• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aparat Hukum Kurang Mendukung Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing di Indonesia

Unsur dari sistem hukum yang turut menentukan terciptanya kepastian hukum adalah aparatur hukum. Menurut Friedman, aparatur hukum atau structure sebagai bagian dari sistem hukum meliputi institusi-institusi eksekutif, judikatif dan legislatif. Komponen struktur hukum merupakan representasi dari aspek institusional yang memerankan pelaksanaan hukum dan pembuatan undang-undang. Struktur dalam implementasinya merupakan sebuah keseragaman yang berkaitan satu dengan yang lain dalam suatu sistem hukum.70

Pada saat krisis ekonomi, aparatur hukum Indonesia kurang mendukung peningkatan investasi, hal ini dapat dilihat dari sisi legislatif, eksekutif dan yudikatif, antara lain:71

1. Sejak era reformasi, telah terjadi pergeseran kekuasaan dimana legislatif lebih dominan dibandingkan dengan eksekutif pada masa orde baru. 2. Undang-Undang yang dilahirkan Dewan Perwakilan Rakyat (“DPR”) tidak

dapat menciptakan stability karena tidak dapat menyeimbangkan kepentingan yang saling bersaing di masyarakat.

3. Undang-Undang yang dilahirkan oleh DPR juga kurang dapat menciptakan predictability, sehingga setiap orang tidak dapat

memperkirakan langkah-langkah atau perbuatan yang dilakukan.

4. Pada tahap implementasi, Undang-Undang yang dilahirkan DPR tidak disertai norma-norma pelaksanaannya, tidak diikuti dengan perintah kepada institusi atau tidak dilengkapi dengan prosedur dan prasarana yang seharusnya menjadi bagian dari Undang-Undang tersebut, hingga akhirnya

70

Lawrence M. Friedman, Legal Theory, (London: Macmillan Press, 1998), hlm. 5, sebagaimana tertulis dalam Suparji, op.cit., hlm. 152

71

berakibat kepada Undang-Undang yang dilahirkan tidak dirumuskan dengan bahasa yang dimengerti masyarakat.

5. Dari sisi eksekutif, adanya perebutan kewenangan dalam penyelenggaraan penanaman modal, terutama berkaitan dengan penyelenggaraan otonomi daerah yang cenderung memperburuk daya saing investasi di Indonesia. 6. Pemerintah daerah cenderung untuk berorientasi untuk memperoleh

keuntungan jangka pendek dan melihat investor sebagai sumber penghasilan daerah. Serta pejabat di daerah semakin birokratis, tidak efisien serta peraturan daerah yang dibuat hanya untuk meningkatkan pendapatan asli daerah yang diperburuk dengan banyaknya pungutan-pungutan dalam prakteknya di lapangan.

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, Konvensi New York mengatur tentang universalitas pengaturan pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase asing dalam konteks hukum nasional negara anggotanya. Peran hukum arbitrase nasional dan Pengadilan Negeri sangatlah berperan terhadap pelaksanaan putusan arbitrase asing dalam wilayahnya.

Albert Jan Van Den Berg, mengatakan pentingnya peran Pengadilan Nasional terutama para hakim-hakim dalam pelaksanaan putusan-putusan arbitrase asing sebagaimana diamanatkan Konvensi New York 1958. Pernyataannya adalah,72 “The

Convention is widely acclaimed as being an incredible success. I would like to use this occasion to express my gratitude for this to one group of persons in particular: the judges in most countries around the world who have supported the Convention so strongly. Without them, we would not be celebrating here the most successful international convention in international private law of this century.”

Terhadap peran penting Pengadilan dalam pelaksanaan putusan arbitrase asing sebagaimana telah disampaikan oleh Albert Jan Van Den Berg diatas, Timur Sukirno memberikan gambaran terhadap pelaksanaan putusan arbitrase di Indonesia bahwa,73 “in

72

Albert Jan Van Den Berg, “Striving for Uniform Interpretation”, dalam “Enforcing Arbitration Awards under the New York Convention”, (New York: United Nations Publications, 1999), hlm. 41

Indonesia, certain issues in arbitration are court-dependent… Enforcement of arbitral awards is conducted through the judiciary system.”

