BAB II PENDEKATAN TEORITIS
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.4.3 Arah dan Prinsip Pengembangan
Arah pengembangan agribisnis melalui LM3 adalah pengembangan kawasan/sentra pengembangan komoditi yang ada di LM3 dan sekitarnya. Pada kawasan tersebut, LM3 bertindak sebagai inti dan penggerak bagi para petani yang ada di sekitarnya. Sentra pengembangan agribisnis dengan kelembagaan ekonomi seperti koperasi dan Balai Mandiri Terpadu (BMT) terus dikembangkan melalui pengembangan skala ekonomi produksi dan skala ekonomi pelayanan yang memadai.
Pembinaan pengembangan agribisnis melalui LM3 berdasarkan pada 4 (empat) prinsip yaitu : 1) Prinsip pengembangan unit bisnis di LM3. Fungsi unit bisnis ini dilaksanakan oleh lembaga ekonomi seperti koperasi, BMT (Balai Mandiri Terpadu) dan atau bentuk-bentuk lembaga lainnya. 2) Prinsip Kemandirian LM3. Pemerintah hanya membantu pada tahap awal yaitu dengan menyelenggarakan pelatihan dan atau magang, penyediaan agroinput dan bantuan modal serta pendamping teknis (pembina profesional), pada tahap selanjutnya LM3 harus mampu mandiri dan pemerintah hanya bertindak sebagai fasilisator. 3) Prinsip Prisma LM3 yang berpotensi dalam pengembangan agribisnis yang diklasifikasikan: (a) LM3 Maju (b) LM3 Berkembang (c) LM3 Belum Berkembang. 4) Prinsip Selektif LM3 yang dipilih untuk dibina adalah LM3 yang berpotensi (memiliki potensi lahan dan potensi kemampuan) yang bersedia dibina dan bersedia membuka diri untuk mengembangkan agribisnis di LM3 dan bersedia menjadi penggerak masyarakat setempat.
2.1.5 Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Usaha Agribisnis LM3 (Sebuah Studi Kasus)
Pengembangan LM3 yang telah dilaksanakan oleh Departemen Pertanian RI bertujuan untuk pemberdayaan dan pengembangan usaha agribisnis sekaligus upaya untuk meningkatkan kesejateraan masyarakat sekitarnya, berupa gerakan moral melalui pendidikan dan ketrampilan. Kekuatan lembaga seperti pesantren, paroki, subak, gereja, dan lembaga keagamaan lainnya merupakan lembaga yang memiliki rasa dan tanggung jawab yang tinggi, mempunyai kemandirian, adaptif terhadap perubahan, memiliki jaringan kultural dan basis konstituen yang solid, penjaga moral etika bagi masyarakat serta sebagai komunitas yang ikhlas tulus rela berkorban bagi masyarakat (Suprapto, 2006).
Adapun mereka yang telah berperan dalam pengembangan LM3 berdasarkan informasi dari Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian Departemen Pertanian RI antara lain; Yayasan Al-Ittifaq yang kerjasama dengan kaum dhuafa, kaum miskin yang tidak memiliki apa-apa. Kerjasama tersebut berawal dari tahun 1992 dengan keterlibatan para santri mencangkul di ladang, mengairi tanaman, memberi makan ternak, mengemas sayuran dan menjualnya ke pasar. Di sela aktivitas yang melelahkan, apabila tiba waktu sholat, bersegeralah para santri meninggalkan kesibukannya untuk memenuhi panggilan illahi. Sebuah gambaran penggabungan antara unsur profesionalisme kerja dengan dasar spiritual. Kewajiban terhadap Tuhan-Nya adalah yang utama. Ini menjadi tata nilai bagi para santri di Pesantren Al-Ittifaq. Bagi mereka bertani untuk ngaji, berdagang untuk ngaji, dan semua hal untuk ngaji.
Adapun tahapan kerjasama yang dilakukan oleh Pesantren Al-Ittifaq; Pertama, kerjasama yang berorientasi ke dalam, artinya membangun kerjasama dengan para santri. Tujuannya adalah agar mereka yang merasa awalnya dari golongan yatim piatu dan merasa tidak mampu menjadi merasa percaya diri dengan potensi yang dimiliki sehingga mampu bersaing dengan masyarakat lainnya. Kedua, kerjasama dengan pihak luar dengan membangun kepercayaan terhadap pihak luar, terutama mematuhi kesepakatan-kesepakatan yang telah dibangun bersama.
