RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
5) Misi 5 : Meningkatkan Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan untuk Pembangunan yang Berkelanjutan, dengan kebijakan
3.2. ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH
3.2.1. Arah Kebijakan Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2011
3.2.1. Arah Kebijakan Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2011
Pendapatan daerah sebagaimana ketentuan yang berlaku dikelompokkan menjadi 3 (tiga) bagian. Pengelompokan tersebut adalah sebagai berikut:
1) Pendapatan Asli Daerah (PAD), meliputi Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan, dan lain-lain PAD yang sah;
2) Dana Perimbangan, meliputi Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus; 3) Lain-lain Pendapatan yang Sah.
Sesuai dengan prinsip-prinsip pelaksanaan otonomi daerah sebagaimana amanat UU Nomor 32 Tahun 2004, maka kebijakan pengelolaan pendapatan diarahkan pada upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah sebagai barometer tingkat kemandirian daerah dalam menjalankan amanat otonomi daerah. Namun
98
demikian, PAD sebagai penerimaan daerah yang dapat dikendalikan (controllable) masih relatif sangat kecil memberikan kontribusi terhadap APBD. Sebagaimana diketahui, porsi dana perimbangan dalam neraca APBD Kabupaten Karawang masih menjadi sumber pendapatan utama dengan rata-rata proporsi terhadap APBD sebesar 76,21 persen. kondisi kapasitas fiskal Kabupaten Karawang masih relatif rendah, dimana rata-rata besaran kontribusi yang disumbangkan oleh komponen PAD ditambah dengan Dana Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak (DBHPBP) terhadap APBD hanya sebesar 28,28 persen. Pada kenyatannya, rata-rata kontribusi PAD sendiri masih sangat kecil hanya sebesar 10,60 persen, sedangkan dana bagi hasil secara trend juga memperlihatkan porsi yang semakin mengecil.
Kondisi rendahnya kemampuan fiskal APBD Kabupaten Karawang berimplikasi terhadap ketergantungan yang masih sangat besar terhadap Dana Alokasi Umum, sedangkan porsi DAU dimaksud sebagian besar telah terserap untuk membiayai belanja gaji pegawai. Berdasarkan data realisasi tahun 2007 dan 2008 memperlihatkan kenaikan porsi belanja gaji pegawai terhadap DAU yaitu 67,07 persen menjadi 75,59 persen. Kenaikan dimaksud juga mengindikasikan bahwa kenaikan DAU yang diterima oleh Kabupaten Karawang lebih disebabkan karena peningkatan belanja pegawai, sehingga secara relatif kecil dalam menambah porsi belanja pembangunan.
Dengan pertimbangan tersebut di atas, maka mengharuskan Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang untuk berupaya meningkatkan PAD sebagai sumber utama pendapatan daerah secara wajar dan dapat dipertanggungjawabkan. kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi pajak dan retribusi daerah perlu terus diupayakan melalui proses analisa dan perencanaan yang matang tanpa menimbulkan high cost economy terhadap perkembangan arus investasi.
Upaya peningkatan PAD juga harus dilakukan dengan memperhatikan aspek biaya – manfaat yang dihasilkan, yaitu harus memperhitungkan rasio tingkat biaya pemungutan dengan tingkat realisasi penerimaan, oleh sebab itu efisiensi dan efektifitas pengelolaan pajak dan retribusi daerah oleh SKPD yang
99
berkompeten harus dilakukan secara akuntabel. Kebijakan lain terkait peningkatan pendapatan asli daerah yang akan dilaksanakan adalah pendayagunaan kekayaan atau aset-aset daerah yang idle baik secara langsung maupun melalui bentuk kerjasama dengan pihak ketiga.
a. Kebijakan Pendapatan Daerah Tahun 2011
Sebagaimana kebijakan pendapatan tahun sebelumnya, upaya pencapaian target pendapatan tahun 2011 masih dilakukan melalui upaya:
1) Dalam rangka konsep revenue sharing atas perimbangan keuangan Pusat dan Daerah, dipandang perlu untuk :
a) Penguatan koordinasi serta melakukan analisis perhitungan untuk menilai akurasi perhitungan terhadap formula bagi hasil baik Pemerintah Pusat dan Provinsi, terutama Bagi Hasil Minyak dan Gas Alam yang diprediksi mengalami penurunan, termasuk kemungkinan memperoleh tambahan berupa dana kurang bayar dari DBH SDA tahun sebelumnya;
b) Meningkatkan penyediaan data-data teknis, koordinasi pengelolaan DAK secara utuh dan terpadu di pusat dan daerah;
c) Penghitungan alokasi belanja gaji pegawai yang merupakan alokasi dasar dalam formulasi perhitungan DAU.
