BAB II KAJIAN TEORITIS
B. Aplikasi Jurnalisme Cetak
Media cetak merupakan media yang tertua dalam sejarah peradaban manusia. Media cetak yang sering disebut juga dengan pers, yang memenuhi kriteria sebagai media massa adalah surat kabar dan majalah.34 Media cetak
33
Septiawan Santana K, Jurnalisme Kontemporer, h. 85.
34
adalah media informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat. Semakin bertambahnya kemajuan teknologi informasi, maka semakin canggih pula media yang dapat menunjang informasi.35
2. Jurnalisme cetak
Kegiatan jurnalistik yang terorganisasikan, kemudian melahirkan apa yang dikenal dengan pers, yaitu usaha-usaha penerbitan karya jurnalistik yang berupa informasi dan berita. Usaha-usaha penerbitan atau pers itu memiliki kebijakan dalam hubungan dengan Struktur masyarakat dan negara. Kebijakan itu kemudian menjadi orientasi dari karya jurnalistik yang berada dalam lingkupnya. Sebutan pers berasal dari cara kerja mesin cetak menekan huruf-huruf di atas kertas. Selanjutnya semua usaha penerbitan yang berhubungan dengan mesin cetak disebut pers.36
a. Secara Keseluruhan Isi Penerbitan Pers
a) Pemberitaan (news getter) adalah laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat. Jadi, berita dapat dikaitkan dengan kejadian atau peristiwa yang terjadi.
b) Berita langsung (straight news) adalah berita yang ditulis secara langsung, artinya informasi yang dituangkan dalam berita itu diperoleh langsung dari sumber beritanya.
35
http://www.anneahira.com/pengertian-media-cetak.htm. Diakses pada tanggal 21 April 2013, 12.20 wib.
36
c) Penggalian berita (investigative news) adalah untuk dapat membuat berita harus ada kejadian atau peristiwa. Kejadian atau peristiwa ini bisa disebut sebagai sumber berita.
d) Pengungkapan berita (explanatory news) adalah pengungkapan berita atau bisa juga disebut sebagai berita yang menjelaskan artinya, dalam hal penulisan berita data yang disajikan lebih banyak diuraikan dari pada diungkap secara langsung.
e) Penjelasan berita (interpretative news) adalah bentuk berita yang penyajiannya merupakan gabungan antara fakta dan interprestasi. Artinya, dalam penulisan berita seperti ini, penulis boleh memasukkan uraian, komentar, dan sebagainya yang ada kaitannya dengan data yang diperoleh dari peristiwa atau kejadian yang dilihat. f) Pengembangan berita (depth news) adalah merupakan kelanjutan atau hampir sama dengan investigatif news. Bedanya juga investigative news, bermula dari adanya isu atau data mentah yang kemudian dilakukan penelitian atau penggalian.
g) Karangan khas (feature) adalah bagian dari penyajian berita cara menulisnya dapat mengabaikan pegangan utama dalam penulisan berita yaitu 5W dan 1H.
b. Pandangan dan Pendapat (opinion)
a) Pendapat umum (public opinion) adalah pendapat, pandangan, atau pemikiran lain dari masyarakat luas, untuk menanggapi atau membahas suatu permasalahan yang dimuat dalam penerbitan pers. b) Komentar adalah pendapat, pandangan atau pemikiran lain dari
masyarakat lain dari masyarakat luas, untuk menanggapi atau membahas suatu permasalahan yang dimuat dalam penerbitan pers. c) Artikel adalah opini masyarakat yang dituangkan dalam tuliasan
tentang berbagai soal, mulai dari poltik, ekonomi, sosial, budaya, teknologi bahkan olahraga.
d) Surat pembaca (letter to the editor) adalah opini publik yang cukup menarik dalam penerbitan pers.
c. Opini Penerbit (desk opinion)
a) Opini penerbit (desk opinion) adalah pandangan, pendapat atau opini dari redaksi terhadap suatu masalah yang terjadi di tengah masyarakat, dan dijadikan sajian dalam penerbitannya,
b) Tajuk rencana merupakan sikap, pandangan, atau pendapat penerbit terhadap masalah-masalah yang sedang dibicarakan oleh masyarakat.
