• Tidak ada hasil yang ditemukan

Area Model 3: Kawasan Penyangga Taman Nasional Sembilang

jamin. Pengolahan bangkai-bangkai itu bagaimana supaya aman bagi masyarakat

C. Area Model 3: Kawasan Penyangga Taman Nasional Sembilang

1. Desa Sumber Rejeki

1.1. Akses Sumberdaya Produktif

Berdasarkan pada hasil indeks yang didapatkan dari responden di Sumber Rejeki, akses terhadap sumber daya produksi dan penguasaah lahan dikuasai oleh petani. Luas tanah yang dikuasai oleh petani rata-rata 4,5 ha. Sesuai hasil analisis 100

% Responden petani yang ada di menguasai lahan diatas garis kemiskinan Indonesia. Secara kepemilikan lahan, dari 100%

responden yang menguasai lahan diatas garis kemiskinan, terdapat juga responden yang tidak memiliki lahan secara kepemilikan sebesar 5% dari jumlah responden petani yang kepemilikan lahan merupakan miliki orang lain. Kondisi penguasaan lahan yang bukan milik sendiri tetap dapat diakses oleh petani dengan cara melakukan pembagian hasil panen. Lahan pertanian di desa ini sebahian besar tadah hujan, sehinga kebutuhan air sangat penting.

Sebanyak 80% petani merasa ketersediaan terhadap air untuk proses budidaya cukup. Namun demikian sebanyak 20%

merasa ketersediaan air berlebih. Hal ini dikarenakan sawah di desa ini tidak memiliki cukup saluran untuk mengalirkan air ke saluran sekunder. Saluran sekunder yang berada disawah saat ini sudah sangat dangkal menyebakan air yang berada disawah tidak dapat mengalir keluar. Karena ini lahan tadah hujan sehingga di desa ini tidak ada kelembagaan untuk mengatu air (P3A). Ketersediaan lembaga yang bertugas mengatur irigasi juga berpengaruh terhadap skoring di IKP. Meskipun di desa ini memiliki saluran irigasi. Skor yang didapatkan untuk kelembagaan pengelolaan air ini 0

dikarenakan 100% responden tidak merasa ada kelembagaan.

Sejak dulu masyarakat tidak memiliki kelembagaan.

Selanjutnya untuk akses terhadap benih yang digunakan, saat awal penanaman petani di desa Sumber Rejeki membeli dari toko pertanian dan dimusim tanam selanjutnya akan menanam jenis benih yang sama, yang disisihkan dari hasil panen sebelumnya. Pengelolaan benih selanjutnya dilakukan oleh masyarakat dengan cara merendam atau menyemai benih dari gabah. Biasaya benih dari gabah akan digunakan sebanyak dua kali setelah masa panen. Untuk selanjutnya setelah masa panen akan membeli benih baru atau melakukan pertukaran dengan kerabat atau tetangga. Berdasarkan hasil survey yang diperoleh 95% responden membeli benih yang digunakan dan 5% memperoleh dari pertukaran dengan tetangga. Didesa Sumber Rejeki, tidak ada masyarakat yang melakukan pemuliaan plasma nutfah atai konservasi benih.

Konservasi benih merupakan hal yang tidak banyak diketahui oleh petani di desa tersebut. Skor yang didapatkan terhadap akses sumber daya dalam pemulian benih 0, hal ini berati 100% responden tidak pernah melakukan pemuliah benih.

Pemulian benih menjadi hal yang sangat tidak pamiliar bagi masyarakat. Tingkat pengetahuan dan keinginan untuk mencoba sangat minim , hal ini juga yang mendorong ketiadaan pemuliaan benih yang dilakukan. Untuk mendapatkan hasil panen yang tinggi ketersediaan modal untuk mengolah lahan sangat penting.

Modal merupakan komponen pendukung dalam usaha pertanian yang dilakukan. Dalam IKP variabel terkait Permodalan usaha pertanian dilihat dari adanya kelembagaan yang tersedia di desa untuk mendukung kegiatan pertanian. Dari hasil Skoring ketersediaan kelembagaan permodalan di desa sumber Rejeki 0.

