• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL

7.1 Analisis Kelayakan Finansial .1 Arus Biaya

7.1.2 Arus Penerimaan

Arus penerimaan berupa hasil produksi dari tanaman kayu manis yang dikalikan dengan harga jual dari kulit manis. Pada usaha perkebunan kayu manis tidak terdapat nilai sisa. Hal ini dikarenakan bangunan dan peralatan sebagai sarana produksi diasumsikan habis terpakai sampai pada umur ekonomis tanaman yaitu 16 tahun.

Tanaman kayu manis mulai dipanen pada umur sepuluh tahun. Pemanenan tersebut sekaligus merupakan proses penjarangan agar tanaman kulit manis yang tersisa memiliki kulit yang tebal sehingga dapat berproduksi dengan maksimal. Hasil produksi dijual langsung di kebun, dimana proses pemanenan dilakukan oleh pemborong setelah terdapat kesepakatan harga antara pemilik dan pemborong. Pemborong menetapkan harga kayu manis yang berumur sepuluh tahun Rp 50.000 per batang sedangkan umur kayu manis diatas 16 tahun berkisar antara Rp 81.400. Penerimaan rata-rata dari panen perdana tanaman kayu manis yaitu sebesar Rp 72.000.000. Pemanenan terakhir memberikan penerimaan kepada petani sebesar Rp 117.216.000 (Lampiran 14).

Pola penanaman kayu manis secara tumpang sari memberikan penerimaan tambahan kepada petani. Penerimaan yang berasal dari tanaman sela kopi berupa hasil penjualan biji kopi. Rata-rata penerimaan dari penjualan biji kopi yaitu

Rp 8.266.700 yang dipanen hanya pada tahun ke empat. Pemanenan yang dilakukan hanya pada tahun keempat dikarenakan setelah tahun keempat tanaman kopi yang berada di sekitar tanaman kayu manis dibongkar agar tanaman kayu manis memperoleh berproduksi lebih maksimal.

Arus penerimaan tanaman kakao berasal jumlah produksi kakao dikalikan dengan harga jual. Pada perkebunan tanaman kakao tidak terdapat nilai sisa yang dikarenakan bangunan dan peralatan yang habis terpakai sampai umur ekonomis tanaman.

Tanaman kakao mulai panen pada umur tiga tahun dan terus berproduksi sampai umur 25 tahun. Produksi yang terus meningkat setiap tahunnya memberi pengaruh yang positif terhadap pendapatan petani. Hasil panen setelah melalui pengeringan dijual kepada pedagang besar dengan harga kakao kering yang ditawarkan oleh pembeli sebesar Rp 8.000 per kg. Cara pembayaran hasil penjualan dilakukan secara tunai. Hasil penjualan kakao dapat dilihat pada tabel lampiran 16.

7.1.3 Kriteria Kelayakan Finansial

Perhitungan arus biaya dan manfaat dapat menentukan kelayakan finans ial dari usaha perkebunan yang dilakukan oleh petani. Pada metode penelitian telah diuraikan kriteria yang digunakan dalam analisis kelayakan secara finansial yaitu Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) dan Internal Rate of Return (IRR). Incremental Net Benafit digunakan untuk melihat besarnya manfaat yang diterima sebelum dan sesudah dilaksanakan proyek. Pada penelitian ini

sebelum proyek yaitu pada saat petani masih melaksanakan tanaman kayu manis dan setelah proyek yaitu pada saat prtani mengusahakan tanaman kakao.

Nilai NPV yang diperoleh dari usaha perkebunan kayu manis adalah Rp 23.186.800 . Hal ini berarti usaha perkebunan kayu manis selama 16 tahun akan memberikan keuntungan sebesar Rp 23.186.800 menurut nilai sekarang. Net B/C yang diperoleh nilai besar dari satu yaitu Rp 2,1, berarti bahwa setiap pengeluaran Rp 1 akan memberikan manfaat sebesar Rp 2,1. Nilai IRR yang diperoleh lebih besar dari tingkat suku bunga yang digunakan (11,47 %) yaitu sebesar 18 persen. Hal ini berarti bahwa kemampuan perkebunan untuk mengembalikan modal yang digunakan lebih besar dari pada tingkat suku bunga. Berdasarkan kriteria investasi tersebut maka dapat dinyatakan bahwa usaha perkebunan kulit manis layak dilaksanakan dan dapat memberikan keuntungan kepada petani.

