GENETIKA PADA WAKTU YANG AKAN DATANG
E. Asas Kehati-hatian 1. Konsep
Asas kehati-hatian sering disebut sebagai tindakan kehati-hatian (precaution) atau pendekatan kehati-hatian (precautionary approach).
Istilah “precautionary principle” masuk ke dalam bahasa Inggris sebagai terjemahan dari kata Jerman Vorsorgeprinzip. David Kriebel et al.
menyatakan bahwa istilah alternatif dalam bahasa Inggris adalah
“foresight principle” atau prinsip pandangan ke depan, yang memiliki keuntungan dalam menekankan tindakan antisipatif, ide aktif dan positif dibandingkan kehati-hatian (precaution), yang bagi banyak orang terdengar reaktif dan bahkan negatif.52 Prinsip kehati-hatian
51United Nations Conference on Trade and Development II, Op.cit., h. 9-10.
52David Kriebel et al., The Precautionary Principle in Environmental Science, dalam Marco Martuzzi and Joel Tickner (Eds), The Precautionary Principle:Protecting Public Health, the Environment and the Future of Our Children (Copenhagen: WHO Regional Office for Europe, 2004), h. 146.
(precautionary principle) pada umumnya diterapkan dalam kasus risiko kesehatan atau lingkungan di mana dasarnya adalah bahwa mencegah lebih baik daripada menyembuhkan.53
Asas kehati-hatian menyatakan bahwa dalam kasus ancaman serius atau tidak dapat diubah terhadap kesehatan manusia atau ekosistem, ketidakpastian ilmiah yang diakui tidak boleh dijadikan alasan untuk menunda dilakukannya tindakan pencegahan. Asas tersebut berawal sebagai alat untuk menjembatani informasi ilmiah yang tidak pasti dan tanggung jawab politik untuk bertindak mencegah kerusakan kesehatan manusia dan ekosistem.54
Asas kehati-hatian dibutuhkan sebagai reaksi dari adanya ketidakpastian potensi ancaman terhadap kesehatan atau lingkungan yang telah sering digunakan sebagai alasan untuk menghindari tindakan perlindungan kesehatan atau lingkungan. Namun, tidak selalu mungkin untuk memiliki bukti yang jelas tentang ancaman terhadap kesehatan atau lingkungan sebelum kerusakan benar-benar terjadi. Asas kehati-hatian menyatakan bahwa menunda tindakan pencegahan sampai ada bukti yang meyakinkan tentang bahaya sering kali diartikan sangat mahal atau tidak mungkin untuk menghindari ancaman. Penggunaan asas kehati-hatian mendorong dilakukannya tindakan mencegah risiko bahaya serius atau permanen terhadap kesehatan atau lingkungan dalam kasus seperti itu. Asas ini didasarkan pada pengakuan bahwa prediksi yang salah bahwa aktivitas manusia tidak akan mengakibatkan kerusakan kesehatan atau lingkungan yang signifikan biasanya akan lebih berbahaya bagi masyarakat daripada prediksi salah yang akan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang signifikan.55
Inti yang terkandung dalam asas kehati-hatian terletak pada gagasan sederhana yang intuitif bahwa pembuat keputusan harus bertindak lebih dahulu dari kepastian ilmiah untuk melindungi lingkungan dan
53Aynsley Kellow, h. 124.
54Marco Martuzzi and Joel Tickner, Introduction – the precautionary Principle:
Protecting Public Health, the Environment and the Future of Our Children, dalam Marco Martuzzi and Joel Tickner (Eds), The Precautionary Principle:Protecting Public Health, the Environment and the Future of Our Children (Copenhagen: WHO Regional Office for Europe, 2004), h. 7-8.
