• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERJANJIAN NOMINEE DALAM SISTEM HUKUM INDONESIA

2. Asas-Asas yang Terkandung dalam Perjanjian

Selain syarat sahnya suatu perjanjian yang diatur dalam Pasal 1320 KUHPerdata, dalam pelaksanaannya perjanjian juga harus memperhatikan dan menerapkan asas-asas yang terkandung dalam hukum perjanjian.

26

Di dalam hukum perjanjian dikenal lima asas penting, yaitu:

1. Asas kebebasan berkontrak

Asas kebebasan berkontrak adalah suatu asas yang memberikan kebebasan kepada pihak untuk membuat atau tidak membuat perjanjian, mengadakan perjanjian dengan siapapun, menentukan isi perjanjian/pelaksanaan dan persyaratannya, menentukan bentuknya perjanjian yaitu tertulis atau lisan.

27

25 Boris Tampubolon, “Perjanjian Bisa Dibatalkan Bahkan Batal Demi Hukum Jika tidak Memenuhi Syarat Ini?”, (tanpa tahun),(https://konsultanhukum.web.id/perjanjian-bisa-dibatalkan-bahkan-batal-demi-hukum-jika-tidak-memenuhi-syarat-ini/), 20/02/2020

26 Anita Kamilah, Bangun Guna Serah (Build Operate and Transfer/BOT) Membangun Tanpa Harus Memiliki Tanah: Perspektif Hukum Agraria, Hukum Perjanjian, dan Hukum Publik, Bandung: Keni Media, 2013, hlm. 97.

27 Damang Averroes Al-Khawarizmi, “Asas Asas Perjanjian”, (2011), (https://www.negarahukum.com/hukum/asas-asas-perjanjian.html), 20//02/2020

Asas kebebasan berkontrak ini merupakan salah satu asas perjanjian yang berlaku secara universal.

28

Kebebasan ini adalah perwujudan dari kehendak bebas, pancaran hak dan hak asasi manusia. Pemahaman terhadap asas ini membawa pengertian bahwa setiap orang mempunyai kebebasan untuk mengikatkan dirinya pada orang lain. Asas ini mengasumsikan ada posisi tawar yang seimbang diantara para pembuat kontrak. Asas ini memiliki maksud untuk menjadikan perjanjian itu bersifat terbuka, dimana setiap orang yang ingin membuat suatu perjanjian bebas menentukan isi, bentuk dan undang-undang yang ingin dipakai dalam membuat perjanjian tersebut.

Latar belakang lahirnya asas kebebasan berkontrak menurut Mariam Badrulzaman adalah adanya paham individualisme yang secara embrional lahir dalam zaman Yunani, yang diteruskan oleh kaum Epicuristen dan berkembang pesat dalam zaman renaissancemelalui antara lain ajaran-ajaran Hugo de Grecht, Thomas Hobbes, Jhon Locke dan Rosseau dan menurut paham individualisme, setiap orang bebas untuk memperoleh apa yang dikehendakinya.

29

Di dalam azas ini terkandung suatu pandangan bahwa orang bebas untuk melakukan atau tidak melakukan perjanjian, bebas

28 Mariam Darus Badrulzaman, Kompilasi Hukum Perikatan, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2011, hlm. 161.

29 Salim H. S., Hukum Perjanjian Teori dan Teknik Penyusunan Perjanjian, Jakarta:

Sinar Garafika, 2011, hlm. 9.

dengan siapa ia mengadakan perjanjian, bebas tentang apa yang diperjanjikan dan bebas untuk menetapkan syarat-syarat perjanjian.

30

2. Asas konsensualisme

Asas konsensualisme merupakan asas yang menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, melainkan cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak.

Asas ini dapat disimpulkan dalam syarat sahnya suatu perjanjian yang terdapat pada Pasal 1320 KUHPerdata.

