duksi rata-rata • per ekor per hari per liter sebesar
6,78; 7,48; dan 7,54 untuk tahun 1982 s.d, 1984,
tam-paknya terjadi kenailcan daya produksi susu masing-masing ternak (lihat lampiran III; IV-A; IV-B; dan XV-C).
Pembelian susu dari peterUcik lain didasarkan pada kebutuhan yang mendesak atau karena "kewajiban" membeli
dari peternak asuhan (eemacam "bapak angkat"), yang ke-
idua ini harga pembelian sedikit lebih tinggi dari harga yang ditetapkan koperasi. Peternak asuhan, yakni peter-nak A dan B, walaupun terdapat hubungan yang terikat dengan perusahaan masih diberikan kebebasan menjuial ke-pada pihak lain, dan hanya peternak A yang relatif te-tap menyerahkan hasil ternaknya dibandingkan dengan B,
Pembelian susu dari peternak pada tahun 1983 me-nunjukkan peningkatan yang sangat pesat mencapai 7k%f kenaikan ini karena adanya tambahan pembelian dari pe ternak lain E-^besar 91 >29^, sedangkan dari peternak asuhan sebesar Namun dibandingkan dengan tahun 1983? maka tsihun 1984 terjadi penurunan pembelian ..mes-kipun hanya 28^, yang terdiri dari penurunan pembelian dari peternak asuhan dan dari peternak lainnya sebesar 19j96?^ (lihat lampiran V),
Total penjualan dari tahun 1982 sampai dengan ta hun 1984 sejumlah 110200,75; 122986,75; dan 114398,25 liter, tetapi ternyata penjualan pada pagi hari menga-lami penurunan yang cepat pada tahun 1983 dan menurun kembali secara perlahan pada tahun 1984. Kenaikan pen-jualan pada tahun 1983 akibat kenaikan penjuslan pada sore hari sebesar 72,48^ dibandingkan dengan tahun se-belumnya, meskipun pada akhirnya menurun kembali pada tahun 1984,
Penjualan . melalui pihak agen mencapai puncaknya
pada tahun 1983» yang merupakan penyumbang utama bagi kelangsungan perusahaan, keadaan sebaliknya malah pen-jualan melalui penjaja mengalami penurunan pada tahun tersebut. Sedangkan penjualan kepada pihak koperasi se-cara pasti mengalami. penurunan dari tahun. ke tahun, de-mikian halnya penjualan susu kepada pihak pelanggan la-innya semakin berkurang (lihat lampiran VI).
K Perubahan Posisi Laba Kotor pada Dua Laktasi
Berdasarkan perbitungaa di muka, perubahan laba kotor dari dua laktasi yang dibandingkan ternyata ter-dapat kenaikan sebesar Hp 79.357»11 atau kena-ikan ini disebabkan oleh selisih laba pada harga penju-alan dan volume harga pokok penjupenju-alan, sedangkan pada volume penjualan maupun pada harga pokok penjualan ter-jadi selisih rugi, Untuk jelasnya angka-angka di bav/ah ini menerangkan:
1. Perubahan Hasil Penjualan a. Selisih Harga Penjualan
Kode
Sapi
Selisih
Harga Jual
Susu yang ter-jual pada laic-tasi sesudahnya
Selisih Hai'ga Penjualan
A if7,76 2877,00 157.¥15,52
B. k7,7k 1358,75 6if.866,73
C 52,68 27if8,25 1A¥777,81
D 6lf,21 3623,50 232.66if,9if
E 1989,75 80.485,39
660.200,39
Lihat tabel halaman 58,
62
b, Selisih Volume Penjualan satuan pada lak-tasi sebelumnya
Selisih Volu
me Penjualan
A ( 21f0,50) 372,02 ( 89.470,81)
B (191it,25) 364,95 (698.605,54)
C 286,75 358,83 102.894,50
D 631,75 372,87 235.560,62
E ( 158,50) 389,21 ( 61.689,79) (511.311,12)
2. Perubahan Harga Pokok Penjualan
a. Selisih Volume Harga Pokok Penjualan
Kode
Sapi
Selisih Volume
Harga pokok per satuan pada lak-tasi sebelumnya
Selisih Volu
me Harga Po kok Penjualan
A ( 240,50) 142,26 34.213,53
B (1914,25) 163,35 312.692,74
C 286,75 150,54 ( 43.167,35
D 631,75 210,02 (132.680,14