c) Pojok adalah opini penerbit yang penyajiannya dilakukan secara humor.
d) Karikatur (carricature/cartoon) adalah bagian dari opini penerbit yang dituangkan dalam bentuk gambar-gambar khusus.
d. Periklanan (advertisment)
a) Periklanan adalah kegiatan memasuk pengasilan bagi perusahaan penerbitan pers dengan jalan menjual kolom-kolom yang ada pada surat kabar atau majalah dalam bentuk advertensi (advertising). b) Iklan display adalah display memakai ukuran milimeter atau kolom,
ukuran ini pula yang menentukan harganya.
c) Iklan baris adalah iklan yang hanya terdiri dari baris huruf-huruf. d) Iklan pariwara adalah iklan berbentuk berita atau artikel.37
3. Berita
Menurut Hikmat Kasumaningrat berita ialah informasi aktual mangenai fakta-fakta dan opini yang menarik perhatian orang.38 Sedangkan menurut Sudirman Tebba memberikan definisi berbeda seputar berita. Menurutnya, berita ialah jalan cerita mengenai suatu peristiwa.39
Asep Syamsul Romli juga disebutkan bahwa berita ialah laporan peristiwa yang memenuhi keempat unsur yaitu cepat, nyata, penting dan menarik.40
Dari beragam definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa berita ialah informasi aktual mengenai fakta dan opini dengan memperhitungkan beberapa
37
Totok Djuroto, M.Si, Manajemen Penerbit Pers, h. 46-86.
38
Hikmat Kusumaningrat dan Purnama Kusumaningrat, Jurnalistik: Teori dan Praktik
(Bandung: Rosdakarya, 2006), h. 39.
39
Sudirman Tebba, jurnalistik baru, h. 55.
40
Asep Syamsul M.Romli, Jurnalistik Praktis (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), h. 6.
unsur yaitu, kedekatan (proximity) geografis antara khalayak dengan peristiwa, keterkenalan (prominence), kriminal (criminal), seks (sex) dan dampak (consequense).
4. Jenis dan Nilai-nilai Berita a. Jenis Berita
Berita terbagi menjadi beberapa macam, tergantung dari sudut pandang seseorang melihatnya, yaitu:
1) Sifat kejadian,
2) Cakupan isi berita, dan 3) Bentuk penyajian berita.41
Dilihat dari segi sifat kejadiannya, ada berita terduga (perayaan hari besar nasional) dan berita tak terduga (kebakaran, tanah longsor, banjir).
Dilihat dari segi cakupan isi berita, berita terbagi menjadi berita politik, ekonomi, kebudayaan, hukum, dan lain sebagainya.
Sedangkan jika dilihat dari segi bentuk penyajiannya, berita digolongkan menjadi dua, yaitu hard news dan soft news.
41
5. Nilai Berita
1) Nilai Berita Menurut Pandangan Lama
Dalam Schediasma Curiosum de Lectione Novellarum, Cristia Weise mengemukakan pada tahun 1676 bahwa dalam memilih berita harus dipisahkan antara yang benar dan yang palsu.42
Menurut Tobias Peucer (1690), nilai berita menurut pandangan lama ialah:
a) Tanda-tanda yang tidak lazim (ketidaklaziman), b) Berbagai jenis perubahan sosial dan pemerintahan, c) Masalah-masalah gereja dan keterpelajaran.
Kasper Steiler (1965) berpendapat bahwa penulis berita di surat kabar haruslah yang dapat menceritakan hal-hal penting dan menjauh diri dari hal-hal sepele”. Steiler juga mengungkapkan bahwa nilai-nilai berita ialah kebaruan, kedekatan, geografis, implikasi, dan keterkenalan, maupun negativisme.