55www.iucn.org › downloads › ln250507_ppguidelines, diakses 6 Desember 2021, Pukul 8.32 WIB.
kesehatan manusia dari bahaya yang ditimbulkan. Asas kehati-hatian menuntut agar manusia menjaga diri mereka sendiri, keturunan mereka, dan proses pelestarian kehidupan yang memelihara keberadaan mereka.56
David Kriebel et al. menyatakan bahwa dalam asas kehati-hatian pada dasarnya meliputi komponen utama, yaitu:
1. Mengambil tindakan pencegahan dalam menghadapi ketidakpastian.
2. Mengalihkan beban pembuktian kepada pendukung suatu kegiatan.
3. Mengeksplorasi berbagai alternatif untuk tindakan yang mungkin berbahaya.
4. Meningkatkan partisipasi publik dalam pengambilan keputusan.57 Menurut David Gee dan Andrew Stirling, dalam hubungannya dengan ketidakpastian (uncertainty) dan kehati-hatian (precaution) terdapat konsep-konsep yang perlu dipahami, yaitu:
Tabel 7. Konsep dalam Asas Kehati-hatian Situasi Keadaan dan Indikasi
Pengetahuan
Ketidakpastian Dampak ‘Diketahui’;
Probabilitas ‘tidak diketahui’
misalnya antibiotik dalam pakan ternak dan resistensi manusia yang terkait dengan antibiotik tersebut, 1969-sekarang
Kehati-hatian pencegahan:
tindakan yang diambil untuk mengurangi potensi risiko, misalnya mengurangi/
menghilangkan paparan antibiotik pada pakan ternak
56Andrew Jordan & Timothy O’Riordan, The Precautionary Principle: a Legal and Policy History, dalam Marco Martuzzi and Joel Tickner (Eds), The Precautionary Principle:Protecting Public Health, the Environment and the Future of Our Children (Copenhagen: WHO Regional Office for Europe, 2004), h. 31.
57David Kriebel et al., Loc.cit.
Situasi Keadaan dan Indikasi Pengetahuan
Contoh Tindakan
Ketidaktahuan Dampak ‘tidak diketahui’ dan karena itu probabilitas ‘tidak diketahui’ misalnya ‘kejutan’
klorofluorokarbon (CFC) dan kerusakan lapisan ozon sebelum tahun 1974; kanker asbes mesothelioma sebelum tahun sifat bahan kimia seperti persistensi atau bioakumulasi sebagai ‘prediktor’ potensi bahaya; penggunaan sumber informasi seluas mungkin dan pemantauan jangka panjang.
Sumber: David Gee dan Andrew Stirling, Late Lessons from Early Warnings: Improving Science and Governance under Uncertainty and Ignorance, dalam Marco Martuzzi and Joel Tickner (Eds), The Precautionary Principle:Protecting Public Health, the Environment and the Future of Our Children (Copenhagen:
WHO Regional Office for Europe, 2004), h. 95.
2. Rasionalitas
Di Eropa, sejak awal 1980-an, pembuatan kebijakan Eropa mengenai isu-isu besar dan ketidakpastian ilmiah diakui secara progresif telah mendorong untuk mengadopsi asas kehati-hatian, tujuannya untuk mencapai tingkat kesehatan masyarakat yang tinggi, perlindungan lingkungan dan keselamatan konsumen tanpa mengorbankan sains atau inovasi teknologi. Komunikasi Komisi Komunitas Eropa/Commission of the European Communities) tentang prinsip kehati-hatian pada Februari 2000 adalah langkah pertama dan penting dalam menjelaskan tujuan dan penggunaan asas kehati-hatian dalam pembuatan kebijakan Eropa selama 20 tahun sebelumnya.58
Selama tiga tahun terakhir telah terjadi perkembangan yang signifikan dalam penafsiran dan penerapan asas kehati-hatian, khususnya oleh Pengadilan Eropa (the European Court of Justice), Organisasi Perdagangan Dunia (the World Trade Organization), Organisasi Kesehatan Dunia (the World Health Organization), dan beberapa negara anggotanya. Misalnya, putusan Pengadilan Eropa pada kasus
58Marco Martuzzi and Joel Tickner, Dealing with Uncertainty – How Can the Precautionary Principle Help Protect the Future of our Children?, dalam Marco Martuzzi and Joel Tickner (Eds), The Precautionary Principle:Protecting Public Health, the Environment and the Future of Our Children (Copenhagen: WHO Regional Office for Europe, 2004), h. 15-16.