E ( 158,50) 196,77 31.188,05
202.246,83
Selisih Harga Pokok Penjualan
Kode
A (41,53) 2877,00 (119.481,81)
B (93,82) 1358,75 (127.477,93)
C (76,30) 2748,25 (209.691,48)
D 64,88 3623,50 235.092,68
E (25,25) 1989,75 ( 50.241,19)
(271.799,73)
Dari airgka-angka di atas ternyata kenaikan laba kotor disebabkan oleh pertambaharx hasil penjualan sebe-sar Rp 148*889}27 (mengalami pembulatan, seharusnya
Rp lij.8,910,00) dibandingkan dengan laktasi sebelumnya,
sedangkan harga pokok penjualan mengalami kenaikan pulasejumlah Rp 69.552,90, sehingga kenaikan pada laba ko
tor berkurang menjadi Rp 79.557,11. Bertambahnya hasil penjualan ini disebabkan oleh selisih laba pada harga Jual sebesar Rp 660,200,59. Ramun pada sisi lain volume penjualan mengalami penurunan senilai Rp 511,311,13, sehingga kenaikan harga Jual semakin berkurang peranan-nya. Sebaliknya, menurunnya kuantitas penjualan Justeru mengurangi volume harga pokok penjualan sehingga terda-pat selisih laba sebesar Rp 202.2if6,85, kendati demiki-an harga pokok penjualdemiki-an menderita selisih rugi sejum-lah Rp 271.799,75.I
Keadaan di atas, seperti yang pernah disinggung di muka, bukanlah contoh dari suatu gambaran perusahaan yang menyeluruh, melainkan sebuah ilustrasi dari keada.-an individu ternak sapi perah pada perusahakeada.-an tersebut.
Kenaikan laba kotor dari dua laktasi yang dibandingkan pada dasarnya banyak ditopang oleh kenaikan harga Jual susu, meskipun harga pokok susu ikut meningkat. Kenaik an harga pokok ini umumnya disebabkan oleh; 1)
Rendah-i
nya produksi rata-rata per laktasi; 2) Panjangnya masa
kering dan kolustrum; 3) Kenaikan harga pokok rangsum;
if) Jenis kelamin anak sapi yang dilahirkan; 5) KensdJian
tarif upah; 6) dan sebagainya,Gambaran kuantitatif yang disajikan merupakan pertanda bahwa antara satu laktasi dengan laktasi beri-kutnya bagi ternak sapi perah pada perusahaan tersebut tidak dapat diharapkan kenaikan laba kotor yang wajar, karena kondisi sapi yang diternakkan tidak memiliki si-fat produksi yang ajeg, kecuali dengan mengharapkan ke naikan harga jual atau mem-.lih saluran distribusi yang menguntungkan,
Ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh tentang kesenjangan yang menyolok dari perubahan laba kotor, misalnya sapi (B) dan (D), di mana selisih rugi maupun selisih laba relatif besar dibandingkan dengan lainnya, Pada sapi (B), lebih erat disebabkan oleh penurunan volume produksi per laktasi, karena masa laktasi yang lebih pendek dibandingkan de ngan periode sebelumnya, sedang produksi rata-rata sa-ngat rendah, Begitu halnya dengan sapi (D), meskipun pada periode laktasi sebelumnya relatif lebih panjang daripada periode sesudahnya, ternyata rata-rata susu yang dihasilkan lebih rendah,
Perubahan komposisi rangsum pada tahun 198if yang diterapkan sebenarnya dapat menekan harga pokok susu
sedemikian rupa, dengan suatu asumsi. untuk kuantitas dan kualitas produksi yang sama. Kenaikan biaya rangsum yang tampak pada beberapa sapi umumnya disebabkan oleh kenaikan harga pokok rangsum, atau oleh kenaikan rata-rata lebih dari delapan liter^ serta panjangnya masa kering dan kolustrum. Karenanya perubahan komposisi ti-dak terlihat, tetapi pada laktasi-laktasi berikutnya hal itu akan lebih jelas. Demikian juga dengan kenaikan biaya tenaga kerja disebabkan oleh kenaikan barif upah dan banyaknya hari kerja pada masa-masa tersebut.
