DAFTAR PUSTAKA
D. APLIKASI PENGUKURAN
( i f
p Q V
(14)
Dengan Q = factor konversi volume teras ke dalam volume pori yang merupakan fungsi dari bentuk dan tebal pori
i p i p i t r r Q (15) i V
= total jumlah adsorbat dilihat dari isotherm yang merupakan jumlah adsorbat (N2)
f
= volume film yang dinyatakan sebagai (Gregg dan Sing, 1982) :
ti ti l ti Aw f 2 ( ) (16)
Dimana, Aw = luas daerah dinding pori (m2) l = panjang dinding pori (m) ti = tebal film (m)
D. APLIKASI PENGUKURAN
Skripsi yang dutulis oleh Desak Putu Alit Yastuti (F1B103004) dengan judul “PENGARUH TEMPERATUR AKTIVASI TERHADAP KARAKTERISTIK ARANG
AMPAS SAGU TERAKTIVASI TiO2 DAN RESPONNYA TERHADAP KELEMBABAN”
Hasil pengukurannya yaitu
No. T aktivasi (oC) Luas Permukaan (m2) Luas Spesifik (m2/g) Jari-Jari Pori (Å) Volume cc/g 1. 2. 400 450 2,763 2,659 49,664 39,109 21,796 20,349 54,124 39,792
39 3. 4. 5. 500 550 600 3,079 4,286 4,779 44,109 77,926 55,570 16,793 18,831 16,907 37,035 73,370 46,978 Degassing dengan tekana 10-6 mmHg
Adsorban dengan N2 dan inert He Adsorpsi dengan temperatur 77K
DAFTAR PUSTAKA
Gregg, S.J. and Sing, K.S.W., 1982. Adsorpsi, Surface and Porosity, 2 ed, Academic Press, London.
Jankwoska, H., Swiatkowski, A., and Choma, J., 1991. Activated Carbon, Ellis Howood Limited, England.
Martin. A. Swarbrik, J., dab Cammarata, A, 1993. Farmasi Fisik Dasar-Dasar Farmasi Fisik
dalam Ilmu Farmasi, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.
Nurwijayadi, 1998. Petunjuk Praktikum Metalurgi Bahan Bakar Nuklir Pengukuran Luas Muka, Pusat Pendidikan dan Latihan Badan Tenaga Atom Nasional, Yogyakarta.
Vooys, F.de, 1983. The Pore Zise Distribution of Activated Carbon In Activated Carbon a
Fascinating Material, Norit N. V, Netherland.
40
Spektroskopi inframerah merupakan salah satu alat yang banyak dipakai untuk mengidentifikasi senyawa, baik alami maupun buatan. Dalam bidang fisika bahan, seperti bahan-bahan polimer, inframerah juga dipakai untuk mengkarakterisasi sampel. Suatu kendala yang menyulitkan dalam mengidentifikasi senyawa dengan inframerah adalah tidak adanya aturan yang baku untuk melakukan interpretasi spektrum. Karena kompleksnya interaksi dalam vibrasi molekul dalam suatu senyawa dan efek-efek eksternal yang sulit dikontrol seringkali prediksi teoretik tidak lagi sesuai. Pengetahuan dalam hal ini sebagian besar diperoleh secara empiris dan pengalaman.
FTIR merupakan salah satu sat Spektrofotometer infa merah yang digunakan untuk mengidentifikasi jenis ikatan kimia ( gugus fungsional) suatu sample. Pada dasarnya Spektrofotometer fourier infa red ( di singkat FTIR) adalah sama dengan Spektrofotometer Infa Red Dispersi, yang membedakannya adalah pengembangan pada sistim optiknya sebelum berkas sinar infa merah melewati contoh. Dasar pemikiran dari spekttrofotometer Fourier Transform Infa Red adalah persamaan gelombang yang dirumuskan oleh Jean Transform Joseph Fourier (1768-1830) seorang ahli matematika dari perancis.
.