2) Nilai Berita Menurut Pandangan Modern
Berita menurut pandangan modern dihubungkan kepada wartawan Amerika Serikat, Walter Lippman pada awal abad lalu. Menurutnya, berita dinilai sebagai berita jika ada unsur kejelasan tentang peristiwanya, unsur
42Michael Kunczik, Concepts of Journalisme, North an South, Friedrich Ebert Stichtung, Bonn, 1984.
kejutan (surprise), unsur kedekatan (proximity) secara geografis, serta ada dampak (impact) dan konflik personalnya.
Sedangkan menurut Hikmat dan Purnama Kusumaningrat nilai berita menurut pandangan modern ialah sebagai berikut:
a. Aktualitas (Timeliness): Bagi sebuah surat kabar, semakin aktual beritanya, semakin tinggi pula nilai beritanya. Sebuah berita ini sering dinyatakan sebagai laporan dari apa yang baru saja terjadi.43 b. Kedekatan (proximity): peristiwa yang mengandung unsur
kedekatan geografis dengan pembaca, tentu akan sangat menarik perhatian pembaca tersebut.
c. Keterkenalan (prominence): jika yang diberitakan itu cukup dikenal khalayak massa, berita itu pun semakin menarik.
d. Dampak (Consequence): konsep dampak dalam nilai berita juga berperan penting.
e. Human Interest
1. Ketegangan (Suspense): semakin tinggi tingkat ketegangan berita, maka berita tersebut semakin menarik untuk dibaca. 2. Ketidaklaziman (Unusualness): kejadian yang tidak lazim atau
sesuatu yang aneh akan memiliki daya tarik untuk dibaca.
3. Minat pribadi (personal Interest): berita itu ada terkadang karena adanya hasrat atau minat pribadi dari khalayak.
43
4. Konflik (conflict): peristiwa atau kejadian yang mengandung pertentengan terkadangan turut membuat pembaca tergugah. 5. Simpati (Sympathy): pemberitaan mengenai seorang anak bocah
berusia enam tahun di tengah hutan yang telah merawat ibunya yang cacat bertahun-tahun tentu akan mengundang simpati khalayak.
6. Kemajuan (progress): “kereta api monorel akan dibangun di Jakarta untuk mengurangi kemacetan”. Pemberitaan mengenai kemajuan tanah air akan menarik pembaca turut mengetahui. 7. Seks (Sex): contohnya, pemberitaan mengenai pemerkosaan
yang dilakukan kakek terhadap anak di bawah umur hingga hamil.
8. Usia (Age): contohnya, Anak balita berusia lima tahun dapat memainkan alat musik, atau anak terkecil di dunia berumur 35 tahun.
9. Binatang (Animals): pemberitaan aneh seputar binatang.
10.Humor (Humor): pemberitaan yang mengundang tawa bagi pembaca.
11.Magnitude: megnitude hampir senada dengan ketidaklaziman, namun magnitude melahirkan dampak yang cukup besar. Misalnya peristiwa tsunami di Aceh yang menyebabkan kematian hingga ratusan orang.
6. Penyajian Berita Media Cetak
Teoritikus Henry Fayol dan beberapa penerusnya ( Urwik dan Brech) memberikan pernyataan bahwa bagaimana seorang manajer seharusnya mengaplikasikan tanggung jawabnya sehari-hari dalam sebuah orgaisasi. Tanggung jawab tersebut ialah:
a. Perencanaan b. Pengorganisasian c. Motivasi
d. Koordinasi e. pengendalian44
Proses kerja redaksional menentukan apakah suatu peristiwa memiliki nilai berita sesungguhnya atau tidak, seorang redaktur menentukan apa yan harus diliputi, sementara seorang reporter menentukan bagaimana cara meliputinya dengan tahap pencarian dan penggarapan berita, setelah seluruh materi terkumpul, maka tahap selanjutnya ialah melakukan penulisan dan penyunting (editing).
