel menjadi tidak sempurna dan tidak mempertahankan pertumbuhan sel secara normal, sehingga tekanan osmotik dalam sel bakteri lebih tinggi daripada tekanan di luar sel maka kerusakan dinding sel bakteri akan menyebabkan lisis, yang merupakan dasar efek bakterisidal pada bakteri yang peka (Setiabudy dan Gan, 1995).
commit to user
c. Antibakteri yang mengganggu membran sel bakteri
Sitoplasma dibatasi oleh membran sitoplasma yang merupakan penghalang
dengan permeabilitas yang selektif. Membran sitoplasma akan
mempertahankan bahan-bahan tertentu di dalam sel serta mengatur aliran keluar-masuknya bahanbahan lain. Jika terjadi kerusakan pada membran ini akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau matinya sel (Pelczar dkk., 1986).
d. Antibakteri yang menghambat sintesis protein sel bakteri
Kehidupan sel bakteri tergantung pada terpeliharanya molekul-molekul protein dan asam nukleat dalam keadaan alamiah. Jika kondisi atau substansi yang dapat mengakibatkan terdenaturasinya protein dan asam nukleat dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki kembali. Suhu tinggi dan konsentrasi pekat beberapa zat kimia dapat mengakibatkan koagulasi (denaturasi) yang bersifat irreversible terhadap komponen-komponen seluler yang vital ini (Pelczar dkk.,1986).
e. Antibakteri yang menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel bakteri
Protein, DNA, dan RNA berperan penting dalam proses kehidupan normal sel bakteri. Apabila terjadi gangguan pada pembentukan atau pada fungsi zat-zat tersebut dapat mengakibatkan kerusakan total pada sel (Pelczar dkk.,1986).