• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asal-Usul : Dari Tanah Lapang Menjadi Alun-alun

KOTA DALAM STRUKTUR RUANG KOTA TRADISIONAL

5.1. Asal-Usul : Dari Tanah Lapang Menjadi Alun-alun

Alun-alun menurut KRT. Puspodiningrat (1984:2) dengan

merujuk alun-alun (utara) kota Yogyakarta seperti dikutip Khairuddin (1995:53) berasal dari kata alun (gelombang). Gelombang yang mengayun-ayunkan hidup manusia di dalam samudra masyarakat. Gelombang ini digerakkan oleh angin (beringin) dari segala penjuru yang tumbuh di sekeliling alun-alun. Angin ini ibarat bermacam-macam aliran yang membawa pengaruh kepada manusia, misalnya ideologi, agama, ilmu pengetahuan, kepercayaan, dan sebagainya. Sedangkan beringin yang ada di tengah

alun-alun yang berjumlah dua buah menggambarkan

kesatuan antara mikrokosmos dan makrokosmos. Kesatuan ini dapat juga ditafsirkan sebagai usaha seseorang untuk mendekatkan diri dan ‘bersatu’ dengan Tuhan (jumbuhing kawula-Gusti) di tengah-tengah banyaknya godaan.

Kata alun-alun (halun-halun) mungkin diasosiasikan dengan suatu tempat yang memiliki sifat telaga dengan riak yang tenang. Sifat ini diperlukan oleh konsep kekuasaan Jawa sebagai integrator segala keragaman : peran, aspirasi, dan tradisi. Dengan kemampuan integrasi dan toleransi yang tinggi, kemungkinan besar konsep alun-alun ini mempresentasikan orang Jawa (Wiryomartono, 1995:46).

Istilah alun-alun sudah dikenal dalam kitab

Negarakretagama karya empu Prapanca, seorang pujangga

kerajaan Majapahit pada abad ke-XIV Masehi. Kitab

Negarakretagama terdiri dari 98 pupuh. Kata alun-alun

terdapat dalam pupuh 9 bait 2 (lihat Pigeaud, 1960, I:8) :

nahan tadinya mungwin watanan alunalun tan / pgat lot maganti, tanda mwan gusti wadwa haji muwah ikan amwan tuhan / rin (yawabap), mukyan mungwin wijil / pi kalih adika bhayankaryapintapu- (96a) pul / sok, lor nin dware dalm / ngwanya kidul ika para ksatriya mwan (bhujanga).

Slametmulyana (1979:278) memberikan penafsiran puja sastra tersebut :

begini keindahan lapangan watangan luas bagaikan tak terbatas

mentri, bangsawan, pembantu raja di Jawa, di deret paling muka

bhayangkari tingkat tinggi berjejal meyusul di deret yang kedua

101

di sebelah utara pintu istana, di selatan satria dan pujangga

Kutipan di atas adalah dalam konteks menggambarkan para pengawal keraton Majapahit. Dan jelas bahwa alun-alun yang digambarkan berupa lapangan luas bagaikan tak terbatas letaknya dekat dengan istana raja.

Slametmulyana dalam Pemugaran Persada Sejarah

Leluhur Majapahit (1983:213-215) dengan merujuk kitab Negarakretagama menggambarkan komposisi keraton

Majapahit sebagai berikut :

Keraton Majapahit menghadap ke arah barat, dikelilingi benteng dari batu merah lagi tinggi. Di muka benteng terdapat lapangan luas, dikelilingi parit berisi air. Di antara parit dan benteng terdapat jalan yang mengelilingi keraton. Pintu di sebelah barat bernama Pura Waktra yang artinya pintu muka. Dari pintu muka itu terdapat jalan lurus ke arah timur sampai benteng di sebelah timur, membelah alun-alun menjadi dua. Di sebelah utara ada lagi gapura dengan pintu besi penuh ukiran untuk masuk ke keraton. Dari pintu utara terbentang jalan ke arah selatan sampai benteng sebelah selatan. Jalan dari pintu utara bertemu dengan jalan dari pintu barat tepat di tengah-tengah kompleks

