BAB V HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI
5.5 Artikulasi Elemen-elemen
Setiap bahan bangunan mempunyai kodrat masing-masing dan menampakkan karakternya. Kayu mempunyai kodrat rapi penuh aturan dalam irama serat-seratnya.
Mempunyai kodrat sebagai bahan yang kuat terhadap tarik sehingga banyak digunakan untuk struktur yang menahan tarik. Kayu juga merupakan bahan yang ringan sehingga cocok untuk diletakkan dalam struktur atas (atap). Irama kayu rapi dan penuh aturan. Bangunan yang menggunakan kayu menampilkan bentuk yang sederhana, natural, dan hangat.
Konstruksi kayu terbentuk oleh kecocokan sinergi antara 1). Karakter materialnya;
2). Cara mengolah untuk membangun, dan cara memperlakukan perawatannya. Kayu memiliki dua macam ketahanan yakni tahan terhadap gaya desak maupun gaya tarik yang sama baiknya. Dengan demikian konstruksi kayu memberikan kesempatan digunakan dalam dua cara sebagai penahan desak dan tarik. Sifat lenturnya menyebabkan kayu dapat melenting dan akan kembali kepada bentuk semula ketika tekanan yang ada dihentikan.
Kayu menjadi aspek utama dalam membentuk lingkungan rumoh aceh dan perkampungannya. Bersama material pelengkap lainnya kayu menjadi bagian penting sehingga pada zaman dahulu disakralkan dalam rangka dilestarikan (pengambilan kayu untuk bahan bangunan diawali dengan upacara, dan ada aturan dan tata cara dalam menebang pohon untuk bahan bangunan dan pemilihan kayu.
Sedangkan penggunaan kayu untuk segala kebutuhan dilakukan secara seksama diperhitungkan kuantitasnya hingga dipertimbangan secara matematis ilmiah. Karena kedekatannya pula aspek keteknikan yang matematis dari kayu menjadi lebih populer sebagai bagian dari ketukangan yang dikuasai oleh banyak orang.
Bahan material bangunan baru mendesak kayu yang menyebabkan terjadinya pergeseran nilai pentingnya kayu dalam memenuhi kebutuhan rancang bangun. Besi, semen hingga komposit sudah banyak menggantikan fungsi kayu dalam dunia arsitektur. Akan tetapi kayu, bagaimanapun juga, tetap menjadi salah satu elemen arsitektur yang tidak tergantikan.
batu
Batu berkepribadian kuat terhadap tekan, tetapi lemah terhadap tarik. Batu merupakan bahan yang berat sehingga cocok ditempatkan sebagai struktur bawah, seperti pondasi. Batu alam memiliki segala susunan, tekstur, dan warna sehingga dapat digunakan untuk struktur dinding sebagai beban (bearing wall).
5.5.2 Artikulasi ekspresi beban sambungan
Kepekaan yang sangat tinggi atas bakat dan kodrat bahan membuat setiap detail sambungan menjadi puisi. Pertemuan bahan alam dapat terjadi secara terikat, tertambat, menyatu, melebur, atau sekedar bersinggungan menempel rapuh. Sebuah batang dapat diekspresikan menjadi terkesan meregang tarik atau terdesak terdorong.
Konstruksi material yang disambung secaraterikat pada rumoh aceh dijumpai pada konstruksi rangka atap, menggunakan tali ijuk. Dua elemen yang berbeda disatukan dengan alat penyambungan yang kuat, tetapi masih memiliki kelenturan.
Konstruksi material yang disambung secaratertambat, yaitu dua atau lebih elemen yang berbeda saling berdekatan/menempel disatukan dengan alat penyambung yang kuat dan lebih kaku dibandingkan posisi terikat. Penerapan taloe pawai pada konstruksi atap, apabila dipotong akan menyebabkan atap rumah jatuh ke bawah.
Konstruksi material yang disambung secara menyatu/melebur, terdapat pada konstruksi antara tiang, balok induk dan balok anak (tameh, toi dan ro’) yaitu tiga elemen struktur yang berbeda bersatu dan memiliki siat baru. Bentuk sambungan menjadi kaku elastis karena kayu menyambung dengan sistem lubang dan baji. Gaya-gaya yang bekerja adalah gaya vertikal, horizontal, dan puntir (sendi-roll-puntir). Pada ujung balok diberi ukiran yang estetis. Konstruksi ini mampu mereduksi beban lateral dengan baik merespon angin kencang dan gempa bumi.