31

3. Asas kepastian hukum

Asas kepastian hukum atau disebut juga dengan asas pacta sunt servanda merupakan asas yang berhubungan dengan akibat perjanjian. Asas pacta sunt servanda merupakan asas bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi perjanjian yang dibuat oleh para pihak, sebagaimana layaknya sebuah undang-undang.

32

Maksud asas pacta sunt servanda dalam suatu perjanjian adalah untuk mendapat kepastian hukum bagi pihak yang terikat dalam perjanjian tersebut.

30 Yuridika, “Batas-batas Kebebasan Berkontrak; Perlindungan Hukum Para Pihak Dalam Pengikatan Jaminan Fidusia; Kedudukan Perjanjian Arbitrase Menurut UU No. 30/1999”, Volume 18 Nomor 3, 2003, hlm. 197.

31 M. Muhtarom, “Asas-Asas Hukum Perjanjian: Suatu Landasan dalam Pembuatan Kontrak”, Suhuf, Volume 26, Nomor 1, 2014, hlm. 51

32 Ibid

4. Asas itikad baik

Asas iktikad baik (te goeder trouw) merupakan elemen terpenting dalam hukum kontrak. Iktikad baik menjadi landasan utama agar suatu kontrak dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Iktikad baik dalam bahasa Belanda disebut dengan te goeder trouw yang secara harfiah bermakna kejujuran.

33

Menurut Sutan Remy, asas itikad baik adalah niat baik dari pihak-pihak yang melakukan suatu perjanjian untuk tidak merugikan mitra janjinya serta tidak merugikan kepentingan umum.

Berdasarkan asas kebebasan berkontrak, suatu perjanjian yang dibuat secara sah, mengikat sebagai undang-undang bagi para pihak yang membuatnya. Akan tetapi, setiap perjanjian yang dibuat tersebut harus dilaksanakan dengan itikad baik. Dalam melaksanakan haknya, para pihak harus memperhatikan kepentingan pihak lain dalam situasi tertentu.

34

Asas iktikad baik dibagi menjadi dua macam, yaitu iktikad baik nisbi dan iktikad baik mutlak. Pada iktikad baik nisbi, orang memperhatikan sikap dan tingkah laku yang nyata dari subyek.

Pada iktikad baik mutlak, penilaiannya terletak pada akal sehat dan

33 Riduan Syahrani, Seluk Beluk dan Asas-Asas Hukum Perdata, 2006, Bandung: Alumni, hlm. 247.

34 Suharnoko, Hukum Perjanjian: Teori dan Analisa Kasus, Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2004, hlm. 4.

keadilan, dibuat ukuran yang objektif untuk menilai keadaan (penilaian tidak memihak) menurut norma-norma objektif.

35

5. Asas kepribadian

Asas kepribadian tercantum dalam Pasal 1340 KUHPerdata,

“Suatu perjanjian hanya berlaku antara pihak-pihak yang membuatnya. Suatu perjanjian tidak dapat membawa rugi kepada pihak-pihak ketiga; tak dapat pihak-pihak ketiga mendapat manfaat karenanya, selain dalam hal yang diatur dalam Pasal 1317”. Pasal 1315 KUHPerdata menegaskan, “Pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri”.

Namun demikian, ketentuan itu terdapat pengecualiannya sebagaimana diatur dalam Pasal 1317 KUHPerdata yang menyatakan, “Dapat pula perjanjian diadakan untuk kepentingan pihak ketiga, bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri, atau suatu pemberian kepada orang lain, mengandung suatu syarat semacam itu”. Sedangkan di dalam Pasal 1318 KUHPerdata, tidak hanya mengatur perjanjian untuk diri sendiri, melainkan juga untuk kepentingan ahli warisnya dan untuk orang-orang yang memperoleh hak dari padanya.

36

35 Yuridika, Op cit, hlm. 21.

36 Niru Anita Sinaga, “Peranan Asas-Asas Hukum Perjanjian dalam Mewujudkan Tujuan Perjanjian”, Binamulia Hukum, Volume 7 Nomor 2, 2018, hlm. 117.

Dokumen terkait