METODOLOGI PENELITIAN
4.2 APLIKASI BUOYANCY WEIGHING-BAR METHOD (BWM) TERHADAP WAKTU PEMISAHAN DENGAN PENGARUH
DIAMETER BATANG
4.2.1 Pengaruh Diameter Batang Pada Suhu 300C
Pada penelitian ini proses pemisahan biodiesel dan gliserol yang terjadi diakibatkan gravitasi dimana bergeraknya gelembung/droplet ke atas sebagai akibat nilai densitas yang lebih rendah dari nilai densitas lingkungannya [6].
Gambar 4.2 menunjukkan pengaruh waktu pemisahan terhadap massa batang untuk diameter batang 8, 10, 15 dan 20 mm dengan perbandingan konsentrasi 95% : 5% pada suhu 300C.
Gambar 4.2 Pengaruh Waktu Terhadap Massa Batang Pada Konsentrasi 95% Biodiesel : 5% Gliserol Pada Suhu 30 0C
Gambar 4.2 menunjukkan grafik antara massa batang dengan waktu dengan rasio perbandingan biodiesel dan gliserol 95% : 5% dengan diameter batang yang digunakan adalah 8, 10, 15 dan 20 mm.
Pada grafik diameter batang 8 mm ditunjukkan bahwa massa batang terus meningkat cepat mulai menit ke-2 hingga menit ke-12 dan massa batang mulai meningkat secara perlahan hingga konstan sampai menit ke-60. Pada menit ke-60 massa batang sudah konstan yang menunjukkan bahwa biodiesel dan gliserol sudah terpisah. Perubahan massa jelas terlihat karena gelembung biodiesel bergerak ke atas ketika proses pemisahan terjadi akibat dari nilai densitas biodiesel lebih rendah dibandingkan nilai densitas gliserol sehingga dapat dinyatakan fasa biodiesel
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
terdispersi didalam fasa gliserol [6]. Pada penelitian ini diambil sampel pada menit ke-12 dan menit ke-60 , karena pada menit ke-12 dianggap massa batang sudah mulai konstan. Dengan menggunakan metode Gas Chromatography diperoleh kadar metil ester biodiesel pada menit ke-12 sebesar 96,9225% dan pada menit ke-60 sebesar dan 97,314%.
Pada grafik diameter batang 10 mm ditunjukkan bahwa massa batang terus meningkat cepat mulai menit ke-2 hingga menit ke-25 dan mulai meningkat secara perlahan hingga konstan sampai menit ke-40 massa batang sudah konstan yang menunjukkan bahwa biodiesel dan gliserol sudah terpisah. Perubahan massa jelas terlihat karena gelembung biodiesel bergerak ke atas ketika proses pemisahan terjadi akibat dari nilai densitas biodiesel lebih rendah dibandingkan nilai densitas gliserol sehingga dapat dinyatakan fasa biodiesel terdispersi didalam fasa gliserol [6]. Pada penelitian ini diambil sampel pada menit ke-25 dan menit ke-40 , karena pada menit ke-25 dianggap massa batang sudah mulai konstan. Dengan menggunakan metode Gas Chromatography diperoleh kadar metil ester biodiesel pada menit ke-25 sebesar 96,8008% dan pada menit ke-40 sebesar dan 97,9402%.
Pada grafik diameter batang 15 mm ditunjukkan bahwa massa batang terus meningkat cepat mulai menit ke-2 hingga menit ke-40 dan mulai meningkat secara perlahan hingga konstan sampai menit ke-75. Pada menit ke-75 massa batang sudah konstan yang menunjukkan bahwa biodiesel dan gliserol sudah terpisah. Perubahan massa jelas terlihat karena gelembung biodiesel bergerak ke atas ketika proses pemisahan terjadi akibat dari nilai densitas biodiesel lebih rendah dibandingkan nilai densitas gliserol sehingga dapat dinyatakan fasa biodiesel terdispersi didalam fasa gliserol [6]. Pada penelitian ini diambil sampel pada menit ke-40 dan menit ke-75 , karena pada menit ke-40 dianggap massa batang sudah mulai konstan. Dengan menggunakan metode Gas Chromatography diperoleh kadar metil ester biodiesel pada menit ke-40 sebesar 97,1457% dan pada menit ke-75 sebesar dan 98,3948%.