5.5.3 Artikulasi ekspresi konstruksi
Dalam proses pembangunannya rumoh Aceh bukan hanya berfungsi sebagai tempat bernaung saja, namun telah menunjukkan identitasnya melalui tampilan the art of construction yang sedemikian rupa sehingga indah sekaligus memiliki kekuatan struktur.
Struktur rumoh Aceh adalah sistem struktur rangka kayu yang terdiri dari serangkaian balok dan tiang yang saling melengkapi, sehingga melahirkan suatu bentuk arsitektur tradisional rumah tinggal yang unik dan tahan gempa. Pada sistem struktur rumoh Aceh, dinding bangunan tidak berfungsi sebagai pemikul beban melainkan hanya sebagai penyekat saja.
Dengan demikian, dinding bangunan bisa saja menggunakan material yang tidak perlu
terlalu kuat. Dapat digunakan material kayu, pelepah, dan sebagainya. Rumoh Aceh yang berbentuk panggung berfungsi untuk mengatasi masalah kelembaban dan keamanan.
Balok pada tiang dipasang pada posisi membujur dan melintang. Balok yang membujur disebut toi, sedangkan balok yang melintang disebut ro’. Kedua ujug balok yang membujur dipahat setengah sehingga seperduanya tinggal sebagai puting. Begitu juga dengan kedua ujung balok yang membujur, dipahat dengan ukuran sama seperti balok yang membujur. Balok kayu yang melintang dipasang di bawah balok yang membujur, dan biasanya diperkuat dengan menggunakan baji (bajoe), sehingga rumah itu dapat berdiri dengan kokoh dan kuat.
Di atas balok kayu yang melintang dipasang lagi balok lantai yang disebut lhue. Lhue ini mempunyai jumlah tertentu pada setiap rumoh Aceh, dan selalu harus dalam jumlah ganjil. Pada ruang depan sebanyak sembilan buah, pada ruang tengah 11 buah dan ruang belakang sebanyak sembilan buah. Jumlah seluruhnya sebanyak 29 buah. Ketentuan jumlah lhue ini ternyata juga dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap adanya ketentuan langkah, rezeki, pertemuan dan maut (Waardenburg, 1978 : 137). Di atas lhue baru dipasang lantai yang terbuat dari kayu, bisa juga pohon nibung (pinang) atau dari bambu yang diikat dengan ijuk/rotan yang dipintal rapi. Pada sekeliling rumah terdapat dua lembar papan berukuran tebal dan lebar yang berfungsi untuk menutupi ro’, toi dan lhue. Papan yang paling bawah disebut laeak dan di atasnya disebut kindang. Di atas tiang dipasang bara setebal 15 cm dan lebar 30 cm.
Dari tulang bubungan (tampong) sampai ke atas bara diletakkan kasau yang dinamakan gaseue. Di bawah kasau terdapat kayu bulat sejajar dengan bara yang dinamakan geunulong. Fungsi geunulong ini untuk mengikat kasau agar menjadi sejajar dan rapi. Pada ujung kasau bagian bawah lesplang dipasang miring ke dalam yang dinamakan neuduek gaseue. Sedangkan pada ujung sebelah Barat dan Timur rumah bagian atas (bubong) juga terdapat lesplang yang berfungsi sebagai penahan atap dari terpaan angin kencang yang dinamakan peunimpi di daerah Aceh Besar.
Dari neuduek gaseue sampai ke puncak bubungan, yaitu di antara selang-selang kasau itu terbentang tali ijuk yang disebut taloe pawai. Tali ini terlipat dua dan kedua ujung sebelah bawah disatukan dan disimpul dengan sangat kuatnya, sehingga bentuknya persis seperti sebuah sanggul yang dinamakan bruek geutheun. Pada tali ijuk inilah diikat atap rumah tersebut, sehingga apabila terjadi bencana kebakaran, maka simpul ijuk yang
berbentuk sanggul ini sajalah yang dipotong. Sebab dengan pemotongan sanggul ijuk itu atap akan turun dan jatuh ke bawah secara serentak.
Pada ujung timur dan barat sejajar dengan kuda-kuda terdapat sebuah penutup yang biasanya dilubangi yang dinamakan tulak angen (tolak angin). Tolak angin ini berfungsi untuk menetralisir hempasan angin kencang. Dari ujung bawah cucuran atap (neuduek gaseue) sampai ke bara dibuat ruang atap yang berfungsi untuk menyimpan dan meletakkan barang-barang, seperti tikar dan bantal yang dinamakan sanding.
