• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendahuluan

Pemakaian bahan alam sebagai obat tradisional di masyarakat dijamin keamanannya oleh pemerintah dengan mengimplementasikannya dalam Permenkes No.760/Menkes/Per/IX/1992 tentang obat tradisional dan fitofarmaka. Tahapan-tahapan yang harus dilewati oleh setiap bahan alam sebelum menjadi sediaan fitofarmaka adalah uji farmakologi eksperimental, uji toksisitas, uji klinis, uji kualitas dan pengujian lain sesuai persyaratan yang berlaku demi menjamin keamanan masyarakat dalam mengkonsumsinya.

Penelitian farmakologi terhadap rosella telah dilakukan oleh Wibowo et al. (2009) yang menyatakan bahwa konsentrasi 25% v/v infusum bunga rosella mempunyai aktivitas antimikroba yang setara dengan konsentrasi baku tetrasiklin HCl 18,62 µg/mL. Al Hashimi (2012) melaporkan bahwa aktivitas antibakteri rosella terhadap E coli, S aureus, dan Pseudomonas aeruinosa memperlihatkan derajat hambatan yang berbeda. Aktivitas antioksidan pada konsentrasi 5 mg/mL adalah setara dengan BHT dengan nilai 75,67%. Berdasarkan hal tersebut diatas, menunjukkan bahwa secara farmakologi eksperimental rosella terbukti memiliki aktivitas biologi.

Antioksidan dan antibakteri berpotensi dikembangkan di bidang industri farmasi, kecantikan dan pengawetan makanan. Antioksidan diduga mempunyai efek antikanker (Tamat et al., 2007; Winarsi, 2007). Langkah penting berikutnya yang harus dilakukan agar rosella dapat dipercaya berfungsi sebagai antioksidan dan antibakteri adalah menentukan toksisitas, aktivitas antioksidan, dan antibakteri ekstrak kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa) sebagai uji penapisan awal aktivitas senyawa kimia dalam bunga rosella.

Potensi suatu ekstrak tanaman yang diduga mempunyai efek antikanker dapat dideteksi dengan uji toksisitas. Uji toksisitas ini sering dikaitkan dengan potensi suatu ekstrak tanaman sebagai antikanker (Meyer et al., 1982). Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) merupakan salah satu metode untuk skrining atau penapisan aktivitas farmakologis pada tanaman obat dan mendeteksi toksisitas ekstrak tanaman (Juniarti et al., 2009). Metode ini bersifat sederhana, mudah dilakukan, murah, cepat, akurat dan membutuhkan ekstrak dalam jumlah sedikit.

Fleksibilitas pemanfaatan rosella saat ini masih terbatas mengingat kandungan senyawa bioaktif pada tanaman biasanya sangat kecil berdasarkan berat basahnya. Untuk itu perlu dilakukan ekstraksi kelopak bunga rosella agar mempermudah pemanfaatannya. Ekstraksi komponen bioaktif dari rosella haruslah memperhatikan dua hal yang penting, yaitu karakteristik komponen bioaktif rosella dan metode ekstraksi yang dilakukan. Tsai et al. (2002) menyatakan bahwa kandungan pigmen flavonoid yaitu antosianin, adalah pewarna alami, tidak toksik dan memiliki kemampuan menyembuhkan ini, mudah sekali bereaksi yang mengakibatkan decolorisation Laju kerusakan antosianin

24

tergantung pada beberapa faktor seperti pH, suhu, intermolekular copigmen, asam askorbat, dan oksigen. Untuk itu faktor-faktor yang terkait dengan upaya isolasi kandungan bioaktif dari bunga rosella pun memainkan peranan yang penting agar efisien dengan tetap mempertahankan aktivitasnya.

