• Tidak ada hasil yang ditemukan

Untuk optimalisasi kinerja pembangunan daerah Kota Batu, hendaknya kebijakan pembangunan diarahkan kepada sektor-sektor yang memiliki keunggulan yang menjadi prioritas daerah. Prioritas pembangunan disesuaikan dengan visi, misi, dan kondisi keuangan daerah Kota Batu. Hasil analisis menunjukkan bahwa sektor industri, restoran, bangunan, hotel, listrik dan air bersih, perdagangan, dan pertanian merupakan sektor yang memiliki struktur keterkaitan antarsektor yang kuat di Kota Batu sehingga memberikan multiplier effects yang tinggi terhadap pendapatan, penyerapan tenaga kerja, dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, Pemerintah Kota Batu diharapkan dapat mendorong perkembangan sektor tersebut.

Sektor pertanian yang memiliki kontribusi cukup tinggi terhadap PDRB dan menyerap banyak tenaga kerja bila dilihat dari indikator-indikator yang dianalisis tidak muncul sebagai sektor unggulan kecuali untuk indikator angka pengganda pajak tak langsung neto. Namun begitu, sektor ini tetap menjadi sektor prioritas yang harus mendapatkan perhatian dalam pembangunan wilayah Kota Batu mengingat bahwa sektor ini merupakan sektor penyedia bahan pangan. Selain itu, banyak penduduk Kota Batu yang bekerja di sektor ini dan ketersedian lahan yang luas serta cocok untuk pertanian maupun perkebunan. Cara yang dapat dilaksanakan adalah dengan menciptakan sentra produksi pertanian atau membangun kawasan agropolitan mengingat bahwa kondisi dan sumberdaya dasar Kota Batu sangat mendukung dibangunnya kawasan agropolitan.

Penyusunan APBD harus disinkronkan dengan target kinerja yang akan dicapai. Seandainya problem yang akan diselesaikan adalah masalah pengangguran, maka alokasi anggaran diarahkan untuk sektor yang mempunyai angka pengganda tertinggi dalam menyerap tenaga kerja. Jika problem yang akan diselesaikan adalah masalah kemiskinan, maka alokasi anggaran diarahkan untuk sektor yang mempunyai angka pengganda tertinggi dalam meningkatkan pendapatan. Tetapi jika yang akan diselesaikan adalah masalah penerimaan

daerah, maka alokasi anggaran Kota Batu diarahkan untuk sektor yang mempunyai angka pengganda tertinggi dalam meningkatkan penerimaan daerah.

Selama ini penyusunan APBD Kota Batu belum sepenuhnya memperhatikan sektor unggulan dan sumberdaya dasar yang ada di Kota Batu. Sebagai kota yang baru terbentuk, pembangunannya diprioritaskan untuk sektor belanja aparatur pemerintahan dan pembangunan fisik sektor perhubungan. Untuk ke depannya, penyusunan APBD Kota Batu sepenuhnya harus memperhatikan sektor unggulan dan sumberdaya dasar yang ada di Kota Batu seperti industri pengolahan, pariwisata, pertanian dan tenaga kerja.

Perencanaan terintegrasi antarsektor menuntut koordinasi antar perencanaan di dinas, kantor, dan instansi lainnya di Kota Batu. Kerjasama dan koordinasi antar berbagai stakeholder terkait dalam perencanaan pembangunan wilayah sangat penting dan menjadi faktor kunci keberhasilan dalam optimalisasi kinerja pembangunan daerah Kota Batu. Kerjasama dan koordinasi antar berbagai stakeholder dapat bervariasi, mulai dari informasi sampai dengan bentuk kerjasama yang legal dan formal. Sedangkan areal kerjasama juga sangat luas meliputi semua proses pengembangan wilayah, mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan termasuk operasional sampai kepada pemantauan kegiatan agar dapat dicapai sasaran secara berkelanjutan dengan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Peran perguruan tinggi sebagai center of excellence dapat menjadi mitra pemerintah daerah dalam pengembangan riset di berbagai bidang termasuk dalam pengembangan wilayah baik yang berkaitan dengan budidaya pertanian, peternakan, perikanan, industri, kerajinan dan pengembangan wisata. Studi, penelitian, dan pengembangan maupun konsultasi diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Pengembangan wilayah juga memerlukan peran dari lembaga swadaya masyarakat yang memiliki cukup banyak data dan informasi yang dapat dijadikan referensi dan bahan penunjang untuk perencanaan dan pengembangan wilayah. Masyarakat, LSM, dan pemerintah diharapkan memiliki interaksi yang konstruktif untuk pengembangan wilayah. Fungsi LSM antara lain dapat berperan untuk: 1. Memberikan fungsi kontrol dan pengawasan terhadap program pemerintah.

