BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Asal-Usul
1. Asal-Usul Nyai Rantamsari
Masyarakat Desa Wonotirto sampai saat ini masih melestarikan tradisi Nyekar
pundhen Nyai Rantamsari. Masyarakat mempercayai bahwa upacara tradisi Nyekar pundhen Nyai Rantamsari hari Selasa dan Jumat Kliwon merupakan suatu penghormatan terhadap seorang tokoh bernama Nyai Rantamsari. Nyai Rantamsari adalah seorang putri yang hidup pada masa zaman kerajaan Demak.
Awal mula Nyai Rantamsari adalah seorang putri saudagar yang mempunyai penyakit kebutaan pada matanya, pada suatu hari ayah sang putri berkelana mencari obat untuk putrinya tanpa disengaja bertemu dengan seorang pemuda yang benama Joko Teguh, Joko Teguh adalah seorang wali yang membuka daerah kedu dikenal dengan Ki Ageng Kedu Makukuhan (1471-1497), Joko Teguh bisa menyembuhkan sakit sang putri dan diperbolehkan meminta apa saja yang diinginkan Joko Teguh, Joko Teguh meminta kuda sembrani dan sang putri pun dijadikan istri oleh Joko Teguh.
Nyai Rantamsari bersama Ki Ageng Makukuhan yang juga murid Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga berkelana di daereh Kedu untuk menyebarkan agama Islam, selama penyebaran agama Islam Nyai Rantamsari tidak selalu bersama Ki Ageng Makukuhan, ketika dalam penyebaran agama Islam Nyai Rantamsari beristirahat di sebuah mata air yang bernama Tukji atau Tuk Ajining Diri, ditempat itu juga terdapat pohon beringin yang besar dan lebat daunnya, dari sinilah Nyai Rantamsari mbabat alas atau mbubak desa yang diyakini sampai saat ini dikenal dengan Dusun Kwadungan Desa Wonotirto, arti Kwadungan yang berarti kuwat dongane dan Wonotirto yang berarti hutan yang berlimpah air.
39
Gambar 2. Pundhen Nyai Rantamsari (Doc. Panggah)
Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Bapak Molyono (informan 1) selaku juru kunci pundhen Nyai Rantamsari. keterangan Bapak Molyono (informan 1) adalah sebagai berikut
“Nalikane Zaman mBiyen Zaman Demak ana Wali sing nyiarke agama Islam ing tlatah kedu lan sakindenge kene (1471-1497) yaiku Ki Ageng Kedu lan garwane yaiku Nyai Rantamsari sing dadi cikal bakale ing desa kene, kuwe ndhisik seka Zamane Sunan Kudus lan Sunan Kalijaga, mBah Nyai Rantamsari kuwe dumunung ing pundhen sing dadi petilasane tekan zaman saiki nalikane nyebarake agama Islam, mBah Nyai sing dadi cikal bakale desa. Nang pundhen ya ana jaran sing metu sungune k aro ana sewiwine.”
(CLW 01)
“Ketika zaman Demak ada wali yang menyiarkan agama Islam di daerah Kedu dan sekitar wilayah Kedu (1471-1497) yaitu Ki Ageng Kedu dan istrinya Nyai Rantamsari yang menjadi cikal bakal desa sini, itu dari zaman Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga, mBah Nyai Rantamsari itu bertempat tinggal di pundhen yang jadi petilasannya sampai sekarang ketika menyebarkan agama Islam, mBah Nyai Rantamsari yang jadi cikal bakal Desa. Di pundhen juga ada kuda yang mempunyai tanduk dan sayap. ” (CLW 01)
Hal tersebut juga diperkuat oleh informan (04), sebagai berikut:
“nek mBah Nyai Rantamsari kuwe ket zamane demak mas kawit tahun 1400an. mBah Nyai Rantamsari niki kan garwane Ki Ageng Kedu nalikane nyiarke agama menawi mboten salah, wonten ing desa niki nalikane taun 1471 ngantos 1497.” (CLW 04)
“kalau mBah Nyai Rantamsari itu dari zaman Demak mas, dari tahun 1400an.
