• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arahan Pengelolaan dan Kegiatan Tindak Lanjut

5 ANALISIS KERENTANAN KUANTITAS DAN KUALITAS

5.4 Arahan Pengelolaan dan Kegiatan Tindak Lanjut

Memperhatikan kondisi dan tingkat ke-kritis-an mata air Clumprit tersebut maka dalam upaya untuk menurunkan tingkat ke-kritis-an atau kerentanan (kerentanan kuantitas/debit dan kerentanan kualitas) serta dalam upaya meningkatkan cadangan air tanah imbuhan mata air Clumprit maka dapat dilakukan berbagai upaya serta tindakan konservasi dan langkah pengelolaannya.

Jenis dan bentuk kegiatan yang direkomendasikan dapat dikelompokan menjadi 3 (tiga) jenis kegiatan uatama, antara lain:

1. Kegiatan Teknis Sipil

Pembuatan Sumur Resapan

Pembuatan Sumur Resapan dan SPAH

Pembuatan Dam Penahan Erosi/Checkdam Berseri

Pengembangan Terrasering/Terrasering Bangku

Pembuatan Rorakan

Pembuatan Biopori

Melakukan Monitoring dan Evaluasi 2. Kegiatan Advokasi/Regulasi

Melakukan Pembuatan Regulasi

Melaksanakan Penegakan Hukum/Peraturan

Melakukan Kampanye/Sosialisasi/Promosi

Melaksanakan Penyuluhan

Mendorong Pemberdayaan Masyarakat

Melakukan Penguatan Budaya dan Kearifan Lokal

Melakukan Monitoring dan Evaluasi 3. Kegiatan Vegetatif

Melakukan Pelestarian dan Penjagaan Hutan Lindung

Melaksanakan Pengembangan Hutan Rakyat

Mengembangkan Kebun Rakyat

Melakukan Penanaman Pagar Rapat/Alley Cropping

Mendorong Pengenalan dan Penanaman Rumput Vetiper

Melakukan Penguatan Lereng dengan Penanaman Tanaman Perdu

Melakukan Monitoring dan Evaluasi

Salah satu jenis kegiatan dalam rangka peningkatan cadangan air tanah/debit mata air Clumprit yang direkomendasikan untuk segera dilakukan agar menurunkan tingkat ke-kritis-an (kerentanan kuantitas/debit) dan menghindari keringnya mata air Clumprit adalah dengan pembangunan sumur resapan.

Sumur resapan adalah sebuah lubang galian yang dibuat dan berfungsi untuk dapat menampung, menahan dan meresapkan serta mengalirkan air hujan kedalam tanah sehingga dapat menambah cadangan air tanah. Bangunan sumur resapan tersebut dapat menggantikan fungsi dan peranan dari tanah pucuk (soil) dalam menampung dan menahan serta meresapkan air hujan/run off di kwasanan hulu atau daerah imbuhan suatu mata air.

Berdasarkan hasil analisis tentang kebutuhan jumlah sumur resapan yang harus dibangun didalam kawasan imbuhan mata air Clumprit untuk mengembalikan dan meningkatkan cadangan serta debit mata air Clumprit sesuai pada tahun 2009 yang diperkirakan mencapai 150 liter per detik, yaitu diperlukan sebanyak 1.400 Sumur resapan.

Selanjutnya, apabila kebutuhan jumlah sumur resapan tersebut dapat terbangun maka akan terjadi penambahan debit cadangan air tanah sebanyak 47,95 liter per detik setiap tahunnya, sehingga sekitar 2 (dua) atau 3 (tiga) tahun mendatang maka debit mata air Clumprit akan terus meningkat secara bertahap (gradasi) dan linear sehingga kebutuhan air yang diperlukan PDAM Kota Malang dan masyarakat yang berada didalam wilayah imbuhan tersebut akan tercukupi dengan baik dan berkelanjutan.

Gambar 5.8. Grafik proyeksi kebutuhan sumur resapan dan peningkatan debit mata air Clumprit, Kota Malang.

Peningkatan cadangan air tanah wilayah imbuhan mata air Clumprit dan debit mata air Clumprit akan terlihat dan terukur setelah dua atau tiga tahun setelah 1.400 sumur resapan terbangun didalam wilayah

0

PROYEKSI SUPPLY VS DEMAND MA. CLUMPRIT WITH 1400 SUMUR RESAPAN

Debit Eksisting-2,3 - 55,14 Peningkatan KBTH+Pnddk Debit 1400 SR

imbuhan tersebut. Kemudian agar tingkat penambahan cadangan air dan debit tersebut dapat dipantau dengan baik secara kuantitas dan kualitasnya maka diperlukan adanya proses pengukuran debit mata air Clumprit secara periodik atau berkesinambungan, baik sebelum pembangunan dan sesudah pembangunan sumur resapan tersebut dilaksanakan.

