• Tidak ada hasil yang ditemukan

Asas Hukum sebagai Basic Idea 104 Peraturan Perundang-undangan

Sebagaimana yang telah penulis sebutkan di awal bahwa dalam penelitian ini, penulis temukan pertentangan dua asas hukum (asas al hukm) yang masing-masing termaktub dalam undang-undang yang berbeda namun membahas hal yang sama, yakni tentang kewenangan menyelesaikan sengketa perbankan syariah. Pertama asas personalitas keislaman yang termaktub dalam pasal 2 dan pasal 49 Undang-Undang No. 3 tahun 2006 tentang Pengadilan Agama dan yang kedua adalah asas pacta sunt servanda (al ahdu mahfudzun) yang merupakan akibat logis dari asas hukum freedom of contract105(hurriyyah al aqd)106yang termaktub dalam pasal 55

104

Menurut Bellefoid asas hukum bukan merupakan hukum konkrit, melainkan merupakan pikiran dasar (basic idea), umum dan abstrak atau merupakan latar belakang peraturan yang konkrit yang terdapat di dalam dan di belakang setiap sistem hukum yang terjelma dalam setiap peraturan perundang-undangan dan putusan hakim yang merupakan hukum positif dan dapat diketemukan dengan mencari sifat-sifat atau ciri-ciri yang umum dalam peraturan konkrit tersebut. Lihat Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum, Suatu Pengantar, Jakarta: Liberty, 1991 hlm. 32

105Dalam konteks hukum bisnis internasional istilah freedom of contrak kaitannya dengan pemilihan para pihak yang bersengketa terhadap hukum yang berlaku bagi keduanya sering disebut dengan

xci

Undang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah. Asas personalitas keislaman sebagai sebuah konsekuensi logis dari doktrin hukum receptive in complexiu menghendaki untuk menyelesaikan sengketa perbankan syariah di Pengadilan Agama. Di sisi yang lain asas pacta sunt servanda bermaksud untuk mengecualikan asas tersebut dengan menjelma menjadi sebuah redaksi pasal dalam Undang-Undang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah beserta penjelasannya dengan melegalkan penyelesaian sengketa perbankan syariah dilakukan di Pengadilan Negeri sepanjang para pihak sepakat terhadap hal tersebut.

Asas hukum sebagaimana yang dikemukakan oleh Bellefroid adalah pikiran-pikiran dasar yang melatarbelakangi peraturan hukum konkrit. Asas hukum bukan merupakan hukum konkrit, melainkan merupakan pikiran dasar (basic idea/ asas al fikr), umum dan abstrak atau merupakan latar belakang peraturan yang konkrit yang terdapat di dalam dan di belakang setiap sistem hukum (nidzam al hukm) yang terjelma dalam setiap peraturan perundang-undangan dan putusan hakim yang merupakan hukum positif dan dapat diketemukan dengan mencari sifat-sifat atau ciri-ciri yang umum dalam peraturan konkrit tersebut.107 Lebih lanjut menurut B. Arief S. asas hukum adalah suatu meta kaidah yang berada di belakang kaidah yang memuat kriteria nilai yang untuk dapat menjadi pedoman perilaku memerlukan

istilah party autonomy. Istilah ini memang lebih dekat jika dikaitkan dengan kebebasan para pihak untuk memilih hukum (choice of law) dan forum peradilan (choice of forum). Akan tetapi dalam hal ini penulis mencoba untuk bersikap netral terlebih dahulu tanpa mengait-ngaitkan dengan istilah yang biasa dipakai dalam hukum bisnis internasional walaupun istilah kedua (party autonomy) sebenarnya lebih pas dengan topik bahasan –choice of forum.

106 Kebebasan berkontrak dalam konsep hukum Islam dalam rangka upaya untuk mengatur kepentingan-kepentingan individual (fardiyah), kolektif (ijtimiyah) dan kepentingan negara (dusturiyah) serta agama (diniyah).

xcii

penjabaran atau konkretisasi ke dalam aturan-aturan hukum.108 Katakanlah seperti asas freedom of contract atau hurriyah al aqd, asas ini merupakan sebuah norma yang berakar dalam kenyataan masyarakat (haqiqah al ijtima’iyy) dan berlandaskan nilai-nilai yang dipilih sebagai pedoman oleh dan untuk kehidupan bersama. Kemudian asas ini dalam konteks hukum Indonesia terjelma dalam pasal 1338 KUH Perdata.

Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang undang bagi mereka yang membuatnya109

Contoh lain dalam pembahasan hukum pidana adalah seperti asas nullum delictum nullam poena yang artinya tidak ada satu perbuatan yang dapat dipidanakan kecuali atas kekuatan peraturan hukum pidana dalam peraturan perundang-undangan yang telah ada sebelumnya. Asas ini terjelma dalam pasal 1 ayat 1 KUHP yang berbunyi:

Suatu perbuatan tidak dapat dipidana, kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada sebelumnya.110

Pasal 8 Undang-Undang Kekuasaaan Kehakiman Nomor 4 Tahun 2004 yang berbunyi:

108

Rahayu Hartini, Kewenangan Penyelesaian Sengketa Kepailitan Berklausul Arbitrase, Malang: UMM Press, 2008 hlm. 89

109Lihat pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgelijk Wetboek)

xciii

Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan dan dihadapkan didepan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah, sebelum adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan oleh kekuatan hukum yang tetap.111

mengandung asas praduga tak bersalah yang biasa disebut dengan persumption of inonciont. Dalam diskursus hukum islam asas ini biasa dikenal lewat kaidah fiqh yang berbunyi:

ﻻا

ﺔﻣﺬﻟا ةءﺮﺑ ﻞﺻ

Kaidah ini mengatakan bahwa hukum asal (al hukm al awwal) dari setiap dakwaan adalah terbebasnya seseorang yang didakwa dari beban. Artinya seorang yang didakwa itu wajib dianggap tidak bersalah selama belum dikeluarkannya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht).

Jadi dapat disimpulkan di sini bahwa kita baru akan menemukan sebuah asas hukum dari bentuknya yang abstrak (mustatir) berubah ke bentuknya yang konkrit (dzahir) apabila sudah menjelma menjadi sebuah peraturan perundang-undangan atau putusan. Bahkan sebenarnya menurut Eikema Homes asas hukum ialah dasar-dasar atau petunjuk arah dalam pembentukan hukum positif.112 Artinya asas hukumlah yang sebenarnya memberikan arahan kepada legislator dan hakim dalam memproduk hukum positif.

111 Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 8 Undang-Undang No. 4 tahun 2004 Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman

xciv

Untuk memudahkan pemahaman kita tentang asas hukum ini bisa digambarkan sebagai berikut:

Ragaan 3.1: Asas Hukum sebagai Induk Hukum Konkrit

Keterangan dari bagan di atas adalah asas hukum yang merupakan norma yang berakar dalam kenyataan masyarakat (haqiqah al ijtima’iyy) melalui proses legislasi oleh pembuat undang-undang (legislator) dan atau penemuan hukum (rechtvinding/ istinbat al ahkam) oleh para hakim menjelma menjadi sebuah hukum konkrit (al ahkam al dzhawahir) yang penulis gambarkan dengan garis hitam kebawah. Dalam proses legislasi asas hukum menjadi sebuah peraturan perundang-undangan tapi dalam proses penemuan hukum (rechtvinding/ istinbat al ahkam) asas hukum menjadi sebuah putusan. Keduanya, antara peraturan perundang-undangan dengan putusan pengadilan merupakan sebuah hukum konkrit (al ahkam al dzhawahir) yang biasa juga disebut dengan hukum positif.