Pada saat ini, Pesantren Al-Ittifaq menjadi salah satu penyalur buah dan sayur untuk pasar swalayan di Jakarta yaitu Hero, Makro dan Giant. Di Bandung, swalayan yang sudah menjadi langganan adalah Yogya, Matahari, dan Superindo. Kapasistas produksinya adalah 3,5 ton per hari, satu ton dari lahan pesantren dan sisanya dari lahan kurang lebih 400 warga sekitar pesantren. Tahun 1997 berdiri Koperasi Pondok Pesantren (kopontren) yang mendorong dilaksanakannya pembinaan terhadap empat kelompok tani dengan jumlah anggota 80-90 petani setiap kelompoknya. Yayasan menjunjung tinggi kualitas, kuantitas, dan kontinuitas dengan didampingi seorang penyuluh yang membina 4 kelompok tani tersebut.
Selanjutnya, LM3 Al-Kautsar Al-Gontori di Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sama halnya dengan Pondok Pesantren Al-Ittifaq Bandung, Pesantren Al-Gontori mendidik para santrinya dengan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum serta membekali dengan ketrampilan. Bedanya, para santri di pesantren tersebut lebih diasah dalam dua Bahasa Asing yakni Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Adapun lahan yang dipakai untuk kegiatan LM3
merupakan lahan masyarakat sekitarnya sebagai tempat kegiatan ekstrakurikuler pesantren dalam bidang pertanian. Jenis tanaman yang ada antara lain : pohon mangga dan pohon melinjo yang sudah berbuah, juga dibudidayakan sayuran seperti tomat, bawang daun, seledri, kubis, wortel, cabe, terong, kol, dan ketimun. Selain itu juga dikembangkan peternakan itik, kambing, dan sapi. Untuk bidang perikanan dikembangkan ikan nila dan karper. Semua kegiatan pertanian dilakukan oleh sebanyak 250 santri dari penanaman hingga pemasaran. Pada saat ini, kerjasama dengan masyarakat sekitar juga terus dibangun untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar pesantren.
2.2 Kerangka Pemikiran
Perubahan paradigma pembangunan dari model pembangunan yang bersifat top down ke arah bottom up memunculkan wacana baru yakni sebuah konsep pemberdayaan masyarakat. Konsep ini telah berkembang di Eropa sejak abad ke-18 dan digunakan di negara berkembang termasuk Indonesia pada abad 20.
Departemen Pertanian RI melalui Dirjen BPSDMP dan P2HP melaksanakan Program Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan Kelembagaan LM3 pada bidang agribisnis. Pesantren Pertanian Darul Fallah di Desa Benteng Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor adalah salah satu penerima program berdasarkan pada hasil tahapan identifikasi dan seleksi dari BPSDMP dan P2HP. Berbekal potensi lokal berupa SDM (sumberdaya manusia), sumberdaya alam pertanian, memiliki unit usaha pengembangan agribisnis
pertanian maupun peternakan, jaringan pemasaran, teknologi, dan kelembagaan menjadikan alasan dipilihnya pesantren tersebut sebagai peserta program LM3.
Menurut Ife (1995) dikutip Nasdian (2003), pemberdayaan masyarakat berarti melengkapi masyarakat dengan sumberdaya, kesempatan, pengetahuan, dan ketrampilan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam menentukan masa depan mereka sendiri dan untuk turut berpartisipasi dalam memberi pengaruh pada kehidupan masyarakat mereka. Departemen Pertanian RI merupakan agen pemberdayaan masyarakat karena memiliki program. Target program pemberdayaan adalah pengelola usaha agribisnis LM3 Pesantren Pertanian Darul Fallah dan masyarakat sekitar pesantren.
Namun berdasarkan fakta di lapangan, di dalam pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan LM3 di Pesantren Pertanian Darul Fallah, muncul berbagai masalah dan hambatan. Kemunduran pelaksanaan program, indikasi kurangnya partisipasi dalam mencapai kemandirian para pengelola dan masyarakat sekitar pesantren menjadi menarik untuk ditelusuri penyebabnya. Keberadaan masyarakat sekitar pesantren merupakan aset bagi perkembangan pembangunan di dalam pesantren dan masyarakat sekitarnya apabila dapat saling bekerjasama.
Berdasarkan pendapat Ife (1995) tersebut di atas, peneliti berusaha untuk menganalisis program pemberdayaan masyarakat pada pengembangan LM3 di Pesantren Pertanian Darul Fallah. Secara ringkas, kerangka pemikiran yang digunakan peneliti dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian