• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian arus lalu lintas secara umum adalah suatu keadaan yang

menggambarkan hilir mudiknya manusia/ barang dalam bentuk jarak, ruang

tertentu antara dua daerah atau lebih yang saling membutuhkan.

Dalam Menuju Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Yang Tertib (DIRJEN

Perhubungan Darat Tahun 2001) arus lalu lintas mempunyai 3 karakter yang

mempengaruhi dinamika arus lalu lintas jalan, yaitu:

a. Volume

Adalah jumlah kendaraan yang melalui satu titik yang tetap pada jalan

dalam satuan waktu. Volume biasanya dihitung dalam kendaraan/hari atau

kendaraan/jam. Volume dapat juga dinyatakan dalam periode waktu yang lain.

Perhitungan volume lalu lintas dapat menggunakan beberapa terminologi (Samsat

Kota Bandung Tahun 2000) antara lain:

1) Lalu Lintas Harian Rata-rata Tahunan (LHRT atau AADT) adalah volume lalu lintas total pada suatu jalan selama setahun dibagi dengan 365.

2) Volume Jam Perencanaan (VJP atau DHV) adalah volume lalu lintas per jam yang digunakan untuk mendesain jalan.

3) Lalu Lintas Harian Rata-rata (LHR atau ADT) adalah volume lalu lintas pada suatu jalan selama periode tertentu yang dianggap mewakili lalu lintas dalam setahun dibagi oleh jumlah hari pada periode tersebut.

4) Lalu Lintas Harian Rata-rata Bulanan adalah volume lalu lintas total selama bulan tertentu, dibagi dengan jumlah hari dalam bulan tersebut.

5) Volume Jam Maksimum Tahunan adalah volume per jam tertinggi dalam satu tahun (sedangkan volume jam tersibuk ke tiga puluh adalah volume jam tersibuk ketiga puluh dalam satu tahun).

b. Kecepatan

Kecepatan adalah perubahan jarak dibagi dengan waktu. Kecepatan dapat

diukur sebagai kecepatan titik, kecepatan perjalanan, kecepatan ruang, dan

36

berhenti, atau tidak dapat berjalan sesuai dengan kecepatan yang diinginkan

karena adanya sistem pengendali atau kemacetan lalu lintas (Samsat Kota

Bandung Tahun 2000).

c. Kepadatan

Kepadatan adalah rata-rata jumlah kendaran persatuan panjang jalan.

K = N/1

Dimana:

K = Kepadatan Lalu Lintas

N = Jumlah Kendaraan pada lintasn 1 (kend) L = Panjang Lintasan (Km)

Sumber: DIRJEN Perhubungan Darat Tahun 2001

Lalu lintas jalan raya pada umumnya terdiri dari berbagai jenis kendaraan,

seperti kendaraan cepat, kendaraan lambat, kendaraan berat, dan kendaraan tidak

bermotor. Setiap kendaraan mempunyai karakteristik pergerakan yang berbeda,

karena dimensi kecepatan, percepatan maupun kemampuan manuver

masing-masing tipe kendaraan berbeda, disamping juga pengaruh geometrik jalan. Oleh

karena itu menyamakan satuan dari masing-masing jenis kendaraan digunakan

suatu satuan yang bisa dipakai dalam perencanaan lalu lintas yang disebut SMP

(Satuan Mobil Penumpang) (POLANTAS Tahun 2000)

Dalam hubungannya dengan kapasitas jalan, pengaruh dari setiap jenis

kendaraan tersebut terhadap keseluruhan arus lalu lintas diperhitungkan dengan

membandingkan pengaruh dari Satuan Mobil Penumpang (SMP).

Besarnya SMP yang direkomendasikan oleh DIRJEN Perhubungan Darat

37

Tabel 2.5

Faktor Satuan Mobil Penumpang

No. Jenis Kendaraan Kelas SMP

Ruas Simpang 1 Sedan/ Jeep Oplet Microbus Pick Up LV 1.00 1.00 2 Bus Standard Truck Sedang Truck Berat HV 1.20 1.30 3 Sepeda Motor MC 0,25 1,40 4 Becak Sepeda Andong, dll. UM 0,80 1,10

Sumber: DIRJEN Perhubungan Darat Tahun 2001 Keterangan:

LV = Light Vehicle (Kendaraan ringan) HV = Heavy Vehicle (Kendaraan berat) MC = Motorcycle (Sejenis sepeda motor) UM = Unmotorised Vehicle (Tidak bermotor)