Hal ini disebabkan karena tidak adanya kelembagaan keuangan yang tersedia di desa tersebut. Secara fisik kelembagaan untuk permodalan memang tidak tersedia di desa, namun Pabrik atau gudang melakukan peminjaman modal kepada petani. Bunga yang diberikan oleh gudang sebagai pemberi modal yaitu sekitar 40%-50%. Selain peminjaman ke gudang sebagaian masyarakat meminjam modal ke lembaga keuangan berada Palembang. Transaksi peminjaman sudah banyak dilakukan di Bank BRI, Mandiri dan BNI. Syarat peminjaman menggunan surat tanah sebagai agunan. Berdasarkan kemudahan syarat melakukan peminjaman yang diperoleh hasil skoring 0. Hal ini disebabkan tidak adanya lembaga keuangan di desa namun petani bisa melakukan pinjaman ke gudang tanpa agunan.

Tingkat kepercayaan masyarakat desa masih sangat tinggi antara sesama warga sehingga syaratnya peminjaman sangat

mudah. Hanya perlu datang atau meinta izin untuk meminjam lalu mengajukan nominal.

Ketika masyarakat desa akan melakukan peminjaman di bank, biasanya akan ada pihak yang membantu atau biasa disebut calo. Calo ini berperan untuk membantu mengarahkan bagaimana prosedural peminjaman dan pencarian membiayaan.

Ketika sudah pencairan secara otomatis dilakukan pemotongan nominal yang diperoleh petani untuk membayaran calo.

Secara keseluruhan akses petani terhadap sumber daya produktif sebesar 8 dari total skeor 28. Hal ini tergolong randah. Berdasarkan penjabaran diatas cukup besar pengaruh dari kelembagaan keuangan yang ada didesa.

1.2. Pertanian Bekelanjutan

Dalam melakukan budidaya pertanian yang dilakukan dalam melihat indeks kedaulatan pangan salah satunya jenis pestisida yang digunakan. Petani di desa Sumber Rejeki secara skor memperoleh 0, dengan kondisi 100% responden menggunakan pupuk kimia atau sintesis. Jenis pestisida ini dilihat untuk meihat bagaimana petani menjaga kesiembangan namun, di desa ini masyarakatnya menggunakan pestisida kimia. Meskipun ada masyarakat yang menggunakan pestisida organik dan hal tesebut hanya 5% dari jumlah responden.

Kesadaran masyarakat belum tinggi untuk menggunakan pestisida hayati dikarenakan untuk menggunakan pestisida kimia hasilnya akan terlihat secara signifikan dibandingkan dengan penggunaan pestisida hayati.

Pengadaan pestisida hayati yang diperoleh berdasarkan indeks ini memperoleh skor satu dengan 5% responden yang melakukan pembuatan pestisida hayati. 95% Responden lebih memilih menggunakan pestisida kimia. Hal ini disebabkan karena pembuatan yang memakan waktu. Sehingga masyarakat lebih memilih menggunakan pestisida kimia dan tidak menggunakan pestisida hayati dikarenakan waktunya yang lebih banyak. Selain itu bahan baku yang sulit didapatkan juga memepengaruhi minat masyarakat dalam membuat pestisida kimia secara mandiri. Selain itu pengetahuan petani mengenai pembuatan pestisida alami belum dapat dijalankan.

Dalam pertanian berkelanjutan sebagai kedaulatan pangan yang ada ambang batas penggunaan pestisida oleh petani memberikan sumbangsing sebagai keleluasan petani. Di desa Sumber Rejeki amabang batas petani dalam memahami penggunaan pestisida mendapatkan skor 1 dengan kondisi hanya 5% responden yang memahami bagaimana penggunaan pestisida secara terkontrol. 95% belum menerapkan

penggunaan pesisida secara terkontrol. Secara pengetahuan masyarakat mengetahui bagaimana penggunaan pupuk secara berimbang, namun pada penerapannya hal ini belum. Hal yang mempengaruhi dikarenakan tingkat pengetahuan petani di desa Sumber Rejeki yang masih cukup rendah mengenai pupuk berimbang.

Jenis pupuk yang digunakan petani akan berpengaruh terhadap analis IKP. Di desa Sumber Rejeki penggunaan pupuk untuk pertanian mendapatkan skor 0 dengan 100%reponden menggunakan pupuk kimia atau sintesis untuk lahan pertanian. Hal ini dikarena didukung dari banyaknya jenis pupuk yang masuk dan juga kemudahan untuk mendapatkan pupuk kimia. Sehingga masyarakat lebih cepat mendapatkan pupuk kimia. Dibandingkan dengan pupuk organic yang memerlukan waktu dan membutuhkan pengetahuan serta keterampilan serta kesabaran dalam mendaaptkanya.

