• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.7 Antropometri

Antropometri adalah ilmu yang berkaitan dengan pengukuran dimensi dan cara untuk mengaplikasikan karakteristik tertentu dari tubuh manusia (Roebuck, 1994 dalam Wardani, 2004). Antropometri berasal dari kata antropos yang berarti manusia, dan metrikos yang berarti pengukuran. Sehingga antropometri diartikan sebagai suatu ilmu yang secara khusus berkaitan dengan pengukuran tubuh manusia yang digunakan untuk menentukan perbedaan pada individu, kelompok, dan sebagainya (Pheasant, 1988). Menurut Stevenson (1989) dan Nurmianto (2004), antropometri adalah suatu kumpulan data numeric yang berhubungan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, ukuran, bentuk dan kekuatan serta penerapan dari data tersebut untuk penanganan masalah desain.

Perbandingan fungsional individual orang dewasa dan anak-anak dapat diketahui dengan sistem proporsi antromorfis didasarkan dimensi-dimensi tubuh manusia. Salah satu caranya adalah dengan mengukur tubuh dalam berbagai posisi standard dan tidak bergerak, serta saat melakukan gerakan tertentu yang berkaitan dengan kegiatan yang harus diselesaikan. Misalnya, perancangan kursi mobil (gerakan mengoperasikan kemudi, pedal, tangkai pemindah gigi). Gerakan yang biasa dilakukan anggota tubuh dapat dibagi dalam bentuk rentangan gerakan, kekuatan, ketahanan, kecepatan, dan ketelitian (Sritomo, 2000 dalam Wardani, 2004).

2.7.1 Nilai Percentile

Menurut Pheasant (2003), nilai percentile adalah nilai sebuah variable yang menggambarkan batas nilai dari jumlah persentase di bawahnya. Persentil ke 95 (95th percentile) maksudnya adalah ada 95% jumlah orang

yang dapat menggunakan ukuran di bawah nilai ini. Data yang berdistribusi normal di sini sangat dipengaruhi oleh nilai mean dan SD (standard deviation). Data percentile ini bisa di dapat dengan rumus dibawah ini :

Nilai z di sini adalah tetap untuk nilai percentile ini.Berikut adalah tabel rincian nilai antara p (percentile) dan nilai z.

Tabel 2.2

Values of z for selected percentiles (p)

Percentile (p) Nilai z 1 -2,33 2,5 -1,96 5 -1,64 10 -1,28 25 -0,67 50 0 75 2,67 90 1,28 95 1,64 97,5 1,96 99 2,33

Berikut adalah contoh bagaimana cara menentukan dimensi ukuran berdasarkan ukuran percentilenya (Pheasant, 2003). Misalkan kita ingin hitung 90th Percentile dari penduduk laki-laki dewasa dengan nilai means

adalah 1740 mm dengan standar deviasi 70 mm. Dari tabel 2.2 kita melihat bahwa p = 90, z = 1,28. Oleh karena itu , maka nilai 90th percentilenya adalah = 1740 + 70 x 1,28 = 1829,6 mm.

2.7.2 Desain Kursi

Kursi salah satu komponen penting di tempat kerja. Kursi yang baik akan mampu memberikan postur dan sirkulasi yang baik dan akan membantu menghindari ketidaknyamanan. Pilihan kursi yang nyaman dapat diatur dan memiliki penyangga punggung (Wasi W, 2005 dalam Pratomo, 2007).Tinggi bangku dirumitkan oleh interaksi dengan tinggi tempat duduk. Desain kursi sesuai dengan criteria agar permukaan kerja tetap dibawah siku seperti bagian sebelumnya (Nurmianto, 2003 dalam Pratomo 2007).

Untuk mendesain peralatan secara ergonomis yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari atau mendesain peralatan yang ada pada lingkungan seharusnya disesuaikan dengan manusia lingkungan tersebut. Apabila tidak ergonomis akan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada manusia tersebut. Dampak negatif bagi manusia tersebut akan terjadi baik dalam waktu jangka pendek maupun jangka panjang. Bekerja pada kondisi yang tidak ergonomis dapat menimbulkan berbagai masalah antara lain: nyeri, kelelahan, bahkan kecelakaan kerja (Nurmianto, 2004).