41
Gamabar 1 skema Spektrofotometer FTIR
Spectrum FTIR berada pada kisaran bilangan darin10-13.000 cm1(noerdin, 1986). Penggunaan spektrofotometer FTIR yang ditunjukan untuk identivokasi suatu senyawa.spektrum ii ditimbulkan oleh adanya interaksi antara vibrasi molekul dengan radiasi elektromagnetik.
Deteksi dan analisis inti denga FTIR memanfaatkan interferometer Michelson yang mengandung adanya frekwensi dalam sinyal gangguan.Interferometer Michelson mengubah komponen tertentu dalam sinyal menjadi berbagai intesitas radiasi yang mencapai detector. Sinyal atas radiasi yang menjangkau sejumlah bilangan gelombang yang luas dan intesitas yang berisolasi seperti ditunjukan pada gambar di bawah ini.
Keuntungan prosedur ini adalah kepekaannya lebih besar karena detector monitor seluruh spectrum secara bersamaan, bukan hanya sau frekwensi setiap saat,
42
Gambar 2 interferometer Michelson
Interferometer Michelson terdiri dari sebuah pemecah berkas (beam splitter) yang datang dari sumber serta dua buah cermin,yang satu dapat digerakan (mowable mirror) dan satu tetap ( fixed mirror ) cahaya yang datang dari sumber terbagi oleh beam splitter ke cermin tetap dan cermin yang dapat bergerak. Berkas caaya darikedua cermin dengan selisih lintasan p digabungkan kembali oleh beam splitter.sinyal yang didetksi oleh detector berosilasi saat kedua komponen bergantian masuk dan saat keluar dan keluar fase p berubah. Jika radiasi mempunyai bilangan gelombang (k) maka sinyal terdeteksi bervariasi terhadap p adalah:
43
I(p)= Ik cos 2 Π(v)p………..(1)
Jadi interferometer mengubah komponen tertentu dalam sinyal menjadi berbagai nilai inesitas radiasi yang menujuu sampel. Inesitas tersebut kemudian dideteksi oleh detector. Sinyal yang seebnarnya terdiri atas radiasi yang menjangkau sejumlah bilangan gelombang yang luas. Inetsitas total yang terbaca oleh detector merupakan jumlah semua intesitas yng berosilasi adalah:
0 2 cos ) ( ) (p I v I k p dῡ [v] cos 2∏ kρ ∂k ………..(2)Variasi itensif I(v) dengan bilangan gelombang :
0 2 cos ) ( ) (k I v I kρ ∂k ………(3) Dimana 1 v , dengan λ adalah panjang gelombangn
Detektor meneruskan informasinya ke perekam yang menghasilkan spektrum. Data diproses ditransfer menggunakan software menggunakan software tertentu. Hasil FTIR berupa spectrum infra merah yang menunjukkan hubungan antara transmitansi (T) dan bilangan gelombang, dimana spektrum transmisi ditentukan melalui (Atkins,1999):
% T = I/Io ………..(4)
Bila suatu zat pada sampel menyerap foton-foton radiasi, maka banyaknya foton yang berhasil sampel akan lebih rendah daripada jumlah foton mula-mula. Serapan atau absorbsi ini akan diamati sebagai penurunan itensitas atau kuantitas radiasi yang ditunjukkan dalam melewati % T dan nampak sebagai sumur (deep), yang disebut puncak serapan (absorbtion peak).
44
• Cara kerja alat spektrofotometer FTIR yang dilengkapi dengan cermin yang bergerak tegak lurus dan cermin yang diam.
• Dengan demikian radiasi demikian radiasi infa merah akan menimbulkan perbedaan jarak yang yang ditempuh menuju yang bergerak dan jarak cermin yang ditempuh menuju cermin yang bergerak dan jarak cermin yang diam disebut sebagai retardasi dan hubungan antara intesitas radiasi IR yang diterima detector terhadap retardasi di sebut interferogram.