143

2. Memberikan masukan, kritik, dan saran atas pedoman perencanaan wilayah yang ada dan sedang berjalan, sehingga diharapkan akan memberikan feedback yang baik untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Stakeholder yang mempunyai peranan sangat penting dalam pengembangan wilayah adalah masyarakat dan dunia usaha. Dalam rangka mewujudkan optimalisasi kinerja pembangunan wilayah maka perlu terus didorong keterlibatan masyarakat dan dunia usaha dengan pendekatan community driven planning. Dengan pendekatan ini diharapkan:

1. Terciptanya kesadaran, kesepakatan, dan ketaatan masyarakat dan dunia usaha terhadap aturan tata ruang dan sarana-sarana pendukungnya.

2. Masyarakat dan dunia usaha ikut merencanakan, menggerakkan, melaksanakan, dan juga mengontrol pelaksanaan program pengembangan wilayah dan penataan ruang kawasannya.

3. Adanya kesadaran hukum dan budaya masyarakat akan pentingnya tata ruang kawasan, sehingga masyarakat dan dunia usaha selalu berkoordinasi dan berhubungan dengan instansi pemerintah terkait jika melakukan kegiatan yang berkaitan dan berhubungan dengan usaha agribisnis dan agrowisata.

4. Meningkatkan legitimasi program pembangunan wilayah.

5. Masyarakat dan dunia usaha menjadi subjek dan objek langsung dari program pengembangan wilayah.

Dengan diberlakukannya otonomi daerah dan desentralisasi, Pemerintah Kota Batu juga harus mulai menjalankan perencanaan partisipatif dalam perencanaan pengembangan wilayah Kota Batu. Forum-forum koordinasi, baik untuk penyusunan kebijakan dan dokumen perencanaan jangka panjang, menengah, maupun jangka pendek harus melibatkan pihak-pihak terkait. Partisipasi diartikan sebagai suatu motivasi dan keterlibatan masyarakat secara aktif dan terorganisasikan dalam seluruh tahap pembangunan. Partisipasi masyarakat biasanya diwujudkan dalam bentuk kemampuan dalam mengenali kebutuhan dan kemampuan mereka sendiri. Berdasarkan atas kebutuhan dan potensi itu mereka mampu menganalisis tentang masalah mereka. Selanjutnya mereka mampu mencari jalan untuk mengatasi masalah itu dengan melaksanakan kegiatan yang mereka rencanakan sendiri.

Selama ini, dalam berbagai hal, peran masyarakat dalam pembangunan seringkali tidak dihiraukan dan dianggap tidak penting. Banyak pemerintah daerah tidak mengetahui bagaimana cara untuk mendorong sekaligus membangun peran masyarakat agar mampu mempengaruhi proses pengambilan kebijakan. Beberapa masalah yang menghambat partisipasi masyarakat di Kota Batu antara lain adalah: 1. Kurangnya kemauan politik (political will) dari pemerintah.

2. Minimnya pengetahuan pemerintah tentang kekuatan, kegiatan, dan kapasitas masyarakat.

3. Minimnya rasa saling percaya diantara para pelaku. 4. Perbedaan kepentingan yang tidak dapat dikompromikan. 5. Perbedaan posisi tawar masing-masing pelaku.

6. Perbedaan persepsi diantara para pelaku mengenai bentuk, mekanisme, serta proses partisipasi itu sendiri.

7. Minimnya transparansi.

8. Ketidakmampuan dalam mengorganisasikan partisipasi.

9. Adanya inkonsistensi antara kesepakatan-kesepakatan yang merupakan hasil partisipasi dengan implementasinya.

Hambatan-hambatan tersebut di atas harus dihilangkan mengingat bahwa optimalisasi kinerja pembangunan daerah akan tercipta jika masyarakat berpartisipasi dan berperan aktif dalam pembangunan.

Kota Batu secara matang harus siap menerima perubahan bentuk masyarakat yang makin pluralistik dalam arti manusia dan kemanusiaan. Sifat pluralistik ini diantisipasi dengan pola otonomi daerah atas dasar demokrasi dan kedaulatan rakyat. Sifat pluralistik ini harus dimanfaatkan dan dijadikan sebagai kekuatan karena ada lebih banyak pilihan yang terbaik. Ini penting untuk mendukung ketangguhan bersaing yang lebih baik.

Pembangunan Kota Batu ke depan harus membuat masyarakat makin mampu membaca peluang dari keadaan yang berlaku. Peluang ini kemudian harus mampu ditransformasikan menjadi rencana tindakan yang nyata. Pelaksanaan rencana tindakan ini perlu melibatkan makin banyak stakeholder Kota Batu yang handal dan profesional serta dengan wawasan nasionalisme yang kental, bahwa desa harus ikut maju dan imbang sesuai dengan kemajuan kotanya.

Dokumen terkait