Sebelum seorang reporter turun ke lapangan, ia harus lebih dahulu mendengarkan dari redaktur tentang hasil rapat redaksi di pagi hari. Rapat pagi
44
Alan Mumford, Mencetak Manajer Andal Melalui Coaching dan Monitoring
biasanya dipimpin oleh pemimpin redaksi atau redaksi atau redaktur pelaksana untuk menentukan berita-berita apa saja yang harus diliput.45
7. Majalah
1. Pengertian Majalah
Di bawah ini merupakan pengertian majalah yang diambil dari kamus Besar Bahasa Indonesia:
“Majalah adalah terbitan berkala yang isinya meliputi berbagai macam liputan jurnalistik, pandangan tentang topik aktual yang patut diketahui oleh pembaca dan menurut waktu penerbitannya dibedakan atas majalah bulanan, tengah bulan, mingguan dan sebagainya. Dan menurut pengkhususan isinya dibedakan atas majalah berita, majalah khusus wanita, remaja, olahraga, sastra, ilmu pengetahuan tertentu.”46
Djony Herfan menjelaskan bahwa majalah merupakan bagian dari media massa atau media pers yang terbit secara berkala, bisa mingguan atau bulanan. Selain itu, isi majalah memuat berbagai macam artikel, cerita, gambar-gambar dan juga iklan.47
Definisi lainnya, majalah merupakan media massa yang terbit secara berkala dan memiliki format ukuran setengah dari ukuran tabloid atau seperempat ukuran broadsheet (newspaper). Menurut mario R. Garcia (Newspaper Design, 1986), selain umumnya berukuran seerempat halaman broadsheet, pengertian majalah ini adalah halaman demi halamannya diikat
45
Asep Syamsul Romli, Jurnlistik praktis, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2001) h.3.
46
Tim penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1988), h. 545.
47
Djony Herfan, ed., Himpunan Istilah Komunikasi (Jakarta: PT. Grasindo, 1988), h. 77.
dengan kawat (dihekter) serta menggunakan sampul yang jenis kertasnya lebih tebal atau lebih mengkilat dibandingkan kertas halaman dalam.48
Mengenai terbitan berkala yang dimaksudkan adalah “…terbit teratur dalam waktu yang berselang-seling, mungkin sekali terbit dengan kala atau frekuensi tengah mingguan (seminggu duakali) atau dapat juga terbit tiap semester atau tengah semester atau tengan tahunah (setahun duakali)…”49
2. Perkembangan Majalah
Perkembangan majalah memiliki beberapa tahapan, seiring perjalanan peradaban manusia mengembangkan media sebagai sarana informasi. Berikut adalah perkembangan majalah menurut ENCYCLOPAEDIA BRITANNICA: BRITANNICA. Com (2000).
Pada Abad ke-17 majalah yang paling awal Erbauliche Monaths – Unterredungen (1663 – 1668) diterbitkan oleh Johan Rist, seorang teolog dan penyair dari Hamburg, Jerman. Dalam bentuk jurnal pendidikan, ringkasan buku yang dikenal mulai disampaikan, namun tidak menyangkut buku-buku tentang kesusastraan. Tapi selama abad ke-17, terbitan semacam itu rata-rata berumur pendek.
Pada Abad ke-18 di Inggris perkembangan di Inggris, ditandai dengan keadaan masyarakat yang telah meningkat kemampuan “melek huruf”-nya
48Aceng Abdullah, Press Relations: Kiat Berhubungan dengan Media Massa (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004), h. 12.
(literacy), khususnya dikalangan perempuan ditambah menggejalanya kesadaran masyarakat akan hal-hal baru.
Pada Abad ke-19 di awal pendistribusian misalnya di awal terbitannya berbagai majalah desain hanya untuk kalangan terbatas. Penerbitannya lebih suka disebut pengelola“quality” magazines. Sejak tahun 1830-an, bermunculan majalah-majalah berharga murah yang ditujukan kepada publik yang lebih luas. Awalnya berbagai majalah ini menyajikan materi-materi yang bersifat meningkatkan, mencerahkan, dan menghibur keluarga. Tapi, pada akhir Abad 18, berkembang majalah-majalah populer yang semata-mata menyajikan hiburan.
