BAB II TINJAUAN TEORETIS........................................................... 14-40
D. Tinjauan Umum tentang Perkara Perdata
3. Asas-Asas Hukum Acara Perdata
1) Hakim Bersifat Menunggu
Asas dari hukum acara perdata pada umumnya, ialah bahwa pelaksanaannya, yaitu inisiatif untuk mengajukan tuntutan hak diserahkan
42Soepomo, Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri, h. 11.
43Abdulkadir Muhamad, Hukum Acara Perdata Indonesia, h. 9.
44Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Perdata Di Indonesia, h. 9.
45Abdulkadir Muhamad, Hukum Acara Perdata Indonesia, h. 10.
33
sepenuhnya kepada yang berkepentingan. Jadi, apakah akan ada p ro ses a tau tidak, sepenuhnya diserahkan kepada pihak yang berkepentingan.46
Tuntutan hak yang mengajukan adalah pihak yang berkepentingan, sedangkan Hakim bersifat menunggu datangnya tuntutan hak diajukan kepadanya (index ne procedat ex officio), sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 118 HIR dan 142 Rbg. Hanya saja yang menyelenggarakan proses adalah negara. Akan tetapi sekali perkara diajukan kepadanya, Hakim tidak boleh menolak untuk me meriksa dan mengadilinya, sekalipun dengan dalih bahwa hukum tidak atau kurang jelas, hal ini sesuai sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 10 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009.47
Secara umum, untuk gugatan perdata, pengajuan gugatan did asark an pada asas Actor Sequitur Forum Rei. Asas tersebut diatur dalam Pasal 118 ayat (1) Herzien Inlandsch Reglement (“HIR”) yang menentukan bahwa yang berwenang mengadili suatu perkara adalah Pengadilan tempat tinggal tergugat.
Namun, penerapan asas tersebut tidaklah mutlak, lebih jauh diuraik an oleh M. Yahya Harahap dalam bukunya, Hukum Acara Perdata , setid ak nya ada 7 patokan dalam menentukan kewenangan relatif pengadilan berdasarkan Pasal 118 HIR/Pasal 142 RBg, yakni:
1. Actor Sequitur Forum Rei (gugatan diajukan ke Pengadilan pada tempat tinggal tergugat);
2. Actor Sequitur Forum Rei dengan Hak Opsi (dalam hal ada beberapa orang tergugat, gugatan diajukan ke Pengadilan Negeri pada tempat tinggal salah satu tergugat atas pilihan penggugat);
3. Actor Sequitur Forum Rei Tanpa Hak Opsi, tetapi berdasarkan tempat tinggal debitur principal (dalam hal para tergugat salah satunya merupakan debitur pokok/debitur principal, sedangkan yang selebihnya berkedudukan sebagai penjamin, maka gugatan diajukan ke Pengadilan pada tempat tinggal debitur pokok/principal);
4. Pengadilan Negeri di Daerah Hukum Tempat Tinggal Penggugat (dalam hal tempat tinggal atau kediaman tergugat tidak diketahui);
46Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Perdata Di Indonesia, h. 10.
47Abdulkadir Muhamad, Hukum Acara Perdata Indonesia, h. 10.
34
5. Forum Rei Sitae (Gugatan diajukan ke Pengadilan Negeri berdasarkan patokan tempat terletak benda tidak bergerak yang menjadi objek sengketa);
6. Kompetensi Relatif Berdasarkan Pemilihan Domisili (para pihak dalam perjanjian dapat menyepakati domisili pilihan yakni menyepakati untuk memilih Pengadilan Negeri tertentu yang ak an berwenang menyelesaikan sengketa yang timbul dari perjanjian);
7. Negara atau Pemerintah dapat Digugat pada Setiap PN (d a la m h al Pemerintah Indonesia bertindak sebagai penggugat atau tergugat mewakili negara, gugatan dapat diajukan ke Pengadilan Negeri di mana departemen yang bersangkutan berada).48
Mengutip pendapat salah seorang Hakim pada Pengadilan Negeri Maros, Sujatmiko, sebenarnya tak ada keharusan untuk mendaftarkan gugatan yang tergugatnya di luar negeri ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
Namun, untuk tergugat yang berada di luar negeri, menurut Sujatmiko, berlaku Pasal 118 ayat (3) HIR yang menentukan gugatan diajukan pada Pengadilan Negeri tempat tinggal penggugat (sebagaimana disebut dalam poin 4 di atas). Dan selanjutnya Ketua PN menyampaikan gugatan tersebut melalui Direktorat Jenderal Protokol pada Kementerian Luar Negeri untuk memanggil tergugat yang berada di luar negeri.
Lebih jauh Sujatmiko menjelaskan, karena Direktorat Jenderal Protokol ini berlokasi di Jakarta Pusat, maka pada umumnya gugatan terhadap tergugat yang berada di luar negeri, diajukan ke Pengadilan Ne geri Jakarta Pusat. Meskipun misalnya penggugat ternyata mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Cirebon (contoh), pemanggilan tergugat juga akan melalui delegasi ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk kemudian gugatan tersebut disampaikan melalui Direktorat Jenderal Protokol pada Kementerian Luar Negeri.
48https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt4f91061b34af4/tergu ga t-di-lu a r-negeri/, dia kses pada tanggal 28 Maret 2021 pukul 14.26 wita .
35
Ketentuan serupa dapat kita temui dalam Pasal 20 ayat (3) PP No. 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang mengatur bahwa dalam hal tergugat bertempat kediaman d i luar negeri, gugatan perceraian diajukan kepada Pengadilan di tempat kediaman penggugat. Kemudian, Ketua Pengadilan menyampaikan permohonan tersebut kepada tergugat melalui Perwakilan Republik Indonesia setempat.49
Jadi, di simpulkan bahwa tidak ada keharusan bahwa gugatan terhadap tergugat yang berada di luar negeri harus diajukan/didaftarkan ke Pengadilan.