antibiotik dalam pakan ternak, laporan Badan Lingkungan Eropa (the European Environment Agency’s) tentang Late Lessons from Early Warnings, dan diskusi ilmiah dan konstitusional tentang asas kehati-hatian di Prancis semuanya telah memperkaya perdebatan tentang penggunaan dan penerapannya. Selain itu, beberapa dari wawasan tentang asas kehati-hatian yang berkembang ini telah dikodifikasi dalam perjanjian internasional yang ditandatangani sejak tahun 2000, terutama Protokol Cartagena tentang Keamanan Hayati (the Cartagena Protocol on Biosafety) dan Konvensi Stockholm tentang Polutan Organik yang Persisten (the Stockholm Convention on Persistent Organic Pollutants).59
Urgensi penerapan asas kehati-hatian dalam perlindungan lingkungan dan kesehatan publik ditekankan pada Deklarasi London tentang Tindakan dalam Kemitraan (paragraf 50d), yang diadopsi pada Konferensi Tingkat Menteri Ketiga tentang Lingkungan dan Kesehatan yang diselenggarakan di London, 16-18 Juni 1999 sebagai berikut.
Kami akan mengembangkan inisiatif di negara kami untuk memberikan penekanan yang lebih besar dalam semua program yang relevan dengan kebutuhan untuk mencegah anak-anak terpapar ancaman lingkungan. Kami meminta Komite Lingkungan dan Kesehatan Eropa untuk mengidentifikasi metode dan mekanisme untuk: mempromosikan dan mendorong langkah-langkah kesehatan masyarakat di wilayah kekhawatiran yang muncul tentang dampak lingkungan pada kesehatan anak-anak, berdasarkan asas kehati-hatian.60
Pada perkembangannya, penerapan asas kehati-hatian tidak hanya menjadi isu di Uni Eropa, tetapi penerapannya dapat berdampak global.
Penerapan asas kehati-hatian menjadi sengketa antara Uni Eropa dan Amerika Serikat dalam kasus hormon dalam daging sapi, organisme hasil rekayasa genetika, dan perubahan iklim.61
Asas kehati-hatian muncul, dikembangkan, dan diterapkan karena gagalnya analisis risiko tradisional untuk melindungi kesehatan publik.
59Ibid., h. 16.
60London Declaration on Action in Partnership (paragraph 50d), adopted at the Third Ministerial Conference on Environment and Health (London, 16-18 June 1999).
61David Gee dan Andrew Stirling, Op.cit., h. 93.
Hal ini sebagaimana dikatakan Philip J. Landrigan dan Leonardo Trasande sebagai berikut.
Analisis risiko dan manajemen risiko adalah alat yang saat ini digunakan untuk melindungi populasi dari bahaya lingkungan beracun. Metode-metode ini, seperti yang saat ini dipraktikkan, memiliki kekurangan utama: metode ini hanya mempertimbangkan satu bahan kimia pada satu waktu; mereka gagal untuk menjelaskan keterpaparan unik dan kerentanan khusus dari kelompok rentan di dalam populasi, seperti bayi dan anak-anak; dan mereka menganggap, bahkan tanpa data pengujian toksikologi, bahwa bahan kimia tidak menyebabkan cedera pada kesehatan sampai cedera terbukti tak terbantahkan. Karena alasan ini, penilaian risiko tradisional gagal melindungi kesehatan bayi dan anak-anak.62 Selanjutnya, Philip J. Landrigan dan Leonardo Trasande menyarankan tiga penerapan khusus dari asas kehati-hatian dalam paradigma analisis risiko, yaitu:
1. Bahan kimia terburuk harus segera dilarang, seperti yang pernah terjadi di masa lalu.
2. Praktik pelepasan bahan kimia yang belum teruji dan berpotensi bermasalah ke lingkungan saat ini untuk mempelajari bahayanya hanya beberapa tahun atau dekade kemudian harus diakhiri.
diperlukan pengujian pra-pasar yang cermat.
3. Faktor keselamatan pelindung kesehatan harus dimasukkan ke dalam paradigma penilaian risiko tradisional untuk melindungi kesehatan ketika data yang tersedia tidak cukup untuk mendukung pendekatan matematis yang ketat untuk penghitungan risiko.63 Asas kehati-hatian adalah pedoman kebijakan publik untuk pengambilan keputusan dalam kondisi ketidakpastian ilmiah. Asas kehati-hatian dilatarbekalangi adanya keterbatasan ilmu pengetahuan, tujuannya untuk memungkinkan dan mendorong tindakan kehati-hatian yang melayani nilai-nilai yang berdasarkan apa yang diketahui dan apa
62Philip J. Landrigan and Leonardo Trasande, Applying the Precautionary Principle in Environmental Risk Assessment to Children, dalam Marco Martuzzi and Joel Tickner (Eds), The Precautionary Principle:Protecting Public Health, the Environment and the Future of Our Children (Copenhagen: WHO Regional Office for Europe, 2004), h. 121-122.
