5.3 Pengelolaan Penurunan Tingkat Resiko
5.3.1 Arus Balik
Bahaya dari arus berupa arus balik pada penelitian ini merupakan bahaya dengan tingkat resiko yang tertinggi dibandingkan dengan kondisi fisik lainnya ataupun bila dibandingkan dengan kondisi biologi. Arus pada daerah pesisir memang merupakan sumber resiko yang paling diperhatikan, Carey et al (2004) menyatakan bahwa 80% dari kondisi bahaya yang timbul di daerah pesisir Amerika Serikat timbul akibat keberadaan arus balik.
Satu hal yang sering salah dipahami tentang arus balik yaitu bahwa arus balik hanya akan menarik seseorang ke arah laut bukan menenggelamkan ke dalam laut, kematian yang disebabkan oleh arus balik didorong oleh ketidakmampuan seseorang yang berada di dalam arus balik untuk menjaga dirinya agar tetap terapung dan berenang kembali ke pantai. Hal ini pada peselancar dapat terjadi akibat perasaan takut, panik, kelelahan, kurangnya kemampuan dalam berenang ataupun kombinasi dari beberapa hal tersebut.
Berdasarkan letaknya pada kuadran matriks evaluasi resiko (UNEP 2008) maka bahaya dan resiko arus balik berada pada kuadran pertama, sehingga bentuk pengelolaan yang diterapkan kepada peselancar adalah dengan menghindar dari arus balik tersebut. Hal ini dapat dilakukan melalui tindakan pengendalian administratif dengan cara memberikan informasi yang berkaitan dengan arus balik berupa cara mengetahui letak arus balik dan bagaimana cara menghadapinya.
Cara mengetahui letak arus balik menurut Carey et al (2004) adalah dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
a. Sebuah aliran air yang berwarna kecoklatan akibat adanya pasir yang tertarik yang bergerak ke arah laut.
b. Adanya sebuah barisan buih air, rumput laut atau benda mengapung yang bergerak ke arah laut.
d. Ruangan tersendiri pada ombak pada saat ombak bergerak ke pantai.
Sedangkan cara untuk menghadapinya adalah dengan melakukan beberapa tindakan sebagai berikut:
a. Bertindak tenang dan tidak panik ataupun ketakutan. b. Mempertahankan diri agar tetap mengapung diatas air.
c. Tidak berenang dengan arah yang berlawanan dengan arus, melainkan berenang dengan arah tegak lurus dengan arah arus atau sejajar dengan garis pantai atau tetap mengapung hingga arus balik menghilang dan berenang kembali ke arah pantai.
d. Melambaikan tangan apabila tidak mampu untuk berenang kembali ke tepi pantai.
Informasi diatas dapat diberikan kepada peselancar diantaranya melalui melalui pamflet, website dan papan informasi yang dipasang di Pantai Labuhan Jukung dan Pantai Mandiri oleh pengelola agen perjalanan, pemerintah setempat atau investor/penyewa kawasan sebagai suatu bentuk promosi yang menunjukkan bahwa kawasan tersebut melakukan pengelolaan bahaya dan resiko sebagai suatu bagian dari pengelolaan wisatanya. Papan informasi yang dibuat harus terletak pada lokasi yang tepat dan cukup menarik perhatian dan harus jelas dan singkat. Williams dan Micallef (2009) menyatakan bahwa papan informasi harus
diletakkan pada jarak sekitar 200 m dari tempat parkir untuk memastikan agar papan tesebut dibaca oleh peselancar. Tindakan yang telah dilakukan pemerintah
setempat untuk mengurangi resiko arus balik adalah pemasangan papan peringatan.
5.3.2 Panas dan Sinar Matahari
Matahari merupakan daya tarik tambahan bagi peselancar, karena peselancar di Pantai Labuhan Jukung dan Pantai mandiri umumnya berasal dari daerah yang menganggap bahwa kulit yang berwarna kecoklatan sebagai suatu hal yang baik, tetapi pada saat yang bersamaan sinar matahari merupakan sumber resiko bagi peselancar. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, peselancar yang melakukan kegiatan selancar pada saat tingkat panas matahari yang tinggi akan lebih mudah mengalami kelelahan lebih dibandingkan peselancar yang berselancar pada saat tingkat panas mataharinya lebih rendah. Hal lain yang perlu diperhatikan dari matahari adalah bahaya yang berasal dari radiasi sinar UV yang ada di dalam kandungan sinar matahari tersebut.