Keseimbangan penggunaan pupuk memperoleh skor 0 karena

Gambar 22. Putra Pak Sami membantu pekerjaan orang tuanya menanam padi

100% responden tidak menggunakan pupuk secara berimbang.

satu faktor keterbatasan modal biasanya hanya menggunakan pupuk satu jenis.

kemadirian petani dalam memperoleh pupuk mendapat skor untuk pengadaan pupuk memperoleh skor 1 dengan kondisi 5% responden yang melakukan produksi pupuk sendiri. 95% memperoleh pupuk dengan membeli dari toko ataupun gudang. Alasan renponden Pembuatan pupuk untuk mengurangi pengeluaran biaya produksi. Bahan baku yang digunakan berupa kotoran kambing, urine kambing dan dicampur sedikit pupuk kimia. Para petani tidak membuat pupuk sendiri meskipun sudah pernah mendapatka pelatihan karena Bahan baku untuk membuat pupuk juga cukup sulit didapatkan.

Dalam pemanfaatan limbah Skor yang diperoleh sebanyak 5% menggunakan limbah pertanian sebagai pendorong budidaya. Hal ini dilakukan dengan memanfaatkan hasil pembakaran jerami untuk nantinya dicampur dolomit, sebagai pengurangan kadar asam sebalum tanah ditebar benih padi.

Dan 95% responden lainnya tidak melakukan.

Terkait pemantauan Agroekosistem 100% menaman satu jenis tanaman dalam satu lahan. Di satu lahan hanya akan ada tanaman padi saja atau kelapa saja, pengamatan terhadap organisme pengganggu tanaman juga masih sedikit. Hal ini dilakukan oleh masyarakat untuk meningkatkan produktivitas hasil.

Variavel yang lain adalah soal menerapkan kearifan lokal, Namun 100% responden tidak menerapkan hal tersebut.

Ada beberapa responden yang hanya tidak menanam disaat hari keematian orang tua. Untuk selebihnya kearifan lokal untuk pertanian sudah tidak dijalankan lagi oleh masysrakat setempat.

Terkait regenerasi petani, Grafik sebaran umur petani hal ini akan mempengaruhi produktifitas. Di desa Sumber Rejeki, skor grafis sebaran umur bernilai 0. Hal ini dikarenakan, sebanyak 60% petani beusia >46 tahun. Namun hal ini tidak menyurutkan minat petani muda dan anak muda di desa dengan pertanian. Karena anak muda sudah sangat familiar dengan pertanian. Selain itu, Rasio penghasilan petani per bulan yang dibandingkan dengan UMK kabupaten Banyuasin memiliki nilai 1 hal ini dikarenakan hanya 20% responden yang memiliki nilai perbandingan rasio lebih dari 1. Masyarakat memang memiliki lahan yang luas namun penghasilan dan

pendapat yang diperoleh belum merata dan dibawah UMK untuk setiap bulannya.

Penggunaan alat pelindung diri pada saat melakukan kegiatan berrsiko di lahan pertanian. Hal ini dilakukan untuk mencegah efek dari penstisida . Namun di desa Sumber Rejeki tingkat penggunaan 0. 100% responden tidak menggunakan pelindung diri ketika melakukan penyemprotan dan kegiatan lain yang dapat membahayakan dan mencitptakan tercemar. Dalam hal adanya Program perningkatan kapasitas petani. Di sumber rejeki mendapatkan skor 1 dengan responden sebanyak 10%

yang pernah mengikuti pelatihan yang dilakukan. Pelatihan itu pun tidak teraplikasikan dengan baik. Sehingga untuk pencapaian pertanian keberlanjutan belum dapat maksimal.

1.3. Perdagangan yang Adil

Kondisi yang terjadi di desa Sumber Rejeki mengenai perdagangan hasil pertanian yang ada didesa untuk menjual hasil pertanian memiliki skor yang rendah. Hal ini dikarenakan masyarakat untuk menjual hasil pertaniannya tidak memiliki informasi dan juga sulitnya akses mengenai penjualan. Saluran pemasaran yang terjadi pendek, karena petani menjual hasil pertanian kepada pengepul yang juga berperan sebagai gudang di desa Sumber Rejeki. Penentuan harga juga dilakukan oleh pihak gudang, sebagai pembeli bukan petani sebagai penjual hasil pertanian.

Kondisi perdagangan di desa Sumber Rejeki untuk komoditi hasil pertanian dikuasai oleh kalangan tertentu saja, melihat pada kondisi dilapangan baik transportasi yang ada.

Jalur transportasi yang digunakan yaitu jalur air sehingga memerlukan biaya yang besar jika petani ingin melakukan penjualan secara langsung kepada pihak yang lebih besar.

