• Tidak ada hasil yang ditemukan

TEKNIK PEMBUATAN GITAR BONA PASOGIT SIPOHOLON

3.2 Asal Mula Pembuatan Gitar Bona Pasogit Sipoholon

Karal Hutagalung adalah tokoh yang pertama kali membuat gitar dengan cara handmade di daerah kecamatan Sipoholon kabupaten Tapanuli Utara. Lahir

41

pada tanggal 17 maret 1923 beliau adalah putra asli daerah setempat. Gitar ini mulai diproduksi sekitar tahun 1940-an. Karal Hutagalung semasa muda sudah bisa memainkan beberapa instrumen seperti gitar, biola, mandolin, dan organ engkol atau lebih sering disebut poti marende24. Awal mula beliau membuat gitar adalah setelah dia mencoba memperbaiki sendiri gitarnya yang rusak kala itu dan ternyata mampu diperbaiki. Beliau kemudian tertarik untuk membuat gitar yang baru dengan buatannya sendiri.

Kurangnya modal untuk membeli bahan baku, serta ketersediaan peralatan yang akan digunakan untuk proses pembuatannya menjadi kendala pada awalnya.

Namun akhirnya beliau memutuskan untuk menerima pesanan beberapa orang yang sudah mengetahui bahwa dia dapat membuat gitar dengan kualitas yang tak kalah dengan gitar lainnya buatan Eropa ataupun produk luar lainnya yang banyak digunakan oleh masyarakat.

Saat itu proses pembuatannya masih dilakukan di rumahnya sendiri. Dan dia mengerjakan sendiri pesanan gitar yang datang kepadanya. Dengan uang muka yang diterimanya beliau kemudian menggunakannya sebagai modal awal untuk membeli bahan baku berupa kayu dan beberapa bahan bahan lainnya. Sedangkan untuk peralatannya masih menggunakan peralatan yang sangat sederhana. Beliau saat itu menciptakan alat sejenis gergaji listrik guna membantu di dalam proses pengerjaannya. Dia juga banyak memodifikasi peralatan sejenis pisau yang ternyata bisa digunakan untuk sesuai dengan keperluannya dalam pembuatan yang

24 Berasal dari bahasa Batak Toba yang merupakan dua kata yang dipisah. Menurut pandangan Leo Joosten (2008:108,198) dalam Kamus Batak Toba Indonesia, Poti berarti peti yang berasal dari kayu yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang, Marende berarti menyanyi. Jadi jika diartikan secara bersamaan Poti Marende adalah peti kayu yang bernyanyi. Anggur (1977:42) mengartikan Poti Marende adalah orgel, piano. Diungkap kembali oleh Jakro dalam Website Kamus Batak Online yang menyatakan Poti Marende adalah harmonium, orgel, dan organ.

42

mungkin tak bisa dikerjakan dengan jenis pisau yang asli. Karena masih menggunakan peralatan yang seadanya saat itu beliau hanya bisa mengerjakan 2-3 gitar saja dalam seminggu.

Semula proses pengerjaannya dilakukan di rumah saja. Tetapi pada tahun 1954 berkat uang yang dikumpul dari usaha pembuatan tersebut tersebut akhirnya dapat membeli tanah yang letaknya di pinggir jalan raya Jalan Balige Lumban Baringin Kecamatan Sipoholon. Semenjak itu akhirnya dapat mempunyai lokasi sendiri untuk proses pengerjaannya, dan termasuk tempat yang strategis karena berada di jalan lintas menuju beberapa kota atau kabupaten yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Semenjak itu dia tidak lagi mengerjakannya sendiri. Untuk meringankan pekerjaannya ia dibantu oleh ketiga orang anaknya dan beberapa pekerja yang kebetulan juga masih saudara dekat dengannya. Beliau sendiri mempunyai 9 orang anak, 5 anak laki laki dan 4 anak perempuan.

Tak hanya membuat gitar, beliau juga mencoba membuat organ engkol yang masyarakat setempat lebih mengenalnya dengan sebutan poti marende. Merasa penasaran dengan instrumen sejenis harmonium25 yang dibuat oleh bangsa Eropa, dia tertarik untuk membuat sejenis harmonium tersebut dengan sebutan poti marende untuk digunakan nantinya di gereja sebagai pengiring nyanyian sewaktu ibadah berlangsung. Setelah dia berhasil membuatnya perrmintaan datang kepadanya awalnya berasal dari gereja yang akan menggunakannya dalam kegiatan ibadah setiap hari minggu ataupun acara keagamaan lainnya.