mBah Nyai Rantamsari itu istri Ki Ageng Kedu kalau tidak salah, ada di desa ini ketika taun 1471 sampai 1497.” (CLW 04)
Dari pernyataan informan (01) dan (04) keberadaan Nyai Rantamsari dimulai dari zaman kerajaan Demak pada tahun 1475 M, yang berkaitan dengan adanya sunan Kudus yang menjadi guru dari Ki Ageng Kedu, yaitu suami dari mBah Nyai Rantamsari.
Masyarakat Wonotirto melaksanakan tradisi Nyekar pundhen sebagai cara agar terhindar dari musibah. Tradisi Nyekar pundhen yang dilakukan masyarakat Wonotirto setiap malam Selasa dan Jumat Kliwon sebagai penghormatan kepada Nyai Rantamsari serta ngintun donga atau nyekar pundhen hal ini merupakan sarana meminta keselamatan kepada Tuhan agar terhindar dari musibah, agar tanaman bisa dapat dipanen secara melimpah dan bagi masyarakat yang punya hajat atau keinginan dapat terkabulkan. Hal tersebut didukung oleh pernyataan informan (03). Pernyataan informan tersebut sebagai berikut :
“ya Nyekar nang pundhen kiye kanggo tameng supados warga Wonotirto kiye ora kenang musibah nalikane ana kala bebendu liwat. Ben wong Wonotirto tetep tentrem uripe. Ibarate ben tetep tentrem lah ora ana musibah, banjur panene akeh, ya dadi saling menghormati antar makhluk hidup nang dunia, tur ya bisa sapa sing nduwe pangarep-arep supaya bisa kejangka apa sing di suwunake.” (CLW 03)
“Ya Nyekar pundhen ini juga sebagai pelindung bagi Warga Wonotirto supaya tidak terkena musibah ketika ada masalah datang. Agar orang Wonotirto tetap tentram hidupnya. Ibaratnya biar tentram dan tidak ada musibah, kemudian biar panenya melimpah, ya dadi saling menghormati a ntar
41
sesama mahkluk hidup di dunia, dan ya siapa yang punya harapan agar bisa tercapai apa yang diinginkan ” (CLW 03)
Hal tersebut diperkuat oleh Informan (06), sebagai berikut:
“Nyekar nang pundhen kie kan nyuwun mas, nyuwun selamet banjur rejeki lan liya-liyane, nek gayutan karo tanduran kuwe ben tandurane subur lemu-lemu panenane apik dadi uripe ya tentrem lan seneng lan ewa semana bisa dadi ora kenang musibah utawine hal-hal sing ora dikarepake. Ya ben selamet mas.” (CLW 06)
“Nyekar pundhen itu kan meminta mas, meminta selamat kemudian rejeki dan lain- lainya, kalau hubunganya dengan tanaman biar tanamannya tumbuh subur bagus panennya jadi hidupnya tentram dan bahagia dan itu juga bisa jadi tidak kena musibah atau hal-hal yang tidak diinginkan. Intinya agar selamat.” (CLW 06)
Menurut penjelasan informan (03) dan (06) Nyekar pundhen adalah sarana untuk berdo‟a dan meminta kemakmuran, keselamatan kepada Tuhan agar terhindar dari musibah, Nyekar pundhen juga sebagai permohonan untuk ketentraman masyarakat Desa Wonotirto dalam kehidupan sehari- hari, serta sebagai rasa hormat menghormati antar sesama mahkluk hidup di dunia.