Hal juga yang menyebabkan penjualan dilakukan kepada tengkulak dan selanjutnya pengepul yang memiliki akses ke Kota. Transparansi harga yang didapatkan petani di desa Sumber Rejeki berasal dari Tengkulak yang merupakan saluran pertengan pada rantai pemasaran.

Dalam hal ini juga terjadi ketimpangan mengenai jenis beras yang dijual pada tingkat tengkulak dan petani. Saat penjualan yang dilakukan oleh petani beras hanya diklasifikasikan kedalam 3 jenis. Namun saat penjualan tengkulak ke pedagang besar beras diklasifikasikan menjadi 7 jenis. Perbedaan jenis dan trasnparansi harga ini belum sepenuhnya dipahami oleh petani. Selain itu, ketergantungan petani kepada pihak tengkulak atau gudang juga sangat tinggi. Hal ini tidak terlepas dengan sumber modal yang didapatkan petani yaitu dari

gudang-gudang tersebut. Sehingga pilihan yang didapatkan untuk melakukan penjualan dan transparansi harga yang didapatkan oleh petani tidak jelas.

Harga yang diberikan oleh Gudang atau tengkulak sebagai pembeli hasil pertanian merupakan harga yang sudah disepakati oleh pasar. Harga panen yang menguntungkan petani dengan kesepakatan penjualan dan pembayaran hasil pertanian dilakukan secara langsung. Kepada petani. Menguntungkan juga bagi pihak petani karena dengan penjualan hasil panen ini petani dapat mengembalikan modal yang sudah dipakai dari pihak tengkulak. Semua permodalan dan pemasaran masih sangat dikuasai oleh tengkulak dan pengepul. Gudang memiliki kekuasaan penuh terhadap perdagangan hasil pertanian yang ada di desa tersebut. Asuransi untuk lahan pertanian yang ada di desa tidak ada sama sekali. Bahkan masyarakat desa belum memiliki pemahaman mengenai asuransi pertanian. Hal ini sama sekali belum dikenal dan kesadaran yang dimiliki sangat rendah.

1.4. Sistem Pangan Lokal

Masyarakat Sumber Rejeki mengkonsumsi beras sebagai pangan pokok sekaligus sumber karbohidrat. Sumber kabohidrat diperoleh masyarakat berasal dari dalam desa.

Hal tersebut dikarenakan Sumber Rejeki merupakan desa dengan komoditi padi. Konsumsi sumber protein masyarakat desa mengkonsumsi kebanyakan ikan, ayam dan tahu tempe. Sumber protein diperoleh masyarakat dari luar desa khususnya palembang. Meskipun demikian sebagai desa yang menghasilkan beras asal bahan pokok memiliki skor tinggi yaitu 4 karena 100% pangan pokoknya berasal dari desa.

Sementara sumber protein yang berasal dari luar desa dapat diakses oleh masyarakat saat adanya pasar setiap satu minggu sekali di desa tersebut.

Kemampuan masyarakat dalam mengelola pangan loka menjadi penilaian dalam kedaulatan pangan. Masyarakat mengontrol dan mengelola pangannya sendiri tanpa bergantung pada konsumsi pangan diluar rumah tangga petani itu sendiri.

Kondisi yang terjadi pada masyarakat Sumber Rejeki dalam kemampuan pengolaan sangat baik. Masyarakat melakukan pengolaan pangan didalam rumah tangga petani sendiri. Skor yang diperoleh 4 dikarenakan 100% responden melakukan pengolahan bahan pangan sendiri. Hal ini dilakukan dengan cara memasak makanan sendiri. Kondisi yang terjadi juga menunjukan tingkat konsumsi masyarakat terhadap makan yang berasal dari warung makanan yang berada di desa tersebut kecil. Warung makanan yang ada di Sumber Rejeki

hanya tiga mendukung fakta bahwa masyarakat lebih senang untuk memasak dan mengolah makanan sendiri. Konsumsi pangan pokok masyarakat di desa sumber Rejeki rata-rata 1-1,5 kg beras sehari. Masyarakatnya rata-rata-rata-rata akan melakukan memasak bahan makanan untuk konsumsi sehari-hari sebanyak 2 kali sesehari-hari.

Sebagai desa yang menghasilkan komoditi pangan pokok, penyimpanan cadangan bahan pangan sangat tinggi di desa ini.

