• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II WARIS DAN ANAK MURTAD

A. Waris

3. Asas-Asas Hukum Waris

a. Prinsip Ijbari

Prinsip ijbari adalah bahwa peralihan harta seseorang yang telah meninggal dunia kepada yang masih hidup berlaku dengan sendirinya. Dalam Hukum Waris Islam, dijalankannya prinsip ijbari ini berarti bahwa peralihan harta dari seseorang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya, berlaku dengan sendirinya sesuai dengan kehendak Allah, tanpa bergantung kepada kehendak pewaris atau ahli waris. Ditegaskannya prinsip ijbari dalam Hukum Waris Islam, tidak dalam arti yang memberatkan ahli waris. Andai kata pewaris mempunyai hutang lebih besar daripada warisan yang ditinggalkannya, ahli waris tidak dibebani membayar semua hutang pewaris itu. Berapapun besarnya hutang pewaris, hutang itu hanya akan dibayar sebesar warisan yang ditinggalkan oleh pewaris tersebut kalau seluruh warisan sudah dibayarkan hutang, kemudian masih ada sisa hutang, maka ahli waris tidak diwajibkan membayar sisa hutang tersebut. Kalaupun ahli waris hendak membayar sisa hutang itu, maka pembayaran itu bukan merupakan suatu kewajiban yang diletakkan oleh hukum, melainkan karena akhlak ahli waris yang baik (Budiono & Rahmat, 1999:3).

Apabila dilihat dari segi Hukum Kewarisan KUHPerdata, tampak perbedaannya bahwa peralihan harta dari seseorang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya bergantung pada

kehendak dan kerelaan ahli waris yang bersangkutan. Ahli waris dalam KUHPerdata dimungkinkan untuk menolak warisan. Dimungkinkannya penolakan warisan ini karena jika ahli waris menerima warisan, ia harus menerima segala konsekuensinya, dan salah satunya adalah melunasi seluruh hutang pewaris.

b. Prinsip Individual

Prinsip Individual adalah warisan dapat dibagi-bagikan kepada ahli waris untuk dimiliki secara perorangan. Ini berarti setiap ahli waris berhak atas bagian warisan yang didapatkan tanpa terikat oleh ahli waris yang lain. Ketentuan mengenai prinsip individual ini dalam Hukum Waris Islam terdapat dalam Al Qur’an surat an-Nisaa’ ayat 7, yang pada pokoknya menyatakan bahwa setiap orang, laki-laki atau perempuan berhak menerima warisan dari orang tua maupun kerabat dekatnya. Pengertian berhak atas kewarisan tidak berarti bahwa warisan itu harus bagikan. Bisa saja warisan tidak dibagi-bagikan asal hal ini dikehendaki oleh ahli waris yang bersangkutan, atau keaadan mengehendakinya. Misalnya seseorang suami mau meninggal dunia, meninggalkan seorang istri dan anak-anak yang masih kanak-kanak. Apapun alasannya dalam keadaan seperti ini menghendaki kewarisan untuk tidak dibagi-bagikan. Tidak dibagikannya warisan ini demi kebaikan ahli waris sendiri, dan tidak menghapuskan hak waris dari para ahli waris yang bersangkutan

c. Prinsip Bilateral

Prinsip bilateral adalah bahwa baik laki-laki maupun perempuan dapat mewarisi dari kedua belah pihak garis kekerabatan, yakni pihak kerabat laki-laki dan pihak kerabat perempuan. Tegasnya jenis kelamin bukan merupakan penghalang untuk mewarisi atau diwarisi. Prinsip bilateral ini, dalam Hukum Waris Islam dapat dengan nyata dilihat dalam Al Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 7, 11, 12, dan 176.

Secara umum, Al Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 7 menerangkan

mengenai prinsip bilateral, sedangkan ayat 11, 12, 176 merinci lebih jauh mengenai siapa saja yang dapat mewarisi dan berapa besar bagiannya. Dengan mengkaji secara mendalam ayat-ayat Al Qur’an di atas, bisa disimpulkan bahwa baik dalam garis lurus ke bawah, ke atas, serta garis ke samping, prinsip bilateral tetap berlaku (As’ad,

2010: 36-37).

d. Prinsip Kewarisannya hanya karena Kematian

Hukum Waris Islam menerangkan bahwa peralihan harta seseorang kepada orang lain dengan sebutan kewarisan, berlaku setelah yang mempunyai harta tersebut meninggal dunia. Dengan demikian, tidak ada pembagian warisan sepanjang pewaris masih hidup. Segala bentuk peralihan harta yang masih hidup, baik secara langsung maupun tidak, tidak termasuk kedalam persoalan kewarisan menurut Hukum Waris Islam. Hukum Waris Islam hanya mengenal satu bentuk kewarisan, yaitu kewarisan ab instestato dan tidak

mengenal kewarisan atas dasar wasiat yang dibuat pada saat pewaris masih hidup.