• Pada sistim optic FTIR di gunakan LASER (Light Amplilifaction by Stimulated Emmission of radiation) yang berfunsi sebagai radiasi yang diinterferensikan dengan radiasi infa red agar sinyal radiasi infa merah yang diterima oleh detector secara utuh dan lebih baik.
• Detektor yang digunakan dalam Spektrofotometer FTIR adala TGS ( Tetra Glycerine Sulphate ) atau MCT ( Mercuri Cadmium Telluride). Detektor MCT lebih banyak digunakan karena memiliki beberapa kelebihan dibandingan detector TGS,yaitu ynag memberikan respon yang lebih baik pada frekwnsi modulasi tinggi, lebih sensitive,lebih cepat, tidak dipengaruhi oleh temperature,sangat selektif terhadap energy vibarasi yang diterima dari infa merah.
KEUNTUNGAN ALAT SPEKTROFOTOMETER
Secara keseluruhan,analisis menggunakan spektrofotometer FTIR memiliki dua kelebihan utama dibandingkan metoda konvensional lainnya, yaitu: Light Amplilifaction by Stimulated Emmission of radiation). Yang sebagai radiasi yang diinterferensikan dengan radiasi infra merah agar sinyal radiasi infa merah yang diterima oleh detector secara utuh dan lebih baik.
1. Dapat di gunakan pada semua frekwensi dari sumber cahaya secara simultan sehingga analisis dapat dilakuakan lebih cepat daripada menggunakan cara sekunsial atau scanning.
45
2. Sensitifitas dari metoda Spektrofotmeter FTIR lebih besar daripada cara disperse, sebab radiasi yang masuk ke sistim detector lebih banyak karena tanpa harus melalui celah ( stiles).( Giwangka S,2006).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Alat Ukur Four-point probe (Probe empat titik disingkat FPP) adalah salah satu jenis alat yang biasa digunakan untuk mengukur nilai suatu lapisan bahan elektronika yaitu bahan semikonduktor seperti silicon, germanium,Galium arsinede
46
juga bahan logam dalam bentuk Thin film lapisan tipis) yang dipergunakan dalam pembuatan piranti elektronika. Thin Film adalah suatu lapisan yang sangat tipis dari suatu bahan (Organik, inorganic, logam maupun campuran logam-inorganik) yang memiliki sifat-sifat konduktor, semikonduktor, superkonduktor maupun insulator dengan ketebalan dari orde Angstrom hingga mikrometr (1 A = 10-10).
Seperti namanya, alat ukur ini didasarkan pada 4 probe dengan 2 probe yang berfungsi untuk mengalirkan arus listrik dan 2 probe yang lain untuk mengukur tegangan listrik ketika probe-probe tersebut dikenakan pada bahan (sampel). Untuk menentukan serta mengkaji sifat-sifat dari suatu bahan dapat dilakukan dengan menentukan nilai resistivitas untuk suatu luasan dan ketebalan tertentu. Beberapa parameter lain yang dapat diperoleh dari pengukuran bahan dengan menggunakan peralatan ini antara lain adalah mengetahui jenis doping suatu bahan semikonduktor (positif dan negative), mobilitas elektron dari suatu bahan dan lain-lain.
Meskipun berbagai merek alat FPP dapat dibeli di pasaran untuk kategori peralatan saintifik seperti misalnya merek Jandel Engineering dengan harga yang relatif tinggi, namun bagi keperluan pengukuran yang sederhana dimungkinan untuk men-desain sendiri alat tersebut dengan biaya pembuatan yang relatif murah dan tingkat akurasi yang komparatif. Sehingga keuntungan dari alat ini adalah selain kita dapat menedesain sendiri, biaya yang relative murah karena menggunakan alat dan bahan yang sederhana, alat ini juga dapat menentukan sifat dari suatu bahan (thin film). Oleh karena itu, pada makalah ini akan membahas skema pembuatan dari FPP dan prinsip kerja dari FPP itu sendiri serta penggunaannya dalam berbagai pengukuran.