• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arahan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)

Dalam dokumen RPI2JM BIDANG CIPTA KARYA (Halaman 55-60)

Misi 6: Menggali dan mengembangkan potensi daerah secara optimal yang berdaya saing dan berwawasan lingkungan

5.6. Arahan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)

Berdasarkan Permen PU No. 6 Tahun 2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan, RTBL didefinisikan sebagai panduan rancang bangunan suatu lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan.

Untuk saat ini Kabupaten Aceh Barat Daya belum memiliki dokumen Rencana tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL) yang dapat

SATGAS RPI2JM BIDANG CIPTA KARYA KABUPATEN ACEH BARAT DAYA V-56

perlakuan terhadap masing-masing bagian daerah. Perlakuan terhadap masing-masing daerah yang dimaksudkan merupakan manivestasi dari tuntutan pembangunan, yaitu dalam bentuk pengembangan tata ruang, rumusan pengembangan tata ruang adalah :

a. Peningkatan ekonomi daerah melalui pengembangan pusat-pusat kota yang terintegrasi

b. Pusat-pusat perkotaan di daerah Kabupaten Aceh Barat Daya belum bersifat generatif dalam menggerakkan daerah belakangnya. Hal ini disebabkan karena fungsi ekonomi pusat-pusat perkotaan belum tumbuh dan dikembangkan secara berdaya guna. Dalam rangka memacu pertumbuhan dan mengurangi disparitas intra daerah, maka pusat-pusat perkotaan perlu di kembangkan sehingga mampu menjadi pemacu perkembangan daerah sekitarnya. Atas dasar itu maka perlu dilakukan langkah-langkah strategis sebagai berikut :

• Menggerakkan pertumbuhan fisik Kota Blangpidie sebagai ibukota Kabupaten Aceh Barat Daya (Pusat Utama), agar mampu di manfaatkan pengembangan fungsi ekonomi

• Penyediaan sejumlah prasarana dan sarana daerah di Kota Blangpidie yang belum memadai, diharapkan menginvestasi prasarana dan sarana secepatnya untuk dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat.

• Mengembangkan obyek wisata yang ada baik di pusat perkotaan maupun yang tersebar didaerah pingiran untuk menambah daya tarik dan meningkatkan intensitas kegiatan ekonomi daerah

• Fungsi ekonomi pada pusat-pusat yang strategis untuk berkembang seperti susoh, babahrot, Kota bahagia, tanjung

SATGAS RPI2JM BIDANG CIPTA KARYA KABUPATEN ACEH BARAT DAYA V-57

koleksi distribusinya.

• Pengembangan Kota Blangpidie dan daerah-daerah belakangnya sebagai pusat pengembangan sesuai dengan hirarkinya yang mempunyai hubungan timbal balik (pusat-belakang), serta peningkatan volume arus pergerakan (interaksi regional) dengan Banda Aceh-Meulaboh-Tapak Tuan–Medan.

c. Peningkatan kualitas tata ruang daerah yang berwawasan lingkungan, isu utama dalam pengembangan daerah kabupaten Aceh Barat Daya adalah menciptakan tata ruang daerah yang berwawasan lingkungan. Isu ini bertolak dari kecenderungan menurunnya jumlah areal hutan pada kawasan hutan lindung akibat kegiatan HPH yang dilakukan penduduk dan pihak-pihak lain pada kawasan tersebut. Tindakan yang perlu dilakukan untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan penanaman kembali areal bekas HPH atau perambahan, sehingga tercipta tata ruang daerah yang lebih berwawasan lingkungan. Beberapa program yang harus dilakukan untuk menunjang pemantapan kawasan fungsi lindung, antara lain :

• Penataan batas-batas fisik hutan lindung

• Memasyarakatkan peraturan yang berhubungan dengan penanganan kawasan lindung dan pembinaan masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan hutan lindung secara berkesinambungan

• Pemukiman kembali para perambah hutan melalui transmigrasi lokal.

• Mengevaluasi izin HPH untuk selanjutnya di rumuskan bentuk-bentuk penanganannya, sesuai dengan kondisi daerah.

SATGAS RPI2JM BIDANG CIPTA KARYA KABUPATEN ACEH BARAT DAYA V-58 • Mencabut izin HPH pada kawasan hutan lindung terutama yang

berada pada kawasan permukiman. Pendekatan yang dapat dilakukan yaitu dalam bentuk konversi penguasaan lahan.

• Mengutamakan kembali kawasan hutan bakau (mangroove SP) yang telah rusak, khususnya pada kawasan hutan lindung.