63Ibid., h. 122-123.
yang tidak diketahui. Asas kehati-hatian mendorong pengamatan yang cermat dari semua aspek sains, dari agenda penelitian hingga pendanaan, desain, interpretasi, dan batasan studi. Berdasarkan asas kehati-hatian, ketika ada ancaman bahaya yang dapat dipercaya, tindakan pencegahan harus diambil, bahkan ketika pemahaman penuh tentang dampak dari kegiatan yang diusulkan kurang dapat dipercaya. Dengan kata lain, asas kehati-hatian menggabungkan gagasan etis tentang kewajiban untuk mencegah bahaya dengan realitas batas pemahaman ilmiah.64
Penerapan asas kehati-hatian dalam proses pengambilan keputusan harus memenuhi beberapa kriteria kebijakan praktis yang meliputi:
1. Meningkatkan dasar ilmiah untuk pengambilan keputusan.
2. Meningkatkan kualitas pengawasan kesehatan dan intervensi.
3. Mendorong transparansi dan inklusivitas yang lebih besar dalam proses pengambilan keputusan.
4. Meningkatan pengembangan teknologi praktis dan alternatif kebijakan.65
Penerapan asas kehati-hatian yang titik tekannya pada tindakan pencegahan lebih menguntungkan dibandingkan tindakan penanggulangan atau pemulihan sesuai dengan maxim “mencegah adalah lebih baik daripada mengobati” atau sesuai dengan prinsip yang menyatakan “an ounce of prevention is worth a pound of cure”.66 Satu ons tindakan mencegah bahaya lebih berharga daripada satu pon tindakan menanggulangi kerusakan yang telah terjadi.
64Ted Schettler and Carolyn Raffensperger, Why is a Precautionary Approach Needed?, dalam Marco Martuzzi and Joel Tickner (Eds), The Precautionary Principle:Protecting Public Health, the Environment and the Future of Our Children (Copenhagen: WHO Regional Office for Europe, 2004), h. 66.
65Andrew Stirling and Joel A. Tickner, Implementing Precaution: Assessment and Application Tools for Health and Environmental Decision-making, dalam Marco Martuzzi and Joel Tickner (Eds), The Precautionary Principle:Protecting Public Health, the Environment and the Future of Our Children (Copenhagen: WHO Regional Office for Europe, 2004), h. 182.
66Glenn M. Wiser and Daniel B. Magraw, JR., Principles and Approaches of Sustainable Development and Chemicals Management for Strategic Approach to International Chemichals Management (SAICM), Center for International Environmental Law (CIEL), July 2005, h. 17.
Dalam hukum lingkungan internasional dikatakan “pencegahan berkaitan dengan pertanyaan tentang bagaimana bahaya terhadap kesehatan manusia dan lingkungan dapat dihindari, dengan menyadari bahwa biaya ekonomi untuk menghindari kerusakan dan kerugian selalu lebih rendah daripada biaya perbaikan, perawatan, atau kompensasi setelah terjadi”.67 Selanjutnya dikatakan bahwa “pencegahan mengasumsikan” kepentingan utama dalam setiap kebijakan kesehatan dan lingkungan yang efektif, karena hal itu memungkinkan diambilnya tindakan untuk melindungi kesehatan publik dan lingkungan pada tahap sebelumnya”.68
Menurut Elli Louka, “pendekatan pencegahan didasarkan pada gagasan yang lebih baik untuk mencegah bahaya terhadap kesehatan publik dan lingkungan daripada menggunakan tindakan untuk memulihkan setelahnya.”69 Lebih lanjut Elli Louka menyatakan bahwa upaya pencegahan bahaya pada kesehatan publik dan lingkungan adalah raison d’être-nya kebijaksanaan kesehatan dan lingkungan.70