2) Hakim Bersifat Pasif
Hakim di dalam memeriksa perkara perdata bersifat pasif, dalam arti kata bahwa ruang lingkup atau luas pokok sengketa yang diajukan kepada Hakim untuk diperiksa pada asasnya ditentukan oleh para pihak yang berperkara dan bukan oleh Hakim. Hakim hanya membantu para pencari keadilan dan berusaha mengatasi segala hambatan dan rintangan untuk tercapainya peradilan, sebagaimana ditetapkan pada Pasal 4 ayat (2) UU No . 48 Tahun 2009.50
Para pihak dapat mengakhiri sendiri sengketa yang telah diaju k an k e muka pengadilan, sedang Hakim tidak dapat menghalanginya. Ha l in i d a p at berupa perdamaian atau pencabutan gugatan, sebagaimana ditetapkan d alam Pasal 130 HIR dan 154 Rbg.51
49https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt4f91061b34af4/tergu ga t-di-lu a r-negeri/, dia kses pada tanggal 28 Maret 2021 pukul 14.26 wita .
50Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Perdata Di Indonesia, h. 11.
51Abdulkadir Muhamad, Hukum Acara Perdata Indonesia, h. 11.
36
Hakim wajib mengadili seluruh gugatan dan dilarang menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak dituntut atau mengabulkan lebih d aripada yang dituntut, hal ini sesuai dengan yang tetapkan dalam Pasal 1 7 8 a yat (2 ) dan 3 HIR dan Pasal 189 ayat (2) dan (3) Rbg. Pengajuan banding atau tid ak juga bukan kepentingan dari Hakim, sebagaimana ditetapkan d alam Pasal 6 UU. No 20 Tahun 1947 dan Pasal 199 Rbg. Kemudian, hanya peristiwa yang disengketakan yang harus dibuktikan.52
3) Sifat Terbukanya Persidangan
Sidang pemeriksaan pengadilan pada asasnya adalah terbuka untuk umum, yang berarti bahwa setiap orang diperbolehkan hadir dan mendengarkan pemeriksaan di persidangan.
Tujuan dari asas ini tidak lain untuk memberi perlindungan hak asasi manusia dalam bidang peradilan serta untuk lebih menjamin objektivitas peradilan dengan mempertanggungjawabkan pemeriksaan yang adil, tidak memihak, serta putusan yang adil pula kepada masyarakat. Asas ini ditetapkan dalam Pasal 13 ayat (1) UU No. 48 tahun 2009.53
Kecuali apabila ditentukan lain oleh undang-undang atau apabila berdasarkan alasan-alasan yang penting dimuat di dalam berita acara yang diperintahkan oleh Hakim, maka persidangan dilakukan dengan pintu tertutup, hal ini sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 13 ayat (1 ) UU No . 4 8 Tahun 2009. Dalam pemeriksaan perkara perceraian atau perzin aha n s erin g diadakan dengan pintu tertutup. Setiap persidangan harus dibuka dan dinyatakan terbuka umum terlebih dahulu sebelum dinyatakan tertutup.54
52Abdulkadir Muhamad, Hukum Acara Perdata Indonesia, h. 13.
53Abdulkadir Muhamad, Hukum Acara Perdata Indonesia, h. 14.
54Abdulkadir Muhamad, Hukum Acara Perdata Indonesia, h. 14.
37
4) Mendengar Kedua Belah Pihak
Sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 4 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009, kedua belah pihak yang berperkara haruslah diperlakukan sama, tid ak memihak dan didengar bersama-sama. Asas bahwa kedua belah pih ak h aru s didengar lebih dikenal dengan asas “audi et alteram partem”, yang berarti bahwa Hakim tidak boleh menerima salah satu keterangan dari salah satu pihak sebagai benar, bila pihak lawan tidak didengar atau tidak diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. Hal ini berarti juga bahwa pengakuan alat bukti harus dilakukan di muka sidang yang dihadiri oleh kedua belah pihak, sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 132a, Pasal 121 ayat (2) HIR, Pasal 145 ayat (2), Pasal 157 Rbg dan Pasal 47 Rv.55
5) Putusan Harus Disertai Alasan
Semua putusan pengadilan harus memuat alasan-alasan putusan yan g dijadikan dasar untuk mengadili, sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 50 ayat (1) UU No. 48 Tahun 2009, Pasal 184 ayat (1), Pasal 319 HIR, Pasal 195 dan Pasal 618 Rbg. Alasan-alasan atau argumentasi itu dimaksudkan sebagai pertanggungjawaban Hakim pada putusannya terhadap masyarakat, para pihak, pengadilan yang lebih tinggi, dan ilmu hukum, seingga oleh karenanya mempunyai nilai objektif. Karena adanya alasanalasan tersebut, putusan mempunyai wibawa dan bukan karena Hakim tertentu yang menjatuhkannya.56
55Abdulkadir Muhamad, Hukum Acara Perdata Indonesia, h. 15.
56Abdulkadir Muhamad, Hukum Acara Perdata Indonesia, h. 15.
38
5
6) Beracara Dikenakan Biaya
Asas ini ditetapkan dalam Pasal 121 ayat (4), Pasal 182, Pasal 183 HIR, Pasal 145 ayat (4), Pasal 192-194 RBg. Biaya perkara ini meliputi biaya kepaniteraan, pemanggilan para pihak dan biaya meterai. Bagi pihak yang tidak mampu untuk membayar biaya perkara, dapat mengajukan perkara secara cuma-Cuma (pro deo). 7
57Abdulkadir Muhamad, Hukum Acara Perdata Indonesia, h. 17.
39