Proses ekstraksi dapat menggunakan 3 jenis pelarut dengan tingkat kepolaran yang berbeda, yaitu heksan (nonpolar), etil asetat (semipolar) dan etanol (polar). Beragamnya polaritas senyawa bioaktif tanaman dan pelarut yang digunakan memungkinkan terjadinya perbedaan jumlah dan jenis serta aktivitas senyawa bioaktif yang terkandung didalamnya. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan toksisitas, aktivitas antioksidan, dan antibakteri ekstrak kelopak bunga rosella (Hibiscus sabdariffa) dalam pelarut yang berbeda sebagai uji penapisan awal aktivitas senyawa kimia dalam bunga rosella.

Metode Penelitian

Bahan

Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah kelopak bunga rosella merah (Hibiscus sabdariffa) yang dibeli di pasar tradisional Beringharjo- Yogyakarta, pelarut etanol absolute (PA), etil asetat (PA), heksan (PA) dan bahan kimia lain untuk analisa. Bakteri uji yang digunakan adalah Staphylococcus aureus ATCC 25923, dan Escherichia coli ATCC 25922. Bahan-bahan lain yang digunakan adalah larva udang (Artemia salinaLeach), air laut untuk uji toksisitas, media padat Nutrient Agar (NA), media cair Nutrient Broth (NB) untuk perbanyakan dan pemeliharaan kultur bakteri, Kloramfenikol sebagai kontrol positif uji aktivitas antibakteri.

Alat

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi blender, saringan, shaker, vakum evaporator, autoklaf, pendingin, inkubator, pipet mikro, multiwell plates, spektrofotometer. Selain itu juga digunakan peralatan gelas untuk analisis kimia.

Tahapan Penelitian

Ekstraksi kelopak bunga rosella

Serbuk kelopak bunga rosella kering dengan ukuran 60 mesh sebanyak 10 g direndam dalam pelarut etanol 70%, etil asetat,dan heksan, dengan perbandingan 1:10 (b/v) dimaserasi selama 24 jam pada suhu kamar sambil digoyang menggunakan shaker. Campuran tersebut kemudian disaring. Filtrat yang diperoleh dipekatkan dengan menggunakan vacuum evaporator. Ekstrak yang diperoleh digunakan sebagai sampel untuk analisis fitokimia dan pengujian aktivitas lainnya. Penentuan Vitamin C (AOAC, 2000), total kandungan antosianin (Fuleki et al., 1968). Total fenolik ditentukan menggunakan metode Folin-Ciocalteu Chew et al. (2009).

Penentuan kandungan fitokimia ekstrak (Harborne, 1996)

Penentuan kandungan fitokimia secara kualitatif dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya golongan senyawa aktif yang terdapat pada ekstrak kelopak bunga rosella, meliputi fenolik, alkaloid, flavonoid, steroid,dan tanin.

25 Analisa senyawa fenolik

Sebanyak 1 mL sampel diteteskan pada spot plate dan ditambahkan NaOH 10 %. Terbentuk warna merah yang menandakan uji positif adanya senyawa fenolik hidrokuinon

Senyawa Steroid dan Triterpenoid

Sebanyak 1 mg sampel yang telah kering dilarutkan ke dalam 2 mL kloroform. Kemudian larutan ditambahkan 10 tetes asetat anhidrida dan 3 tetes asam sulfat pekat. Larutan dikocok perlahan dan dibiarkan beberapa menit. Uji positif ditandai dengan terbentuknya warna hijau (senyawa steroid) dan warna merah atau ungu (triterpenoid)

Senyawa Alkaloid

Sebanyak 1 mL sampel dikocok dengan 10 tetes H2SO4 2M dan lapisan asamnya dipisahkan ke dalam tabung reaksi yang lain. Lapisan asam ini diteteskan pada lempeng tetes dan ditambahkan pereaksi Mayer, Wagner dan Dragendorf yang akan menimbulkan endapan warna berturut turut putih, cokleat dan merah jingga. Senyawa Tannin

Sebanyak 1 gram sampel dimasukan ke dalam gelas piala lalu ditambahkan 12 mL air panas dan dididihkan selama 15 menit lalu disaring. Filtrat ditambahkan beberapa mL larutan FeCl3 1%. Timbulnya warna biru tua atau hijau kehitaman menunjukkan senyawa tannin positif