Diundangkannya UU 30/1999 sebagai UU arbitrase pertama Indonesia, dimana di dalamnya, pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase asing dibahas secara khusus dalam Bab terpisah dan komprehensif, diharapkan dapat memperbaiki pengaturan terhadap peraturan perundang-undangan yang tidak secara khusus membahas tentang arbitrase sebelum UU tersebut diundangkan, serta berdasar kepada fakta bahwa meskipun Pemerintah Indonesia telah terikat peraturan-peraturan internasional yang berkaitan dengan arbitrase, belumlah dapat mengakhiri kesulitan pelaksanaan putusan arbitrase asing di Indonesia.74

Pengadilan Negeri Indonesia sebagai tempat dimohonkannya pelaksanaan putusan arbitrase asing belumlah dapat mengakomodir permohonan pihak yang dimenangkan dalam arbitrase. Pengadilan Negeri Indonesia seperti tidak berkeinginan untuk memberikan pelaksanaan terhadap putusan arbitrase asing di wilayah Negara Republik Indonesia. Thomas E. Carbonneau mengatakan bahwa,75 “the willingness of any national

legal system to endorse the process of arbitral adjudication can be measured by whether its governing statutory law and accompanying case law sustain the validity of arbitration agreements and limit judicial supervision of arbitral proceedings and awards.”

Pengadilan Negeri Indonesia memang terlihat seperti tidak berkeinginan untuk memberikan exequatur terhadap putusan arbitrase asing di Indonesia, semenjak UU 30/1999 belum diundangkan hingga setelah diundangkannya UU tersebut. Noah Rubbins

73

Timur Sukirno & Reno Hirdarisvita, “Indonesia”, Baker Mckenzie Internatinal Arbitration

Yearbook, Jakarta, hlm. 29, didapat dari http://www.bakermckenzie.com/files /Uploads/Documents/Global %20Dispute%20Resolution/Dispute%20Resolution%20Around%20the

%20World/dratw_indonesia_2009.pdf, diakses pada 3 Januari 2011, 14:57 WIB

74

Wisnu Aryo Dewanto, “Tinjauan Hukum Mengenai Sulitnya Melaksanakan Putusan Arbitrase,”

Jurnal Yustika, Volume 7 Nomor 2, Desember 2004, hlm. 361

75

Thomas E. Carbonneau, “The Reception of Arbitration in United States Law,” didapat dari Wisnu Aryo Dewanto, op.cit., hlm. 358

mengatakan bahwa,76 “historically, Indonesian courts have engendered little confidence

among foreign investors that the dispute resolution systems they and their Indonesian partners devise in their contracts will be given full effect when a conflict ultimately arises.”

Noah menambahkan bahwa,77 “in the decade following ratification, local courts

remained reluctant to enforce foreign arbitral award.” Hal tersebut dapat dilihat dari

beberapa perkara yang telah dibahas dalam Bab-Bab sebelumnya, seperti Trading

Corporation of Pakistan Limited v. PT Bakrie Brothers, Navigation Maritime Bulgare v. PT Nizwar, E.D. Dan F.MAN (SUGAR) Ltd. v. Yani Harianto, PT Batu Mulia Utama v. Sainrapt et Brice Societe Auxiliarre d’ Enterprises Societe Routiere Colas (SSC).

Adapun setelah diundangkannya UU 30/1999, kesulitan pemberian exequatur terhadap putusan arbitrase asing di wilayah Negara Republik Indonesia tetap berlangsung. Hal ini disebabkan masih tidak berkeinginannya Pengadilan Negeri Indonesia dalam memberikan exequatur terhadap pelaksanaan putusan arbitrase asing di wilayah Negara Indonesia serta Hakim-Hakim yang memeriksa serta mengutus perkara pelaksanaan putusan arbitrase yang didasarkan pada permohonan pelaksanaan yang diajukan pihak yang menang dalam arbitrase maupun permohonan pembatalan yang diajukan pihak yang tidak dimenangkan tidaklah berkompeten dan tidak fasih terhadap hukum arbitrase, ditambah ketidakoptimalan pengetahuannya tentang arbitrase tersebut, membawa kepada suatu penjatuhan putusan yang salah.