Abad ke 20: iklan, majalah berita, dan lainnya. Iklan, pada awalnya , ditentang di berbagai majalah. Alasan-alasan menjaga nilai-nilai sastrawi (kesusastraan) di pakai sebagai penguat penolakan. Di Inggris ketika pajak iklan diturunkan, pada tahun 1853, dan para pemasang iklan mulai menyerbu, berbagai pengelola majalah di antaranya memasang argument, “tugas dari suatu jurnal yang mandiri ialah melindungi sejauh mungkin udah dipercaya, meyakini dan tak waspada pada kepintaran (tersembunyi) pemasang iklan.”
Di Amerika, banyak majalah juga bersikap seperti itu. Harper’s dan lainnya, misalnya, memasang ketatnya aturan pada para pengiklan, sampai tahun 1980-an. Reader’s Digest, dengan sirkulasi raksasanya, baru mengizinkan iklan masuk pada tahun 1955. Perkembangan kehidupan mengelola waktu
masyarakat semakin cepat, di Abad 20, serta teknologi cetak yang telah mengirimkan limpahan informasi demikian rupa, telah mendorong tumbuhnya penerbitan majalah yang ringkas, padat, dan pendek sajian-sajiannya.
Yang pertama melihat hal itu, dan sekaligus memunculkan kelas baru bagi dunia penerbitan, ialah majalah berita Amerika Time, yang diterbitkan tahun 1923 oleh Briton Hadden dan Henry Luce. Time bukanlah majalah berita pertama. Di Eropa dan As sudah diterbitkan berbagai majalah berita. Perkembangan Abad 20 juga melahirkan bentukan majalah-majalah ulasan ilmiah, berkala politik, kebudayaan, serta majalah kesustraan.50
3. Karakterisktik Majalah
a. Penyajiannya Lebih Dalam
Karena terbitannya berkala maka para reporter punya waktu yang cukup lama untuk memahami dan mempelajari suatu peristiwa. Mereka juga punya waktu yang banyak untuk melakukan analisis terhadap peristiwa tersebut, sehingga dapat penyajian berita dan informasinya dapat dibahas secara lebih mendalam. Kuncinya adalah berita-berita dalam majalah disajikan lebih lengkap, karena dibumbui oleh latar belakang peristiwa dan unsur why dikemukakan secara lengkap, begitu pula peristiwa atau proses terjadinya peristiwa unsur how dikemukakan secara kronologis.
50
b. Nilai Aktualitas Lebih Lama
Dengan terbit secara berkala juga, maka nilai aktualitas berita dalam majalah bisa lebih lama jika dibandingkan dengan surat kabar yang hanya berumur satu hari. Oleh karenanya, kita tidak pernah menganggap usang majalah yang terbit dua atau tiga hari yang lalu.
c. Gambar atau foto lebih banyak
Jumlah halaman lebih banyak, sehigga selain penyajian beritanya yang mendalam, majalah juga dapat menampilkan gambar atau foto yang lengkap, dengan ukuran besar dan kadang-kadang berwarna, serta aktualitas kertas yang digunakan pun lebih baik. Foto-foto yang ditampilkan majalah memiliki daya tarik sendiri, apalagi apabila foto tersebut sifatnya ekslusif.
d. Sampul sebagai daya tarik
Sampul adalah ibarat pakaian dan aksesorisnya pada manusia. Sampul majalah biasanya menggunakan kertas yang bagus dengan gambar dan warna yang menarik pula. Menarik tidaknya suatu majalah sangat bergantung pada tipe majalahnya, serta konsistensi atau keajengan majalah tersebut dalam menampilkan ciri khasnya. Sehingga secara sepintas pembaca dapat mengidentifikasi majalah tersebut.51
51Elvinaro ardianto dan lukiati komala erdiyana, komunikasi massa suatu pengantar
4. Fungsi majalah
Mengacu pada sasaran khalayaknya yang spesifik, maka fungsi utama media berbeda satu dengan yang lainnya. Majalah berita seperti Gatra mungkin lebih berfungsi sebagai media informasi tentang berbagai peristiwa dalam dan luar negri dan fungsi berikutnya adalah hiburan. Majalah wanita dewasa Femina, meskipun isinya relatif menyangkut berbagai informasi dan tips masalah kewanitaan, lebih bersifat menghibur. Fungsi informasi dan mendidik mungkin menjadi prioritas berikutnya. Majalah pertanian fungsi utamanya adalah memberikan informasi kesustraan pada pembaca.