2) Dalam rangka peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a) Penyiapan langkah-langkah manajemen dan operasional pengelolaan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) telah didesentralisasikan menjadi Pajak Daerah, termasuk Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah yang telah diserahkan oleh Pemerintah Provinsi.
b) Peningkatan PAD yang diarahkan melalui pendekatan intensifikasi dalam bentuk perubahan regulasi dalam rangka peningkatan basis pajak tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.
c) Peningkatan ketaatan wajib pajak dan pembayar retribusi daerah yang dibarengi dengan penerapan akuntabilitas dan
100
pemantapan kinerja pelayanan unit pemungut dan pengelola pendapatan dalam bentuk insentif, pembinaan, pengawasan dan pengendalian.
d) Pengelolaan BUMD yang efisien dan efektif yang diarahkan dalam rangka peningkatan kontribusi laba terhadap pendapatan asli daerah.
3) Dalam rangka penyerapan Dana Penyesuaian perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :
a) Koordinasi dan Penghitungan data teknis Dana Tambahan Tunjangan Profesi Guru, Bantuan Operasional Sekolah (BOS serta Dana Tambahan Penghasilan Guru PNSD.
b) Dana Insentif Daerah terutama ditujukan kepada daerah berprestasi yang memiliki kriteria keuangan dan kriteria kinerja ekonomi dan kesejahteraan yang baik, serta tetap mengupayakan terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik.
c) Sedangkan untuk penyerapan Dana penguatan infrastruktur dan prasarana daerah (DPIPD) dan Dana percepatan pembangunan infrastruktur pendidikan (DPPIP), dalam APBN 2011 (Murni) tidak tercantum, namun sesuai dengan pengalaman terdahulu, kedua skema pendanaan Pusat tersebut akan diluncurkan pada event Perubahan APBN.
Oleh sebab itu untuk pemantapan koordinasi perencanaan dan penyiapan data teknis sebaiknya telah dipersiapkan sejak awal.
b. Rencana dan Realisasi Pendapatan Tahun Anggaran 2011
Pemerintah Kabupaten Karawang telah menetapkan anggaran Pendapatan Daerah tahun anggaran 2011 sebesar Rp. 1.910.266.918.660,51. Dengan realisasi mencapai Rp. 2.022.376.611.223,00 atau 105,87%
Pendapatan daerah berasal dari 3 (tiga) sumber, yaitu pendapatan asli daerah, dana perimbangan dan lain-lain pendapatan daerah yang sah. Adapun pendapatan daerah Kabupaten Karawang Tahun 2011 dianggarkan sebesar Rp 1.910.266.918.660,51 dan dapat direalisasikan sampai dengan Desember 2011 sebesar Rp 2.022.376.611.223,00 atau mencapai
101
105,87%. Rincian pendapatan daerah Kabupaten Karawang Tahun 2011 adalah sebagai berikut :
a. Pendapatan Asli Daerah
Rencana pendapatan yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) tahun 2011 ditetapkan sebesar Rp. 292.502.038.066,00 dapat direalisasikan sampai dengan Desember 2011 sebesar Rp. 378.630.051.818,00 atau mencapai 129,45%. Tercapainya pendapatan asli daerah tersebut berasal dari sektor :
1) Pajak daerah terealisasi sebesar Rp. 240.875.370.850,00, yaitu pajak hotel sebesar Rp. 1.511.394.668,00; Pajak restoran sebesar Rp. 13.432.007.368,00; Pajak hiburan sebesar Rp. 832.729.927,00; Pajak reklame sebesar Rp. 5.999.917.906,00; pajak penggunaan energi listrik sebesar Rp. 74.308.170.337,00; dan pajak pengambilan dan pengolahan bahan Galian Gol. C sebesar Rp. 576.255.959,00.