Hal tersebut dibuktikan dengan adanya perkara Pertamina melawan KBC diatas serta adanya beberapa contoh perkara lainnya yang menambah daftar yang memalukan bagi reputasi Indonesia dalam dunia arbitrase internasional.78 Beberapa perkara yang dapat dijadikan contoh untuk membuktikan masih kurang efektifnya pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase asing di Negara Indonesia pasca diundangkannya UU 30/1999, salah satunya adalah Perkara Bankers Trust Company & Bankers Trust

76 Noah Rubbins, op.cit., hlm. 361-362

77

International v. Mayora Indah yang perkaranya adalah serupa dengan Bankers Trust Company & Bankers Trust International v. PT. Jakarta International Hotels and Development, Tbk.79

Kedua perkara ini bermula dengan adanya transaksi derivatif pertukaran mata uang dan bunga (currency and interest swaps) antara pihak Bank Bankers Trust (“Bank”) dengan PT Jakarta International Hotels and Development (“Konsumen”) dan Mayora Indah (“Konsumen”) dibawah suatu perjanjian dengan nama, International Swaps and

Derivatives Association Master Agreement (“ISDA”) yang dilakukan oleh kedua belah

pihak pada tahun 1995 dan diatur dengan Hukum Inggris. Mengacu kepada adanya krisis ekonomi pada tahun 1997 – 1998 yang menyebabkan nilai mata uang rupiah turun hingga 15% - 25% dari nilai sebelumnya, pihak konsumen pada akhirnya tidak dapat melakukan kewajibannya untuk melakukan pembayaran dibawah perjanjian.

Ketika permasalahan tersebut masih berada dibawah negosiasi antar pihak, konsumen menggugat pihak Bank di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk membatalkan perjanjian ISDA dengan dasar bahwa perjanjian tersebut bertentangan dengan ketertiban umum (dengan menyatakan bahwa swap trading merupakan perbuatan hukum yang dilarang di Indonesia) dan dengan menandatangani dan terlibat dalam perjanjian tersebut adalah diluar kekuasaan kemampuan corporate pihak konsumen. Pihak bank di satu sisi membawa perkara ini ke London Court of International Arbitration (“LCIA”) untuk menyelesaikan sengketa yang muncul di bawah Perjanjian ISDA ini. LCIA kemudian memenangkan pihak Bank serta kemudian didaftarkan oleh

78

Karen Mills mengatakan bahwa perkara Bankers Trust Company & Bankers Trust International

v. Mayora Indah yang perkaranya adalah serupa dengan Bankers Trust Company & Bankers Trust International v. PT. Jakarta International Hotels and Development, Tbk merupakan perkara yang

memalukan bangsa Indonesia di mata hukum arbitrase internasional. Sebagaimana pernyataannya, “Once

again, the first applications for exequatur under new legislation, this time under the New Law, have brought further embarrassment to Indonesia’s reputation in the world of arbitration,” sebagaimana tertulis

dalam Karen Mills, “Enforcement of Arbitral Awards in Indonesia …”, op.cit., hlm. 28

79

Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Putusan No. 454/Pdt.G/1999/PN.Jak.Sel, 30 May, 2000; dan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Putusan terhadap Arbitrase Internasional No.. 001/Pdt/Arb.Int/1999 dan No. 8199 tertanggal 18 Juni 1999; serta No. 004/Pdt/Arb.Int/1999 sehubungan dengan putusan arbitrase yang diputus oleh LCIA No. 9128 tertanggal 19 October, 1999, didapat dari Karen Mills, “Enforcement of Arbitral Awards in Indonesia…”, op.cit., hlm. 28-30; Tony Budidjaja, op.cit., hlm. 85-90

pihak Bank ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk pelaksanaannya. Sementara Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memenangkan pihak Konsumen. Pihak Bank kemudian mengajukan pembelaan bahwa pihak Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tidak memiliki jurisdiksi untuk memutuskan perkara ini, karena di dalam klausula Perjanjian ISDA, penyelesaian sengketa yang muncul dari Perjanjian ini akan diajukan kepada badan arbitrase internasional LCIA. Pihak Pengadilan mengatakan bahwa klausula tersebut tidak tercantum dalam Perjanjian ISDA oleh karena itu tidak mengikat kepada para pihak, dimana pada kenyataannya, para pihak yang bersengketa telah sepakat dalam Perjanjian tersebut.

