AJARAN, DAN AMALAN
B. Induk Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah: Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah
1. Asal-usul dan Perkembangan Tarekat Qadiriyah
Tarekat Qadiriyah dinisbatkan kepada tokoh sentral tarekat ini, yaitu ‘Abd al-Qa>dir, yang memiliki laqab takri>m muh}yi ad-di>n, dengan kunyah Abu> Muh}ammad, dan laqab al-Ji>la>ni>, sehingga secara lengkap namanya adalah Muh}yi ad-di>n Abu> Muh}ammad ‘Abd al-Qa>dir al-Ji>la>ni>, yang lebih dikenal dengan sebutan Syaikh ‘Abd al-Qa>dir al-Ji>la>ni>. Sebagaimana ditunjukkan oleh nama laqab-nya, al-Ji>la>ni>, „Abd al-Qadir lahir di Ji>la>n, “nama sebuah kawasan yang terletak di antara pegunungan atau dataran tinggi Tabaristan dan pantai Selatan laut Kaspia,” yang kini masuk sebagai salah satu provinsi di wilayah Republik Islam Iran (Ismail, dalam Faridy dkk [eds.], 2008, I:
54
23) pada tahun 470 H/1077 M, dan meninggal di Baghdad pada tahun 561 H/1166 M (Trimingham, 1971: 41; Jahja dalam Nasution (ed.), 1990 : 59), di usia 91 tahun (perhitungan hijriyah), atau 89 tahun (perhitungan masehi). Di usia 18 tahun (perhitungan hijriyah), ‘Abd al-Qa>dir meninggalkan Ji>la>n untuk menuntut ilmu. Di bidang tasawuf, dia pertama kali berguru kepada Abu> al-Khair Muh}ammad ibn Muslim ad-Dabbas (w. 525 H/1131 M). Selain itu, dia juga mendapat restu dari seorang sufi besar bernama Abu> Yu>suf al-Hamada>ni> (w. 535 H/1140 M). Pada tahun 528 H, atau di usianya yang ke-58, dibangunkan sebuah madrasah dan sebuah riba>t} di Baghdad (Trimingham, 1971: 42). Setiap pekan, dia mengajar tiga kali: dua kali di madrasah (Selasa sore dan Jumat pagi), dan satu kali di riba>t (Ahad pagi) (Jahja, dalam Nasution (ed.), 1990: 60-61).
Murid-murid ‘Abd al-Qa>dir bisa diklasifikasikan menjadi dua, yaitu,
pertama, mereka yang tidak hidup bersama sang syaikh, dan hanya datang
ketika ada forum pengajaran; dan kedua, mereka yang hidup di bawah bimbingan intelektual dan spiritual sang syaikh, dan hidup bersamanya (Ismail, dalam Faridy dkk [eds.], 2008, I: 23). Syaikh ‘Abd al-Qa>dir memimpin madrasah dan riba>t} ini selama empat-puluh tahun, yaitu sejak didirikan tahun 521 H sampai wafatnya tahun 561 H (Jahja, dalam Nasution (ed.), 1990: 63).
Madrasah dan riba>t} tersebut bertahan selama kurang-lebih 95 tahun setelah wafatnya sang syaikh, dan tetap di bawah pimpinan anak-anak Syaikh ‘Abd al-Qa>dir, yaitu „Abd al-Wahab (w. 593 H/1196 M) dan „Abd as-Salam (w. 611 H/1214 M), dan di bawah pimpinan keluarga Syaikh ‘Abd
55
al-Qa>dir, sampai hancurnya kota Baghdad tahun 656 H/1258 M, karena serangan bala-tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Serangan tentara Mongol ini juga sekaligus mengakibatkan kematian sebagian besar keluarga Syaikh ‘Abd al-Qa>dir (Jahja, dalam Nasution (ed.), 1990: 63).
Meskipun madrasah dan riba>t Syaikh ‘Abd al-Qa>dir telah hancur bersama hancurnya kota Baghdad, namun ajaran-ajaran sang syaikh tetap hidup di zawiyah-zawiyah, seperti dicatat oleh Ibn Bat}u>t}ah yang mengunjungi kota itu di abad ke-13, dan dari zawiyah-zawiyah inilah kemudian terbentuk komunitas yang disebut dengan tarekat Qadiriyah (Trimingham, 1971: 43, 97; Jahja, dalam Nasution (ed.), 1990: 63-64).