Perancangan tempat kerja untuk pekerjaan duduk lebih sulit, karena dalam perancangan ini selain harus memperhitungkan tinggi bangku (meja) kerja juga interaksinya dengan tinggi tempat duduk. Misalnya jika kita merancang dengan kriteria agar permukaan tempat kerja tetap dibawah siku, maka sering kali rancangan tersebut tidak nyaman pada ruang untuk lutut. Untuk menjamin cukupnya ruang bagi lutut orang dewasa, maka direkomendasikan mengambil presentil 95 dari ukuran-ukuran telapak kaki sampai puncak lutut dan menambahkan dengan kelonggaran-kelonggarannya (Purnomo, 2003 dalam Pratomo 2007).

Menurut Panero dan Zelnik (2003) perancangan yang salah akan menyebabkan posisi duduk yang salah dan dapat mengakibatkan dampak negative, serta akan berpengaruh buruk pada kenyamanan seseorang seperti: 1. Jika tinggi alas kursi terlalu tinggi dari lantai maka menyebabkan bagian

tubuh paha akan tertekan. Hal ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan peredaran darah terhambat. Selain itu juga menyebabkan telapak kaki tidak dapat menapak dengan baik di lantai, sehingga menyebabkan melemahnya stabilitas tubuh, seperti ditunjukan pada gambar 2.18

Sebaliknya jika tinggi alas kursi terlalu rendah dari lantai maka dapat menyebabkan kaki condong terjulur ke depan, menjauhkan punggung dari sandaran sehingga penopangan lumbal tidak terjaga dengan tepat, seperti di tunjukan gambar 2.19

Gambar 2.19 Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Rendah

2. Panjang alas kursi (kedalaman kursi) juga faktor penting yang menimbulkan ketidaknyamanan duduk seseorang. Bila alas kursi terlalu panjang maka bagian ujung dari alas kursi menekan daerah tepat dibelakang lutut (popliteal), hal ini akan menghambat aliran darah ke kaki sehingga timbul ketidaknyamanan, seperti pada gambar 2.20

Gambar 2.20 Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Panjang

Panjang alas kursi yang terlalu pendek juga tidak baik karena seseorang cenderung merasa akan jatuh ke depan, disebabkan kecilnya daerah pada

bagian bawah paha. Akibat yang lain, alas kursi yang terlalu pendek akan menimbulkan tekanan pada pertengahan paha, seperti ditunjukan pada gambar 2.21

Gambar 2.21 Akibat Alas Kursi Yang Terlalu Pendek 2.7.3 Dimensi Kursi

Menurut Pheasant (2003) ada beberapa aspek yang mesti diperhatikan dalam mendesain kursi. Kita harus mengukur dimensi kursi untuk dapat menentukan ukuran yang sesuai untuk pengguna kursi tersebut. Pengukuran dimensi kursi ini merujuk pada pengukuran antropometri tubuh dari pengguna kursi. Berikut adalah dimensi yang harus di perhatikan dalam mendesain kursi:

1. Ketinggian kursi

Bila ketinggian kursi meningkat, melampui ketinggian popliteal dari pengguna, tekanan akan dirasakan pada bagian bawah paha. Penurunan yang dihasilkan dari sirkulasi untuk ekstremitas bawah dapat menyebabkan kaki bengkak dan ketidaknyamanan. Bila ketinggian kursi menurun pengguna akan merasakan hal sebagai berikut:

a. Cenderung lebih sering melenturkan tulang belakang (karena kebutuhan untuk mencapai sudut lancip antara paha dan kaki).

b. Menjadi masalah besar saat berdiri dan duduk, karena jarak yang dilalui pusat gravitasi yang bergerak.

c. Memerlukan ruang kaki yang lebih besar.