Jendela umumnya berada pada dinding sebelah barat dan timur, berfungsi untuk menyambut udara bersih dan sinar matahari pagi ke dalam rumah. Sedangkan jendela yang berada pada dinding bagian utara dan selatan hanya berfungsi untuk menerangi bagian dalam keseluruhan rumah termasuk ruang tengah. Pintu utama (pintu depan) pada setiap rumoh Aceh hanya terdapat pada dinding kedua dari rumah itu, yaitu pada dinding tengah yang dinamakan pinto Aceh.
Tangga rumoh Aceh disebut reuyeuen terletak di sebelah Barat atau Timur menghadap ke Selatan dan Utara, dengan jumlah anak tangga selalu ganjil. Tangga ini letaknya terlindung dari sinar matahari dan hujan, karena kalau cucuran atap yang sejajar dengan tangga memanjang ke bawah, sehingga dapat melindungi tangga dari hujan dan sinar matahari yang dapat mengakibatkan lapuk dan rusak.
Kejujuran dalam pengolahan bahan dan penanganan konstruksi pada rumoh Aceh terlihat pada sistem sambungan balok dan tiang. Sambungan antar komponen dibuat sedemikian rupa sehingga antara satu bagian dengan bagian lainnya saling terkait. Dengan hubungan yang sederhana (teknik lubang dan pasak/bajoe) rumoh Aceh mampu menahan gaya multi dimensional. Sistem lubang dan pasak digunakan sesuai dengan teknologi yang berkembang di masa itu dan hasilnya sambungan berupa jepit elastis bersifat semi kaku yang adaptif terhadap beban dinamis.
Sambungan toi dan tameh membuat arah kekakuan pada bidang horizontal melintang, dan vertikal. Sambungan ro’ dan tameh membuat arah kekakuan pada bidang membujur dan vertikal. Sambungag antara tameh, bara linteung, dan bara panyang membuat arah kekakuan horizontal membujur dan melintang. Sedangkan sambungan antara bara linteung dan indreng membuat arah kekakuan bidang membujur dan vertikal yang menghasilkan suatu diagonal pendukung terhadap kekakuan total pada keseluruhan struktur
hubungan yang sederhana ini, rumoh aceh dapat menahan gaya multidimensional dari empat arah utama (tiga arah dari bidang tegak lurus dan satu arah yang membentuk suatu sudut miring terhadap tiga bidang lainnya).
Konstruksi ruang atap dan bentuk panggung yang terkesan ringan memang luar biasa sekaligus indah, sangat potensial dan terbuka untuk kebutuhan pemakainya. Material konstruksi rumoh Aceh harus dari kayu yang kuat, yaitu kayu kuat I atau II. Kayu merupakan material yang memiliki tingkat keelastisan yang cukup baik. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuannya menerima tegangan tarik maupun tekan yang hampir sama besarnya.
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
6.1 Simpulan
Timbulnya Kearifan lokal dari masyarakat aceh yang tercermin dalam elemen-elemen perancangan sebagai arsitektonik rumoh aceh didorong oleh elemen-elemen pola pikir dan elemen Alam, menunjukkan kebijakan dan kemampuan masyarakatnya menyelaraskan diri dengan alam sebagai lingkungan hidupnya. Terbukti dengan pola pikir tersebut menghasilkan kebijaksanaan mereka dalam menyusun pengetahuan yang dianggap baik bagi kehidupan mereka seperti hukum adat, tata kelola, dan tata cara untuk aktivitas mereka sehari-hari. Kearifan lokal dalam arsitektur menjadi sangat penting perannya dalam menjaga dan mempertahankan kelestarian budaya Indonesia.
Arsitektur rumoh aceh sebagai arsitektur tradisional mengandung budaya arsitektonik, yaitu terkait dalam pemahaman cara membangun dan terkait seni berkonstruksi. Menentukan waktu mulai konstruksi adalah masalah penting dalam budaya Aceh. Pemilik rumah mempekerjakan tukang kayu tradisional pada bulan tertentu yang dianggap paling menguntungkan untuk memulai pembangunan. Beberapa ritual dilakukan selama proses konstruksi. Orang Aceh menggunakan unit tradisional untuk pembangunan rumah. Unit utama adalah jaroe (jari), paleut (lebar punggung tangan), dan hah (hasta). Unit sekunder adalah jeungkai (jarak antara ibu jari yang menyebar dan jari tengah), lhuek (panjang seluruh lengan), dan deupa (fathom).