2) Retribusi daerah terealisasi sebesar Rp. 34.387.072.414,00, yaitu : Retribusi Jasa Umum Rp. 6.918.037.400,00; Retribusi Jasa Usaha sebesar Rp. 2.467.275.267,00; dan Retribusi Perijinan Tertentu sebesar Rp. 25.001.759.747,00; 3) Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan
terealisasi sebesar, Rp. 4.321.681.153,00 yang diperoleh dari laba perusahaan daerah yaitu : perolehan laba dari PDAM sebesar Rp. 853.315.083,00 dan bagian laba BUMD/deviden (Bank Jabar) Rp. 3.241.379.406,00.
4) Lain-lain Pendapatan asli daerah yang sah terealisasi sebesar Rp. 99.045.927.401,00; yaitu hasil penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan sebesar Rp. 650.901.851,00; penerimaan jasa giro sebesar Rp. 9.188.681.653,00; penerimaan bunga deposito sebesar Rp. 12.657.534.249,00; tuntutan ganti kerugian daerah (TGR) sebesar Rp. 250.000,00; pendapatan denda keterlambatan pelaksanaan pekerjaan Rp. 179.739.806,00; pendapatan denda pajak sebesar Rp. 34.229.406,00; pendapatan denda retribusi sebesar Rp. 3.428.139.350,00; pendapatan dari pengembalian sebesar Rp. 1.085.624.087,00; fasilitas sosial
102
dan fasilitas umum sebesar Rp. 71.545.880.509,00; pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sebesar Rp. 26.700.000,00; pendapatan dari jasa administrasi sebesar Rp. 7.825.000,00 dan lain-lain penerimaan sebesar Rp. 240.421.490,00.
b. Dana Perimbangan
Target penerimaan dari dana perimbangan pada tahun 2011 ditetapkan sebesar Rp. 1.157.477.181.397,00 sampai dengan Desember 2011 dapat direalisasikan sebesar Rp. 1.201.893.814.738,00 atau mencapai 103,84 %, rincian penerimaan dari dana perimbangan adalah sebagai berikut :
1) Bagi Hasil Pajak sebesar Rp. 250.625.979.186,00, terdiri atas Bagi hasil Pajak Bumi Dan Bangunan (PBB) sebesar Rp. 198.562.336.031,00 dan Bagi Hasil dari PPh pasal 21, 25 dan 29 sebesar Rp. 52.063.643.155,00.
2) Bagi Hasil Bukan Pajak/Sumber Daya Alam sebesar Rp. 54.949.692.552,00, terdiri atas Bagi Hasil dari Provisi Sumber Daya Hutan sebesar Rp. 234.409.446,00; Bagi Hasil dari Iuran Eksplorasi dan Iurang Eksploitasi (Royalti) sebesar Rp. 441.203.634,00; Bagi Hasil dari pungutan hasil perikanan sebesar Rp. 261.048.242,00; Bagi Hasil dari pertambangan minyak bumi sebesar Rp. 19.749.209.525,00; Bagi Hasil dari pertambangan gas bumi sebesar Rp. 17.422.221.058,00; Bagi Hasil dari pertambangan panas bumi sebesar Rp. 8.363.476.758,00 dan Bagi Hasil dari Cukai Tembakau sebesar Rp. 8.478.123.889,00.
3) Dana Alokasi Umum (DAU) yang ditargetkan pada anggaran 2011 sebesar Rp. 814.562.743.000,00 dapat direalisasikan sampai dengan Desember 2011 sebesar Rp. 814.562.743.000,00.
4) Dana Alokasi Khusus (DAK) yang ditargetkan pada anggaran 2011 sebesar Rp. 81.771.000.000,00 dapat direalisasikan sampai dengan Desember 2011 sebesar Rp. 81.755.400.000,00.
c. Bagian Pinjaman Pemerintah Daerah
Pada tahun 2011 Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang tidak melakukan pinjaman.