Adanya rasa hormat kepada sang leluhur memunculkan suatu kebijakan-kebijakan berupa sikap, ide atau gagasan untuk menghidupkan tradisi guna menjawab berbagai masalah yang terjadi pada masyarakat Wonotirto. Kebijakan-kebijakan berupa sikap, ide atau gagasan tersebut kemudian direalisasikan dalam bentuk upacara tradisi Nyekar pundhen sebagai wujud penghormatan warga Wonotirto kepada Nyai Rantamsari, meminta keselamatan dalam kehidupan sehari- hari, meminta hasil panen yang melimpah serta sebagai pelindung agar terhindar dari musibah yang dikarenakan owah gingsire zaman atau perubahan zaman.
2. Asal–Usul Nyekar pundhen di Pundhen Nyai Rantamsari
Tradisi Nyekar pundhen Nyai Rantamsari adalah tradisi yang dilaksanakan setiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon atau dua kali dalam sebulan berjarak 11 hari. Tradisi Nyekar pundhen merupakan tradisi yang yang rutin dilaksanakan untuk mengirimkan do‟a atau mendoakan orang yang telah meninggal dalam hal ini dikhususkan kepada Nyai Rantamsari. Mengirimkan do‟a kepada arwah orang yang telah meninggal merupakan kebudayaan masyarakat muslim. Mengirimkan do‟a memiliki tujuan untuk keselamatan arwah yang dido‟akan dari siksa kubur. Kematian bagi masyarakat Jawa merupakan saat-saat krisis seperti halnya dengan tingkatan-tingkatan kehidupan manusia yang lain (Sarjana dkk 2008 : 138). Masyarakat Jawa beranggapan bahwa orang yang telah meninggal belum terhindar dari bahaya selama perjalanan rohnya menuju ke ahkirat. Oleh karena itu agar roh itu selamat menuju ahkirat maka diadakan serentetan upacara selamatan o leh keluarga yang ditingggalkan.
Diantara upacara- upacara selamatan kematian yang dilakukan oleh masyarakat Jawa salah satunya adalah tradisi Nyekar pundhen malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Dalam pelaksanaanya tradisi tersebut tidak terlepas dari sesaji yang dipergunakan sebagai uba rampe dalam pelaksanaan Nyekar pundhen. sesaji tersebut antara lain kemenyan dan kembang wangi. Kembang wangi terdiri dari empat jenis antara lain: bunga mawar merah dan mawar putih, bunga kenanga, bunga kanthil serta daun pandan.
Asal–usul pelaksanaan tradisi Nyekar pundhen di Desa Wonotirto Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung berdasarkan peryataan informan telah dilaksanakan
43
sejak zaman nenek moyang dan berumur ratusan tahun. Pernyataan tersebut sesuai dengan pernyataan informan (01) yaitu Bpk. Molyono selaku juru kunci pundhen Nyai Rantamsari. berikut pernyataan informan (01).
“nek pestine kula mboten ngertos mas, kadosipun nggeh sampun atusan taun, saking zamane buyutipun kula nggeh sampun wonten wong Nyekar teng pundhen. Nalikane kula teksih bocah mawon buyutipun kula sampun nglampahi Nyekar teng pundhen.” (CLW 01)
“Kalau pastinya saya tidak tahu mas, sepertinya ya sudah ratusan taun, dari zamanya buyut saya ya sudah ada orang yang melaksanakan Nyekar pundhen.