Secara umum, ketinggian kursi yang optimal untuk berbagai tujuan harus dekat dengan tinggi popliteal pengguna, dan dimana hal ini tidak dapat dicapai, jika kursi yang terlalu rendah diperuntukkan untuk pengguna yang lebih tinggi. Untuk kepentingan dan berbagai tujuan, maka 5th percentile tinggi popliteal perempuan merupakan ukuran yang terbaik. Jika diperlukan untuk membuat kursi yang lebih tinggi dari ini (misalnya untuk mencocokkan meja atau karena ruang kaki yang terbatas), efek buruk mungkin diatasi dengan memperpendek kursi dan pembulatan tepi depan dalam rangka untuk meminimalkan tekanan di bawah paha. Hal ini penting bahwa tinggi kursi harus sesuai dengan meja yang terkait.

Gambar 2.22 Dimensi Kursi 2. Kedalaman Kursi

Jika kedalaman kursi terlalu panjang melampui panjang bokong popliteal (5th percentile wanita), pengguna tidak akan dapat menggunakan sandaran secara efektif tanpa mengurangi tekanan pada bagian punggung lutut. Selain itu, semakin dalam kursi semakin besar masalah yang ditimbulkan saat berdiri dan duduk. Batasan minimal kedalaman kursi tidak mudah untuk di tentukan. Orang tinggi kadang-kadang mengeluh bahwa kursi terlalu pendek. Sandaran kursi mungkin menjadi penyebabnya. 3. Lebar Kursi

Untuk tujuan mendukung lebar kursi yang baik kurangi 25 mm pada kedua sisi dari luas maksimum pinggul yang dibutuhkan,. Namun, jarak

antara lengan kursi harus cukup untuk pengguna yang memiliki pinggul yang besar. Luas pinggul wanita 95th percentile ukuran yang cocok.

4. Dimensi Sandaran

Semakin tinggi sandaran, semakin efektif dalam mendukuing berat tubuh. Hal ini selalu diinginkan tetapi dalam beberapa keadaan persyaratan lain seperti mobilitas bahu mungkin lebih penting. Kita dapat membedakan tiga varietas sandaran, masing-masing yang mungkin sesuai dalam keadaan tertentu : sandaran tingkat rendah, sandaran tingkat menengah, dan sandaran tingkat tinggi. Sandaran tingkat rendah menyediakan dukungan untuk lumbal dan wilayah rendah toraks dan selesai di bawah tingkat tulang belikat, sehingga memungkinkan kebebasan gerakan untuk bahu dan lengan. Kursi kuno juru ketik‟umumnya memiliki sandaran, seperti halnya banyaknya tujuan umum kursi. Untuk mendukung punggung bagian bawah dan meninggalkan daerah bahu, tiinggi keseluruhan sandaran sekitar 400 mm yang diperlukan.

Sandaran tingkat menengah juga mendukung punggung atas dan daerah bahu. Kursi kantor yang paling modern masuk ke dalam kategori ini, seperti hal kursi auditorium, dll.

Sandaran tingkat tinggi memberikan dukungan pada kepala secara penuh dan dukungan pada leher. Apapun ketinggiannya, umumnya akan disukai dan kadang-kadang sandaran itu penting untuk berkontur dengan bentuk tulang belakang, dan khususnya untuk memberikan „dukungan positif‟ ke daerah lumbal dalam bentuk konveksitas.

Untuk mencapai posisi ini, sandaran harus mendukung tubuh anda di tempat yang sama seperti anda akan mendukung diri anda dengan tangan anda untuk meringankan sakit. Untuk menggunakan menyangga lumbal untuk mencapai posisi yang menguntungkan bagi tubuh anda, juga perlu untuk memberikan jarak untuk bokong sehingga dalam beberapa jenis kursi (termasuk kursi kerja) mungkin tepat untuk meninggalkan kesenjangan antara permukaan kursi dan tepi bawah sandaran. Untuk kursi kerja sandaran biasanya disesuaikan dengan keinginan dan dalam beberapa konteks penting.

Sebuah sandaran tingkat menengah atau tinggi harus datar atau sediking cekung di atas tingkat pada lumbal. Namun permukaan dari sandaran tidak boleh terlalu cekung atau jangan sampai tidak ada bentuk cekung mungkin dapat memperburuk desain. Anderson at al (1974) dalam Pheasant (2003) menemukan bahwa lumbal yang menjorok 40 mm dari sandaran pada titik maksimum akan mendukung kembali dalam posisi yang mendekati saat posisi berdiri normal

5. Sudut Sandaran

Dengan meningkatnya sudut sandaran, proporsi yang lebih besar dari berat tubuh yang didukung, maka gaya tekan antara tubuh dan panggul berkurang. Selain itu, meningkatkan sudut antara tubuh dna paha meningkatkan lordosis. Namun, komponen horizontal dari kekuatan tekanan akan meningkat. Hal ini akan cenderung mendorong bokong maju dan orang tersebut akan jatuh dari kursi kecuali:

a. Kemiringan kursi yang memadai. b. Tinggi gesekan alas kursi, atau. c. Otot dari subjek.