103
d. Bagian Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah
Penerimaan dari bagian ini pada anggaran 2011 ditargetkan sebesar Rp. 460.287.699.197,51 dapat direalisasikan sampai dengan Desember 2011 sebesar Rp. 441.852.744.667,00 atau mencapai 95,99 % yaitu:
1) Hibah ditargetkan sebesar Rp. 6.000.000.000,00, sampai dengan Desember 2011 terealisasi sebesar Rp. 6.000.000.000,00 atau mencapai 100,00%.
2) Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemerintah daerah lainnya ditargetkan sebesar Rp. 132.545.906.759,51, sampai dengan Desember 2011 terealisasi sebesar Rp. 131.269.421.165,00 atau mencapai 99,04%;
3) Dana Penyesuaian Otonomi Khusus ditargetkan sebesar Rp. 261.464.075.400,00, sampai dengan Desember 2011 terealisasi sebesar Rp. 261.615.332.400,00 atau mencapai 100,06%;
4) Bantuan keuangan dari provinsi atau pemerintah daerah lainnya ditargetkan sebesar Rp. 59.821.549.476,00, sampai dengan Desember 2011 terealisasi sebesar Rp. 42.511.823.540,00 atau mencapai 71,06%.
5) Bagi hasil retribusi dari provinsi dan pemerintahan lainnya ditargetkan sebesar Rp. 456.167.562,00, sampai dengan Desember 2011 terealisasi sebesar Rp. 456.167.562,00 atau mencapai 100,00%.
c. Kebijakan Umum Belanja Daerah
Belanja Daerah merupakan gambaran kebutuhan akan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat serta pelayanan publik lainnya yang dibutuhkan masyarakat.
a) Kebijakan Belanja Tahun 2011
Kebijakan Belanja Tidak Langsung Kabupaten Karawang Tahun 2011 meliputi :
1) Penambahan alokasi belanja gaji pegawai yang disebabkan adanya selisih perhitungan alokasi belanja gaji dan tunjangan pegawai pada seluruh SKPD;
2) Perubahan besaran alokasi belanja hibah dan bantuan sosial yang disebabkan terjadinya perubahan kebijakan
104
Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap beberapa item kegiatan belanja Bantuan Sosial dan Hibah yang semula akan dilaksanakan melalui mekanisme kas daerah APBD Kabupaten Karawang menjadi transfer langsung kepada sasaran calon penerima calon lokasi bantuan, penambahan alokasi anggaran bantuan sosial kepada KONI dalam rangka penyiapan atlit menuju Karawang Unggul 2014;
3) Penambahan alokasi belanja subsidi dalam rangka memenuhi kebutuhan alokasi DSP, SPP SMAN dan SMKN yang pada APBD 2011 (murni) baru teranggarkan 6 bulan yaitu periode bulan Januari s.d. Juni 2011;
4) Penambahan alokasi belanja bantuan keuangan kepada pemerintahan desa dalam rangka memenuhi kebutuhan anggaran insentif RT/RW setelah dilaksanakannya proses validasi oleh SKPD terkait.
Kebijakan Belanja Langsung Kabupaten Karawang Tahun 2011 meliputi :
1) Penambahan kegiatan baru berikut alokasi anggaran yang bersumber dari APBD Provinsi dan APBN yang peruntukannya sudah diarahkan maupun usulan kegiatan yang bersifat baru pada SKPD dengan memperhitungkan skala prioritas, tingkat urgensi dan waktu penyelesaian kegiatan;
2) Penambahan alokasi anggaran antara lain : alokasi BOS bersumber APBD Provinsi yang disinergikan dengan BOS Kabupaten, alokasi anggaran Jamkesda, alokasi program pemeliharaan jaringan jalan, alokasi belanja kegiatan keagamaan dalam rangka persiapan penyelenggaraan MTQ Tingkat Provinsi di Kabupaten Karawang, pembayaran rekening tagihan PJU, penambahan alokasi anggaran insentif Kasatgas dan anggota Linmas, serta penambahan alokasi belanja pada SKPD lain secara terbatas sesuai dengan proyeksi kebutuhan sampai akhir tahun anggaran 2011;
3) Pergeseran antar kegiatan, obyek dan/atau rincian obyek belanja masing-masing SKPD dengan memperhatikan pada efektifitas dan tingkat pencapaian kinerja sasaran.