25 Merupakan salah satu dari jenis kelompok instrumen organ yang menggunakan lidah suara dan prinsip kerjanya sama dengan organ Amerika, harmonika, concertina, dan akordion diungkapkan oleh Murray Campbell and Clive Greated (1987:453) dalam bukunya Oxford The Musician’s Guide Acoustics. Harmonium adalah alat musik keyboard, suaranya berasal dari vibrasi atau getaran lidah tipis (reed) dari metal yang ditiup oleh angin atau udara secara terus menerus dari sepanjang pedal yang terdapat di bawahnya (Willi Apel, 1972:371).

43

Sekitar tahun 1970-an badan RMG (Rheinische Missionsgesellschaft) yaitu sebuah lembaga penyiaran injil dari Jerman pada saat sedang melakukan misi penginjilan di daerah sekitar Kabupaten Taapanuli Utara tertarik untuk melihat hasil karya beliau. Namun menurut mereka kala itu hasil buatannya belum bisa dikatakan bagus dari segi kualitas suara dibandingkan harmonium yang mereka gunakan di Eropa. Tetapi mereka akhirnya memberikan suatu keterangan dan pemahaman bagaimana agar kualitas suara poti marende tersebut bisa lebih baik lagi. Akhirnya beliau kemudian berusaha menyempurnakan hasil buatannya, dan saat lembaga RMG datang untuk kedua kalinya mereka sempat memberikan penghargaan berupa cenderamata kepada beliau karena sudah bisa membuat hampir sama dengan buatan Eropa yang juga dipakai di gereja-gereja di sana.

Sejalan dengan pembuatan gitar dan poti marende, semakin banyak instrumen yang dapat dibuat oleh bapak Karal Hutagalung seperti biola, mandolin, suling, kecapi, bass dan bahkan beliau juga mampu membuat senapan angin.

Peralatan peralatan yang digunakan juga sudah ada beberapa yang menggunakan bantuan mesin untuk meringankan di dalam proses pengerjaannya. Permintaan juga datang untuk membuat beberapa instrumen tersebut. Tetapi permintaan kebanyakan untuk gitar karena cukup banyak digemari oleh masyarakat dan juga kepada poti marende yang tentunya dipakai oleh gereja-gereja saat itu. Beliau juga bisa membuat gitar yang lebih spesifik yang tentunya menurut keinginan pembeli baik dari segi ukuran, bentuk, maupun tambahan ornamen ornamen yang akan dibuat pada gitar tersebut. Hal ini membuat nilai lebih pada perkembangan usaha beliau dan membuat permintaan gitar otomatis meningkat.

44

Perkembangan teknologi lama kelamaan mengakibatkan poti marende tergerus oleh instrumen keyboard yang semakin canggih. Pada akhirnya fungsi poti marende sudah digantikan oleh keyboard dalam ibadah keagamaan di gereja.

Itu mengakibatkan permintaan terhadap poti marende yang dibuat oleh beliau semakin menurun. Tetapi sesekali ada juga yang masih ingin dibuatkan karena menganggap buatan beliau masih bisa digunakan dalam ibadah keagamaan di gereja. Sekitar tahun 90-an poti marende akhirnya tidak diproduksi lagi oleh beliau.

Di tahun 2000 gitar ini sudah didaftarkan kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan mendapat nama dengan trademark (merk dagang) Gitar Bona Pasogit. Tetapi dari dulu hingga sampai saat ini masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan gitar Sipoholon karena memang mencerminkan wilayah daerah setempat dan juga menjadi salah satu kebanggaan kecamatan Sipoholon khususnya dan daerah kabupaten Tapanuli Utara.

Seiring berjalan waktu permintaan terhadap beberapa instrumen seperti biola, mandolin, kecapi dan beberapa instrumen lainnya semakin menurun dan hanya sesekali saja yang memesan. Di usia senjanya bapak Karal Hutagalung masih juga aktif untuk membuat gitar Bona Pasogit tersebut, meskipun sebenarnya usaha pembuatan tersebut sudah diwariskannya kepada ketiga anaknya. Di masa tua beliau juga diberikan penghargaan oleh pemerintah Indonesia sebagai veteran karena bisa menciptakan senapan angin yang juga digunakan oleh para tentara pada saat masa penjajahan. Akhirnya karena kondisi fisik yang semakin menurun di usia 82 tahun dia tak lagi ikut di dalam proses

45

pembuatan gitar tersebut. Pada tanggal 4 Desember 2009 beliau akhirnya menutup mata pada usia 86 tahun.

Sebenarnya dahulu hanya ada satu lokasi pembuatan gitar ini, yaitu lokasi yang pertama kali menjadi tempat pembuatan gitar tersebut yang saat itu dibeli oleh Karal Hutagalung. Tetapi saat ini ditemukan tiga lokasi pembuatan yang jaraknya sangat berdekatan satu sama lainnya. Usaha ini diwariskan beliau kepada ketiga anaknya yaitu Bapak Albert Hutagalung, Bapak Hotma Hutagalung, dan Bapak Ronny Hutagalung.