Harapan kenaikan laba kotor ternak sapi perah dari laktasi ke laktasi cenderung menunjukkan keadaan yang labil, antara lain karena tidak terlihatnya pertambahan rata-rata produksi yang terabur menginjak kepada lakta si berikutnya, sebagaimana yang menjadi dasar teoritis, Dari lima ekor sapi yang diteliti, hanya satu ekor yang menunjukkan kenaikan laba kotor, sehingga dapat disim-pulkan bahwa dari populasi sapi perah yang diternakkan, perusahaan akan mengalami kesulitan dalam mengupayakan pertambahan laba, tanpa menambah jumlah populasi atau mengganti kualitas ternaknya secara bertahap. . Tentu saja akan berhadapan dengan alternatif-alternatif dan pertimbangan. lainnya yang bergantung pada kesempatan yang ada, bila tidak, maka perusahaan tidak mungkin da-pat berkembang setidaknya tetap seperti semula.
2. Prospek Usaha Peternakan pada Perusahaan
Menilai prospek usaha peternakan .tidak dapat di-xikur hanya dari satu aspek saja, sebab keterkaitan an-tara satu dengan lainnya terkadang sang.at erat. Pada pembahasan ini malca penilaian itu hanya .dilihat dari satu sisl saja, walaupun dl sana-sinl tampak saling berpautan, Perubahun laba kotor dari laktasi ke. laktasi telah dinyatakan dengan selisih laba, betapapun tidak dapat dikatakan besar, dengan demikian perubahan terse-but memberikan sumbangan yang kecil terhadap usaha pe
ternakan.
Perkembcuagan usaha peternakan pada perusahaan yang bersangkutan ditandai dengan fluktuasi produksi meski-pun relatif tetap, tetapi cenderung menurun, Sama hal-nya dengan Jualah sapi yang diperah, kendati demikian terdapat kenaikan daya produksi susu per tahun-nya, itu
t
pun sangat kecil. Menurut Sori Basya berdasarkan ukuran yang telah disebut di muka, maka rata-rata produksi.su su per ekor per laktasi ternak sapi perah pada perusa haan tersebut (demikian halnya dengan sapi yang diteli-ti) telah memenuhi syarat sebagai sapi perah yang "eko-norais" diternakican, karena lebih dari liter per ha-ri per laktasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa perusa haan telah manipu mengelola ternak sapi perah, tetapi bukan berati perusahaan mampu berkembang.
Harga pokok yang berlaku pada perusahaan berkisar antara Rp llf2,26 sampai dengan Rp 257,17 per liter im-tvik pertengahan tahun 1982 sampai dengan akhir tahun 1984, atau rata-rata sebesar Rp 189,79. Bila harga po kok ini dikaitkan dengan harga jual susu pada koperasi,
maka perusahaan berada di atasnya. Karenanya pada sa-luran distribusi manapun yang digunakan, perusahaan tidak mengalami kesulitan untuk memperoleh laba kotor, Tetapi untuk memperoleh hasil penjualan yang lebih me-hguntungkan,. langkah yang harus ditempuh perusahaan adalah menjual kepada pihak agen, penjaja, dan pelang-gan lainnya. Sedangkan penjualan kepada koperasi meru-pakan langkah terakhir apabila terdapat kelebihan susu yang tidak terjual.