105
b) Kebijakan Pembangunan Daerah, Strategi dan Prioritas Tahun 2011
Sesuai dengan isu strategis, permasalahan dan tantangan sebagaimana tercantum dalam dokumen RKPD Tahun 2011, maka kebijakan belanja pembangunan daerah diarahkan pada :
1) Pengalokasian belanja wajib mengikat yaitu besaran belanja tidak langsung kelompok belanja pegawai dengan memperhitungkan adanya kenaikan gaji pokok dan tunjangan PNSD sebesar 5 persen dan antisipasi adanya kenaikan gaji berkala, tunjangan keluarga, mutasi dan penambahan PNSD dipandang perlu untuk memperhitungkan acress yang besarnya dibatasi maksimum 2,5% dari jumlah belanja pegawai (gaji pokok dan tunjangan), serta antisipasi penerimaan formasi CPNSD tahun 2009. PNS Daerah dapat diberikan penghasilan tambahan berdasarkan pertimbangan yang obyektif dengan memperhatikan kemampuan keuangan daerah sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; 2) Anggaran belanja bidang pendidikan minimal 20% sebagai
belanja yang bersifat mandatory expenditure, diarahkan pada peningkatan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan dasar dan menengah, peningkatan sarana dan prasarana belajar serta peningkatan mutu dan kesejahteraan tenaga pendidik, sedangkan dalam rangka keberlanjutan program keberaksaraan fungsional, akan didukung dengan peningkatan kinerja pelayanan perpustakaan daerah.
3) Anggaran belanja bidang kesehatan diarahkan pada penyediaan jaminan kesehatan daerah yang bersinergi dengan program jamkesmas pusat, penyelenggaraan upaya promotif dan preventif, peningkatan prasarana kesehatan dasar dan rujukan, penyediaan obat dan perbekalan, serta peningkatan kualitas dan jangkauan layanan KB.
4) Anggaran belanja bidang infrastruktur kebinamargaan meliputi peningkatan dan rehabilitasi jalan dan jembatan,
106
perbaikan saluran irigasi yang menjadi kewenangan daerah diarahkan secara sinergis mendukung upaya peningkatan ketahan pangan. Sedangkan infrastruktur keciptakaryaan diarahkan dalam rangka pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan umum dan fasilitas umum lainnya, peningkatan sarana air bersih serta peningkatan kinerja pelayanan persampahan.
5) Kebijakan belanja bidang ekonomi diarahkan dalam rangka peningkatan produktifitas dan pendapatan sektor basis meliputi pertanian, peternakan dan perikanan serta perdagangan dan industri kecil menengah. Sedangkan pada sektor ketenagakerjaan diarahkan untuk peningkatan ketrampilan kerja bagi para pencari kerja disertai peningkatan perlindungan ketenagakerjaan.
6) Pembinaan kehidupan sosial dan keagamaan, pemberdayaan masyarakat di berbagai aspek baik melalui program dan kegiatan SKPD misalnya pelayanan bantuan sosial korban bencana alam maupun stimulan dana dalam bentuk hibah dan bantuan sosial kepada organisasi/ lembaga/ kelompok masyarakat.
7) Peningkatan kehidupan bermasyarakat yang tertib hukum dan tertib sosial diarahkan pada penyediaan layanan administrasi kependudukan, pembinaan ketentraman dan ketertiban umum termasuk tertib lalu lintas, penegakan peraturan daerah, perlindungan masyarakat.
8) Bidang aparatur meliputi kegiatan perumusan kebijakan publik, penyelenggaraan kegiatan administrasi pemerintahan dan pembangunan, pemenuhan dukungan sarana dan prasarana kerja, pembinaan kepegawaian dan penyelenggaraan diklat aparatur serta pelaksanaan pengawasan fungsional.
9) Bantuan keuangan kepada pemerintah desa melalui peningkatan kemampuan keuangan desa dalam bentuk Alokasi Dana Desa (ADD) serta penyediaan skema bantuan keuangan kepada pemerintah desa dalam rangka pemerataan pembangunan pedesaan termasuk melanjutkan
107
penyediaan bantuan keuangan pembangunan kantor desa bagi desa-desa yang belum mendapatkan dan dinilai memenuhi syarat.