Iklim dan alam aceh sebagai elemen pendorong terbentuknya kearifan-kearifan lokal dapat diidentifikasikan ke dalam beberapa kondisi, yaitu geografis, kelembaban, pergerakan angin, musim kemarau dan penghujan, dan rawan gempa.
Letak, lokasi di pesisir, dan posisi rumoh aceh serta dimensinya berdampak pada sistem ketahanannya dalam menerima gravitasi dan beban horisontal. Sebagai responnya beban bangunan dibuat ringan dengan beberapa karakter pembebanan.
Konteks filosofi arsitektur tradisional rumoh aceh dalam perancangan saat ini belum mengalami transformasi yang dinamis. Transformasi pemanfaatan filosofi arsitektur tradisional aceh diperkotaan Banda Aceh pernah dilakukan pada era tahun delapan puluh hingga 90-an dan menghias wujud arsitektur di kota ini. Konsep filosofi ini hanya sebatas terhadap perwujudan skala bentuk, proporsi dan estetika semata, dimana konsep filosofi ini
pemerintahan ataupun institusi besar lainnya yang ingin mengangkat kembali filosofi tersebut.
Tranformasi tektonik atau disain arsitektonik rumoh aceh pada bangunan pemerintah dan perkantoran di Banda Aceh, diidentiikasi dari beberapa elemen dalam melengkapi bangunan tersebut dengan bentuk panggung, bentuk atap, tulak angen dan ragam hiasnya, deretan tameh (tiang) dalam tampilan material modern, balok toi dan ro’, dan bagian seuramoe teungoh (serambi tengah). Sedangkan kantor bank syariah mandiri aceh mengadopsi bentuk atap lipat pada bangunan lonceng cakradonya yang berada di kompleks museum aceh dan atap rumoh aceh pada bagian tombak layarnya.
Berkarakter penggabungan antara arsitektur rumoh aceh dengan tampilan modern (Neo-vernakular). Tampilan modern terlihat dari penggunaan material beton bertulang, kaca, kayu, dan material atap dari produk pabrik, yang sifatnya lebih universal.
DAFTAR PUSTAKA
Andi Yusdy D.R,. 2014. Pemanfaatan Tema Arsitektur Tradisional Lokal terhadap Transformasi Bentuk dan Fungsi Arsitektur di Perkotaan dalam Konteks Kekinian.
JurnalForum Bangunan : Volume 12 Nomor 1, Januari 2014.
Anjani, Malicha Dini. Museum Ragam Hias Melayu Riau Di Pekanbaru Dengan Penekanan Pelestarian dan Pengembangan Ragam Hias Melayu Riau. Skripsi. Universitas Riau.
Pekanbaru. 2014.
Ching, Francis D.K. 2007. Arsitektur : Bentuk, Ruang, dan Tatanan Edisi ketiga. Erlangga, Jakarta, 2007.
Fielden, Bernard M, 1998, Conservation of Historic Building, Bath Press, Great Britain.
Frampton, Kenneth, 1983, Towards a Critical Regionalism: Six Point for an Architecture of Resistance, Bay Press.
Gushendri, Wahyu Hidayat dan Muhammad Rijal. 2015. Transformasi Bentuk Arsitektur Rumah Godang pada Perancangan Museum Jalur Kuantan Singingi. JOM FTEKNIK Volume 2 No. 1 Februari 2015.
Husin, H. Amir, Chairani, Syafrizal, 2003, Arsitektur Rumoh Aceh yang Islami, Dinas Perkotaan dan Permukiman Prov. NAD
Ifani., SM, 2015, Kajian Arsitektur Tradisional sebagai Acuan Disain Rumah tinggal Kontemporer (Studi Kasus: Arsitektur Vernakular Gayo Lut di Kota Takengon), Tesis Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara-Medan, Tahun 2015.
Mahastuti, Ni Made M, 2018, Arsitektur Vernakular Malaysia, Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana.
Matisons.,Viesturs, 2016, Application of vernacular architecture principles in modern housing constructions, 7th Semester Dissertation, Bachelor of Architectural Technology and Construction Management, VIA University College, Horsens, Denmark.