keraton. Pertemuan dua jalan itu disebut jalan prapatan. Masuk dari pintu utara mengikuti jalan ke arah selatan, di sebelah kanan jalan ialah alun-alun, di sebelah kiri jalan ialah bangunan-bangunan kenegaraan dalam kompleks keraton. Dari

prapatan ke arah timur, di kanan dan kiri

jalan ialah bangunan-bangunan tempat kediaman, ditanami pohon tanjung. Di tepi

alun-alun sepanjang benteng berjajar pohon brahmastana. Alun-alun bagian selatan

digunakan sebagai lapangan watangan. Kita perhatikan bangunan-bangunan apa yang didirikan di bagian timur. Masuk dari pintu utara ke arah selatan, di sebelah kiri jalan ialah panggung tinggi, lantainya terbuat dari marmer putih bersih mengkilat, menghadap ke alun-alun. Di sebelah selatan panggung ialah pekantoran dan perumahan yang memanjang ke arah timur. Tepat di sebelah selatan prapatan ialah balai agung tempat pertemuan pada permulaan bulan Caitra setiap tahun. Kemudian menyusul balai manguntur, sama dengan tratag rambat atau pendapa agung tempat para pembantu utama menghadap Sang Prabu. Balai manguntur juga biasa disebut balai paseban atau balairung. Di tengah-tengah balai manguntur terdapat rumah kecil dengan tahta tempat duduk

103

Sang Prabu. Rumah kecil itu disebut balai

witana. Di sebelah selatan balai manguntur

terdapat bangunan memanjang ke selatan ke arah pintu kedua, terbagi atas beberapa ruangan, masing-masing dengan pintunya sendiri. Tempat ini ialah ruang kerja Sang Panca Wilwatikta. Di situ banyak kedapatan perwira yang sedang dapat giliran berjaga. Masuk pintu kedua dari selatan, di sebelah kanan jalan ialah halaman istana. Di sebelah utara halaman ialah istana Sri Kertawardhana dan permaisurinya. Di sebelah selatan halaman ialah istana Raja Paguhan Singawardhana dan permaisurinya. Di sebelah timur halaman ialah istana Sang Prabu. Di pendapa yang bentuknya sangat bagus Sang Prabu menerima para tamu yang sudah menunggu di ruang tamu.

Keadaan di luar benteng. Di bagian timur ialah tempat tinggal Dharmadhyaksa Kasaiwan Hyang Brahmaraja dan para pendeta Siwa. Di bagian selatan ialah tempat tinggal Dharmadhyaksa Kasogatan dan para pendeta Budha. Di bagian barat ialah tempat tinggal para arya, mentri dan sanak-kadang rajadiraja. Di sebelah timur, terpisah oleh jalan ialah pesanggrahan Bhatara Wengker Sri Wijayarajasa dan

Permaisurinya. Di sebelah selatan pesanggrahan Bhatara Wengker ialah pesanggrahan Bhatara Matahun Sri Rajasawardhana dan permaisurinya Bhre Lasem. Di bagian utara terdapat pasar. Di belakang pasar itu ialah tempat pesanggrahan Bhatara Narapati. Di sebelah timur laut keraton ialah rumah kediaman Patih Amangkubhumi Gajah Mada.

Ibukota dan istana Majapahit yang semegah itu telah lama musnah. Di situs Trowulan, ibukota Majapahit, yang tinggal dan masih dikenal oleh penduduk setempat ialah toponim kedhaton, sedangkan toponim alun-alun sulit sekali ditemukan.