Senyawa Flavonoid

Sebanyak 1 mL atau 1 g sampel dimasukan ke dalam gelas piala kemudian ditambahkan 100 mL air panas dan dididihkan selama 5 menit setelah itu disaring dan filtratnya (10 mL) ditambahkan 0,5 g serbuk magnesium 2 mL alkohol klorhidrat (campuran HCl 37% dan etanol 95% dengan volume yang sama) dan 20 mL amil alkohol. Selanjutnya dikocok dengan kuat. Terbentuknya warna merah, kuning dan jingga pada lapisan amil alkohol menunjukkan adanya flavonoid.

Uji toksisitas metode Bhrine Shrimp Lethality Test (BSLT)

Uji toksisitas dilakukan menggunakan metode (Juniarti et al.,2009) Penetasan telur udang dilakukan dalam sebuah bejana. Satu ruang dalam bejana tersebut diletakan lampu untuk menghangatkan suhu selama penetesan. Air laut dimasukan dalam bejana + 50-100 mg telur udang untuk ditetaskan. Bejana untuk menetaskan telur udang ditutup menggunakan aluminium foil dan dipanaskan dengan lampu selama penetasan.

Sebanyak 10 ekor larva Artemia Salina Leach yang sehat dan berumur 48 jam dimasukan ke dalam vial uji yang berisi air laut. Masing-masing vial uji ditambahkan ekstrak sehingga akan didapat larutan dengan konsentrasi 10, 100, 500, dan 1000 µg/ml. Untuk setiap konsentrasi dilakukan 6 replikasi. Bila sampel tidak larut ditambahkan 2 tetes DMSO.

Pengamatan dilakukan setelah 24 jam dengan menghitung jumlah larva yang mati dari total larva yang dimasukan dalam vial uji. Perhitungan akumulasi mati untuk konsentrasi 10 µg/mL = angka mati pada konsentrasi tersebut, akumulasi mati untuk konsentrasi 100 µg/mL = angka mati pada konsentrasi 10 µg/mL +

26

angka mati pada konsentrasi 100 µg/mL. Akumulasi mati untuk konsentrasi 200 µg/mL = angka mati pada konsentrasi 10 µg/mL + angka mati pada konsentrasi 100 µg/mL + angka mati pada konsentrasi 200 µg/mL. Akumulasi mati dihitung hingga konsentrasi 1000 µg/mL.

Angka akumulasi hidup tiap konsentrasi dihitung sebagi berikut: akumulasi hidup untuk konsentrasi 1000 µg/mL = angka hidup pada konsentrasi 1000µg/mL, akumulasi hidup pada konsentrasi 500µg/mL = angka hidup pada konsentrasi 1000 µg/mL + angka hidup pada konsentrasi 500 µg/mL. Akumulasi hidup pada konsentrasi 200 µg/mL = angka hidup pada konsentrasi 1000 µg/mL + angka hidup pada konsentrasi 500 µg/mL + angka hidup pada konsentrasi 200 µg/mL. Akumulasi angka hidup dihitung hingga konsentrasi 10 µg/mL. Selanjutnya dihitung mortalitas dengan cara akumulasi mati dibagi jumlah akumulasi hidup dan mati/total dikali 100%. Penghitungan LC50 dengan menggunakan analisis probit dari data persen mortalitas larva udang. Nilai LC50 merupakan konsentrasi dimana zat menyebabkan kematian 50% yang diperoleh dengan persamaan linier regresi y = a + bx. Grafik dibuat dengan log konsentrasi sebagai sumbu x terhadap mortalitas sebagai sumbu y.

Uji aktivitas antibakteri dan antioksidan

Penentuan nilai KHM dan KBM (Sharma et al. 2011; Doughari 2006), sedangkan uji aktivitas antioksidan menggunakan metode ferric-tyosianate (Al-Hashimi, 2012)

Hasil dan Pembahasan

Ekstraksi dalam penelitian ini menggunakan tiga jenis pelarut dengan polaritas yang berbeda, yaitu pelarut polar etanol 70%, semi polar etil asetat, dan pelarut non polar heksan. Perbedaan polaritas pelarut dimaksudkan untuk dapat mengetahui semua jenis senyawa metabolit sekunder yang ada dalam kelopak rosella.

Fitokimia ekstrak kelopak bunga rosella pada berbagai pelarut

Hasil ekstraksi ini memberikan jumlah dan jenis senyawa dalam ekstrak kasar yang berbeda-beda. Perbedaan ini menunjukkan bahwa berbagai jenis pelarut yang digunakan berhasil mengekstrak golongan senyawa metabolit yang memang berbeda. Perbedaan bahan terekstrak didalamnya memberikan perbedaan warna hasil ekstraksi yang didapat seperti terlihat pada Gambar 7.

27 Secara umum kelopak bunga rosella mengandung senyawa fenolik, tanin, flavonoid, steroid,dan alkaloid. Etanol 70% mampu mengekstrak senyawa fenolik, tanin, flavonoid dan alkaloid. Etil asetat dapat mengekstrak senyawa fenolik, flavonoid dan alkaloid. Ekstrak heksan hanya mengandung fenolik dan steroid. Penelitian sebelumnya (Olaleye, 2007) menunjukkan alkaloid, saponin, flavonoid dan steroid adalah senyawa bioaktif utama yang terdapat dalam kelopak bunga rosella.

Menilik hasil yang diperoleh, seperti terlihat pada Tabel 3, pelarut heksan memiliki kemampuan ekstraktif yang paling rendah terhadap total fenolik, yaitu 2,73 + 0,31 mg/g, pelarut etil asetat menghasilkan total fenolik sebesar 7,51 + 0,49 mg/g sedangkan pelarut etanol 70% memiliki kemampuan ekstraktif fenolik yang paling tinggi, yaitu 19,45 + 0,32 mg/g. Ini menunjukkan bahwa dalam kelopak rosella senyawa fenolik dari golongan polar lebih banyak dibandingkan dari golongan semipolar dan nonpolar.

Dalam ekstraksi, polaritas pelarut memainkan peranan penting. Polaritas pelarut ditentukan konstanta dielektrik. Markom (2007) menyatakan bahwa konstanta dielektrik air, etanol, etil asetat dan heksan berturut turut sebagai berikut: 80,20: 24,30; 6,02;1,89. Etanol 70% dapat mengekstrak total fenolik sebanyak 19,45 mg/g. Jika dibandingkan dengan etil asetat dan heksan yang mampu mengekstrak sebanyak 7,51 mg/g dan 2,73 mg/g berarti polaritas etanol 70% lebih sesuai dengan senyawa fenolik hasil metabolisme sekunder kelopak bunga rosella, sehingga etanol 70% lebih efisien dalam mengekstrak senyawa fenolik dibandingkan pelarut heksan dan etil asetat. Data mentah disajikan pada Lampiran 1.

Etanol memilik konstansta dielektrik sebesar 24,30 dan konstanta dielektrik air sebesar 80,20. Senyawa fenolik yang terdapat dalam etanol adalah antosianin yang memiliki konstanta dielektrik 30-40. Untuk itulah dilakukan penambahan air hingga konsenrasi etanol mencapai 70%. Etanol, banyak disarankan sebagai pelarut pada ekstraksi polifenolik yang aman bagi manusia (Al Hashimi, 2012; Shil et al., 2005). Yang et al. (2012) menyatakan bahwa etanol 60% mampu mengekstrak total fenolik sebanyak 18.33 + 0,44 mg/g. Penelitian yang dilakukan Tabel 3 Fitokimia ekstrak kelopak bunga rosella pada berbagai pelarut

Senyawa Etanol 70% Etil Asetat Heksan

Fenolik + + + Tannin + - - Flavonoid + + - Steroid - - + Alkaloid + + - Total fenolik (mg/g) 19,45 + 0,32 7,51 + 0,49 2,73 + 0,31 Antosianin (mg/g) 13,51 + 0,03 6,50 + 0,05 0 Vitamin C (mg/g) 20,47 + 0,34 4,86 + 0,47 3,06 + 0,01

28

Christian dan Jackson (2009), Anokwuru et al. (2011) memberikan hasil ekstrak total fenolik rosella sebanyak 5,25 dan 27,6 mg/g.

Uji toksisitas ekstrak kelopak bunga rosella pada berbagai pelarut

Uji toksisitas dilakukan untuk mengetahui sifat toksik bahan alam yang terekstrak keluar jika nantinya digunakan sebagai bahan fitofarmaka. Mengetahui toksisitas suatu bahan akan memberikan informasi dosis aman yang dibutuhkan jika bahan alam ini akan dijadikan obat. LC50 adalah konsentrasi yang dibutuhkan untuk mematikan 50% dari organisme uji. Dosis obat yang nantinya diformulasikan untuk keperluan obat bagi manusia, diformulasikan dengan dosis di bawah konsentrasi LC50 ini. Hasil BSLT ekstrak kasar etanol 70%, etil asetat dan heksan, dari kelopak bunga rosella secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 4. Nilai LC50 ekstrak kasar etanol 70% kurang dari 1000 ppm, yaitu sebesar 510,613 ppm, sedangkan ekstrak kasar heksan dan etil asetat lebih tingi dari 1000 ppm, yaitu 1718,446 dan 1241,983 ppm. Hal ini berarti bahwa ekstrak etanol 70%, lebih toksik dibandingkan ekstrak heksan dan etil asetat. Data lengkap disajikan pada Lampiran 2.

Tabel 4. Uji toksisitas ekstrak kelopak bunga rosella pada berbagai pelarut Sample Dosis Hidup Mati AH AM AM/T Mortalitas Lc50

ekstrak (ppm) Etanol 10 48 12 147 12 12/159 7,55% 70% 100 46 14 99 26 26/125 20,80% 510.613 500 30 30 53 56 56/109 51,38% 1000 23 37 23 93 93/116 80,17% Heksan 10 54 6 176 6 6/182 3,30% 100 51 9 122 15 15/137 10,95% 1.718,446 500 43 17 71 32 32/103 31,07% 1000 28 32 28 64 64/92 69,57% Etil Asetat 10 54 6 169 6 6/175 3,43% 100 49 11 115 17 17/132 12,88% 1.241,983 500 38 22 66 39 39/105 37,14% 1000 28 32 28 71 71/99 71,72%

Juniarti et al. (2009) menyatakan bahwa suatu senyawa memiliki aktivitas jika nilai LC50 dibawah 1000 µg/ml. Dengan demikian ekstrak etanol 70% membutuhkan dosis lebih kecil untuk dapat menimbulkan toksisitas dibandingkan ekstrak lain. Hal ini berarti pembuatan formulasi obat sebaiknya dilakukan dengan dosis di bawah nilai LC50. Al Mamum et al. (2011) menyatakan bahwa adanya saponin dan alkaloid merupakan penyebab kematian pada larva udang. Ekstrak etanol 70% mengandung alkaloid dengan jumlah yang lebih banyak dibandingkan etil asetat, sehingga lebih toksik dibanding ekstrak kasar etil asetat. Ekstrak dengan pelarut heksan diketahui tidak mengandung senyawa alkaloid.

29

Uji aktivitas antibakteri ekstrak kelopak bunga rosella pada berbagai pelarut

Pada penelitian ini, jika dibandingkan dengan kontrol yang berupa bahan sintetis kloramfenikol (1000 ppm) aktivitas antibakteri dari bahan sintetis kimia ini 10-11 kali jauh lebih besar dibandingkan aktivitas antibakteri ekstrak kasar kelopak bunga rosella. Nilai KHM dan KBM etanol 70% dan etil asetat, yaitu 10.000 dan 11.000 ppm.