Sesuai dengan kondisi dan tingkat kerentanan (kuantitas dan kualitas) mata air Clumprit tersebut, beberapa rekomendasi dan arahan berbagai jenis pengelolaan yang disesuaikan dengan tingkat/kelas dan jenis kerentanan masing-masing wilayah yang tertuang dalam tabel 5.25 dibawah ini.

Selanjutnya, untuk pengembangan dan implementasi dari berbagai rekomendasi dan arahan kegiatan pengelolaan tersebut akan di jabarkan pada bab berikutnya.

Tabel 5.9. Arahan Perlindungan Untuk Tiap Zona Kelas Kerentanan Daerah Imbuhan dan Mata Air Clumprit Kelas

Kerentanan

Penggunaan lahan

Sumber kontaminan dan faktor yang mempengaruhi

kualitas – kuantitas airtanah Rekomendasi Larangan

Kerentanan Sangat Tinggi

Di MA Clumprit

Masuknya zat– zat berbahaya

Libah cair rumah tangga, air kotor dan air toilet ke Mata air Clumprit

Membuat Pemagaran bronkap secara permanen

Memelihara lingkungan sekitar bronkaptering

Penataan penggunaan kawasan mata air

Pengukuran dan monitoring kualitas air

Melakukan semua kegiatan yang dapat menurunkan kualitas air

Membuang sampah

sembarangan

Permukiman

Limbah rumah tangga

Pencemaran nitrat dan bakteri coli dari kotoran manusia

Kandang ternak: Kontamiasi oleh kotoran hewan

Penyebarluasan informasi dan penyuluhan tentang pola hidup sehat,

sosialisasi penggunaan septiktank,

pembuatan drainase,

pembuatan sumur resapan,

menghemat penggunaan air,

pengelolaan limbah cair domestik,

membuat penampungan air hujan,

memasak air sebelum dikonsumsi

mencemari air tanah.

membangun bangunan kedap air secara berlebihan,

menimbun limbah

Kerentanan Tinggi

Kebun Resiko kontaminasi pupuk kandang dan pupuk buatan membatasi penggunaan pupuk yang berlebih menggunakan pupuk yang berlebih

Tegalan

mudah longsor pada daerah yang memiliki lereng curam

daya resap tanah lambat

pembuatan terassering dan drainase dan dan pembuatan dinding penahan

Pembuatan sumur resapan

pembukaan lahan baru

Kerentanan Sedang

Hutan

Penebangan pohon yang data meningkatakan runoff Mengupayakan penambahan area hutan atau setidaknya mempertahankan luasan yang telah mencapai 60%

Menebang pohon

Alih fungsi lahan

Kebun Resiko kontaminasi insektisida Membatasi penggunaan Insektisida. Menggunakan pupuk secara

berlebihan

Sawah

Resiko kontaminasi pupuk kandang dan pupuk buatan

Resiko kontaminasi insektisida

Membatasi penggunaan pupuk yang berlebih,

penyuluhan pupuk ramah lingkungan dan pengembangan metode bertani yang berhasil guna,

pembuatan terassering

menggunakan pupuk dan insektisida yang berlebih

Kerentanan Rendah

Hutan

Penebangan pohon yang dapat meningkatakan runoff Penyebarluasan informasi dan penyuluhan serta pengawasan Hutan di lapangan.

Reboisasi

penebangan hutan

Kebun Resiko kontaminasi insektisida Membatasi penggunaan Insektisida. Menggunakan pupuk secara

berlebihan

Kelas Kerentanan

Penggunaan lahan

Sumber kontaminan dan faktor yang mempengaruhi

kualitas – kuantitas airtanah Rekomendasi Larangan

Sawah

Resiko kontaminasi pupuk kandang dan pupuk buatan

Resiko kontaminasi insektisida

Membatasi penggunaan pupuk yang berlebih,

penyuluhan pupuk ramah lingkungan dan pengembangan metode bertani yang berhasil guna,

pembuatan terassering

menggunakan pupuk dan insektisida yang berlebih

Kerentanan sangat rendah

Hutan

Penebangan pohon yang data meningkatakan runoff Penyebarluasan informasi dan penyuluhan serta pengawasan Hutan di lapangan.

Reboisasi

penebangan hutan

Kebun Resiko kontaminasi pupuk kandang dan pupuk buatan membatasi penggunaan pupuk yang berlebih menggunakan pupuk yang berlebih