Berdasarkan gambaran di atas, orientasi keraton kerajaan Majapahit bersama alun-alun nya di bagian barat yang merupakan simbol kekuasaan berbeda dengan keadaan pusat-pusat kekuasaan di Jawa pada masa sesudahnya dimana poros Utara-Selatan menjadi sumbu absis yang kuat. Keberadaan prapatan di dalam kompleks keraton memperlihatkan bahwa pusat kota kerajaan Majapahit menempatkan kedua sumbu mata angin Utara-Selatan dan Barat-Timur tidak saling melemahkan. Struktur simpul kota Majapahit seperti digambarkan di atas mungkin serupa dengan Perempatan-Agung nya kota-kota di Bali dan kota-kota Cakranegara di Mataram, Nusa Tenggara Barat, dimana kedua sumbu mata angin mengorganisir tata ruang dan bangunan secara keseluruhan.

105

Gambar 37. Layout keraton Majapahit menurut Slametmuljana

Gambar 38. Layout keraton Majapahit menurut Stutterheim

107

Keterangan Layout keraton Majapahit menurut Stutterheim

1 = Kuta 2 = Purawaktra

3 = Lebuh Ageng = Bubat 4 = Brahmasthana 5 = Gopura

6 = Panggung 7 = Peken Agong 8 = Catusphata

9 = Lebuh (Pahoman Balasamuha) 10 = Wanguntur 11 = Witana 12 = Wecma Panangkilan 13 = Nggwan Caiwabodha 14 = Rijkstempelerf 15 = Pasewan I 16 = Hawan 17 = Tanjung 18 = Mandapa 19 = Pasewan II 20 = Wijil Ping Kalih 21 = Natar 22 = Grhanopama 23 = Witana 24 = Wijil Pisan 25 = Singhawarddhanan 26 = Krtawarddhanan 27 = Woonplaatsen Ciwaieten 28 = Woonplaatsen Buddhisten 29 = Woonplaatsen Mantri’s 30 = Pura van Wengker 31 = Dalem van Matahun

32 = Dalem (Kuwu) van Patih van Daha 33 = Dalem (Kuwu) van Patih van Majapahit 34 = Kadharmmadhyaksan Kacaiwan 35 = Kadharmmadhyaksan Kaboddhan

Gambar 39. Layout keraton Majapahit menurut Pigeaud

109

1 = Royal Compound, Majapahit 2 = Compound of Wengker – Kadiri 3 = Manor of Narapati, vizir of Kadiri 4 = Manor of Gajah Mada, vizir of Majapahit 5 = Manor of the Buddhist bishop

6 = Manor of the Shiwaite bishop 7 = sacred crossroads

8 = ring surrounded by trees 9 = redoubt

10 = market-place 11 = long assembly hall

12 = Main Gate of the Royal Compound 13 = common mandarins’ pavilions 14 = common ecclesiastic officers’ pavilions 15 = watch-tower

16 = pavilions with circular canal 17 = central hall of the main courtyard 18 = common Buddhist priests’ pavilions 19 = common Shiwaite priests’ pavilions 20 = Shiwaite shrines

21 = Wishnuite shrines

22 = chthonic spirits’ offering terrace 23 = Buddhist shrines

24 = Main Courtyard, Wanguntur

25 = terraced courtyard with Royal servants’ pavilions 26 = road leading West, with trees

27 = Second Gate of the Royal Compound 28 = Interior of the Royal Compound, Ceremonial

Courtyard, with trees

29 = Great Hall of the Ceremonial Courtyard 30 = four corner halls

31 = First Gate, entrance to the Private Courtyard 32 = Interior, Private Courtyard of the Royal Family 33 = House of the King’s Father, Kertawardhana, Prince

of Singasari

34 = House of King Hayam Wuruk of Majapahit 35 = House of the King’s sister and his brother-in-law

Singhawardhana, of Pajang-Paguhan

36 = courtyard with Wira (bhumi) servants’ pavilions 37 = courtyard with Paguhan servants’ pavilions 38 = houses of the Shiwaite clergy

39 = houses of the Buddhist clergy 40 = houses of the Royal kinsmen 41 = Royal Compound’s wall 42 = Great Field, Lebuh Agung, Yawi