Data penjualan pada tahun 1982; 1983; 8an 1984 me-rupakan indikasi bahwa perusahaan semakin memperkecil persnan koperasi atas pelemparan hasil ternaknya, dan hampir sepenuhnya menggantungkan diri kepada pihak agen (kurang lebih tujuh puluh persen), sehingga posisi pe
rusahaan dalam mengharapkan laba yang wajar menjadi ma-pan, Jadi, pada perusahaan telah dapat mengeliminasi sinyalemen yang muncul dari para peternak, bahwa harga jual susu lebih rendah dari harga pokok susu, dengan kata lain sinyalemen tersebut tidak berlaku bagi
pei'u-sahaan.
Pembelian susu dari peternak lain umumnya benar-benar untuk memenuhi kebutuhan perusahaan, tetapi sam-pai sejauhmanakah pengaruh produksi terhadap pembelian sehubungan dengan alctivitas penjualan yang dilakuksin, memerlukan analisa yang tersendiri, yang dalam kesem-patan ini tidak dibahas. Jika perusahaan menganggap ko-perasi merupakan alternatif teralchir, tentu perusahaan dapat lebih menghemat dananya karena mengadakan pembe lian yang berlebih, Tetapi ada faktor lain yang mengi-kat perusahaan sebagai anggota koperasi untuk berperan aktif di dalamnya, karena manfaat lain- yang diperoleh-nya. Oleh sebab itu penjualan susu kepada koperasi, di samping merupakan alternatif terakhir, juga merupalcan persiapakan yang telah dicadeingkan.
Usaha peternakan sapi perah yang telah lama dike-lola perusahaan memiliki kemampuan yang masih poten-sial, dalam mencapai prospek usaha yang lebih baik di masa mendatang, Potensi ini dapat divnijudlcan, andaikata
perusahaan benar-benjir memperhatikan dan
mengaplikasi-kan tata laksana sapi perah dengan tepat dan benar. Un-tulc itu tidak dapat dicukupi hanya dengan pengalaman masa lalu yang diterima, Demikian juga dengan fungsi-fungsi peruscihaan, seperti ketatausahaan, akuntansi dan lainnya diperlukan pembenahan yang mendasar gunamemu-dahkan dan mengefektifkan cara kerja perusahaan.
Bila perusahaan mempertahankan status quo-nya, ke-lak akan mengalami kesulitan dalam taemenuhi volume pen-jualan, kecuali bila perusahaan mengadakan pembelian dari pihak lain, Karena kecenderungan sapi yang diperah turun dengan drastis pada bulan ISeseaber 198if (lihat:
lampiran III) dan ini tampaknya bukan pengaruh musim, kecenderungan ini sebenarnya sudah mulai tampak sejak tahun 1932, tetapi itu dapat dikompensasi dengan kena-ikan daya produksi rata-rata. Sedangkan pada tahun 1984 keadaan sapi yang diperah tampak lebih stabil, oleh ka rena itu perusahaan hendaknya mengaiabil
tindskan-tin-daican yang diperlukan, sebagaimana yang telah disiug-gung di muiia.
Dalam pembahasan ini ada beberapa hal yang ingin di-ungltapkan, pertaaa: permasalahan sapi perab sebr.g:ai peng-hasil susu harus berorientasi pada penyediaan bibit ung-gul dan bukan p;,.da kuantitas; kedua: peternak selayaknya memahami pengetahuan teori terpakai tentang . tata laksana sapi perah; dan ketiga: peternal: setidaknya memahami dasar manajemen yang bersifat praktis,
Untuk . ituiah maka dalam penelitian ini ditinjau kesenjangan yang terjadi antara dua periods laktasi per
ekor, oleh karenanya pembahasan ini di bagi ke dalam hal-hal berikut di bawah ini.