10) Kegiatan-kegiatan yang bersifat lanjutan dari pelaksanaan kegiatan tahun sebelumnya menjadi prioritas dalam rangka keberlanjutan program kerja.
11) Kebijakan belanja diarahkan untuk tercapainya sinergitas perencanaan pembangunan Pusat dan Daerah. Untuk itu kebijakan belanja daerah dianggarkan pula untuk mendukung pendanaan dari pusat dalam penanganan prioritas masalah bersama, antara lain : belanja DAK, PNPM serta pemberian subsidi APBN dalam rangka pertumbuhan ekonomi khususnya sektor pertanian, telah dianggarkan belanja subsidi pupuk dan benih yang saat ini menggunakan skema langsung pada sasaran penerima. Oleh sebab itu, perlu adanya kegiatan-kegiatan yang bersifat fasilitasi perencanaan kebutuhan maupun pengawasan regulasi di tingkat masyarakat.
d. Rencana dan Realisasi Belanja Tahun 2011
Pada tahun anggaran 2011 keseluruhan belanja Pemerintah Kabupaten Karawang ditetapkan sebesar Rp. 2.207.026.861.420,51 dan sampai dengan Desember 2011 dapat terealisasi Rp. 1.864.354.387.096,00 atau mencapai 84,49%. Berikut adalah perincian belanja tidak langsung dan belanja langsung tahun anggaran 2011.
a) Belanja Tidak Langsung
Pada tahun anggaran 2011 belanja tidak langsung ditetapkan sebesar Rp. 1.216.390.826.222,51 dan sampai dengan Desember 2011 dapat terealisasi sebesar Rp. 1.146.710.335.658,00 atau mencapai 94,27%.
Dengan penjelasan lebih lanjut bahwa : 1) Belanja Pegawai
Belanja Pegawai tahun 2011 dianggarkan sebesar Rp. 859.928.137.749,51 dapat direalisasikan sampai dengan Desember 2011 sebesar Rp. 827.140.350.649,00 atau mencapai 96,19 %.
108
2) Belanja Bunga
Belanja Bunga pada anggaran tahun 2011 adalah nihil. 3) Belanja Subsidi
Belanja Subsidi pada anggaran tahun 2011 dianggarkan sebesar Rp. 29.671.230.000,00 dapat direalisasikan sampai dengan Desember 2011 sebesar Rp. 28.742.850.000,00 atau mencapai 96,87 %.
4) Belanja Hibah
Belanja Hibah pada anggaran tahun 2011 dianggarkan sebesar Rp. 78.142.226.500,00 dapat direalisasikan sampai dengan Desember 2011 sebesar Rp. 72.983.649.609,00 atau mencapai 93,40 %.
5) Belanja Bantuan Sosial
Belanja Bantuan Sosial pada anggaran tahun 2011 dianggarkan sebesar Rp 121.477.627.680,00 dapat direalisasikan sampai dengan Desember 2011 sebesar Rp. 99.359.403.000,00 atau mencapai 81,79 %.
6) Belanja Bagi Hasil kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa
Belanja Bagi Hasil kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintah Desa pada anggaran tahun 2011 dianggarkan sebesar Rp. 32.044.708.000,00 dapat direalisasikan sampai dengan Desember 2011 sebesar Rp. 31.979.662.400,00 atau mencapai 99,80%.
7) Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa
Belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintah desa pada anggaran tahun 2011 dianggarkan sebesar Rp. 93.121.800.000,00 dapat direalisasikan sampai dengan Desember 2011 sebesar Rp. 86.504.420.000,00 atau mencapai 92,89 %.
8) Belanja Tidak Terduga
Belanja Tidak Terduga pada anggaran tahun 2011 dianggarkan sebesar Rp. 2.005.096.293,00 dapat direalisasikan sampai dengan Desember 2011 sebesar Rp. 0,00 atau mencapai 0 %.