Bentuk pengelolaan resiko dan bahaya dari matahari dapat dilakukan berdasarkan penggolongan pada matriks evaluasi resiko (UNEP 2008) adalah dengan mereduksi resiko berupa melaksanakan tindakan pengendalian administratif yang mendorong peselancar untuk melakukan tindakan pelindungan pribadi. Tindakan pengendalian administratif yang dapat dilakukan berupa kampanye perlindungan terhadap sinar matahari baik yang berkaitan dengan panas matahari ataupun dari sinarnya berupa penggunaan pakaian selancar dan pemakaian krim matahari.
Pakaian selancar dapat menjaga kelembaban tubuh dari peselancar sehingga terhindar dari bahaya panas terasa dan juga menutupi sebagian besar tubuh peselancar sehingga menurunkan bahaya dari radiasi sinar UV yang ada dalam matahari, selain itu peselancar juga disarankan untuk beristirahat dibawah naungan setiap dua jam. Hal ini disarankan selain untuk menjaga suhu tubuh peselancar agar terhindar dari resiko yang ditimbulkan oleh panas matahari, juga untuk mengingatkan peselancar agar menggunakan krim matahari pada bagian kulitnya yang terbuka.
Krim matahari yang digunakan harus sesuai dengan kebutuhan peselancar yaitu dengan tingkat SPF+15 dan tahan terhadap air (water resistant), selain itu
peselancar juga harus diberikan informasi tentang penggunaan krim matahari yang baik yaitu digunakan pada saat kulit kering dan minimal 20 menit sebelum mereka terpapar matahari serta untuk menggunakannya kembali setiap dua jam (US EPA 2000). Hal lain yang harus diperhatikan adalah agar peselancar memperoleh asupan cairan yang cukup saat melakukan kegiatan selancar. Untuk memenuhi kebutuhan hal tersebut maka dapat pihak pengelola dapat menyediakan loket-loket penjualan air minum bagi peselancar.
Pengetahuan ini dapat dimasukkan kedalam brosur, pamflet, ataupun website yang menawarkan paket wisata selancar, atau lewat poster-poster yang mengingatkan peselancar tentang bahaya dari matahari dan resiko yang diberikannya. Selain itu, pihak pengelola penginapan juga dapat memberikan krim matahari yang berguna untuk melindungi kulit dari sinar matahari sebagai souvenir ataupun sebagai fasilitas tambahan yang dilakukan baik oleh pengelola penginapan maupun pengelola tur wisata selancar untuk mendorong peselancar agar melakukan tindakan pelindungan pribadi. Pengelola lain seperti toko usaha barang kebutuhan sehari-hari juga dianjurkan untuk menjual krim pelindung tersebut agar peselancar dapat dengan mudah memperolehnya. Jenis krim matahari yang disediakan juga harus sesuai, pengelola penyewaan peralatan selancar juga dianjurkan untuk menyediakan pakaian selancar baik untuk dijual maupun untuk disewakan.
Kegiatan pengelolaan keselamatan yang perlu juga dilakukan sebagai tindak lanjut terhadap pengelolaan bahaya dan resiko dari panas dan sinar matahari adalah dengan melakukan pengukuran secara berkala terhadap waktu puncak panas terasa dan penyinaran radiasi sinar UV untuk mengantisipasi pergeseran waktu yang terjadi, variabel yang diukur untuk mengetahui hal tersebut adalah suhu dan kelembaban udara serta radiasi sinar UV (Peattie et al 2005). Pengelolaan ini dapat dilakukan oleh pemerintas setempat sebagai suatu bentuk pengelolaan pada daerah wisatanya yang menjadikan sinar matahari sebagai daya tarik tambahan bagi wisata selancarnya, namun pengelolaan terhadap bahaya sinar dan radiasi matahari ini masih berupa pendirian pondok untuk berteduh sedangkan untuk penyediaan krim matahari ataupun penjualan baju selancar belum dilakukan.