Bapak Albert Hutagalung sendiri akhirnya membangun sebuah gudang baru untuk lokasi pembuatan gitar yang tak jauh dari kediaman beliau. Sedangkan kedua adiknya menetap pada lokasi lama tersebut. Lokasi terakhir ditempati oleh Bapak Rosir Siregar yang dulunya adalah pekerja dan juga masih saudara dekat yang membantu usaha pembuatan gitar keluarga Hutagalung dalam proses pembuatan gitar dan beberapa instrumen yang saat itu masih dibuat oleh bapak Karal Hutagalung.

Beliau akhirnya membuat lokasi sendiri yang berdekatan juga dengan kedua lokasi pembuatan yang lain. Meskipun demikian, hasil dari gitar yang dibuat oleh ketiganya tentunya berbeda karena proses dan teknik pembuatannya tidak sama untuk menghasilkan gitar yang mempunyai kualitas yang bagus yang tentunya sesuai dengan keinginan konsumen. Bahkan menurut beliau harga gitar yang dibuatnya lebih mahal dari kedua tempat tersebut karena dia bisa menjamin kualitas gitar yang diproduksi sehingga harganya sedikit mahal.26

26 Wawancara dengan Bapak Albert Hutagalung.

46 3.2.1 Biografi Bapak Albert Hutagalung

Biografi yang akan dibahas disini hanya berupa biografi ringkas, artinya hanya memuat hal-hal umum mengenai kehidupan bapak Albert Hutagalung dimulai dari masa kecil hingga masa kehidupannya sekarang ini, termasuk pula pengalaman beliau sebagai pembuat instrumen gitar tersebut, dan pengalaman berkesenian lainnya. Biografi yang di bahas di sini sebagian besar adalah hasil wawancara dengan bapak Albert Hutagalung, dan juga wawancara dengan saudara-saudara beliau, sahabat-sahabat beliau, keluarga beliau, dan juga masyarakat setempat yang mengetahui tentang pembuatan gitar yang dilakukan oleh beliau.

Albert Hutagalung lahir di Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara, tepatnya di desa Hutauruk. Ia adalah anak dari Bapak Karal Hutagalung dan Ibu R. br. Parapat. Karal Hutagalung sendiri adalah orang yang pertama kali membuat dan merintis usaha pembuatan gitar Bona Pasogit tersebut. Albert Hutagalung adalah anak pertama dari Alm.Karal Hutagalung dan tentunya menjadi generasi pertama yang menjadi penerus usaha pembuatan gitar sampai pada saat sekarang ini. Karal Hutagalung sendiri mempunyai sembilan orang anak.

Dari kecil sampai beranjak dewasa Bapak Albert Hutagalung sudah terbiasa melihat bapak nya yaitu Karal Hutagalung membuat gitar dan beberapa instrumen buatan beliau lainnya diantaranya seperti poti marende, biola, hasapi, ataupun mandolin. Beliau juga dahulu nya berperan penting di dalam mengajarkan tentang bagaimana teknik dan proses pembuatan gitar tersebut kepada bapak Albert Hutagalung pertama kali dan kepada dua adiknya yang lain yang juga kebetulan

47

diajarkan. Sebelumnya dia dan adiknya hanya bekerja membantu dan tugas mereka mengerjakan bagian-bagian yang tidak terlalu rumit di dalam proses pembuatan gitar tersebut. Pada akhirnya Karal Hutagalung memberikan segala teknik teknik di dalam proses pembuatannya terutama kepada Bapak Albert Hutagalung. Lama kelamaan karena sudah terbiasa melihat dan juga berkat didikan sang ayah mereka sudah bisa membuat dan mengerjakan sendiri.

Semula proses pengerjaannya dilakukan di rumah mereka saja. Tetapi pada tahun 1954 berkat uang yang dikumpul dari usaha pembuatan beberapa instrumen tersebut akhirnya dapat membeli tanah yang letaknya di pinggir jalan raya Jalan Balige Lumban Baringin Kecamatan Sipoholon. Semenjak itu mereka mempunyai lokasi sendiri untuk proses pengerjaannya, dan termasuk tempat yang strategis karena berada di jalan lintas menuju beberapa kota atau kabupaten yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Bapak Albert Hutagalung beserta adiknya akhirnya ikut membantu usaha tersebut setelah mereka menamatkan sekolahnya masing-masing.