ketika saya masih bocah saja buyut saya sudah melaksanakan Nyekar pundhen”. ( CLW 01)
Menurut pernyataan informan (01), beliau tidak mengetahui kapan pastinya tradisi Nyekar pundhen dimulai, informan (01) juga mengatakan tradisi Nyekar pundhen sudah dilaksanakan ratusan tahun yang lalu, sejak informan (01) masih kanak-kanak beliau sudah diajak oleh buyutnya untuk mengikuti tradisi Nyekar pundhen. keterangan tersebut diperkuat oleh pernyataan informan (02) yaitu mBah Suwarno selaku sesepuh Desa Wonotirto. Berikut pernyataan informan :
“ya nyong ora ngerti, kayane nalikane mBah Nyai Rantamsari seda warga Wonotirto kene banjur nganakake Nyekar pundhen. Wong cilikane nyong wes melu Nyekar pundhen, ya wis lawas banget.” (CLW 02)
“ya saya nggak tahu, sepertinya ketika mBah Nyai Rantamsari meninggal masyarakat Wonotirto langsung melaksanakan Nyekar pundhen. ketika saya kecil sudah ikut Nyekar pundhen, ya sudah lama sekali.” (CLW 02)
Berdasarkan pernyataan informan (02), informan tersebut tidak mengetahui mulai diadakannya tradisi Nyekar pundhen. Menurut informan tersebut saat Nyai Rantamsari meninggal warga Desa Wonotirto langsung mengadakan tradisi Nyekar pundhen. Informan juga mengatakan semenjak beliau kecil sudah ikut melaksanakan tradisi Nyekar pundhen. Pertnyataan informan (02) diperkuat oleh
informan (03) yang mengatakan bahwa tradisi Nyekar pundhen dilaksanakan setelah mBah Nyai Rantamsari meninggal. Berikut pernyataan informan (03)
“nek asal-usule ta aku ora patia paham. Tapi Nyekar nang Pundhen kuwe kayane kawit zaman Demak nalikane mBah Nyai Rantamsari seda, banjur warga Wonotirto nganakake tradisi ngirim donga, sprene esih dianakake dijenengi Nyekar”.(CLW 3)
“kalau asal-usulnya saya tidak begitu paham, Tapi Nyekar pundhen sepertinya dilaksanakan ketika zaman Demak ketika mBah Nyai Rantamsari meninggal, setelah itu rakyatnya warga Wonotirto mengadakan trasisi mengirim do‟a, sampai saat ini masih dilaksanakan dan diberi nama Nyekar” (CLW 3)
Berdasarkan informan (03) beliau tidak mengetahui secara pasti asal- usul tradisi ngintun do‟a. menurut informan tersebut Nyekar pundhen sudah dilaksanakan ketika zaman Demak disaat Nyai Rantamsari meninggal dunia, informan (03) juga menyatakan ketika Nyai Rantamsari meninggal rakyat Wonotirto mengadakan tradisi mengirimkan do‟a yang sampai saat ini masih dijalankan.
Upacara tradisi Nyekar pundhen dilaksakan pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Masyarakat melaksanakan upacara tradisi Nyekar pundhen di petilasan atau pundhen Tuk Ajining Dhiri pada hari tersebut karena mengikuti tradisi yang sudah dilaksanakan oleh nenek moyang. Begitu juga dalam tradisi masyarakat Jawa bahwa malam Selasa dan Jumat Kliwon merupakan hari yang sucu hari yang baik.
Hari tersebut dipilih karena menurut orang Jawa merupakan hari yang baik.
Hal tersebut sesuai dengan pernyataan informan (07) sebagai berikut
“menawi dintene niku dinten malem Selasa Kliwon kaliyan Jumat Kliwon, pendak selapan”.(CLW 07)
“kalau harinya itu hari malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon, setiap selapan (35) hari”. (CLW 07)
45
Pernyataan informan didukung juga oleh pernyataan dari informan (01)
“acara Nyekar nang pundhen menika dipunlampahaken setunggal wulan sepisan mas. Ya selapan dinaan, selapan dina kuwe sekitar 35 dina sepisan.