Pada grafik diameter batang 8 mm ditunjukkan bahwa massa batang terus meningkat cepat mulai menit ke-2 hingga menit ke-80 dan mulai meningkat secara perlahan hingga konstan sampai menit ke-100. Pada menit ke-100 massa batang sudah konstan yang menunjukkan bahwa biodiesel dan gliserol sudah terpisah.
25
Perubahan massa jelas terlihat karena gelembung biodiesel bergerak ke atas ketika proses pemisahan terjadi akibat dari nilai densitas biodiesel lebih rendah dibandingkan nilai densitas gliserol sehingga dapat dinyatakan fasa biodiesel terdispersi didalam fasa gliserol [6]. Pada penelitian ini diambil sampel pada menit ke-80 dan menit ke-100 , karena pada menit ke-80 dianggap massa batang sudah mulai konstan. Dengan menggunakan metode Gas Chromatography diperoleh kadar metil ester biodiesel pada menit ke-80 sebesar 97,9684% dan pada menit ke-100 sebesar dan 98,7558%.
4.2.2 Pengaruh Diameter Batang Pada Suhu 600C.
Pada penelitian ini proses pemisahan biodiesel dan gliserol yang terjadi diakibatkan gravitasi dimana bergeraknya gelembung/droplet ke atas sebagai akibat nilai densitas yang lebih rendah dari nilai densitas lingkungannya [6].
Gambar 4.3 menunjukkan pengaruh waktu pemisahan terhadap massa batang untuk diameter batang 20 mm dengan perbandingan konsentrasi 95% : 5% pada suhu 600C.
Gambar 4.3 Pengaruh Waktu Terhadap Massa Batang Pada Konsentrasi 95% Biodiesel : 5% Gliserol denggan Diameter Batang 20 mm Pada Suhu 30 0C dan 60 0C.
Gambar 4.3 menunjukkan grafik antara massa batang dengan waktu dengan rasio perbandingan biodiesel dan gliserol 95% : 5% dengan diameter batang yang digunakan adalah 20 mm pada suhu 30 0C dan 60 0C.
Pada grafik diameter batang 20 mm pada suhu 30 0C ditunjukkan bahwa massa batang terus meningkat cepat mulai menit ke-2 hingga menit ke-80 dan mulai
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
meningkat secara perlahan hingga konstan sampai menit ke-100. Pada menit ke-100 massa batang sudah konstan yang menunjukkan bahwa biodiesel dan gliserol sudah terpisah.
Pada grafik diameter batang 20 mm pada suhu 60 0C ditunjukkan bahwa massa batang terus meningkat cepat mulai menit ke-2 hingga menit ke-40 dan mulai meningkat secara perlahan hingga konstan sampai menit ke-60. Pada menit ke-60 massa batang sudah konstan yang menunjukkan bahwa biodiesel dan gliserol sudah terpisah. Perubahan massa jelas terlihat karena gelembung biodiesel bergerak ke atas ketika proses pemisahan terjadi akibat dari nilai densitas biodiesel lebih rendah dibandingkan nilai densitas gliserol sehingga dapat dinyatakan fasa biodiesel terdispersi didalam fasa gliserol [6]. Dengan menggunakan metode Gas Chromatography diperoleh kadar metil ester biodiesel pada menit ke-40 sebesar 98,4793% dan pada menit ke-60 sebesar dan 99,215%.
Berdasarkan hasil pengamatan pada suhu 30 0C dan 60 0C menunjukkan bahwa kenaikan temperatur berbanding lurus terhadap kecepatan pengendapan.
Semakin tinggi temperatur maka kecepatan pengendapan akan semakin cepat dan sebaliknya jika temperatur rendah maka kecepatan pengendapan akan berjalan lambat. Hal ini dipengaruhi oleh tinggi rendahnya viskositas suatu zat cair.
Viskositas adalah suatu pernyataan “tahanan untuk mengalir” dari suatu sistem yang mendapatkan suatu tekanan. Makin kental suatu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan untuk membuatnya mengalir pada kecepatan tertentu [30].
Viskositas suatu pelumas dipengaruhi oleh perubahan suhu dan tekanan, apabila suhu suatu pelumas meningkat, maka viskositasnya akan menurun, begitu juga sebaliknya apabila suhu suatu pelumas menurun, maka viskositasnya akan meningkat ini berarti pelumas akan mudah mengalir ketika pada suhu panas dibandingkan pada suhu dingin. Viskositas pada pelumas akan meningkat seiring meningkatnya juga tekanan yang ada disekitar pelumas [8].
27
4.3 APLIKASI BUOYANCY WEIGHING-BAR METHOD (BWM)