Nilai NPV yang diperoleh pada tanaman perkebunan kakao sebesar Rp 108.665.366 yang berarti bahwa menurut nilai sekarang tanaman kakao dapat memberikan keuntungan Rp 108.665.366. Nilai Net B/C yang diperoleh lebih besar dari satu yaitu sebesar Rp 4,6 yang berarti bahwa setiap pengeluaran sebesar Rp 1 akan memberikan manfaat sebesar Rp 4,6. Nilai IRR yang dihasilkan yaitu sebesar 40 persen lebih besar dari tingkat suku bunga yang digunakan (11,47 %). Berdasarkan kriteria investasi tersebut maka dapat dinyatakan bahwa usaha perkebunan kakao layak untuk dilaksanakan.

Konversi tanaman dilakukan apabila tanaman pengganti dapat

memberikan keuntungan yang lebih besar dibandingkan tanaman sebelumnya. Berdasarkan kriteria investasi dalam analisis finansial tanaman perkebunan kayu manis dan tanaman perkebunan kakao, maka dapat dilihat bahwa tanaman kakao

memberikan keuntungan yang lebih besar dari pada tanaman kayu manis sehingga tanaman kakao layak untuk menggantikan tanaman kayu manis.

Tabel 16. Perbandingan Nilai Kriteria Investasi antara Kayu Manis dan Kakao dengan Luas Lahan Rata-rata 4 hektar

Kriteria Investasi Hasil Perhitungan Kayu Manis Kakao

Net Present Value (NPV)

Net Benefit Cost Ratio (Net B/C ratio) Internal Rate of Return

23.186.800 2,1 18 % 108.665.366 4,6 40 %

Tanaman kakao merupakan tanaman pengganti kayu manis sehingga manfaat yang diperoleh dari menanam kakao dapat dilihat dari Incremental Net Benafit (INB). Incremental Net Benefit merupakan salah satu dari empat unsur cashflow yang menggambarkan manfaat bersih tambahan dari adanya proyek baru. Nilai Incremental Net Benefit dari menanam kakao adalah sebesar Rp. 85.478.566 berarti bahwa jika petani melaksanakan konversi tana man kayu manis menjadi kakao maka kakao akan memberikan manfaat tambahan sebesar Rp. 85.478.566 selama umur proyek. Hal ini menunjukkan bahwa pengusahaan tanaman kaka dapat memerikan keuntungan bagi petani.

7.2 Analisis Sensitivitas

Adanya ketidakpastian terhadap arus manfaat dan biaya pada masa yang akan datang dapat mempengaruhi keberlangsungan pengusahaan perkebunan. Analisis sensitivitas digunakan untuk meneliti kembali pengaruh perubahan-perubahan atas perhitungan manfaat dan biaya terhadap hasil ana lisis kelayakan finansial dari pengusahaan tanaman kayu manis dan kakao.

Perubahan yang terjadi pada analisis sensitivitas konversi tanaman kayu manis menjadi kakao adalah penurunan hasil produksi (1) sebesar 37,50 persen, penurunan harga jual output (2) sebesar 41,67 persen, serta peningkatan harga pupuk dan obat-obatan sebagai input pertanian (3) sebesar 8,33 persen. Perubahan tersebut didasarkan pada fluktuasi yang pernah terjadi di lokasi penelitian. Penurunan tingkat hasil produksi disebabkan adanya kecederungan petani yang tidak melakukan perawatan terhadap tanaman mereka sehingga hama penyakit leluasa untuk menyerang tanaman penurunan tersebut antara 80 Kg sampai dengan 50 Kg. Tingkat harga output dipengaruhi oleh fluktuasi harga yang dijual oleh petani kepada pedagang pengumpul yang tergantung pada kualitas dari output itu sendiri penurunan harga output antara Rp 80.000 sampai dengan Rp 50.000. Kebijakan pemerintah terhadap kenaikan harga bahan bakar minyak secara tidak langsung mempengaruhi harga input pertanian utamanya pupuk dan obat-obatan. Kenaikan harga pupuk berkisar antara Rp 50.000 sampai dengan Rp 60.000.