Dados setiap bulan menika wonten acara Nyekar nang pundhen wonten ing dinten malem Selasa lan Jumat Kliwon, dados setiap dinten niku warga menika ngawontenaken acara Nyekar”.(CLW 01)
“acara Nyekar pundhen dilaksanakan setiap bulan sekali mas, tepatnya selapanan hari. Selapan hari itu sekitar 35 hari sekali. Jadi setiap bulan itu ada acara Nyekar pundhen di hari malam Selasa dan malam Jumat Kliwon, jadi setiap hari itu warga melaksanakan acara Nyekar”. (CLW 01)
Berdasarkan pernyataan informan (07) dan (01) tradisi Nyekar pundhen dilaksanakan setiap hari Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Nyekar pundhen merupakan tradisi rutin yang dilakukan setiap bulan pada malam Selasa dan Jumat Kliwon, pemilihan malam Selasa dan Jumat Kliwon sebagai hari dilaksanakanya tradisi Nyekar pundhen merupakan hari yang baik menurut kepercayaan nenek moyang dan bagi masyarakat Jawa pada umumnya. Hal tersebut didukung pula oleh pernyataan informan (01). Pernyataan informan (01) sebagai berikut :
“nggih niku sampun kebiasaan saking sesepuh ingkang dangu nggeh saking nenek moyang, ananging dinten selasa lan jumat kliwon menika ugi dinten ingkang sae kangge Nyekar teng Pundhen. njeh dinten sae amargi selasanipun kliwon lan jum‟atipun jum‟at kliwon. Menawi saking kepercayaan kuna nggeh dinten menika dinten ingkang sae”.(CLW 1)
“Ya itu sudah menjadi kebiasaan dari orang tuwa dulu dan dari nenek moyang, tetapi hari Selasa dan Jumat Kliwon juga merupakan hari yang baik untuk Nyekar pundhen, hari baik karena selasanya kliwon dan jum‟atnya jum‟at kliwon. Kalau dari kepercayaan kuna ya hari Selasa dan Jumat Kliwon itu hari yang bagus.”(CLW 01)
Pernyataan informan didukung juga oleh pernyataan dari informan (05)
“nek kenang apa ta aku ora ngerti tapi miturute wong tuwa kuwe dina sing apik utawa dina apike pas kliwone. Mergane kawit zaman mbiyen ya mesti pendak kliwone mas.”(CLW 05)
“kalau kenapa dihari itu saya tidak tau, tapi menurut orang tua itu hari ya ng baik atau hari bagusnya tepat pada Selasa dan Jumat Kliwon, sebabnya dari zaman dulu itu pasti hari Selasa dan Jumat Kliwon kok mas.”(CLW 05) Berdasarkan pernyataan informan (07) dan (05) pelaksanaan Nyekar pundhen yang dilakukan pada malam Selasa dan Jumat Kliwon merupakan tradisi dari nenek moyang. Malam Selasa dan Jumat Kliwon merupakan hari yang baik untuk melaksanakan Nyekar pundhen, informan (01) menjelaskan malam Selasa dan Jumat Kliwon merupakan hari baik dikarenakan keesokan harinya merupakan hari kliwon. Penentuan malam Selasa dan Jumat Kliwon juga didasarkan pada kepercayaan masyarakat Wonotirto terdahulu yang masih dipertahankan sampai dengan saat ini.
Pelaksanaan tradisi Nyekar pundhen yang sampai saat ini masih dilakukan merupakan pengaruh dari kebudayaan Islam yang berkembang di Jawa khususnya Wonotirto. Pengaruh Islam memiliki andil yang kuat dalam pelaksanaan Nyekar pundhen. Hal ini diperkuat oleh penyataan informan (02) yaitu Bapak Suwarno, penyataan Bapak Suwarno sebagai berikut :
“nek asal-usule Nyekar nang Pundhen kuwe ya seka kebudayaan Islam Jawa, Nyekar nang Pundhen kuwe kan pada wae jiaroh kubur ning digawe rutin.
Wong Islam kuwe ana budaya ndongakaken wong sing seda utawine wis mati.
Lumrahe nek sing biasa ya ana tradisi 7 dina 40 dina banjur 100 dina lan nyewu dina. Nanging ana juga sing Nyekar nang Pundhen utawi jiaroh kubur.