2. Kapasitas dan Tingkat Pelayanan

Di dalam pengendalian arus lalu lintas, salah satu aspek yang penting

adalah kapasitas jalan serta hubungannya dengan kecepatan dan kepadatan lalu

lintas. Kepadatan kendaraan yang melintas di jalan raya diukur dengan melihat

kapasitas jalan tersebut. Kapasitas jalan adalah volume kendaraan maksimum

yang dapat melewati jalan per satuan waktu dalam kondisi tertentu. Menurut

Soewardjoko w (1981: 24):

”Kapasitas jalan adalah kendaraan maksimum yang dapat lewat pada jalan tersebut dalam periode satu jam tanpa kepadatan lalu lintas yang dapat meyebabkan hambatan waktu, bahaya, atau mengurangi kebebasan pengendara menjalankan kendaraannya.”

Pengertian lain kapasitas jalan Menurut Clarkson H. Oglesby dan R Garry

38

”Kapasitas suatu ruas jalan dalam satu sistem jalan raya adalah jumlah kendaraan maksimum yang memiliki kemungkinan yang cukup untuk melewati ruas jalan tersebut (dalam satu maupun dua arah) dalam periode waktu tertentu dikondisi jalan dan lalu lintas yang umum.”

Menurut Abubakar dkk (Rekayasa Lalu Lintas Tahun 1999), besarnya

kapasitas jalan tergantung khususnya pada lebar jalan dan gangguan terhadap arus

lalu lintas yang melewati jalan tersebut. Kapasitas jalan dipengaruhi oleh beberapa

hal diantaranya:

a. Kondisi Ideal

Kondisi ideal dapat dinyatakan sebagai kondisi yang mana peningkatan

kondisi jalan lebih lanjut dan perubahan kondisi cuaca tidak akan menghasilkan

pertambahan nilai kapasitas (Abubakar dkk, 1999) .

b. Kondisi Jalan

Menurut Abubakar dkk (Rekayasa Lalu Lintas Tahun 1999) kondisi jalan

yang mempengaruhi kapasitas meliputi:

1) Tipe fasilitas atau kelas jalan.

2) Lingkungan sekitar (misalnya antar kota atau perkotaan). 3) Lebar lajur/jalan.

4) Lebar bahu jalan.

5) Kebebasan lateral (dari fasilitas pelengkap lalu lintas). 6) Kecepatan rencana.

7) Alinyemen horizontal atau vertical. 8) Kondisi permukaan jalan dan cuaca.

c. Kondisi Medan

Untuk mengukur kualitas pelayanan dari ruas jalan adalah dengan

menggunakan tingkat pelayanan, dimana kualitas ruas jalan tersebut merupakan

hubungan antara kecepatan, tingkat pelayanan, dan rasio volume terhadap

39

sebagai ukuran dari pengaruh yang membatasi akibat peningkatan volume. Setiap

arus jalan dapat digolongkan pada tingkat tertentu yaitu, antara A sampai F yang

mencerminkan kondisinya pada kebutuhan atau volume pelayanan tertentu

(DIRJEN Perhubungan Darat Tahun 2001) .

Tabel 2.6

Karakteristik Tingkat Pelayanan

Tingkat

Pelayanan Karakteristik-Karakteristik

Batas Lingkup V/C A

Kondisi arus bebas dengan kecepatan tinggi,

pengemudi dapat memilih kecepatan yang

diinginkan tanpa hambatan

0,00 – 0,20

B

Arus stabil, tetapi kecepatan operasi mulai dibatasi oleh kondisi lalu lintas, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan

0,20 – 0,44

C

Arus stabil, tetapi kecepatan dan gerak

dikendalikan, pengemudi dibatasi dalam memilih kecepatan

0,44 – 0,75

D Arus mendekati tidak stabil, kecepatan masih

dikendalikan V/C masih dapat ditolerir 0,75 – 0,84

E

Volume lalu lintas mendekati/ berada pada kapasitas, arus tidak stabil, kecepatan terkadang terhenti

0,85 – 1,00

F

Arus yang dipaksakan atau macet, kecepatan rendah, volume dibawah kapasitas, antrian panjang dan terjadi hambatan-hambatan yang besar

>1,00 Sumber: DIRJEN Perhubungan Darat Tahun 2001

Dokumen terkait