Keterangan Layout keraton Majapahit menurut Pigeaud

Gambar 40. Layout keraton Majapahit menurut Maclaine Pont

111

Setelah era Majapahit berakhir, Sultan Agung adalah salah seorang raja Jawa yang tetap memelihara makna alun-alun. Dia sebagai penguasa kerajaan Mataram Islam telah memberikan tauladan bagaimana mengaktualisasikan konsep alun-alun yang mampu membina makna kota Jawa melalui pesta kerajaan, kepada para penguasa sesudahnya. Sekatenan atau upacara garebeg yang hingga sekarang menjadi agenda tetap tahunan keraton Yogyakarta adalah salah satu warisan Sultan Agung. Dalam sekatenan, tradisi-tradisi yang dimiliki Jawa dari kebudayaan Animisme, Hindu, dan Islam dapat berpadu dalam satu upacara sekaligus.

Alun-alun yang menjadi pusat kota-kota kerajaan

dan simbol kekuasaan di Jawa, dari zaman Majapahit hingga sekarang, sengaja dibentuk secara meruang oleh struktur atau bangunan sekitarnya sehingga membentuk suatu enclosure yang terencana - suatu ruang terbuka yang terbatas - yang tentu saja proses pembentukannya tidaklah sama antara satu kota dengan kota lainnya.

Berdasarkan penyelidikan sejarah dan penggalian arkeologi kota Trowulan (Majapahit) dan kota-kota kerajaan Mataram Islam seperti Kotagede, Karta, Plered, dan Kartasura diduga kuat bahwa kota-kota itu memiliki

alun-alun yang letaknya persis didepan keraton.

Perpaduan antara alun-alun dan keraton yang telah menciptakan keharmonisan fungsi dan saling ketergantungan antara keduanya, merupakan bukti adanya kesatuan rancangan sejak awal pembangunannya. Artinya, alun-alun diadakan karena ia dibutuhkan oleh keraton; ia menjadi satu dengan keraton. Sehingga

menjadi satu keharusan bahwa alun-alun berada di dalam benteng. Alun-alun dan keraton Yogyakarta dan Surakarta adalah sisa-sisa terakhir warisan kota Jawa yang masih dapat kita saksikan hingga sekarang.

Dilihat dari proses terbentuknya, mestinya kita dapat membedakan alun-alun menjadi dua yaitu alun-alun yang semula memang sudah merupakan suatu enclosure yang terencana dan alun-alun yang proses terbentuknya diawali dengan lapangan terbuka - ruang terbuka yang lepas - sebelum menjadi enclosure terencana. Untuk contoh yang pertama adalah termasuk alun-alun kota-kota yang telah disebutkan di atas : Trowulan, Kotagede, Karta, Plered, Kartasura, Surakarta, dan Yogyakarta. Alun-alun beberapa kota kabupaten dan karesidenan di Jawa yang dirancang oleh Kolonial Belanda juga termasuk dalam kelompok pertama. Sedangkan untuk contoh yang kedua bisa disebutkan di sini adalah alun-alun Semarang dan kemungkinan Demak.

Meskipun alun-alun kota Trowulan digambarkan oleh empu Prapanca sebagai lapangan luas yang seolah-olah tiada batas, toh ia berada di dalam benteng keraton; ia merupakan suatu enclosure. Disebutkan dalam kitab

Negarakretagama : …” di tepi alun-alun sepanjang benteng

berjajar pohon brahmastana …”. Benteng dan jajaran pohon brahmastana telah menjadi struktur pembentuk ruang terbuka yang terbatas - alun-alun.

Alun-alun (utara) kota Yogyakarta, hingga sekarang, masih berada di dalam benteng. Benteng keraton yang sekaligus merupakan benteng kota Yogyakarta kuno dibangun pada tahun 1782, dua puluh tujuh tahun setelah kerajaan Yogyakarta Hadiningrat

113

berdiri. Sebelum benteng tembok dibangun, berdasarkan gambar kuno, terlihat bahwa alun-alun (utara) kota Yogyakarta dipagari kayu tinggi di sekelilingnya. Jauh sebelumnya, Sultan Agung juga memagari alun-alun keratonnya dengan jejeran kayu1.