Beliau sendiri hanya menamatkan pendidikan sampai jenjang SMA (Sekolah Menengah Atas) saja. Sebelum ikut bersama ayahnya membantu di dalam proses pengerjaannya dia sempat bekerja sebagai supir angkutan umum.

Tetapi sekitar tahun 1964 dia berhenti dan ikut ayahnya beralih pekerjaan untuk membuat gitar tersebut. Banyak hal yang mereka alami di dalam menggeluti usaha ini. Kurangnya modal dan pendapatan yang menurun karena permintaan sedikit membuat usaha pembuatan yang mereka tekuni mengalami pasang surut setiap tahunnya. Terkadang mengalami peningkatan dan kadang mengalami penurunan juga. Ketersediaan bahan baku berupa kayu yang cukup langka juga

48

sempat beberapa kali menjadi masalah lainnya di dalam usaha yang mereka jalankan ini.

Sekitar tahun 1990-an usaha mereka bisa dibilang mengalami kestabilan dan semakin berkembang. Itu karena semakin banyaknya permintaan yang datang untuk membuat gitar tersebut. Gitar tersebut sudah ramai dibicarakan oleh banyak masyarakat yang tertarik untuk membelinya. Gaung bersambut permintaan pun semakin banyak. Bukan hanya dari daerah Sipoholon sendiri, tetapi banyak juga permintaan yang datang dari luar daerah Kecamatan Sipoholon, dari luar provinsi, bahkan beberapa kali permintaan datang dari mancanegara.

Pada tahun 2005 tepatnya pada usia 82 tahun Karal Hutagalung tidak lagi aktif dan ikut di dalam mengerjakan proses pembuatan gitar tersebut. Karena kondisi fisiknya yang menurun mengingat umur beliau yang sudah tua dia memutuskan untuk pensiun. Bapak Albert Hutagalung akhirnya meneruskan semenjak itu bersama adiknya tanpa sang ayah dan beberapa orang pekerja yang masih saudara dekat mereka juga. Bapak Karal Hutagalung sendiri akhirnya meninggal dunia pada tahun 2009 pada usia 86 tahun.

Bapak Albert Hutagalung menikah dengan R. br. Hutabarat dan dikaruniai 8 orang anak, 6 anak laki-laki dan 2 anak perempuan, dan sudah mempunyai beberapa cucu dari anak-anaknya tersebut. Dengan profesi yang digelutinya dalam usaha tersebut beliau dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai pada tingkat perguruan tinggi.

Menariknya meskipun dia mengetahui cara membuat gitar, tetapi beliau tidak terlalu mahir di dalam memainkannya. Justru dia mahir di dalam memainkan organ atau yang dulu masyarakat setempat kenal dengan sebutan poti marende.

49

Dia tertarik memainkannya semenjak remaja karena melihat poti marende yang dibuat oleh ayahnya sendiri dan semenjak saat itu belajar untuk memainkannya.

Beliau juga sempat menjadi pelayan di gereja nya sendiri dan beberapa kali di beberapa gereja lainnya untuk mengiringi ibadah setiap minggunya dan beberapa kegiatan keagamaannya lainnya. Meskipun begitu beliau hanya mengetahui sebatas lagu-lagu rohani yang dibawakan pada saat ibadah dan tidak terlalu mengetahui lagu lagu selain dari itu.

Sudah banyak acara-acara yang juga diikuti oleh bapak Albert Hutagalung karena pekerjaannya di dalam membuat produk gitar handmade dengan nama Bona Pasogit ini, baik dahulu bersama ayahnya ataupun semenjak dia menjadi penerus usaha sampai pada saat ini. Itu karena produk gitarnya sudah dikenal masyarakat luas. Beberapa event yang pernah diikuti antara lain PRSU (Pekan Raya Sumatera Utara), Lake Toba Ecotourism Summit, pameran di acara Medan Fair, The Season of Indonesian Cultural Heritage and Craft pada tahun 2007 di Jakarta, Jakarta Expo Tourism (Jakarta Fair), mengikuti pameran kesenian di Bandung, mengikuti festival seni di Dusseldoorf, Jerman yang dibawa langsung oleh pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara. Gitar Bona Pasogit ini juga sempat beberapa kali menembus pasar Amerika Serikat dan Belanda karena ada permintaan dari kedua negara tersebut. Para jemaat gereja yang berasal dari mancanegara seperti dari Jerman, Belanda, Inggris yang melakukan kegiatan keagamaan di sekitar wilayah Kabupaten Tapanuli Utara juga beberapa kali membeli produk gitar tersebut dan membawanya pulang ke negara nya masing-masing. Hal inilah yang membuat usaha pembuatan gitar ini tetap bertahan hingga saat ini.

50

Dokumen terkait