Pada analisis sensitivitas perkebunan kakao digunakan komponen perubahan yang diasumsikan sama dengan tanaman kayu manis. Hal ini bertujuan untuk melihat tingkat kepekaan antara tanaman kayu manis dan kakao. Hasil analsis sensitivitas dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Analisis Sensitivitas Kelayakan Finansial Perkebunan Konversi Tanaman Kayu Manis menjadi Kakao

Komponen Perubahan

Tingkat perubahan

Kulit Manis Kakao NPV IRR % Net B/C NPV IRR % Net B/C (1) (2) (3) 37,50 41,67 8,33 6.335.679 4.461.858 17.997.196 14 13 17 1,2 1,1 1,6 55.812.551 45.599.901 108.090.954 27 28 38 2,8 3,1 4,4

Berdasarkan Tabel 18 dapat dilihat bahwa penurunan hasil produksi sebesar 37,50 menunjukkan kondisi layak. Hal ini dapat dilihat dari nilai NPV yang diperoleh positif, Net B/C lebih besar dari satu dan IRR lebih besar dari tingkat suku bunga. Apabila terjadi penurunan harga jual output sebesar 41,67 persen masih tetap menunjukan kriteria yang layak. Begitu pula halnya pada tanaman kakao apabila terjadi penurunan hasil produksi sebesar 37,50 persen dan harga jual output sebesar 41,67 persen masih menunjukkan kondisi yang layak.

Jika terjadi peningkatan terhadap harga pupuk sebesar 8,33 persen menghasilkan NPV positif, Net B/C besar daripada satu dan IRR lebih besar dari pada tingkat suku bunga. Kriteria tersebut menyatakan bahwa perkebunan kayu manis dan kakao layak untuk diusahakan.

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat dinyatakan bahwa pada tingkat perubahan yang sama tanaman kayu manis dan kakao menunjukkan kondisi kelayakan. Namun, nilai kriteria investasi pada perkebunan kakao jauh lebih besar dibandingkan dengan kayu manis. Nilai kriteria tersebut memperlihatkan bahwa kakao layak untuk menggantikan kayu manis.

Berdasarkan hasil analisis sensitivitas dapat diketahui tingkat kepekaan suatu proyek terhadap perubahan yang terjadi selama produksi, hal ini dapat dilihat dari elastisitas NPV yang diperoleh suatu proyek. Pada Tabel 19 dapat dilihat bahwa untuk tanaman kayu manis lebih peka terhadap peningkatan harga pupuk dan obat-obatan, setiap peningkatan harga pupuk sebesar 1 persen akan menyebabkan penurunan NPV sebesar 1,58 persen. Pada tanaman kakao lebih peka terhadap penurunan hasil produksi, setiap penurunan hasil produksi sebesar 1 persen akan menyebabkan penurunan NPV sebesar 1,13 persen.

Tabel 19. Perbandingan Nilai Elastisitas NPV Kayu Manis dan Kakao Perubahan (%) Nilai elastisitas NPV (%)

Kayu Manis Kakao

Penurunan hasil produksi 37,50 Penurunan harga output 41,67

Peningkatan harga pupuk dan obat-obatan 8,33

1,13 1,14 1,58 1,13 1,12 0,06 Tabel 19 menunjukkan bahwa tanaman kayu manis lebih peka terhadap perub ahan selama produksi dibandingkan dengan tanaman kakao. Hal ini dapat dilihat dari nilai elastisitas NPV kayu manis yang lebih besar dibandingkan tanaman kakao. Oleh sebab itu tanaman kakao layak untuk menggantikan tanaman kayu manis.

BAB VIII

Dokumen terkait