La nek Nyekar nag Pundhen kan berasal dari kata ngintun nek artine miturut jawa kuwe ngirim dadi Nyekar nang Pundhen kuwe ngirim donga. sejarahe ya seka budaya Islam sing ana nang Jawa kene.” (CLW 02)
47
“Kalau asal-usul Nyekar pundhen itu dari kebuadayaan Islam Jawa, Nyekar pundhen itu sama saja seperti ziarah kubur tetapi dibuat rutin. Orang Islam memiliki tradisi mendoakan orang yang telah meninggal. Lumrahnya yang biasa dilakukan ada tradisi 7 hari, 40 hari, 100 hari dan seribu hari. Tetapi ada juga yang Nyekar pundhen atau ziarah kubur. Nyekar pundhen berasal dari kata ngintun yang artinya menurut Jawa mengirim, jadi mengirim do‟a sejarahnya ya dari kebudayaan Islam yang ada di Jawa.” (CLW 02)
Berdasarkan penjelasan dari informan (02) Bapak Suwarno, bahwa Nyekar pundhen merupakan kebudayaan yang berkembang di Pulau Jawa. Islam memiliki budaya untuk mendoakan orang yang telah meninggal. Budaya yang w ajar dilakukan adalah mendoakan orang yang telah meninggal antara lain : 7 hari, 40 hari, 100 hari, dan seribu hari. Budaya Islam Jawa juga mengajarkan tradisi ziarah Kubur. Nyekar pundhen berarti mengirimkan do‟a. sejarah Nyekar pundhen berkaitan dengan kebudayaan Islam yang berkembang di Jawa. Dalam perkembanganya Nyekar pundhen digunakan sebagai perantara untuk berdoa kepada Tuhan YME dan meminta keselamatan, jabatan, rejeki, dan lain sebagainya dengan tujuan utama untuk mengirimkan do‟a kepada arwah N yai Rantamsari agar mendapatkan keselamatan di akhirat. Hal tersebut diperkuat ole h penyataan dari informan (03) Ibu. Nggoprek dan informan (01) Bpk. Molyono pernyataan informan tersebut sebagai berikut:
“macem-macem mas sing pertama ya ndongakaken mBah Nyai Rantamsari.
njur njaluk keslametan, njaluk rejeki, ya intine awake dewe njaluk maring sing Kuasa lantaran Nyekar nang Pundhen.”(CLW 03)
“macam-macam mas. Yang pertama ya mendoakan mBah Nyai Rantamsari, terus meminta keselamatan, meminta rejeki, ya intinya kita meminta kepada yang kuasa dengan pengantar Nyekar pundhen “(CLW 03)
Pernyataan informan didukung juga oleh pernyataan dari informan (01)
“ancasipun upacara Nyekar teng Pundhen menika njeh panyuwun dumateng Gusti Allah. Nyuwun slamet, nyuwun rejeki, jabatan menapa mawon kangge
lantaran Nyekar teng Pundhen menika. kangge ngirim donga dumateng tiyang sepuh, leluhur (mBah Nyai Rantamsari) ingkang sampun seda supados arwahipun saged dipun tampi dening Gusti Allah SWT. Ugi kangge penget sedaya jasanipun mBah Nyai Rantamsari.” (CLW 01)
“tujuan upacara Nyekar pundhen itu untuk meminta kepada Gusti Allah.
meminta keselamatan, meminta rejeki, meminta jabatan. Dan meminta apapun dengan pengantar Nyekar pundhen. untuk mengirim do‟a kepada orang tua, leluhur (mBah Nyai Rantamsari) yang sudah meninggal agar arwahnya bisa diterima oleh Gusti Allah SWT, juga sebagai pengingat jasa dari mBah Nyai Rantamsari.” (CLW 01)
Menurut pernyataan informan (03) dan (01) tujuan Nyekar pundhen adalah untuk meminta kepada Tuhan YME berupa keselamatan, rejeki, jabatan, dan mengirim doa kepada Nyai Rantamsari karena warga percaya dengan berdo‟a yang dilantarkan oleh orang yang sudah dekat dengan Tuhan YME maka do‟a akan lebih didengar.