Pihak Bank kemudian mengajukan banding kepada keputusan Pengadilan tinggi dan pada saat yang bersamaan memohon pelaksanaan putusan arbitrase kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pihak Bank menyatakan bahwa keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tidaklah mengikat hingga putusan tersebut adalah bersifat tetap dan putusan arbitrase tersebut adalah final dan mengikat dan juga mengatakan bahwa putusan tersebut adalah untuk dilaksanakan dan tidak perlu diperiksa ulang. Adanya kontradiksi penjatuhan putusan oleh Pengadilan Negeri, LCIA membawa Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tidak berkeinginan untuk memutuskan pelaksanaan terhadap putusan arbitrase yang dijatuhkan oleh LCIA. Pihak Bank kemudian mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung terhadap putusan Jakarta Pusat tersebut, namun hingga saat ini belum ditentukan lebih lanjut tentang adanya putusan terbaru mengenai kasus ini.

Perkara lainnya adalah Permohonan Pembatalan terhadap putusan arbitrase internasional terdapat pada kasus PT. Bungo Raya Nusantara dengan PT. Jambi

Resources.80 Dalam keputusan pengadilan permohonan pembatalan ditolak Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena keputusan arbitrase yang dimohonkan pembatalan adalah keputusan arbitrase internasional. Kasus ini bermula kerja sama antara PT Nusantara Termal Coal (NTC) dengan PT Bungo Raya Nusantara (BRN) pada tahun 2006. NTC adalah kontraktor Pemerintah RI berdasarkan Perjanjian Karya Pengusahaan

80

Curi batubara, warga korea menjadi tersangka, http://www.indonesia-monitor. com/main/index.php?option=com_content&task=view&id=3492&Itemid=37, Diakses pada 1 Desember 2009, 15:00 WIB

Pertambangan Batubara (PKP2B) tertanggal 19 Januari 1998 dengan lokasi seluas 2.832 hektar, sekitar 31 km sebelah barat Muara Bungo, Provinsi Jambi. BRN melalui perjanjian tanggal 28 Juli 2006, menjadi subkontraktor penambangan, pengangkutan dan pemasaran batubara dari wilayah NTC. Pada tanggal yang sama (28/07/06), direksi BRN menandatangani perjanjian dan mengalihkan hak penambangan, pengangkutan dan pemasarannya kepada PT Jambi Resources Limited. (semula bernama PT Basmal Utama Internasional atau BUI). Perjanjian itu berisi uraian mengenai hak dan kewajiban masing-masing pihak dan disebutkan jika ada sengketa dipilih arbitrase atau SIAC (Singapore International Arbritation Centre).

Setelah berkali-kali melakukan teguran dan peringatan keras karena menilai BUI tidak memenuhi kewajiban (royalti fee kepada BRN selama tiga bulan berturut-turut) sebagaimana disepakati dalam kontrak, akhirnya BRN, September 2007 melakukan pemutusan kontrak atau perjanjian. Pihak JR tidak sependapat dan menilai terundanya pembayaran adalah masalah perdata, bukan menyangkut hubungan kontrak penambangan, pengangkutan dan pemasaran batubara. Sengketa JR dan BRN itu 31 Oktober 2007 dibawa ke arbritase Singapura.

Sementara kasus itu di proses di Singapura, pihak Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral melakukan peninjauan ke wilayah konsesi pertambangan PT NTC dan mendapatkan berbagai kekurangan dalam perjanjian karya. Di antaranya, PT NTC dinilai keliru karena mengalihkan kontrak pengangkutan dan pemasaran batubara di wilayah PKP2B-nya. Dalam ketentuan PKP2B, yang boleh disubkontrakan hanya kegiatan penambangannya saja. Akibatnya, tanggal 10 Juli 2008 Direktorat Pembinaan Pengusahaan Minerba Departemen ESDM menerbitkan surat No 1634/30.01/DBM/2008 yang isinya melarang NTC menerbitkan SPK penambangan maupun mengalihkan hak jual, karena menilai SPK itu tidak sesuai dengan ketentuan PKP2B. Tanggal 1 September 2008, Gubernur Jambi menerbitkan surat No 541.13/3638/Dispertamben, memerintahkan agar NTC tidak menerbitkan SPK penambangan dan tidak melimpahkan hak jual batubara kepada pihak lain. Berdasarkan surat Direktorat Pembinaan Pengusahaan Minerba dan surat Gubernur Jambi tersebut, tanggal 25 September 2008 pihak NTC dan BRN sepakat mengakhiri perjanjian kerja tertanggal 28 Juli 2006.

tertanggal 27 Oktober 2008, yang isinya antara lain memerintahkan NTC menghentikan kegiatan penambangan, disusul surat No2562/30.01/DBM/2008 yang menegaskan pertimbangan larangan kegiatan penambangan di wilayah NTC.

