BAB III : KAJIAN ORGANOLOGIS ARBAB SIMALUNGUN
4.1 Asal Usul Arbab Simalungun
Asal-usul alat musik Arbab Simalungun, hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti, sebab tulisan-tulisan maupun penelitian-penelitian yang berhubungan dengan alat musik tersebut sangat jarang. Namun walaupun demikian, penulis berusaha untuk mencari tahu tentang sejarah keberadaan alat musik arbab secara lisan maupun tulisan.
4.1.1 Arbab Simalungun Menurut Cerita
Menurut cerita15
15
Wawancara dengan bapak S.A Lingga pada tanggal 29 Mei 2009
, terciptanya alat musik arbab adalah bahwa pada zaman dahulu kala, ada seorang ayah yang menginginkan kelahiran seorang anak laki-laki didalam kehidupan rumah tangganya. Sang ayah berpikiran apabila kelak istrinya tersebut melahirkan anak laki-laki, maka ayah tersebut akan membuat sebuah alat musik (namanya belum diketahui), untuk mengungkapkan kegembiraannya tersebut. Kemudian setelah anak laki-laki yang dinantikan tersebut lahir, maka dia segera melaksanakan keinginan yang telah dipendamnya tersebut. Sang ayah lalu mulai membuat alat musik tersebut. Dia mengambil tempurung kelapa, kemudian bagian atasnya ditutup dengan menggunakan kulit kucing, lalu diikat dengan rotan. Untuk
Saridin Tua Sinaga : Kajian Organologis Arbab Simalungun Buatan Bapak Arisden Purba Di Huta Maniksaribu Nagori Sait Buttu Saribu Kec. Pamatang Sidamanik Kab. Simalungun, 2009.
badannya dia membuatnya dari bambu, dan talinya dibuat dari benang hori16
Kedua cerita tersebut merupakan suatu cerita yang berkembang dalam masyarakat Simalungun pada waktu dulunya, dan diceritakan secara turun-temurun sejumlah dua buah. Kemudian karena dia melihat alat musik tersebut digesek, dia membuat penggeseknya dari bambu yang diikatkan dengan tali ariman. Kemudian dia mulai menggesek alat musik tersebut sehingga berbunyi. Adapun penamaan alat musik yang diciptakannya tersebut diinterpretasikannya berdasarkan suara tangisan yang keluar dari anak laki-laki tersebut. Ketika anak tersebut menangis, dia menginterpretasikan suara yang keluar tersebut dengan vokal “a”, sehingga alat musik tersebut dinamakan dengan “arbab”.
Kemudian ada juga cerita yang mengatakan bahwa arbab tersebut diciptakan oleh pembuatnya secara kebetulan pada waktu dulu. Ceritanya adalah bahwa ada seorang laki-laki yang sedang golek-golek (tidur-tiduran) dirumahnya. Kemudian dia bermimpi, mimpinya tersebut adalah dia membuat alat musik. Pada keesokan harinya laki-laki tersebut mulai melaksanakan mimpi tersebut. Dia pergi ke ladang untuk mencari sarib-sarib (tempurung kelapa). Kemudian dia menangkap ular sawah, dan mengambil kulitnya untuk ditempatkan pada tempurung kelapa tersebut. Setelah itu diikat dengan rotan. Untuk batangnya dia mengambil bambu yang lurus. Kemudian dibuat talinya dengan benang hori dan dipetik. Akan tetapi laki-laki tersebut tidak puas mendengar suara alat musik yang dipetik tersebut. Lalu dia membuat penggeseknya dari bambu dan ariman dan digeseknya. Setelah itu barulah dia merasa puas.