Prinsip tersebut erat kaitannya dengan prinsip ijbari. Apabila seseorang telah memenuhi syarat sebagi subjek hukum, pada hakikatnya ia dapat bertindak sesuka hatinya terhadap seluruh kekayaannya. Akan tetapi kebebasan itu hanya ada waktu ia masih hidup saja. Ia tidak mempunyai kebebasan untuk menentukan nasib kekayaannya setelah ia meninggal dunia. Meskipun seseorang mempunyai kebebasan untuk berwasiat, akan tetapi juga terbatas hanya sepertiga dari keseluruhan kekayaannya, dan yang lebih penting, kejadian yang disebut terakhir ini tetap bukan merupakan persoalan kewarisan, meskipun berlakunya sesudah ada kematian.

Prinsip kewarisan hanya karena kematian ini bisa digali dari penggunaan kata-kata warasa yang banyak terdapat dalam Al Qur’an

dari keseluruhan pemakaian itu terlihat bahwa peralihan harta berlaku sesudah yang mempunyai harta tersebut mati, ini menunjukkan bahwa kata warasa mengandung arti peralihan harta setelah adanya kematian.

Prinsip di atas dibandingkan dengan prinsip dalam hukum kewarisan adat terdapat perbedaan. Salah satu prinsip dalam hukum kewarisan adat yang sangat penting adalah bahwa proses kewarisan dapat dimulai sejak pewaris masih hidup. Hukum Waris Adat memuat peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta

mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak berwujud (immateriele goederen) dari suatu angkatan manusia (generatie) kepada keturunannya. Proses itu telah mulai dalam waktu orang tua masih hidup (Nugroho, 2016:7).

Meskipun kematian tetap merupakan unsur yang amat penting, tetapi bukan merupakan unsur yang harus ada untuk adanya kewarisan. Prinsip dalam Hukum Waris Adat ini sangat erat kaitannya dengan mentas dan mencarnya anak-anak atau generasi baru yang akan terbentuk. Mentas berarti anak atau generasi itu telah mampu berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang tuanya. Mencar berarti memisahnya anak atau generasi dari lingkungan keluarga asalnya (Budiono & Rahmat, 1999:3).

Jika kedua hal itu telah tercapai maka tujuan proses kewarisan dalam Hukum Adat telah tercapai. Mewarisi menurut anggapan tradisional orang jawa bermakna mengoperkan harta keluarga kepada keturunan, terutama kepada anak laki-laki serta anak perempuan. e. Prinsip Keadilan Berimbang

Kata adil merupakan kata bahasa Indonesia yang berasal dari kata al adlu. Hubungannya dengan masalah kewarisan, kata tersebut dapat diartikan keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta keseimbangan antara yang diperoleh dengan keperluan dan kegunaannya.

Sebagaimana laki-laki, perempuan mendapat hak yang sama kuat untuk mendapatkan warisan hal ini secara jelas disebutkan dalam

Al Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 7 yang menyamakan kedudukan laki -laki dan perempuan dalam hal mendapatkan warisan. Pada ayat 11, 12, 176 surat An-Nisaa’ secara rinci diterangkan kesamaan kekuatan hak menerima antara anak laki-laki dan anak perempuan, ayah dan ibu (ayat 11), suami dan istri (ayat 12), saudara laki-laki dan saudara perempuan (ayat 12 dan 176).

Asas ini mengandung arti harus terdapat keseimbangan antara hak dan kewajiban, antara yang diperoleh seseorang dengan kewajiban yang harus ditunaikannya. Laki-laki dan perempuan misalnya, mendapat hak yang sebanding dengan kewajiban yang dipikulnya masing-masing (kekal) dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Dalam sistem Waris Islam, harta peninggalan yang diterima oleh ahli waris dari pewaris pada hakikatnya adalah kelanjutan tanggung jawab pewaris terhadap keluarganya (Muhibin & Wahid, 2009:29). Oleh karena itu, perbedaan bagian yang diterima oleh masing-masing ahli waris berimbang dengan perbedaan tanggung jawab masing-masing terhadap keluarga. Seorang laki-laki menjadi penanggungjawab kehidupan keluarga, mencukupi keperluan hidup dan istrinya. Tanggung jawab itu merupakan kewajiban agama yang harus dilaksanakannya, terlepas dari persoalan apakah istrinya mampu atau tidak, anaknya memerlukan bantuan atau tidak.

Dokumen terkait