• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arjuna Membangunkan Kresna ketika Sedang Tidur Berta pa Berta pa

Diceritakan, setelah berlangsungnya perkawinan antara Abimanyu dengan Dewi Utari, para raja masih tetap berada di negari Wiratha. Pada waktu itu negari Wirata kedatangan tamu dari Pagombagan, yaitu Arya Widura yang merasa kangen dengan para Pandhawa. Setelah saling melepaskan kerinduan , sang Widura segera menyampaikan berita bahwa kumpulnya para Pandhawa di Wiratha telah menjadi bahan pembicaraan para Kurawa. Mereka saling menyalahkan karena tidak bisa mengetahui penyamaran para Pandhawa sampai hukuman yang harus dijalani sudah berakhir. Sungguhppun demikian, Duryudana dengan du­ kungan Sakuni dan Karna tetap tidak akan memberikan negari Indraprasta, apalagi negari Astina. Mereka akan mempertahankan sampai darah penghabisan.

Setelah mendengar penuturan sang Widura seperti itu, Bathara Kresna merasa sangat prihatin terhadap gambaran peristiwa yang akan te�jadi. Keprihatinan itu karena dirinya sebagai utusan dewa untuk menjaga ketentraman dunia harus menyaksikan pertumpahan darah dalam perang Bharata Yuda yang tidak dapat dielakkan.

Karakter Tokoh Pell'ayanga11 Mahabarata

Oleh karena itu, sekembalinya dari negari Wiratha, Bhatara Kresna ingin segera menanyakan kehendak Bathara Guru dengan jalan melakukan tapa tidur di Balekambang Jalatunda. Selama bertapa, Bathara Kresna memerintahkan putranya (Setyaka) dan Arya Setyaki untuk menjaganya. Siapapun tidak boleh membangunkan, jika tidak karena keinginannya sendiri.

Diceritakan, berita tentang Bathara Kresna yang sedang menjalankan tapa tidur telah diketahui oleh para Kurawa. Ketika itu para Kurawa ingin bersekutu dengan- Bathara Kresna untuk menghadapi para Pandhawa . Oleh karena itu, para Kurawa segera berangkat ke Jalatunda untuk memboyong Bathara Kresna ke Astina. Namun demikian niat para Kurawa ini dihadang oleh Setyaka dan Arya Setiaki, sehingga para Kurawa gagal menemui Bathara Kresna. Mereka baru bisa menghadap Bathara Kresna setelah Sakuni dengan kelicikannya berhasil menghasut Baladewa. Setelah di hadapan Bathara Kresna, para Kurawa berusaha membangunkan Bathara Kresna. Walaupun berbagai cara telah dilakukan, tetapi para Kurawa tetap tidak berhasil membangunkan Bathara Kresna. Sehingga akhirnya mereka pulahg ke Astina dengan tangan hampa.

Para Pandhawa yang waktu itu berada di negari Wiratha, juga telah mendengar berita bahwa Bathara Kresna tengah mela­

kukan tapa tidur di Jalatunda. Oleh karena itu, mereka segera menemui Bathara Kresna di Jalatunda. Sesampainya di Jalatunda para Pandhawa segera menghadap Bathara Kresna, namun waktu itu Bathara Kresna masih melakukan tapa tidur sehingga mereka hams menunggunya. Oleh karena sudah menunggu lama tetapi belum juga bangun, Bima yang wataknya kaku tidak sabaran mulai mengeluh. Sang Bima lalu berkata kepada Arjuna, "Hai Arjuna! Kata orang-orang yang percaya, kamu itu satu pergurwm, satu penjelmaan, bahkan sama-sama menjadi utusannya dewa dengan kanda Kresna? Tetapi mengapa kamu mau ikut-ikutan menunggu

/\arakter Tokolr Pewaya11ga11 Malrabarata

orang tidur pulas sampai lehermu tengeng? Kalau saya memang mengakui sebagai orang bodoh dan cepat marah . Namun bagi kamu, perasaanmu bagaimana?"

Mendengar umpatan kakaknya seperti itu, sang Arjuna hanya menunduk tanpa gerak . Pandangannya terasa gelap bagaikan disambar petir. Namun sang Arjuna tidak berani menjawabnya. Setelah ia merenung sejenak, umpatan Bima yang disampaikan dengan nada marah itu ternyata telah menggugah ingatan Arjuna terhadap aji

hastagina

pemberian Hyang Surapati yang telah menyatu dengan badannya. Oleh karena itu, sang Arjuna segera mengheningkan cipta, merapal aji

prakam, prapki,

dan

laina,

dengan tidak bergeser dari tempat duduknya. Dalam waktu sekejab saja sukma sang Arjuna telah menyusul yang sedang menjalankan tapa tidur.

Bersamaan dengan itu, Bathara Wisnu atau sang Narayana yang telah meninggalkan raganya, telah menghadap Bathara Sung­ kara (Bathara Guru), dewanya para dewa. Sang Narayana segera menceritakan gawatnya melaksanakan kewajiban sebagai utusan dewa dalam menjaga ketentramannya dunia. Bathara Wisnu mempermasalahkan perselisihan antara darah bharata yang saling berebut negara, yang akhimya akan membawa korban banjir darah itu , hranya dapat menjadi penyebab datangnya dosa bagi dirinya yang oerkewajiban menjaga tegaknya keadilan. Dirasa gawat karena darah bharata antara Pandhawa dan Kurawa yang akan saling berebut negara itu, keduanya masih kulit daging dengan Bathara Kresna itu , rupanya aka� segera terwujud. Mekarnya hawa nafsu yang menimbulkan rasa benci dan cinta, pada akhimya pasti mempengaruhi tegaknya keadilan sehingga akan membuah­ kan dosa. Oleh karena sudah memahami benar akan akibatnya inilah yang mendorong Bathara Wisnu sampai meninggalkan raganya untuk menghadap Guruloka. Ia meminta petunjuk kepada

l\arnkta Tokoh Pewaya11ga11 Mahabarata

Guruloka (Bathara Sangkara), bagaimana caranya agar dapat menjalankan kewajiban dharma yang terlepas dari dosa .

Setelah sang Narayana diberi petunjuk oleh Bathara Sangkara, ketika itu datanglah sang Jitsu yang telah meninggalkan raganya sang Arjuna. Dengan tergesa-gesa, sang lndraputra segera meng­ hadap Bathara Sangkara. Setelah ditanya keperluannya, sang lndraputra berkata apa adanya bahwa ia mencari buruannya yang telah meninggalkan raganya, dan telah membuat sedihnya para Pandhawa .

Hyang Sangkara yang telah selesai memberi petunjuk kepada Bathara Wisnu segera menyuruhnya kembali ke dunia. Namun yang diperintah masih minta waktu karena masih ada yang perlu ditanyakan. Sementara itu sang Jitsu sudah hilang kesabarannya sehingga langsung menarik Bathara Wisnu dari hadapan Hyang Sangkara. Pada akhimya, keduanya lalu bersama-sama turun ke dunia, menjelma kembali ke raganya masing-masing .

Bathara Kresna yang konon telah kemasukan sukmanya kembali segera bangun dari tapa tidumya. Ketika itu Bathara Kresna sama sekali tidak menyangka jika para Pandhawa telah menunggunya sejak lama. Oleh karena itu , Bathara Kresna segera merangkul Yudhistira, kemudian menceritakan semua peristiwa yang baru saja dialaminya .