Skor dari indeks keddaulatan pangan 4 dengan 100% responden menyimpan cadangan makanan untuk kebutuhan rumah tangga untuk satu musim panen. Penyimpanan cadangan makanan ini dilakukan untuk konsumsi pribadi. Penyimpanan cadangan makanan dilakukan di rumah dengan menyediakan ruangan di dapur atau kamar sebagai penyimpanan cadangan makanan.

Cadangan makanan yang disimpan merupakan cadangan yang disisihkan secara khusus diluar gabah atau beras hasil panen yang akan dijual. Penyimpanan bahan pangan yang dilakukan oleh masysrakat Sumber Rejeki yaitu gabah kering yang jika diperlukan akan digiling menjadi beras.

Secara keseluruhan sistem pangan lokal yang dimiliki oleh masyarakat dalam skor tinggi. Hal ini dikarenakan sumber pangan pokok yang berasal dari dalam desa dan juga diprduksi sendiri. Serta adanya penyimpanan cadangan makanan, meskipun di desa tersebut tidak memiliki lubung sebagai penyimpanan cadangan makanan desa. Namun setiap masyarakatnya melakukan penyimpanan secara individu baik dirumah atau ruangan khusus.

2.

Desa Tabala Jaya

2.1. Akses Sumberdaya Produktif

Dari hasil analisis kondisi di Tabala Jaya tidak terlalu jauh berbeda dengan di desa Sumber Rejeki. Tabala Jaya masyarakatnya tidak hanya memiliki lahan pertanian namun juga lahan Tambak air tawar. Jenis sawah yang dimiliki oleh masyarakat juga merupakan sawah tadah hujan sehingga kondisinya mirip dengan Sumber Rejeki. Masyarakat hanya dapat menanam tanaman padi disaat musim penghujan saja.

Dengan rata-rata pengusahaan lahan pribadi petani sebesar 4,6 ha. Petani di Tabala 100% menguasai lahan diatas garus kemiskinan dan seluruh masyarakat masing-masing memiliki lahan pribadi dengan surat legal. Tabala jaya juga memiliki variatas komooditi yang lebih selain tanaman padi dan tambak masyarakatnya juga mengusahakan tanaman kelapa sawit dan kelapa dilahan.

Ketersediaan air di desa Tabala jaya setelah dianalisis hanya mendapatkan skor 3. 60% Responden menyatakan ketersediaan air cukup saat budidaya pertanian, namun 40% menyatakan kurang dikarenakan kondisi air yang asam sehingga jika tidak hujan maka tidak dapat digunakan untuk proses tanam. Selain itu, saluran Irigasi di desa Tabala Jaya juga banyak yang dangkal. Tabla jaya tidak memiliki lembaga yang mengatur irigasi air di desa tersebut. 100% responden di Tabala jaya menyatakan tidak ada saluran irigasi yang ada di desa. Walau terdapat sungai dan saluran sekunder yang masuk ke lahan pertanian.

Untuk benih-benih yang digunakan oleh masyarakat Tabala Jaya sebagian besar memperoleh dari toko pertanian dan sistem bertukar dengan tetangga. Kondisi ini mirip dengan sumber Rejeki. Masyarat tidak ada yang melakukan pemulian benih. Untuk lahan tambak, benihnya juga merupakan hasil membeli, pasokan benih untuk tambak udang, ikan nila dan bandeng diperoleh dari pulau Jawa yaitu dari wilayah Bali, Sukabumi,dan Yogyakarta. 100% responden menyatakan bahwa asal benih yang digunakan didapat dari membeli. Pembelian benih dilakukan secara kolektif, namun terkadang adanya keterlambatan pada benih sehingga proses Gambar 23. Tambak air tawar dan air asin menjadi sumber penghidupan lain

budidaya harus mundur. Selain itu kondisi tambak yang tidak terperhatikan juga membuat tambak banyak yang mengalami peralihan ke lahan sawah. 100% responden juga tidak ada yang melakukan pemuliaan benih, baik itu untuk tanaman padi ataupun bibit ikan dan udang untuk di tambak.

Lembaga keuangan dan permodalan kondisi yang terjadi di Tabala Jaya sama dengan di Sumber Rejeki. 100% responden menyatakan di Tabala tidak tersedia Lembaga keuangan.