Mentayani, Menggali Makna Arsitektur Vernakular: ranah, unsur, dan aspek-aspek vernakularitas, Lanting, Journal of Architecture, Vol 1, No 2, Agust 2012, Hal 68-82 ISSN 2089-8916.
Nursaniah., C, Izziah, dan Qadri, Konsep Kearifan Lokal dari Konstruksi Rumah Vernakular di Pesisir Barat Aceh untuk Perancangan Arsitektur Modern, (Studi Kasus: Wilayah DAS Krueng Tripa, kabupaten Nagan Raya), Tesa Arsitektur Volume 14 | Nomor 2
|2016, Terakreditasi: 2/E/KPT/2015, ISSN cetak 1410-6094 | ISSN online 2460-6367.
Nursaniah C, Sawab H, 2018, Penilaian tipologi bangunan dan metode konstruksi rumah vernakular di Aceh dalam merespon gempa. Laporan penelitian Lektor Kepala Tahun 2018.
Prajudi, Rahadhian, H, 2011, Transformation in the vernacular Architecture of Settlements on Java, Indonesia from the Hindu-Buddhist Era to the Islamic Era, International Seminar on Vernacular Settlement IV, 14-17th February 2007, Ahmadabad-India.
Prajudi, Rahadhian, H, 2012, Rekontekstualisasi Ruang-ruang Arsitektur Klasik-Tradisional Nusantara di masa kini, seminar 121212, Universitas Brawijaya, Malang.
Prajudi, Rahadhian, H, 2014, Kajian Unsur Arsitektonik Transformatif dalam Arsitektur Rumah Tradisional di Indonesia-Puslitbangkim, Lombok.
Prajudi, Rahadhian, H, 2015, Penggalian Unsur-unsur Arsitektonik Transformatif Percandian Indonesia untuk Arsitektur Masa Kini dan Mendatang-Puslitbangkim, Lombok.
Prijotomo, Josef, 1988, Ideas and Form of Javanese Architecture, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press.
Punpairoj. Poomchai, 2013, the Changing Use of Materials in Construction of the Vernacular Thai House, A thesis submitted for the degree of Doctor of Philosophy University of Bath Departement of Architecture and Civil Engineering.
Rahadhian, 2015, Dialog Pengembangan Potensi Bentuk dan Ruang pada Arsitektur Tradisional Indonesia dengan Konteks Masa Kini dan Mendatang.
Rumiwati., dan Prasetyo, 2013, Identifikasi Tipologi Arsitektur Rumah Tradisional Melayu di Kabupaten Langkat dan Perubahannya (Identification Typology of Architecture Traditional Malay Houses in Langkat District and Its Changes), Jurnal Permukiman Vol. 8 No. 2 Agustus 2013
Setijanti, Silas, Firmaningtyas, Hartatik, 2012, Vernacular Housing in Contemporary Urban Living, Laboratory for Housing and Human Settlement. Dept. of Civil and Architecture, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Indonesia, SB13 Dubai Paper – 154.
Takano., Atsushi, 2015, Wood in sustainable construction - a material perspective Learning from vernacular architecture. Doctoral dissertation for the degree of Doctor of Science in Technology to be presented with due permission of the School of Chemical Technology for public examination and debate in Auditorium (Forest Products Building 2) at the Aalto University School of Chemical Technology (Espoo, Finland).
Taqiuddin, Z., 2015, Rumah Tradisional Etnis-etnis di Aceh: Alih Fungsi Rumoh Aceh sebagai Salah Satu Upaya Pelestarian Rumoh Aceh dengan Konsep Kekinian. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Bidang adat dan Nilai Budaya.
Widiastuti., Indah, 2014, Transformasi nilai-Nilai Tradisional dalam Arsitektur Masa kini.
Seminar Rumah Tradisional-PUSKIM 19 November 2014, 15
Widosari, 2010, Mempertahankan Kearifan Lokal Rumoh Aceh dalam Dinamika Kehidupan MasyarakatPasca Gempa & Tsunami. Local Wisdom, jurnal Ilmiah Online Vol II, Nomor 2, Hal. 27-36, Maret 2010, ISSN: 2086-3764.