Berbeda dengan Yogyakarta, alun-alun kota Demak dan Semarang proses terbentuknya diawali dari sebuah tanah lapang. Kota Demak, meskipun di sebelah selatan

alun-alun terdapat toponim sitihinggil, tetapi berdasarkan

penelitian tidak ditemukan bukti-bukti kuat bahwa di situ pernah ada istana raja atau kesultanan Demak. Sebagaimana yang telah saya uraikan di bagian depan, bahwa Demak kemungkinan besar meniru tradisi kerajaan Yogyakarta Hadiningrat dalam memaknai alun-alun, seperti penyelenggaraan perayaan sekatenan atau

1 Gambaran mengenai alun-alun keraton Karta, istana Sultan

Agung, penguasa kerajaan Mataram Islam pada paruh pertama abad ke-XVII Masehi kita peroleh dari utusan Belanda Jan Vos dari kunjungannya pada tahun 1624. Ia menceritakan bagaimana ia pada hari Rabu, 9 September 1624 datang di lapangan yang sangat luas, yaitu alun-alun yang dikelilingi pagar kayu disusun dalam bentuk-bentuk wajik. Tempat ini sangat datar dan dirawat bersih sekali. Di kedua sisi terdapat suatu bangsal atau balai panjang yang sangat ramping dan terang, di sana orang duduk di tanah. Dan di dekatnya ditanam banyak pohon besar yang indah. Ini adalah pohon-pohon waringin yang dipangkas dalam bentuk payung. Dan dari tempat ini di sebelah kanan terdapat sebuah bangsal besar, tempat banyak kuda berpelana kepunyaan pembesar-pembesar yang ada di istana. Selanjutnya terdapat bangsal-bangsal di luar barisan pohon-pohon, tempat orang-orang terkemuka berkumpul bila mereka datang di istana (lihat Graaf, 1986:109).

garebeg; bukan sebaliknya sebagaimana diyakini banyak

kalangan. Kota Demak sebagai ibukota kerajaan Islam di Jawa telah musnah, kecuali bangunan masjid, oleh serangan barbar Arya Penangsang dari Jipang Panolan dalam rangka perebutan kekuasaan. Hingga sekarang sulit bagi kita merekonstruksi struktur ruang kota Demak kuno. Keadaan pusat kota Demak sekarang lebih merupakan produk Kolonial Belanda. Namun demikian, bukan berarti kota Demak kuno tidak memiliki alun-alun. Sebagai sebuah pusat kerajaan, hampir dapat dipastikan di depan keraton terdapat alun-alun. Hanya saja alun-alun kota Demak modern apakah merupakan kelanjutan

alun-alun kota Demak kuno. Hal ini perlu kajian lebih lanjut.

Apabila dilihat dari letak kabupaten yang agak jauh dari

alun-alun, bisa jadi dulunya alun-alun kota Demak berupa

tanah lapang yang luas dimana sisi utara menyentuh atau menjadi halaman depan kabupaten. Tetapi inipun sulit untuk dicarikan pembenaran sebab antara alun-alun dan kabupaten dipisahkan oleh kali (sungai kecil). Kesulitan selalu menyertai kita ketika akan merekonstruksi kota Demak kuno disebabkan oleh minimnya data tertulis dan peta tentang perkembangan kota Demak, terutama periode setelah runtuhnya dinasti kesultanan Demak hingga sebelum abad ke-XIX Masehi. Kajian yang banyak dilakukan oleh para ahli pada umumnya hanya terfokus pada arsitektur masjid Demak yang dianggap sebagai bangunan peninggalan Walisongo.