109
Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang telah menetapkan Anggaran Belanja Langsung pada anggaran tahun 2011 sebesar Rp. 990.636.035.198,00 sampai dengan Desember 2011 terealisasi sebesar Rp. 717.921.081.438,00 atau mencapai 72,47 % dari jumlah yang dianggarkan, dijelaskan lebih lanjut bahwa:
1) Belanja Pegawai
Belanja Pegawai pada anggaran tahun 2011 dianggarkan sebesar Rp. 178.676.805.500,00 dapat direalisasikan sebesar Rp. 166.298.493.045,00 atau mencapai 93,07 %.
2) Belanja Barang dan Jasa
Belanja Barang dan Jasa setelah pada anggaran tahun 2011 dianggarkan sebesar Rp. 412.311.114.201,00 dapat direalisasikan sebesar Rp. 353.694.685.163,00 atau mencapai 85,78 %.
3) Belanja Modal
Belanja Modal pada anggaran tahun 2011 dianggarkan sebesar Rp. 399.648.115.497,00 dapat direalisasikan sebesar Rp. 197.927.903.230,00 atau mencapai 49,53 %.
e. Pengelolaan Pembiayaan Daerah
Dalam struktur APBD, disamping komponen pendapatan dan belanja daerah, juga mencakup komponen pembiayaan yang meliputi sumber penerimaan daerah dan pengeluaran daerah. Kebijakan pembiayaan timbul karena jumlah pengeluaran daerah lebih besar dari penerimaan sehingga menimbulkan defisit. Penetapan defisit APBD berdasarkan peraturan Menteri Keuangan sesuai dengan PP Nomor 23 tahun 2003 tentang Pengendalian Jumlah Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Serta Jumlah Kumulatif Pinjaman Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Penerimaan Pembiayaan daerah Tahun 2011 sebesar Rp. 307.483.104.583,00 yang merupakan estimasi SiLPA Tahun
Anggaran 2010, sampai dengan Desember 2011 terealisasi sebesar Rp. 307.670.275.913,00 atau mencapai 100,06%. Sedangkan pada komponen pengeluaran pembiayaan lebih diarahkan pada kegiatan investasi baik melalui deposito jangka pendek maupun penyertaan
110
modal Pemerintah Daerah yang dianggarkan sebesar 10.723.161.823,00 dan sampai dengan Desember 2011 terealisasi sebesar Rp. 10.500.331.266,00 atau mencapai 97,92%.
f. Rencana dan Realisasi Pembiayaan Tahun 2011
Pembiayaan terbagi kedalam dua bagian yaitu penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. Untuk penerimaan pembiayaan daerah pada anggaran tahun 2011 ditetapkan sebesar Rp. 307.483.104.583,00 yang direncanakan berasal dari Silpa (Sisa Lebih Perhitungan Anggaran) Tahun Anggaran sebelumnya sebesar Rp. 307.064.861.407,00 dan penerimaan kembali pemberian pinjaman sebesar Rp. 418.243.176,00. Sampai dengan akhir Desember 2011 penerimaan pembiayaan terealisasi sebesar Rp. 307.670.275.913,00, atau mencapai 100,06% yang terdiri atas Silpa sebesar Rp. 307.064.861.407,00; penerimaan kembali pemberian pinjaman sebesar Rp. 428.143.176,00 dan penerimaan piutang daerah sebesar Rp. 177.271.330,00.
Pengeluaran pembiayaan pada anggaran tahun 2011 ditetapkan sebesar Rp. 10.723.161.823,00 yang terdiri dari penyertaan modal (investasi) Pemerintah Daerah sebesar Rp. 9.412.299.510,00 dan pembayaran pokok utang sebesar Rp. 1.310.862.313,00. Sampai dengan akhir bulan Desember 2011 pengeluaran pembiayaan daerah terealisasi sebesar Rp. 10.500.331.266,00, atau mencapai 97,92% yang terdiri atas penyertaan modal (investasi) Pemerintah Daerah sebesar Rp. 9.189.468.953,00 dan pembayaran pokok utang sebesar Rp. 1.310.862.313,00.
Pembiayaan netto anggaran setelah perubahan ditargetkan sebesar Rp. 296.759.942.760,00 dan sampai dengan akhir Desember 2011 terealisasi sebesar Rp. 297.169.922.647,00 atau mencapai 100,14%.