5.3.2 Ombak dan Materi Pembentuk Pantai
Ombak merupakan inti dari kegiatan selancar yang terbentuk dari tinggi gelombang tertentu, namun pada saat yang bersamaan ombak juga merupakan bahaya yang menjadi sumber resiko bagi peselancar dengan kondisi materi pembentuk pantainya. Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, di kawasan selancar Krui terdapat tiga jenis ombak yang terbentuk karena adanya variasi topografi dan materi pembentuk pantai yang akhirnya membentuk bahaya dengan tingkat resiko tertinggi kedua setelah bahaya arus. Diketahui bahwa satu kubik air setinggi satu kaki (0.304 m) memiliki berat 62 pon (28,123 kg), maka tinggi ombak di Pantai Labuhan Jukung dan Pantai Mandiri setinggi 6,5 kaki (2 m) memiliki berat sebesar 403 pon (182,798 kg) (Weaver dan Bannerot 2009), hal ini menjelaskan mengapa ombak dipadukan dengan keadaan materi pembentuk pantai tertentu dapat menjadi bahaya dengan tingkat resiko tersendiri bagi peselancar.
Umumnya semakin tinggi ombak yang terbentuk maka akan semakin besar tantangan yang diberikan dan memberikan ketertarikan yang semakin besar juga bagi peselancar, namun pada saat yang bersamaan juga akan dibutuhkan kemampuan berselancar yang semakin tinggi untuk menghadapi tantangan tersebut. Walalupun dari hasil wawancara diketahui bahwa pengalaman berselancar responden yang paling rendah adalah lima tahun, namun hal tersebut tidak menyebabkan resiko yang ada menjadi hilang.
Berdasarkan hal tersebut maka tindakan yang dapat dilakukan sebagai pengelolaan bahaya dan resiko dari ombak dan materi pembentuk pantai ini adalah menerima resiko yang didasarkan selain pada letaknya pada matriks evaluasi resiko tetapi juga pada fakta bahwa peselancar pada hakikatnya memang mencari ombak untuk dikendarai, sehingga tindakan pengelolaan administratif yang dapat dilakukan berupa pemberian informasi mengenai kondisi gelombang dan ombak harian kepada peselancar serta materi pembentuk pantai dari kedua kawasan terutama di kawasan Pantai Labuhan Jukung yang memiliki karang dan pasir sebagai materi pembentuk pantainya. Pemberian informasi ini dapat diberikan oleh pengelola kegiatan selancar sebagai suatu bagian dari bentuk
fasilitas pelayanannya ataupun oleh investor/ penyewa kawasan dan pemerintah daerah sebagai bentuk usaha untuk meningkatkan kegiatan wisata terutama dalam wisata selancarnya.
Informasi tentang keadaan ombak ini merupakan hal yang mutlak harus diketahui oleh peselancar, bukan hanya untuk mendapatkan informasi apakah ombak yang ada memungkinkan untuk digunakan untuk kegiatan selancar, tetapi juga untuk mengetahui apakah bahaya ombak dari ombak yang terbentuk memiliki tingkat resiko yang sesuai dengan kemampuan mereka. Selain itu peselancar juga harus selalu diingatkan untuk tidak melakukan kegiatan selancar pada saat keadaan ombak melebihi tingkat kemampuannya.
Pemberian informasi mengenai keadaan materi pembentuk pantai ini dapat diberikan melalui bendera peringatan batas dari masing-masing jenis materi pembentuk pantainya (pasir atau karang). Peletakkan bendera peringatan dan penjelasannya harus mudah terlihat dan menarik perhatian serta mudah dipahami.
Bagi ombak harian, informasi dapat diberikan melalui situs yang dikelola oleh pemerintah setempat ataupun secara langsung oleh pengawas pantai yang ditempatkan di kedua kawasan pantai yang juga sekaligus dapat memberikan penjelasan mengenai penanda yang ada di masing-masing kawasan. Pengawas pantai juga dapat memberikan tindakan pertolongan pertama apabila terjadi suatu insiden tertentu terhadap peselancar. Pemerintah setempat juga disarankan untuk membuat instalasi kesehatan setingkat rumah sakit sehingga dapat memberikan tindakan lanjut terhadap insiden tertentu yang terjadi terhadap peselancar. Sejauh ini tindakan pengelolaan tertentu yang dilakukan oleh pengelola berkaitan dengan bahaya ombak dan materi pembentuk pantai hanya pendirian instalasi kesehatan berupa klinik kecil saja yang hanya mampu memberikan tindakan penanganan sementara terhadap insiden kecil yang terjadi sedangkan untuk insiden dengan tingkatan yang lebih tinggi masih diserahkan ke Rumah Sakit Umum Daerah Liwa yang membutuhkan sekitar dua jam perjalanan dari kawasan.