Keterangan 1 huruf yang tidak sama di atas nilai rata-rata + standar deviasi pada kolom yang sama berbeda nyata

Aktivitas antibakteri dinyatakan dengan panjang diameter zona bening yang ditimbulkan disekitar cakram. Diameter <6 mm menunjukkan ekstrak tidak aktif, sedangkan diameter >6 mm, ekstrak diklasifikasikan memiliki aktivitas antibakteri (Mudi dan Ibrahim, 2008). Tabel 5 (Data mentah disajikan pada Lampiran 3) menyajikan hasil aktivitas antibakteri dari ekstrak etanol 70%, etil asetat dan heksan terhadap S aureus dan E coli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% dan etil asetat memiliki aktivitas antibakteri, dengan perbedaan yang tidak signifikan diantara kedua pelarut ini. Hal ini ditunjukkan dengan terbentuknya zona bening masing-masing pelarut sebesar 7,7 + 2.01b mm dan 7,53 + 2.9b mm untuk aktivitas terhadap terhadap S aureus. Zona bening yang terbentuk melawan pertumbuhan E coli adalah 13,28 + 3,30b mm, 12,35 + 3,13b mm. Sedangkan ekstrak heksan, tidak memiliki aktivitas antibakteri.

Aktivitas antibakteri dari ekstrak tanaman disimpulkan banyak peneliti karena kandungan senyawa bioaktif di dalamnya (Al Mamun et al., 2011; Bukar et al., 2010). Senyawa fenolik disintesis tanaman sebagai respon infeksi oleh mikroorganisme. Aktivitas antibakteri ini dimungkinkan oleh kemampuan fenoliks membentuk kompleks dengan dinding sel bakteri. Hal ini sesuai dengan (Al-Hashimi, 2012; Garcia Alonso et al., 2006) yang menyatakan bahwa polifenolik dari tanaman mampu berfungsi sebagai zat antibakteri

Perbedaan aktivitas terhadap pertumbuhan bakteri yang dicobakan disebabkan karena perbedaan kandungan fithokimia dalam ekstrak. Ebi dan Ofoefule (1997) menyatakan bahwa ekstrak kasar mungkin mengandung senyawa inaktif lain yang bersifat antagonis satu sama lain, seperti klorofil, lemak dan lilin. Ekstrak heksan tidak memiliki aktivitas antibakteri, karena meski mengandung fenolik, ekstrak diduga mengandung juga senyawa inaktif lain. Aktivitas antibakteri ekstrak yang digunakan dalam in vitro tes ini dapat lebih tinggi jika senyawa aktif dari ekstrak dapat dimurnikan.

Tabel 5 Aktivitas antibakteri ekstrak kelopak bunga rosella pada berbagai pelarut

Sampel Zona Bening (mm) KHM (ppm) KBM (ppm)

S aureus E coli S aureus E coli S aureus E coli etil asetat 7,53 + 2,19b 12,35 + 3,13b 11000 11000 11000 11000 etanol 70% 7,70+ 2,01b 13,28 + 3,30b 10000 10000 10000 10000

heksan 0c 0c - - - -

Kloramf 15,4 + 2,28a 18,78 + 3,00a 1000 1000 1000 1000

30

Uji aktivitas antioksidan ekstrak kelopak bunga rosella pada berbagai pelarut

Antioksidan sangat signifikan berperan untuk menjaga kesehatan manusia, dan berfungsi sebagai penangkal radikal bebas dengan membentuk komplek dengan pro-oksidan seperti metal, bahan pereduksi dan oksigen bebas. Gambar 8 (data mentah disajikan pada lampiran 3) menunjukkan aktivitas antioksidan dari ekstrak rosella pada berbagai pelarut.