16
Saridin Tua Sinaga : Kajian Organologis Arbab Simalungun Buatan Bapak Arisden Purba Di Huta Maniksaribu Nagori Sait Buttu Saribu Kec. Pamatang Sidamanik Kab. Simalungun, 2009.
kepada generasi muda. Namun hal tersebut juga merupakan suatu tradisi17
Menurut penelitian bahwa semua penduduk yang ada di Nusantara kecuali penduduk bagian Timur Indonesia, berasal dari Hindia Belakang (India Selatan) yang berpindah secara bergelombang. Periode pertama disebut dengan “protomelayu” yang masuk sekitar tahun 1000 SM. Suku yang termasuk didalamnya adalah Batak (termasuk Simalungun), Toraja Dayak dan Nias
lisan yang diturunkan tentang bagaimana terciptanya alat musik arbab tersebut pada saat itu.
4.1.2 Perspektif Sejarah Arbab
18
17
Tradisi (Alat Musik Dawai, Irwansayah Harahap, 2004:100) adalah istilah yang diambil dalam bahasa Inggris “Tradition”, memiliki pengertian memegang teguh ajaran, kepercayaan, kebiasaan dan lainnnya, dari generasi ke generasi.
18
MD. Purba, Museum Simalungun 1978. Menjelaskan Nagur sebagai leluhur orang Simalungun masuk ke nusantara melalui gelombang protomelayu.
. Adapun suku protomelayu tersebut berpindah secara estafet. Awalnya kelompok tersebut menuju Siam (Thailand) dan tinggal selama beberapa puluh tahun. Kemudian datang suku Mongolia Utara menyerang kelompok tersebut. Banyak kaum pria yang dibunuh, sementara kaum wanita dikawini oleh suku Mongolia tersebut dan menghasilkan keturunan ras baru berkulit sawo matang. Setelah peristiwa tersebut, sebagian dari kelompok tersebut berpencar ke pulau-pulau sekitarnya termasuk Indonesia. Di Indonesia kelompok tersebut menuju pulau Sumatera dan Sulawesi. Kelompok yang pindah ke Sumatera mendarat di batu bahra (batubara) dan menyebar ke pelosok Sumatera Utara, termasuk leluhur Simalungun. Kemudian pada periode kedua sekitar tahun 500 SM, datang gelombang “deutromelayu”. Kelompok yang termasuk didalamnya adalah Jawa, Madura, Melayu dan Makassar. Kedatangan gelombang kedua tersebut
Saridin Tua Sinaga : Kajian Organologis Arbab Simalungun Buatan Bapak Arisden Purba Di Huta Maniksaribu Nagori Sait Buttu Saribu Kec. Pamatang Sidamanik Kab. Simalungun, 2009.
mendesak gelombang pertama, sehingga gelombang pertama terdesak dan berpindah-pindah ke daerah pegungungan di Nusantara19
Menurut bapak S.A Lingga, bahwa alat musik arbab tersebut bukan merupakan alat musik asli Simalungun. Alat musik arbab diperkirakan masuk ke Simalungun melalui pedagang-pedagang dari Timur Tengah (Arab, Persia) pada abad ke-10 ketika zaman Kerajaan Nagur
. Adapun leluhur masyarakat Simalungun mendirikan kampung di pantai batu bahra tersebut sekitar tahun 500 (sesudah masehi). Kemudian kampung tersebut berkembang menjadi sebuah kerajaan yang disebut Kerajaan Nagur.