1» Pendahulnan
Peternakan sapi perah berkembang dengan pesatnya setelah koperasi yang menanganinya mendapatkan perhati-an yperhati-ang sungguh-sungguh dari pemerintah, keadaperhati-an ini pada sebagian peternak merupakan angin baru bagi usaha persusuan yang menyegarkan suasana. Tetapi di satu pi-hak adanya beberapa keluhan yang muncul dari peternak sendiri, karena tingginya biaya produksi susu sementara harga jual susu pada koperasi kurang menggaerahkan. Be-narkah demikian ? sebelum raenjawab pertanyaan itu di-perlukan identifikasi yang lebih jauh tentang harga
po-71
kok susu dan harga jual susu dari beberapa periode lak-tasi, agar analisa yang lebih Jauh dapat dimungkinkan sehingga diperoleh kegunaan ganda.
Berangkat dari suatu pemikiran bahwa komoditi susu sangat potensial di masa mendatang di dalam negeri, ma-ka alangma-kah ironisnya bila keinginan dari sebagian ang-gota masyarakat untuk memeauhi kebutuhan permintaan itu
terharabat oleh faktor-faktor tertentu, Dan oleh bebera
pa peneliti disimpulkan bahwa biaya malcanan yang tinggi antara lain merupakan perintang utaaa, Karenanya dalam
perabahasan ini dapat dilihat hal-hal tersebut di atas
kemudian juga akan ditinjau apakah seekor sapi menyum-bangkan laba kotor dan pertambahan laba kotor yang la-yak bagi peternak.
Pendekatan yang ditempuh dalam nengkaji hal-hal di atas didasarkan pada studi pustaka. juga termasuk hasil penelitian sebelumnya, dan dengan studi kasus, yaitu mengadakan penelitian pada Perusahaan Susu Cibinong di Bogor, dan hanya lima ekor sapi yang menjadi obyek pe
nelitian, Perusaliaan Susu Cibinong v/alaupun telah lama berdiri namun masih konvensional dalam penanganan sapi
perah, sehingga tidak mengesankan sebagai perusahaan yang berkambang, Untuit itu perlu diketaliui lebih lanjut keadaan tersebut agar tidak diperoleh gambaran yang
ke-liru.
2. Tinjauan Pustaka
Susu merupakan salah satu perlambaiig tingkat ke-makmuran seseorang, yang oulai merakyat dewasa ini di Indonesia, karenanya terus diupayakan peningkatan kuan-titas dan kualitasnya. Hal ini tidak terlepas dari ter-nak yang menghasilkannya, ternyata membutuhkan pena-nganan yang sangat canggib dan profesional.■ Bila itu diabaikan caka akan berpengaruh terhadap harga pokok nantinya, sebagai raisal penetapan komposisi rangsum yang keliru berakibat fatal bagi kesinaiabungan usaba, karena rangsua merupakan elemen biaya produksi yang terbesar. Dari beberapa penelitian di Bogor, ternyata kompisisi rsngsum dan kuantitas subu yang dibasilkannya berv.ariasi dari tabun ke tabun, dan tampakaya tidak terdapat kenaikan daya produksi,
Untuk mengetahui harga pokok diperlukan pemabaman konsepsi biaya yang komprebensif, berbedanya dua kubu dalam ilmu biaya dapat mengaburkan pengertian bila kita tidak memabami bai^ekat dasar yang tersirat di ba-liknya. Dalam permasalaban biaya terkadang timbul ada-nya produk sampingan, yang membutublcan perlakuan biaya tersendiri pula, misalnya menganggap produk sampingan sebagai pengurang biaya produksi, sehingga harga pokok per satuan menjadi lebib kecil. Akuntansi biaya tidak banya menyajikan perbitungan harga pokok, melainkan
ju-ga memberikan ukuran-ukuran pengendalian biaya serta alternatif-alternatif yang harus ditempuh dalam mengha-silkan keputusan tertentu, Analisis Laba Kotor merupa-kan alat akuntansi biaya dalam rangka pengambilan kepu tusan sehubungan dengan terjadinya perubahan laba kotor dari dua periods, perubahan tersebut dipecah ke dalam dua koraponen, yai'-u perubahan hasil penjualan dan per ubahan harga pokok penjualan.