Direksi PT NTC kemudian meminta agar BRN menghentikan semua kegiatan di wilayah PKP2B tersebut melalui surat tanggal 25 September 2008. Menindaklanjuti permintaan NTC sebagai pemegang konsesi, pihak BRN menerbitkan surat No 067/Dir03-01/BRN/XI/2008 tertanggal 13 November 2008 kepada seluruh subkontraktornya, menegaskan penghentian kegiatan penambangan di wilayah konsesi NTC.

Kembali kepada sengketa antara PT. BRN dan JR, berdasarkan final award pada tanggal 6 Agustus 2009, SIAC memutuskan pemutusan kontrak antara PT. BRN dan PT. JR tidak sah dan tidak berlaku. Perjanjian antara kedua perusahaan dinyatakan sah dan berlaku sehingga PT. JR berhak untuk menambang. Setelah ditinjau ulang oleh BRN, keseluruhan perjanjian seharusnya tidak lahir. Sebab menabrak sejumlah aturan tentang pertambangan.

Karena itu BRN akhirnya mengajukan pembatalan putusan SIAC ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat akhir September 2009. Perkaranya teregister No. 03/PembatalanArbitrase/2009/PN.JKT.PST. Dasar yang digunakan BRN sebagai pembatalan putusan arbitrase adalah Ketika proses arbitrase berlangsung, Direktorat Pembinaan Pengusahaan Minerba Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melarang PT NTC menerbitkan Surat Perintah Kerja (SPK) Penambangan maupun mengalihkan hak jualnya. Departemen ESDM menilai SPK Penambangan kepada PT BRN bertentangan dengan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) tertanggal 19 Februari 1998 antara pemerintah dengan PT NTC. Sebab, yang disubkontrakan tidak hanya penambangan, melainkan termasuk mereklamasi, mengangkut, memasarkan dan menjual batu bara. Padahal seharusnya terbatas pada penambangan. Selanjutnya Gubernur Jambi juga memerintahkan PT NTC tidak menerbitkan SPK penambangan dan tidak melimpahkan hak jual batu bara ke pihak lain. Karena itu pada 25 September 2008, PT NTC dan PT BRN sepakat menghentikan perjanjian kerja, lalu meminta PT BRN untuk menghentikan kegiatan penambangan. Lalu

menghentikan kegiatan penambangan di wilayah konsesi PT NTC. Pada 13 November 2008, PT BRN memerintahkan seluruh subkontraktornya agar menghentikan kegiatan penambangan di wilayah konsesi PT Nusantara. Berdasarkan keterangan diatas, dapat diketahui bahwa sebenarnya perjanjian antara PT. BRN dan PT. JR batal demi hukum dan dianggap tidak pernah ada, karena bertentangan dengan ketentuan yang berlaku dan ketertiban umum.

Selain itu pihak PT. BRN juga menggunakan ketentuan Pasal 70 huruf c bahwa putusan diambil dari hasil tipu muslihat yang dilakukan oleh salah satu pihak dalam pemeriksaan sengketa, karena PT Jambi tidak memberitahukan pada arbiter bahwa perjanjian subkontraktor antara PT Bungo dan PT Nusantara sendiri bertentangan dengan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Nusantara, PKP2B dan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam keputusan hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat81, menyatakan bahwa pengadilan tidak berwenang, dalam putusan selanya pengadilan menyatakan bahwa putusan SIAC dalam perkara PT. BRN vs PT. JR adalah putusan arbitrase internasional sehingga tidak bisa dibatalkan di pengadilan Indonesia. Putusan majelis hakim itu sekaligus mengabulkan eksepsi kuasa hukum PT Jambi. Dalam eksepsi disebutkan, putusan arbitrase internasional hanya bisa diajukan di Negara atau berdasarkan hukum dimana putusan dijatuhkan. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dinilai tidak berwenang mengadili permohonan pembatalan arbitrase. Seharusnya di Singapura, tempat SIAC berkedudukan.