Pada dasarnya majalah memiliki fungsi yang sama dengan media massa, karena majalah adalah bagian dari media massa itu sendiri. Fungsi-fungsi tersebut adalah Fungsi-fungsi penyebar informasi, menjadi sarana hiburan, alat pembelajaran, sebagai kontrol sosial (bagi majalah-majalah berita).52 Pendapat lain menyebutkan bahwa meski majalah tidak seaktual surat kabar yang terbit tiap hari, majalah baik yang terbit bulanan maupun mingguan tetap memiliki efek edukasi yang tinggi, ia juga berperan sebagai penyampai dan penafsiran pesan.53
52
Ardianto dan erdiyana, komunikasi massa, h. 20.
53
William L. Rivers, dkk, media massa dan masyarakat modern (jakarta:prenada media, 2003 h. 212.
52
GAMBARAN UMUM MAJALAH JANNA
A. Sejarah Berdiri Majalah Janna
Majalah Islam adalah majalah yang bernafaskan Islam, khususnya yang ada di Indonesia telah berkembang sebelum kemerdekaan. Majalah-majalah tersebut muncul dengan tujuan untuk mencoba menyebarkan gagasan modernisasi di kalangan umat Islam, menyebarkan semangat pembaharuan Islam, juga perjuangannya melawan kekuasaan kolonial dan pengaruh asing. Selain itu majalah Islam juga menjadi media penyebaran ilmu pengetahuan dan kebudayaan untuk dakwah dan pembangunan umat. Seperti yang dijelaskan pada bab sebelumnya bahwa kemunculan majalah-majalah yang menjadi sumber referensi informasi Muslim muda yang tidak terlepas dari lahirnya kaum intelektual di kalangan umat Islam.1
Kemunculan majalah “Janna” ini juga di awali dengan rasa prihatin untuk kaum muda muslim yang haus akan sumber informasi Muslim, karena banyak juga terlihat majalah-majalah yang muncul mempunyai unsur tidak adanya unsur keagamaan khususnya agama Islam yang menjadi mayoritas di Indonesia. Tutur Agung Vazza sebagai Pemimpin Redaksi majalah Janna.2
1
Kurniawan Djunaedhie, Rahasia Dapur Majalah Indonesia (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Umum, 1995), h. 307 – 311.
2
Wawancara pribadi dengan Agung Vazza, Pemred majalah Janna, Jakarta 13 Mei 2013 pukul 16.30 wib.
Janna merupakan majalah Islam yang terbit pada bulan Maret tahun 2011, Janna sebagai majalah yang memposisikan diri young muslim generation yang artinya ingin membawa pesan perubahan pergerakan kaum muda Islam berjiwa kreatifitas dan memodernkan pikiran tanpa melepaskan sebuah ajaran. Pemikiran inilah yang membuat Janna lahir untuk mereka para generasi muda Muslim, Janna diterbitkan oleh harian nasional Republika. Janna memaknai sebagai sikap kritis atas Islam dan keislaman serta kaitannya dengan kekinian, mengaji tanpa batas ruang dan waktu dengan harapan bisa menjadi inspirasi untuk kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat.
Mengapa dinamakan majalah Janna dalam bahasa arabnya “Jannah”
adalah surga. dan kalau majalah Janna sendiri mempunyai arti majalah yang bernafaskan Islam. Cita-cita Janna kelak akan menjadi referensi, rujukan bagi generasi muda terutama muslim, untuk berkumpul, berbagi, berpikiran terbuka terhadap perkembangan zaman, berpihak pada nilai-nilai dan kemanusiaan namun dengan tidak mengenyampingkan nilai-nilai Islam dalam penerapannya.