Penaiiganan ternak sapi perah memerlukan pengelola-an ypengelola-ang tepat, yaitu keterpadupengelola-an pengelola-antara kegiatpengelola-an "fo-' rage"; "milking"; dan "replacement", pada masing-masing kegiatan tersebut memerlukan pengkhususan biaya. Dalam
"milking" misalnya, pengkhususan biaya diperlukan untuk menentukan harga pokok susu. Yaitu dengan membagi biaya ke dalam biaya-biaya masa kolustrum; laktasi; dan ke-ring, di mana biaya pada masa kolustrum dan kering di-anggap sebagai biaya overhead produksi dan anak sapi yang dilahirkan dianggap sebagai produk sampingan, • 5. Ubyek dan Metoda Penelitian
Berdasarkan data yang ada dan atas dasar penelu-suran data yang dibatasi dengan asumsi-asumsi tertentu, maka harga pokok susu dapat diduga, j/'a^sni berklsar an tara Sp 1Zf2,26 sampai dengan Hp 257,17 per liter untuic pertengahan tahvin 1982 sampai dengan ashir 198if. Sedang harga ;jual susu tiap-tiap sapi tervariasi antara
Rp 558,85 sampai dengan Sp if57,0S. Dengan dsmilcian laba kotor untul? lima ekor sapi yang diteliti berjumlah Ep 2,789.417,20 untuk laktasi sebelumnya, sedangkan
un-tuk laktasi sesudahnya berjumlah Rp 2.868.774>51j atau
terjadi perubahan sebesar Rp 79.557,11. Perubaban kena-ikan ini hanya didukung oleh satu ekor sapi, sedangkan
sapi-sapi yang lainnya menunjukkan penurunan,
Produksiy pembelian, maupun penjualan susu total perusahaan sama-sama menunjukkan kenaikan yang labil, puhcak kenaikan terlihat pada tahun 1985. Sedangkan ke-adaan ternak sapi perah selalu menunjuizkan kenaikan da-ya produksi per ekor per tahun, meskipun kenaikan itu sangat kecil, Penjualan susu kepada pibaiz agen baik pa-da tahun 1982 pa-dan 1985 maupun 1984 tetap memegang pe-ranan punting, sedangkan penjualan kepada pihak
kopera-si makin raenurun.
Pendekatan yang diterapuh didasarkan pada suatu anggapan bahwa lima eko"" sapi yang diteliti raendekati homogenitas daya produksi dengan jumlah total sapi yang diternakkan perusahaan, dan perusahaan bertindak rasio-nal dalam menjalankan usahanya. Kemudian dari data yang
uiperoleh, peneliti mencoba nenjejeki kemungkinan-ke-mungkinan yang mendukung penulisan sesuai dengan maizsud dan tujuan penelitian ini, sehingga dapat
divisualisa-sikan dalam suatu batasan-batasan tertentu.
4. Hasil dan Pembahasan
Perubahan laba kotor tiap-tiap ternal^, dari dua laktasi yang dibandingkan, ternyata lebih baayak mende-kati penurunan laba kotor, v/alaupun secara keseluruhan menunjukkan kenaikan. Yang, sangat berperan mencegah pe nurunan laba kotor per ekor atau kenaikan perubaban la ba kotor total, pada galibnya disebabkan oleh kenaikai:
harga jual susu dan perubahan intensitas saluran _dis-tribusi yang digunakan,
Kenaikan harga pokok susu selain disebabkan oleh kenaikan harga pokok rangsura dan tarif upah, juga dise babkan oleh ketidaktepatan penanganan sa.pi perah,