3. Tradisi Selametan Nyadran dan Kesenian Sandhul dalam Bulan Rejeb Bagi orang Jawa cita-cita luhur yang harus diraih selama mengarungi kehidupan adalah memperoleh keselamatan di dunia maupun di akhirat. cita-cita itu sifatnya mutlak dan melekat hampir disetiap hati nurani orang Jawa. Makanya, demi mencapai cita-cita tersebut selama menjalani laku kehidupan di dunia, orang Jawa selalu berusaha menciptakan suasana selaras dan harmoni sehingga tercipta kehidupan yang tenteram dan terasa ayem tentrem.
Salah satu wujud konkrit dari keselarasan dan harmoni yang selalu dilakukan orang Jawa adalah dengan berterima kasih kepada yang memberi dan berbagi kepada yang membutuhkan.
49
Warga Desa Wonotirto memiliki tradisi selamatan desa. Tradisi selamatan ini yaitu nyadran desa (nyadran berasal dari kata sraddha yang berarti selamatan di bulan Ruwah) dan kesenian Sandhul yang dilakukan setiap bulan Rejeb yang berkaitan dengan tradisi Nyekar pundhen yang rutin diadakan setiap bulan Rejeb yang termasuk sebagai selamatan desa. Tetapi tradisi nyadran yang dilakukan warga di Desa Wonotirto pada bulan Rejeb sudah menjadi tradisi turun temurun yang dilakukan warga yang sekaligus menjadi panyuwunan dari Nyai Rantamsari yang dilaksanakan setiap hari Jumat jam tujuh pagi, jatuhnya hari pelaksanaan pada hari Jumat juga dilihat dari umur lurah atau Kepala Desa, jika lurah berumur muda maka jatuh pada Jumat legi, tetapi jika lurah berumur tua maka jatuh pada Jumat wage. Penentuan hari pasaran pada nyadran desa ini tentunya sudah ketentuan dari Nyai Rantamsari.
Gambar 3. Nyadran di halaman Pundhen Nyai Rantamsari. (Doc. Panggah) Tradisi kesenian Sandhul dilaksanakan pada bulan Rejeb pelaksanaannya setelah sholat Jum‟at, pelaksanaan Sandhul berlangsung sampai malam hari.
Sandhul menceritakan tentang perputaran zaman, babad-babad, yang sarat akan
tuntunan hidup dan nilai-nilai luhur. Sandhul merupakan kesenian peninggalan leluhur, pelaksanaannya juga berlangsung secara sakral.
Masyarakat di desa ini menggunakan kesenian sandhul sebagai sarana untuk menyampaikan pesan religi atau keagamaan. Selain menyampaikan hal- hal yang baik, kesenian Sandhul juga menyampaikan adegan-adegan yang dilarang dalam agama, misalnya main perempuan, berjudi dan mengadu ayam. Pementasan kesenian Sandhul terdiri dari empat babak yaitu badhut ngarep, badhut tengah, badhut sunthi, Ki Haji Sandhul, ditengah-tengah panggung terdapat sebuah oncor/senthir dengan kayu sebagai penyangga dan sebagai titik pusat pementasan atau pusat perhatian. Pelaksanaan kesenian Sandhul dilaksanakan di perempatan desa. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Informan (01) Bpk. Mulyono sebagai berikut :
“nek nyadran karo sandhul kue wis ana ket zaman biyen, aku wae ora ngerti kapan wiwite kuwi wis dadi adate desa kene saben sasi Rejeb merga wis dadi panyuwunane sing dadi leluhur ing desa kene, nek ora dianakake isa gawe bebaya nang desa, Nyadran didongani karo pak Kaum ewa semana ya kudu nganggo itungan nek lurahe enom kue pas legi njuk nek lurahe tuwa pas wage ne” (CLW 01)
“Kalau Nyadran dan Sandhul itu sudah ada sejak zaman dulu, saya saja tidak
“Kalau Nyadran dan Sandhul itu sudah ada sejak zaman dulu, saya saja tidak