Edisi cetak janna akan menengahkan topik-topik populer seputar anak muda yang dibahas dengan gaya kekinian, dibungkus dengan koridor nilai-nilai Islam, demi terwujudnya kelahiran sebuah generasi baru yang progresif baik secara batin dan pemikiran di masa yang akan datang. Janna tidak bisa berjalan sendirian, Janna memerlukan dukungan para kaum muda Muslim dalam bentuk ide, semangat, suara, kicauan, lengkingan, teriakan, saran dan kritik untuk bisa
tumbuh menjadi sekumpulan catatan demi perubahan yang besar. ”Tumpukan kata tak berarti jika tak bermakna”.3
Bertepatan dengan perayaan ulang tahun Republika ke-18 tahun, dan juga dibarengi dengan pemberian penghargaan Tokoh perubahan Republika 2010, Republika memperkenalkan majalah Muslim khusus anak muda, dengan label “Janna” majalah ini nantinya akan menjadi sumber referensi informasi Muslim muda untuk menggapai sebuah informasi. Tutur Agung Vazza sebagai Pemimpin Redaksi majalah Janna.4
Majalah khusus anak muda bertitle Janna.“ komentar Erick Thohir, Direktur Utama, PT. Republika Media Mandiri, saat memperkenalkan Janna kepada tamu hadirin perayaan ulang tahun Republika dan malam penghargaan Tokoh perubahan Republika 2010 yang berlangsung di Ballroom, Djakarta Theatre, Jakarta, Kamis, 31 Maret 2011. Dalam kesempatan itu, Erick Thohir secara simbolis menyerahkan majalah Janna kepada penulis novel yang juga blogger, Raditya Dika sebagai Muslim anak muda.5
Salah satu tujuan utamanya Janna dapat menjadi nutrisi Islami bagi anak-anak muda, “kata Pemimpin Redaksi Janna, Agung Vazza, dalam ulang tahun Republika ke 18. Beliau menambahkan majalah Janna juga terutama untuk menumbuhkan nilai-nilai Islami pada anak-anak remaja. Namun begitu, tambahnya, Janna tidak menggurui dan menghindari nilai-nilai hedonisme
3
Dikutip dari profil Majalah Janna.
4
Wawancara pribadi dengan Agung Vazza, Pemred majalah Janna, Jakarta 13 Mei 2013 pukul 16.30 wib.
5
seperti infotainment dan gosip. “kami akan membangun semangat anak-anak muda tapi tetap Islami,” tuturmya.6
Direktur pemberitaan dan konten PT Republika Media Mandiri (Ikhwanul Kiram mashuri) mengatakan bahwa majalah Janna juga mencoba menyadarkan para pemuda agar semakin memahami Islami, karena masih banyak anak-anak muda yang gaul mengerti akan Islam. Mereka lantang menyuarakan Islam, tetapi kerap melakukan aksi kejahatan. Banyak diantaranya yang mengkonsumsi narkoba misalnya. Mantan pemimpin redaksi Republika ini menyatakan, mereka tidak bisa didakwahkan bahwa narkoba itu haram, dan yang mengkonsumsinya akan masuk neraka. “mereka pasti akan bertanya balik, so what kalau masuk Neraka” ungkapnya.
Majalah ini terbit setiap Kamis minggu pertama setiap bulannya, mencoba berdakwahkan mereka dengan menawarkan kesejukan. “karena memang inti Islam seperti itu, Rahmatan lil ’alamin, rahmat bagi alam raya” terang Kiram.
Beliau mengatakan saat ini pemuda seperti itu masih jauh dari perhatian. “Media massa pun belum ada yang menggaet pasang pasar seperti itu, padahal jumlah mereka banyak,” paparnya. Semakin dibiarkan, mereka akan semakin terjerumus. Kiram menyatakan hal itu tidak boleh terjadi. PT Republika media Mandiri mengambil kesempatan itu untuk menerbitkan majalah Janna. Dirinya berharap pemuda-pemuda tertarik untuk pembacanya. Konten majalah Janna