Gambar 8 Aktivitas antioksidan dengan variasi pelarut

Aktivitas antioksidan dipengaruhi oleh jumlah antioksidan yang terkandung dalam suatu bahan dan kemampuan senyawa antioksidan itu dalam menangkap radikal bebas. Hasil analisa menunjukkan etanol 70% memiliki aktivitas antioksidan yang lebih baik dibandingkan ekstrak etil asetat dan heksan. Hal ini ditunjukkan dengan nilai IC50 ekstrak etanol 70% yaitu pada dosis ekstrak kasar 439,32 ppm, ekstrak etil asetat 587,92 ppm, ekstrak heksan 481,39 ppm dengan kandungan vitamin C berturut turut 44,75; 34,45; 38,69 ppm. Semakin kecil nilai IC50, menandakan semakin aktif ekstrak. Hasil penelitian juga mengindikasikan bahwa aktivitas antioksidan masing masing ekstrak memiliki korelasi dengan total fenolik, vitamin C dan antosianin, seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Yang et al. (2012), Al-Hashimi, (2012). Namun tingkat korelasi masing masing variable berbeda untuk tiap pelarut. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70% memiliki korelasi (R2) terhadap total fenolik, vitamin C dan antosianin berturut- turut sebagai berikut: 0,981; 0,980; 0,983. Pelarut etil asetat 0,811; 0,686; 0,811 dan pelarut heksan memiliki korelasi (R2) aktivitas antioksidan yang kuat terhadap vitamin C dan total fenolik yaitu 0,991 dan 0,962. Konsep umum yang selama ini diketahui, semakin banyak senyawa fenolik dalam sampel, semakin tinggi aktivitas antioksidan yang diperlihatkan. Menurut Tsai et al. (2002) aktivitas antioksidan ekstrak rosella memiliki korelasi yang kuat dengan kandungan antosianin. Falade et al. (2005) menyatakan bahwa ekstrak rosella memiliki kandungan vitamin C yang tinggi. Vitamin C dikenal sebagai senyawa antioksidan. Hasil ini dimungkinkan karena aktivitas antioksidan tidak hanya disebabkan adanya kandungan fenoliks, namun dapat disebabkan karena adanya

0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 0 300 450 600 L og a kti vit as anti oksi da n Dosis ekstrak (µL/mL) ethanol 70% heksan etil asetat

31 beberapa fitotokimia lain seperti asam askorbat, tokoferol dan pigmen dengan mekanisme sinergis diantaranya turut menentukan aktivitas antioksidan.

Simpulan dan Saran

Simpulan

Kelopak bunga rosella mengandung komponen bioaktif flavonoid, senyawa- senyawa fenolik, tannin, alkaloid, dan steroid. Etanol 70% lebih efektif mengekstrak senyawa-senyawa fenolik yaitu sebesar 19,45 + 0,32 mg/g dibandingkan etil asetat dan heksan yaitu sebanyak 7,51 + 0,49 mg/g dan 2,73+ 0,31 mg/g. Ekstrak etanol memiliki nilai LC50 dibawah 1000 ppm, yaitu 510,613 ppm, dibandingkan etil asetat dan heksan yang berturut turut 1241,983, dan 1718,446 ppm. Ekstrak etanol 70% dan etil asetat memiliki aktivitas antibakteri ditunjukkan dengan nilai zona bening berturut turut sebesar 7,7 + 2,01b mm dan 7,53 + 2,19b mm untuk aktivitas terhadap terhadap S aureus. Zona bening yang terbentuk melawan pertumbuhan E coli adalah 13,28 + 3,30b mm dan 12,35 + 3,13b mm. Ekstrak heksan tidak memiliki aktivitas antibakteri. Aktivitas antioksidan dinyatakan dengan nilai IC50 ekstrak etanol 70%, etil asetat dan heksan berturut turut adalah 439,32; 587,916; 481,392 ppm.

Saran

Perlu adanya evaluasi lebih lanjut mengenai kemungkinan hubungan sinergisme antar komponen bioaktif terhadap aktivitas antioksidan dan antibakteri ekstrak.

32

5

OPTIMASI EKSTRAKSI FENOLIK DARI ROSELLA

Dokumen terkait