Beruntung kita masih bisa membayangkan keadaan kota Demak kuno, abad ke-XVI Masehi, berkat jasa Tome Pires, seorang Portugis, dan orang-orang Belanda. Di antara kota-kota pusat kerajaan dan

115

pelabuhan yang sudah mempunyai pagar tembok, menurut cerita orang-orang Belanda yang datang di Jawa pada tahun 1596, adalah Demak (yang lain Banten, Cirebon dan Tuban). Namun disayangkan bahwa pagar tembok keliling kota Demak hampir tidak dapat kita saksikan lagi. Merujuk kepada kota Trowulan dan kota-kota Mataram Islam, alun-alun kota-kota Demak kuno pastilah terletak di dalam pagar tembok.

Perkembangan alun-alun secara agak tuntas diperlihatkan oleh kota Semarang – muncul dari ruang terbuka yang lepas, dengan proses yang cukup lama terbentuklah alun-alun dan kemudian hilang. Disertai dengan data tertulis dan peta yang cukup memadai, kajian tentang kota Semarang kuno telah banyak dilakukan oleh para ahli, diantaranya oleh Amen Budiman dan Liem Thian Joe.

Alun-alun kota Semarang pada awalnya berupa

tanah lapang – ruang terbuka yang lepas; ia baru mulai terbentuk setelah Tumenggung Yudonegoro, bupati Semarang memindahkan bangunan kabupaten dari daerah Sekaju ke sebelah selatan ‘janin’ alun-alun, dimana sudah sejak lama di sebelah barat ruang terbuka itu terdapat perkampungan Kauman. Pada masa itu, bangunan masjid sebagai tempat peribadatan umat Islam tidak berada di perkampungan Kauman melainkan di daerah Pedamaran di dekat pasar Pedamaran, sebelah timur ‘janin’ alun-alun kota Semarang. Kemudian setelah bangunan masjid dipindah dari Pedamaran ke sebelah barat ‘janin’ alun-alun, di dekat perkampungan Kauman, saat itulah alun-alun kota Semarang terbentuk dengan

struktur pembentuknya yaitu di sebelah timur adalah pasar, di sebelah selatan kabupaten (kanjengan), dan di sebelah barat bangunan masjid. Sementara itu di sebelah utara masih berupa tanah lapang. Pasar Pedamaran kemudian mengalami perluasan hingga menjadi pasar Johar yang terkenal itu. Pada awalnya alun-alun bentuknya tidak persegi, sebab di sebelah utara memiliki bentuk miring. Bentuk persegi dihasilkan setelah beberapa bangunan berdiri di atas tanah lapang bagian utara.

Hal yang menarik adalah keberadaan masjid terhadap alun-alun. Apakah perpindahan masjid dari Pedamaran ke perkampungan kauman didasarkan kepada ‘kepakeman’ tata ruang kota Jawa ? atau lebih karena memberikan kedekatan – bersifat fungsional – kepada jama’ahnya yang mungkin sebagian besar adalah penduduk yang tinggal di perkampungan Kauman ? Apabila kita melihat secara cermat posisi perkampungan

Kauman, bangunan masjid dan bangunan kabupaten

terhadap alun-alun maka terlihat bahwa letak bangunan masjid lebih berorientasi ke perkampungan Kauman; ia tidak tepat di sebelah barat alun-alun tetapi lebih bergeser ke arah selatan, lebih dekat dengan perkampungan

Kauman (sebelah barat daya alun-alun). Jadi perpindahan

itu menurut saya lebih bersifat fungsional. Untuk alasan yang mengaitkan keduanya (masjid dan kabupaten) dengan tradisi tata ruang kota Jawa, dimana alun-alun menjadi pusat orientasi masih perlu penjelasan lebih lanjut. Patut menjadi bahan pertimbangan bahwa periode terbentuknya alun-alun kota Semarang hampir berbarengan dengan dibangunnya kota Yogyakarta kuno.