Meningkatkan sudut sandaran juga menyebabkan kesulitan untuk berdiri dan tindakan duduk.

Interaksi dari faktor-faktor ini, bersama-sama dengan pertimbangan tuntutan tugas, akan menentukan sudut sandaran optimal yang umumnya akan berada di antara 100 derajat dan 110 derajat. Sudut sandaran (misalnya lebih besar dari 110 derajat) tidak kompatibel dengan sandaran tingkat rendah atau sandaran tingkat menengah karena bagian atas tubuh menjadi sangat tidak stabil.

6. Sandaran Tangan

Sandaran tangan dapat memberikan dukungan postur tambahan dan menjadi bantuan untuk kita berdiri dan duduk. Sandaran tangan harus mendukung bagian berdaging dari lengan bawah, tetapi sangat baik jika bahan pelapis berbahan empuk, sehingga mereka tidak harus melibatkan bagian-bagian tulang siku di mana saraf ulnar sangat sensitive. Jika kursi tersebut akan digunakan dengan sandaran tangan harus tidak membatasi akses, karena lengan kursi tidak boleh dalam keadaan lebih panjang di depan sandaran kursi. Sebuah sandaran siku yang agak lebih rendah daripada tinggi dudukan siku mungkin lebih baik untuk pengguna yang berbadan lebih tinggi sehingga pengguna yang berbadan lebih rendah juga dapat menggunakannya.

Gambar 2.23 Sandaran tangan kursi yang benar dan sandaran tangan kursi yang salah

7. Sudut Alas Kursi (b)

Sebuah sudut kursi yang benar membantu pengguna untuk mempertahankan interaksi yang baik dengan sandaran dan membantu untuk melawan setiap kecenderungan tubuh untuk dapat jatuh dari kursi. Kemiringan yang berlebihan dapat mengurangi pinggul/ sudut tubuh dan membantu kemudahan berdiri dan duduk. Untuk sebagian besar rekomendasi untuk sudut kemiringan alas kursi ini adalah 5-10 derajat sudah dianggap cocok.

2.7.4 Data Antropometri Indonesia

Tabel 2.3

Data antropometri wanita Indonesia tahun 2010 (dalam cm) No Dimensi Tubuh 5th 50th 95th SD

1 Tinggi posisi duduk 78 83 90 4.7

2 Tinggi siku dalam

posisi duduk 19 25 32 5.19

3 Panjang pantat hingga

lipatan dalam lutut 37 43 51 4.21

4 Tinggi lipatan dalam

lutut 38 44 50 3.92

5 Lebar bahu (Bideltoid) 37 43 53 5.43

6 Panjang jari tangan

hingga siku 37 43 50 4.27

7 Lebar pinggul 29 35 45 7.22

Sumber: Sumber: Tan Kay Chuan, Markus Hartono, Naresh Kumar Antropometry of Singaporean and Indonesian Populations 2010

Data diatas merupakan data yang akan jadi acuan pembuatan kursi ergonomis untuk ibu menyusui. Data diatas merupakan data wanita nasional pada tahun 2010, akan tetapi data ini menurut jurnal Antropometry of Singaporean and Indonesian Population 2010 dibedakan menjadi data antropometri dari penduduk keturunan Cina dan data antropometri dari penduduk lokal. Data diatas merupakan data antropometri dari penduduk lokal, karena ada beberapa ukuran antropometri penduduk lokal memliki perbedaan dibandingkan dengan data antropometri dari penduduk keturunan Cina. Hal yang membedakan misalkan keturunan Cina memiliki ukuran tulang pinggul yang lebih kecil daripada penduduk lokal.

Dokumen terkait