• Memberikan pengarahan terhadap petani tambak dalam hal teknik pengelolaan lahan yang tidak merusak lingkungan.

• Isu selanjutnya adalah berupa rencana pembangunan bendungan dan jaringan irigasi yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan lingkungan dan sistem tata air. Dengan adanya bendungan dan jaringan irigasi akan memberikan manfaat bagi peningkatan usaha pertanian padi yang akan memacu tumbuhnya kegiatan pendukung disekitar areal tersebut.

d. Pengembangan kawasan budidaya pertanian yang menunjang industri, fungsi lindung dan penanggulangan Desa tertinggal. Sebagaimana yang tertuang dalam sasaran pembangunan, yaitu memacu laju pertumbuhan ekonomi. Dalam rangka itu maka pengembangan ekonomi daerah Kabupaten Aceh Barat Daya diarahkan pada pengembangan industri yang di dukung oleh kegiatan pertanian. Pengembangan kegiatan pertanian yang menunjang sektor industri ini perlu diwujudkan melalui upaya pengembangan kawasan budidaya pertanian komersial dan menghasilkan bahan baku bagi industri pengolahan produk pertanian (usaha tani intiplasma). Dengan demikian diharapkan tercipta nilai tambah (value added) yang tinggi bagi produk pertanian. Pengembangan kawasan budidaya pertanian dimaksudkan untuk menyediakan ruang substitusi dan kesempatan

SATGAS RPI2JM BIDANG CIPTA KARYA KABUPATEN ACEH BARAT DAYA V-59

ekonomi yaitu dengan mengintegrasi kegiatan ekonomi kawasan pedesaan dengan kegiatan ekonomi kawasan perkotaan ke dalam suatu kesatuan ruang ekonomi, sehingga di peroleh nilai tambah yang optimal. Strategi ini di maksudkan untuk mengarahkan pengembangan kawasan perkotaan untuk pemasaran dan insdustri pengolahan hasilk pertanian, sementara kawasan perdesaan diarahkan untuk kegiatan budidaya pertanian yang menghasilkan bahan baku industri. Strategi ini juga dimaksudkan untuk mengintegrasikan kantong-kantong desa tertinggal ke jalan-jalan regional dan kota-kota yang relatif telah berkembang. Sebagai prasyarat terbentuknya kesatuan ruang ekonomi, maka kegiatan ekonomi pada kantong-kantong desa tertinggal terlebih dahulu perlu di pacu dengan program bantuan desa dan pembangunan kawasan terpadu.

f. Integrasi Spacial. Integrasi spacial dimaksudkan untuk meningkatkan intensitas interaksi intra daerah dan antar daerah. Interaksi intra daerah di cerminkan oleh keterkaitan fungsi antara bagian-bagian daerah. Keterkaitan fungsional intra daerah dapat di wujudkan dalam hubungan produksi-pemasaran -industri. Interaksi antar daerah, dicerminkan oleh keterkaitan funsional antar bagian-bagian daerah Kabupaten Aceh Barat Daya dengan kabupaten lain didalam provinsi Nangroe Aceh Darussalam dan daerah sekitarnya yang diwujudkan dalam hubungan produksi dan pemasaran serta industri. Dalam konteks pengembangan daerah Kabupaten Aceh Barat daya, peningkatan intensitas interaksi intra dan antar daerah pada dasarnya merupakan upaya untuk :

SATGAS RPI2JM BIDANG CIPTA KARYA KABUPATEN ACEH BARAT DAYA V-60

kecamatan susoh guna menunjang pemasaran komoditi pertanian, industri dan perikanan.

• Mencapai tingkat pertumbuhan yang serasi intra dan antar daerah, sehingga secara bertahap disparitas intra daerah dapat di perkecil.

• Meningkatkan laju pertumbuhan daerah yang didorong oleh adanya sinergi dalam hubungan intra dan antar daerah

• Menjaga kelestarian bendungan dan jaringan irigasi yang berfungsi mempertahankan keseimbangan air di areal Kr. Seumayam, Kr. Babarot dan Kr. Manggeng terutama pada musim kemarau.

• Daerah kecamatan yang berbatasan langsung dengan kabupaten Aceh Barat Selatan diperkirakan akan berkembang pesat. Pengembangan daerah ini perlu diselaraskan dan di integrasikan dengan pengembangan kota-kota yang menjadi pusat pengembangan

5.7. Arahan Rencana Pembangunan dan Pengembangan

Dalam dokumen RPI2JM BIDANG CIPTA KARYA (Halaman 55-60)

Dokumen terkait