117

Jika keberadaan masjid dikaitkan dengan

alun-alun dalam hal penyediaan ruang ekstensi untuk aktivitas

sholat bila jama’ah tidak tertampung di dalam masjid, pada kenyataannya, seperti sekarang ini sholat Jum’ah yang dilaksanakan setiap minggu sekali dan banyak dihadiri jama’ah, hampir tidak ada yang mempergunakan

alun sebagai ruang ekstensi. Pada umumnya, alun-alun dipergunakan untuk sholat Idul Fitri dan Idul Adha

bagi sebagian umat Islam. Dikatakan hanya sebagian kaum muslim, sebab ada sebagian lagi yang beranggapan bahwa sholat Id di masjid lebih utama. Pada prakteknya, mereka yang sholat Id di alun-alun tidak mempergunakan masjid sebagai tempat sholat, dan bagi mereka yang sholat Id di masjid juga tidak mempergunakan alun-alun sebagai ruang ekstensi untuk sholat. Bahkan sekarang ini, ruas jalan raya pun bisa menjadi ruang untuk sholat Id. Saya semula menduga bahwa keberadaan alun-alun menjadi satu kesatuan dengan masjid dalam struktur ruang kota Jawa, tetapi kemudian terlalu sulit menempatkan keduanya dalam suatu keadaan yang saling membutuhkan. Mungkin hanya ada dua kota di Jawa sebagai pengecualian, yaitu Yogyakarta dan Surakarta kuno. Dalam tradisi garebeg, ketiga elemen kota : istana,

alun-alun, dan masjid menjadi ruang-ruang yang saling

kait mengait satu sama lain. Kesatuan tersebut tidak ada hubungannya dengan urusan sholat. Besar kemungkinan tradisi sekatenan atau garebeg di Demak usianya lebih muda dari penyelenggaraan kegiatan upacara garebeg di Yogyakarta maupun Surakarta yang menjadi pusat kebudayaan Jawa. Dan bila cermati cerita dalam Babad

Tanah Jawa berkaitan dengan keberadaan alun-alun kota Demak kuno dan bangunan masjid keramat Walisongo maka kita bisa menempatkan keduanya pada kedudukan yang tidak saling bergantung, tidak saling membutuhkan. Berdasarkan cerita Babad Tanah Jawa, dapat disimpulkan bahwa istana raja dan alun-alun nya lebih dahulu ada ketimbang masjid keramat itu.

Tahapan terakhir dalam perencanaan dan perancangan kota, setelah kota-kota Trowulan (Majapahit), Kotagede, Karta, Plered, Kartasura (Mataram Islam), Yogyakarta, dan Surakarta, yang menjadikan

alun-alun sebagai pusat orientasi kota dan memancarkan

simbol kekuasaan adalah kota-kota kabupaten di seluruh tanah Jawa pada zaman Kolonial Belanda. Salah satu dokumentasi penting mengenai struktur fisik kota kabupaten di Jawa sebelum Perang Pasifik adalah

Kromoblanda nya H.F. Tillema. Dengan dokumentasi itu

nampak suatu tata ruang pusat pemerintahan lokal dan kolonial yang terintegrasi melalui alun-alun. Pihak pemerintah Hindia Belanda telah menghadirkan kembali dan mempraktekkan konsep alun-alun dalam perencanaan dan perancangan kota. Kuat dugaan bahwa tata ruang kota Yogyakarta kuno menjadi rujukan pemerintah Kolonial dalam merencanakan dan merancang kota-kota kabupaten itu.

Pihak Belanda tahu dan sadar betul bahwa

alun-alun adalah simbol pusat kekuasaan raja-raja Jawa. Dan

raja adalah panutan rakyat; titah raja harus dan wajib dilaksanakan oleh seluruh rakyatnya. Sehingga ketika Belanda makin berkuasa di tanah Jawa, maka mereka memerintah tidak secara langsung melainkan melalui

119

seorang bupati yang biasanya dari kalangan ningrat. Di bawah gubernur jenderal ada residen, di bawahnya ada