Curtis, William (1985) “Regionalism in Architecture”, dalam Regionalism in architecture editor Robert Power. Singapore : Concept Media
Lampiran 2 Susunan Organisasi Tim dan Pembagian Tugas
ArsitekturFT Lansekap Arsitektur 8 Mengidentifikasi dan menganalisis
Agricultural
International Conference on Agricultural Technology, Engineering, and Environmental Sciences
(ICATES) 2019
Address: Agricultural Engineering Department, Faculty of Agriculture, UniversitasSyiah Kuala Jln. Tgk. Hasan KruengKalee, No. 3, Banda Aceh-Indonesia. Email: [email protected]
Website: http://icates.unsyiah.ac.id. Mobile: +6281220743572; +60 123994214
Paper Acceptance
190/ICATES/TP/2019
Banda Aceh, 24 August 2019 Paper ID: 047
Dear Cut Nursaniah, Izarul Machdar, Azmeri Azmeri, Abdul Munir, Mirza Irwansyah and Husnus Sawab
We are pleased to inform you that your paper entitled: Stilted Houses Transformation, One of Choice to Environment Respon to Sustainable, presented in The International Conference on Agricultural Technology and Engineering, and Environmental Sciences (ICATES) 2019, is accepted to be published in IOP Conference Series: Earth and Environmental Science scheduled in 4th quarter 2019 as shown on this link: https://iopscience.iop.org/journal/1742-6596/page/Forthcoming%20volumes#tab3
Therefore, we request you to send your final revised paper to our official email at:
[email protected] both in as .docx and .pdf files latest on 3 September 2019. In order to accelerate IOP publication, we strongly request you to strictly follow the IOP Paper format and guidelines.
We thank you for your share and participation in the ICATES 2019 Conference.
Cordially yours,
Dr.-Ing. AgusAripMunawar
ChairpersonICATES 2019, Banda Aceh-Indonesia Website: icates.unsyiah.ac.id
Stilted Houses Transformation: One of Choice to Environment Respond to Sustainable
Cut Nursaniah*1, Izarul Machdar2, Azmeri3, Abdul Munir1, Mirza Irwansyah1, and Husnus Sawab1
1Departement of Architecture, Engineering Faculty, University Syiah Kuala, Jln.
Tengku Syech Abdurrauf No. 7, Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Indonesia
2Departement of Chemical Engineering, Engineering Faculty, University Syiah Kuala, Jln. Tengku Syech Abdurrauf No. 7, Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Indonesia
3Departement of Civil Engineering, Engineering Faculty, University Syiah Kuala, Jln.
Tengku Syech Abdurrauf No. 7, Kopelma Darussalam, Banda Aceh, Indonesia
*E-mail: [email protected]
Abstract. One type of houses on stilts that are spread on the west coast of the Aceh region is rumoh santeut located in the Teunom area. This vernacular architecture is a residence that has been tested by climate and natural disasters for hundreds of years, but still stands strong and is still inhabited by the fourth generation today. The Teunom settlement environment can represent the characteristics of other settlements on the west coast of Aceh, because it is in the same natural conditions. These settlements often experience flooding due to the overflowing of the Krueng Teunom River which is located adjacent to the settlement. This paper discusses the principles and techniques of construction in the construction of houses on stilts, and how the elements of construction respond to environmental problems as sustainable construction through a process of architectural transformation. Data has been analyzed with qualitative descriptive methods to find out the factors that affect transformation, and how transformation occurs. The findings show that the nature and potential of the material affect the structure / construction, building components, and construction methods. The houses on stilts in Teunom have been transformed together with changes in the socio-cultural community and changes in the natural environment. The use of cement, brick, and iron has now resulted in changes in the method of construction and appearance of the house. Wooden stilt houses that are transformed can be divided into two types of construction, they are transformed into contemporary houses, and are transformed as new stage houses. How the ancestors took care of their homes, and the fact that these houses still exist, should be an example in modern society.
1. Introduction
Transforming is a method commonly used by vernacular architecture, such as what happened at the stage house in the Teunom settlement, the West Coast region of Aceh. Transformation occurs in architectural buildings to adapt to the needs of residents, so that the architecture still exists and is sustainable. Usually buildings are transformed to adjust the shape of construction to the environment in which the architecture is located, or adjust to the social and cultural conditions of the dynamic
Transforming is a method commonly used by vernacular architecture, such as what happened at the stage house in the Teunom settlement, the West Coast region of Aceh. Transformation occurs in architectural buildings to adapt to the needs of residents, so that the architecture still exists and is sustainable. Usually buildings are transformed to adjust the shape of construction to the environment in which the architecture is located, or adjust to the social and cultural conditions of the dynamic