Kemudian tarekat Qadiriyah ini, sejak abad ke-12 dan ke-13 M, menyebar ke berbagai negara, seperti Yaman, Turki, Syiria, Mesir, India, dan Afrika. Hal ini berkat kerja keras anak-anak Syaikh ‘Abd al-Qa>dir dan murid-muridnya. Di antara anak-anaknya yang berperan besar terhadap penyebaran tarekat Qadiriyah ini adalah ‘Abd ar-Razza>q (w. 603 H) dan ‘Abd al-‘Azi>z (w. 602 H), yang menyebarkan ajaran ayahnya itu ke berbagai negeri, seperti Maroko, Mesir, Arabia, Turkistan, dan India. Sedangkan murid-muridnya yang menyebarkan tarekat Qadiriyah ke berbagai negeri Muslim lainnya adalah ‘Ali ibn al-H}adda>d di daerah Yaman, Taqiy ad-Di>n Muh}ammad al-Yunani di daerah Baalbek, Muh}ammad al-Bat}a’ihi juga di daerah Baalbek dan Syiria, dan Muh}ammad ibn as}-S}amad di Mesir (Trimingham, 1971: 43-44; Jahja, dalam Nasution (ed.), 1990: 66).
56
Tiga abad sesudah itu, atau mulai abad ke-16 dan 17, tarekat Qadiriyah semakin banyak menyebar di India, berkat ketokohan Muh}ammad Ghawsh (w. 1517 M), dan di Turki, berkat Isma> ‘i>l Ru>mi> (w. 1041 H/1631 M), yang diberi gelar “Pir S|a>ni>” (mursyid kedua), dan telah mendirikan 40 zawiyah. Di abad yang sama, yaitu pada tahun 1180 H/1669 M, riba>t} tarekat Qadiriyah berdiri di Mekah (Trimingham, 1971: 44; Jahja, dalam Nasution (ed.), 1990:67-8).
Selain karena kegigihan dan kerja keras dari anak-anak dan murid-murid Syaikh ‘Abd al-Qa>dir, faktor lain yang memudahkan penyebaran tarekat Qadiriyah adalah keleluasaan yang diberikan kepada orang yang telah mencapai level mursyid dalam tarekat ini untuk memodifikasi dan menggabungkan tarekat lain ke dalam tarekat ini. Sehingga, tarekat ini semakin mudah diterima di berbagai wilayah yang memiliki kecenderungan tarekat yang berbeda (Jahja, dalam Nasution (ed.), 1990: 66).
Trimingham mengidentifikasi setidaknya terdapat 29 tarekat yang merupakan perluasan, modifikasi, atau penggabungan dengan tarekat Qadiriyah: 7 tarekat di India (Banawa, Ghawtsiyah, Junaidiyah, Kamaliyah, Miyan Khei, dan Qumaishiyya); 6 tarekat di Turki (Hindiyah, Khulusyiyyah, Nawshahi, Rumiyyah, Nabulsiyyah, dan Wasylatiyyah); 6 tarekat di Yaman (Ahdaliyah, Asadiyah, Mushari‟iyyah, „Urabiyyah, Yafi‟iyyah, dan Zaila‟iyyah), 5 tarekat di Afrika Utara (Ammariyyah, Bakka‟iyyah, Bu „Aliyyah, Manzaliyyah, dan Jilala), 2 tarekat di Syiria (Daudiyyah dan Shamadiyyah), 2 tarekat di Mesir (Faridiyyah dan Qasimiyyah), dan 1 tarekat di Albaniya (Zinjiriyyah) (Trimingham, 1971:
57
Appendix D). Oleh karena itu, dalam rentang waktu kurang lebih sembilan abad sejak Syaikh ‘Abd al-Qa>dir al-Ji>la>ni, tarekat Qadiriyah telah menyebar dari pusatnya, Baghdad Iraq ke berbagai negara, seperti Yaman, Turki, Syiria, Mesir, India, Albania, dan Afrika Utara.
Selain ke-29 tarekat yang berafiliasi ke tarekat Qadiriyah di atas, terdapat juga tarekat yang merupakan penggabungan tarekat lain ke dalam tarekat ini, yaitu tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, yang didirikan oleh Ahmad Khatib Sambas di Mekkah pada abad ke-19 (atau dua abad setelah berdirinya riba>t} Qadiriyah di Mekkah), dan berkembang luas di Indonesia melalui para khalifah dan murid-muridnya. Sebelum masuk ke pemaparan tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) ini, akan dipaparkan terlebih dahulu induk lain tarekat ini, yaitu tarekat Naqsyabandiyah, sehingga gambaran tentang TQN menjadi lebih lengkap.