Penilaian majelis hakim bahwa putusan SIAC sebagai putusan internasional itu merujuk pada Pasal 1 angka 9 UU No. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Definisi putusan arbitrase internasional menurut pasal itu adalah

putusan yang dijatuhkan oleh suatu lembaga arbitrase atau arbiter perorangan diluar wilayah hukum RI, atau putusan suatu lembaga arbitrase atau arbiter perorangan menurut ketentuan hukum RI dianggap sebagai suatu putusan arbitrase internasional.

81

Putusan SIAC tidak bisa dibatalkan di Indonesia, http://www.hukumonline. com/berita/baca/lt4b03edd17320c/putusan-siac-tidak-bisa-dibatalkan-di-indonesia, diakses pada 15 Desember 2009, 20:00 WIB

Selain itu mengacu kepada Pasal 70 UU Arbitrase tentang alasan-alasan permohonan pembatalan arbitrase hanya menyebutkan para pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan putusan arbitrase. Tidak disebut permohonan pembatalan arbitrase internasional. Majelis hakim menyimpulkan bahwa permohonan pembatalan arbitrase di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat hanya dapat diajukan terhadap putusan arbitrase nasional, bukan putusan arbitrase internasional. Berdasarkan putusan PN Jakarta Pusat ini dapat dilihat bahwa penafsiran hakim atas Pasal 70 ini hanya berlaku untuk arbitrase nasional.

Berdasarkan kepada kedua perkara diatas, dapatlah dilihat bahwa pelaksanaan UU 30/1999 yang pada dasarnya substansi hukumnya sendiri tersebut sudah tidak jelas, keputusan Pengadilannya pun pada akhirnya tegak lurus dengan substansi UU yang tidak jelas pengaturannya, karena tidak dilandasi oleh suatu landasan hukum yang pasti. Selain tidak berkeinginannya Pengadilan Negeri dalam memberikan putusan pelaksanaan serta tidak kompetennya Hakim-Hakim seperti disebutkan diatas, pihak pelaku usaha juga sering salah dalam memahami serta menginterpretasikan esensi penolakan dan pembatalan.

Wisnu Aryo Dewanto menambahkan gambaran yang lebih luas terhadap sulitnya melaksanakan putusan arbitrase asing di Indonesia dilihat dari sistem hukum aparaturnya, antara lain:82

1. Hakim, sebagai ujung tombak hukum, tidak berperan secara optimal karena seringkali menerima kasus-kasus yang memiliki klausula arbitrase, tanpa mempertimbangkan kompetensitasnya terhadap kasus tersebut. Selain itu, istilah kebebasan seorang hakim diartikan terlalu luas, sehingga seringkali putusan pengadilan negeri dan tinggi bertentangan dengan putusan Mahkamah Agung, padahal bebas disini harusnya dipahami sebagai bebas dari intervensi badan eksekutif maupun legislatif. Lebih lanjut, hakim di Indonesia kurang memiliki wawasan internasional, sehingga banyak aturan-aturan internasional yang telah diratifikasi

82

Pemerintah Indonesia tidak dijadikan bahan pertimbangan hukum dalam memutus perkara.

2. Pengusaha dan pengacara juga menjadi bagian kebobrokan hukum di Indonesia karena mereka seringkali memanfaatkan kelemahan hakim untuk melakukan penyuapan agar putusan hakim sesuai dengan keinginan dan kepentingan mereka. Dan pengusaha Indonesia seringkali tidak memiliki itikad baik untuk mematuhi dan melaksanakan putusan arbitrase, padahal dasar adanya klausula arbitrase adalah adanya itikad baik dari para pihak untuk melaksanakan kesepakatan yang mereka setujui.

Fakta-fakta tersebut diatas sangatlah memprihatinkan Indonesia karena inkonsistensi pihak-pihak Indonesia untuk mematuhi aturan-aturan arbitrase yang pada akhirnya menyebabkan citra Indonesia di mata pengusaha asing tidak bertambah baik, sekalipun Pemerintah Indonesia telah bersedia mengakui dan melaksanakan keputusan arbitrase asing melalui Keppres 34/1981 dan Perma 1/1990,83 dimana, kesuksesan arbitrase komersial internasional sebagai sistem bergantung kepada bagian terbesar dalam prediktabilitas pada tahap pelaksanaannya.84

C.3. Budaya Hukum Masyarakat terhadap Arbitrase Asing Lemah karena