20
. Di Jawa perkembangan instrumen sejenis yang dinamakan rebab Sunda, sangat baik dan dapat diterima oleh masyarakat. Masuknya instrumen rebab yang dibawa oleh para pedagang, pada dasarnya untuk menyebarkan agama Islam. Kemungkinan besar ketika para pedagang singgah di daerah Kerajaan Nagur, masyarakatnya tidak begitu tertarik dengan agama Islam yang dibawakan oleh pedagang tersebut, sebab masyarakatnya memegang teguh kepercayaan yang dibawa dari tempat asalnya yaitu agama Hindu. Akan tetapi masyarakatnya tertarik dengan suara yang dihasilkan oleh alat musik tersebut. Berbeda halnya dengan instrumen rebab sunda yang ada di Jawa. Bahwa instrumen tersebut dapat diterima dan dimasukkan kedalam gamelan salendro21
19
Dr. Sortaman Saragih, S.H, MARS dalam Orang Simalungun (2008 : 23-24)
20
Wawancara pada tanggal 29 Mei 2009
21
Lihat Skripsi Decy Christy, Departemen Etnomusikologi 2007:55
. Atas dasar tersebut penulis dapat mengambil suatu kesimpulan bahwa alat musik arbab yang berada di Simalungun dengan rebab yang berasal dari Sunda memiliki suatu hubungan yang saling berkaitan, secara tidak langsung. Sebab dapat dilihat bahwa kedua alat musik tersebut
Saridin Tua Sinaga : Kajian Organologis Arbab Simalungun Buatan Bapak Arisden Purba Di Huta Maniksaribu Nagori Sait Buttu Saribu Kec. Pamatang Sidamanik Kab. Simalungun, 2009.
berasal dari Timur Tengah dan bukan merupakan tradisi asli kedua masyarakat tersebut.
Hal tersebut dapat dihubungkan dengan tulisan Karl-Edmund 1991:7 yang menyatakan bahwa masuknya instrumen rebab ke Indonesia bersamaan dengan agama Islam dari Timur Tengah yang membawa alat musik dari Arab yaitu: rebana, gambus, dan rebab. Hal yang membedakan adalah bahwa ketika datang ke Kerajaan Nagur, agama Islam yang dibawakan oleh pedagang tersebut tidak diterima oleh masyarakat Kerajaan Nagur pada saat itu, sementara pada masyarakat Sunda agama Islam dapat diterima dan berkembang. Berkembangnya agama Islam turut membantu perkembangan dari rebab sunda. Sementara arbab simalungun kurang diketahui masyarakat umum karena sejak dulu lagu-lagu yang dimainkan berkaitan dengan kepercayaan masyarakat pada saat itu yaitu menyembah roh-roh.
Bapak S.A Lingga mengatakan bahwa dari dulunya resonator alat musik arbab tersebut sudah terbuat dari tempurung kelapa dan benangnya sudah terbuat dari benang katun. Hanya saja untuk penggeseknya pada zaman dulu ketika dibawa oleh para pedagang, dibuat dari ekor kuda. Setelah masuk dan menjadi alat musik Simalungun, beberapa bagian arbab tersebut mengalami perubahan yaitu resonatornya dibuat dari tatabu (labu pahit). Hal ini disebabkan karena pada saat itu untuk mendapatkan kelapa sangat susah, sehingga ketika resonator arbab tersebut rusak, masyarakat sulit menggantinya dengan kelapa, sehingga dipergunakan buah yang banyak tumbuh pada saat itu yaitu labu pahit. Buah ini memiliki kemiripan dengan kelapa sebab pada bagian dalammya memiliki rongga dan juga banyak terdapat di Simalungun pada saat itu. Demikian juga dengan penggeseknya.
Saridin Tua Sinaga : Kajian Organologis Arbab Simalungun Buatan Bapak Arisden Purba Di Huta Maniksaribu Nagori Sait Buttu Saribu Kec. Pamatang Sidamanik Kab. Simalungun, 2009.
Masyarakat Simalungun pada waktu itu tidak mengetahui cara untuk mengolah ekor kuda menjadi penggesek sehingga dipergunakan bahan yang banyak terdapat di daerah pegunungan yaitu serat ariman.
Pada saat ini, resonator dari arbab tersebut dikembalikan ke bahannya semula yaitu dari tempurung kelapa. Hal ini disebabkan oleh dua hal yaitu, tempurung kelapa pada saat ini mudah sekali untuk didapatkan karena dimana-mana sudah banyak terdapat pohon kelapa, sehingga mudah untuk mencarinya. Faktor yang kedua adalah penebangan hutan untuk membuka lahan pertanian, sehingga bahan untuk resonator yaitu labu pahit yang tumbuh didalam hutan semakin langka dan lama kelamaan hilang populasinya.