Karena memang kecamatan Karang Agung Ilir belum ada lembaga keuangan secara fisik. Permodalan masih diperoleh petani dari Gudang penggilingan atau tengkulak. Kondisi ini tidak menutup kemungkinan bahwa kegiatan permodalan terjadi juga di Tabala jaya, karena sebagian masyarakat di Tabala jaya sudah banyak yang mengenal pembiayaan perbankan. Meskipun pada praktiknya petani tidak melakukan secara langsung. Petani melakukan pembiayaan di bank dengan surat tanah yang dimiliki sebagai agunan untuk modal usaha tani atau yang lain. Di Tabala ada beberapa yang menyediakan jasa membantu proses pengajuan pembiayaan ke lembaga perbankan di Palembang. Jasa ini bukan berasal dari pegawai bank langsung, namun perorangan. Dan hal ini sudah banyak digunakan oleh masyarakat Tabala. Mengenai lembaga keuangan di desa belum tersedia sama sekali, namun jika masyarakat ingin mengajukan peminjaman dapat dilakukan ke gudang-gudang penggilingan yang ada.

Saat melakukan peminjaman ada beberapa gudang di Tabala yang menggunakan jaminan berupa surta tanah. Bunga yang digunakan jika menggunakan pembiayaan di gudang-gudang penggilingan sebesar 40-50 %. Bunga yang tinggi itu menjadi pilihan bagi masyarakat karena pilihan menjadi pilihan terdekat dan tercepat. Secara keseluruhan pilar IKP pada akses petani terhadap sumber daya produktif sebesar 7. Pengaruh terhadap akses pembiayaan yang tidak berada di desa dirasa memiliki pengaruh yang signifikan dan juga kemampuan petani dalam memperoleh benih dari membeli tanpa melakukan pemuliaan.

2.2. Pertanian Berkelanjutan

Kondisi terkait praktek pertanian berkelanjutan di desa Tabala Jaya sama dengan di Sumber Rejeki. Penggunaan pestisida kimia dan pupuk kimia masih tinggi, sebanyak 100% responden menyatakan menggunakan pestisida dan pupuk kimia. Namun, ada juga yang mencampurkan dengan produk pupuk dan pestisida hayati agar memperoleh hasil yang lebih baik. Hanya 5 % petani yang menjadi responden

menggunakan pestisida hayati dan membuat perstisida hayati tersebut. 95 % tidak menggunakakan pestisida secara berimbang dan memperoleh perstisida dengan cara membeli.

Hal ini dikarenakan masyarakat belum memiliki keasadaran untuk menggunakan pestisida hayati dan membuat pestisida sendiri. Menurut sebagian besar mereka memang sudah pernah mendapatkan pelatihan menggunakan pestisida hayati namun waktu dan hasil dari pestisida tersebut tidak terlalu berpengaruh. Hal ini juga yang terjadi pada penggunaan pupuk, masyarakat masih menggunakan pupuk kimia lebih mudah didapatkan dengan membeli dari kelompok tani atau gudang-gudang yang sudah mebus pupuk subsidi. Meskipun harga cukup mahal namun tidak perlu menunggu pembuatan dan hasil bisa dilihat dengan cepat. Penggunaan masih yang belum berimbang, didukung dari 100 % responden menyatakanhal tersebut.

Dari hasil analisis Sebanyak 20 % responden di Tabala jaya melakukan pemanfatan limbah hasil pertanian. 80 % responden masih tidak memanfaatkan limbah pertanian. Cara yang dilakukan oleh masyarakat Tabala untuk memanfaatkan hasil pertanian yaitu dengan membiarkan jerami tetap berada dilahan persawahan lalu akan disemprotkan perurai sehingga jerami tersebut dapat meningkatkan unsur hara. Selain itu lahan persawahan yang digunakan setelah musim tanam selesai akan digunakan untuk lahan tambak.

Dalam memantau agroekosistem yang dilakukan oleh petani di Tabala Jaya, 100 responden melakukan hal tersebut.

Pemantauan yang dilakukan dalam hal ini yaitu menyadari jenis tanah dan air di desa tersebut sangat masam sehingga tidak dapat digunakan untuk kegiatan pertanian. Masyarakat memang belum meneliti seberapa tinggi tingkat keasaman, namun menyadari dengan menururnya hasil tambak saat ada bendunga yang jebol yang mengakibatkan udang dan ikan mati. Selain itu saat musim kemarau jika ditanami padi maka padi akan mati tanah terlalu kering. Hama yang ada diladang juga diperhatikan seperti tikus, wereng.

Keragaman jenis tanaman yang berada dilahan petani di Tabala Jaya juga beragaam. Petani di Tabala jaya sebanyak 30 %

Keragaman jenis tanaman yang berada dilahan petani di Tabala Jaya juga beragaam. Petani di Tabala jaya sebanyak 30 %