DAN KEBIJAKAN HUKUM PIDANA DALAM PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN KEHUTANAN
C. Asas Hukum Kehutanan
4. Asas Lestari/Berkelanjutan Dalam Pengelolaan Hutan
Asas lestari dan keberlanjutan, asas ini mulai dipopulerkan oleh World Commission on Environment and Development, dimana diakui bahwa :
“...technological innovation and social reorganization are indispensable to ensure that growing productivity does not push the ecological resilience of of the biosphere beyond its limit; ...it requires pverty allevation: It could be attained by, inter alia, population control and economic growth pursued throught environmentally nondestructive mens, more distribution of the fruits of the economic growth and abandonment of exssesively affluent livesttylest; ...requires the pursuits of growth patterns that secure the needs of present generation and do not compromise the ability of future generation to secure their own needs.” 140
140 David M Dzidzornu, ”Four Principles in Marine Environment Protection : A
Comparative Analysis, “ Ocean Development and International Law Journal , Vol. 29, No.2, 1998, p. 95. dalam Etty R. Agoes, Kebijakan Pengelolaan Kekayaan Alam Laut Secara Berkelanjutan : Suatu Tinjauan Yuridis, Beberapa Pemikiran Hukum Memasuki Abad XXI, Bandung, Angkasa, 1998, hlm. 568-569.
Bab II. Hukum Kehutanan dan Kebijakan Hukum Pidana Kehutanan
Konsep pembangunan berkelanjutan memang belum banyak dipahami dan masih menjadi wacana, karena pengelolaan sumber daya alam di Indonesia saat ini masih terjadi banyak perusakan lingkungan hidup.
Konsep pemanfaatan kekayaan alam secara ekonomis harus diselaraskan dengan konsep perlindungan lingkungan. Dengan demikian kebijakan pembangunan berkelanjutan memerlukan suatu perkembangan ekonomi yang selain kuat juga harus socially and environmentally.141
Konsep pembangunan kehutanan yang berkelanjutan di Indonesia tidak terlepas dari konsep hukum lingkungan Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Jo UU No. 19 Tahun 2009. Pembangunan berkelanjutan mengandung arti adanya upaya sadar dan terencana untuk memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan.
Pasal 1 angka 1 Undang-Undang tentang Lingkungan Hidup menjelaskan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Berdasarkan pengertian tentang lingkungan hidup tersebut dapat disimpulkan bahwa, pembangunan berkelanjutan tidak hanya pembangunan fisik saja, tetapi termasuk juga
141 Ibid.
Bab II. Hukum Kehutanan dan Kebijakan Hukum Pidana Kehutanan
pembangunan manusia sebagai salah satu sumberdaya yang merupakan bagian dari lingkungan hidup. Pembangunan masyarakat berkaitan dengan upaya yang terencana untuk meningkatkan kemampuan dan potensialitas anggota masyarakat, dan memobilisasikan antusiasme mereka untuk berpartisipasi secara aktif di dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut diri mereka. Oleh karena itu, peran serta kelompok masyarakat sangat penting dalam proses pengambilan keputusan guna melestarikan fungsi lingkungan hidup agar tercapai pembangunan yang berkelanjutan.142
World Commission on Environment and Development (WCED) mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai “development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generation to meet their own needs.” Dengan demikian, pembangunan yang dijalankan untuk memenuhi kebutuhan sekarang tidak boleh mengurangi kemampuan generasi-generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, baik kebutuhan jasmani maupun rohani.143
Terjadinya kerusakan hutan tersebut sebenarnya sudah terdeteksi sejak tahun 1972. Pada saat itu telah diselenggarakan Konferensi tentang Lingkungan Hidup oleh Perserikatan Bangsa Bangsa sebagai pernyataan sikap terhadap adanya kecenderungan semakin menurunnya kualitas lingkungan. Dalam Konferensi tersebut pemimpin-pemimpin dunia bersepakat untuk memelihara planet bumi dan menetapkan tanggal 5 Juni
142 Topane Gayus Lumbuun, Confucianisme dan Lingkungan Hidup, Budaya Hukum Masyarakat Pasiran, Universitas Indonesia, 2002, hlm. 3.
143 Ibid.
Bab II. Hukum Kehutanan dan Kebijakan Hukum Pidana Kehutanan
sebagai World Environmental Day. Disusul kemudian dengan lahirnya resolusi pembentukan UNEP (United Nations Environmental Program).
UNEP merupakan motor pelaksanaan komitmen mengenai lingkungan hidup dan telah melahirkan gagasan besar pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development). Gagasan pembangunan berkelanjutan diawali dengan terbitnya Laporan Brundland (1987), “Our Common Future”, yang memformulasikan prinsip dasar pembangunan berkelanjutan.
Konferensi-konferensi lain sebagai pernyataan sikap atas menurunnya kualitas lingkungan hidup telah pula diselenggarakan. Sejak Konferensi Stockholm telah terjadi polarisasi antara kaum developmentalist dan environmentalist. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro, Brazil tahun 1992. Konferensi ini merupakan upaya global untuk mengkompromikan kepentingan pembangunan dan lingkungan. Sepuluh tahun kemudian diselenggarakan KTT Pembangunan Berkelanjutan (World Summit on Sustainable Development) pada tahun 2002 di Johannesburg, Afrika Selatan dalam kebijakan pembangunannya telah pula menekankan plan implementation, yang mengintegrasikan elemen ekonomi, ekologi, dan sosial yang didasarkan pada tata penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance).
Tonggak penting perhatian masyarakat dunia terhadap isu-isu kehutanan terjadi pada KTT Bumi. Pada konferensi ini untuk pertama kalinya dilahirkan kesepakatan konprehensif bidang kehutanan, yaitu dokumen Forest Principle (Non-Legality Binding Authoritative Statement
Bab II. Hukum Kehutanan dan Kebijakan Hukum Pidana Kehutanan
of Principle for a Global Consensus on Management, Conservation and Sustainable Development of all Types of Forests). Puncak pengakuan isu kehutanan secara global termaknai dari lahirnya forum kehutanan tertinggi yang dibentuk oleh PBB pada tahun 2000, yaitu United Nations Forum on Forest (UNFF) yang berfungsi memfasilitasi dialog mengenai pengelolaan hutan secara konfrenhensif di tingkat dunia dan implementasi hasil-hasil KTT Bumi.144
Setelah Konferensi Stockholm, dunia semakin giat untuk menuju pembangunan yang berkelanjutan. Convention on International Trade in Endabgered Species (CITES) dan pada awal tahun 1980-an keberadaan hutan tropis mulai di agendakan dalam dialog global. Suatu proses negosiasi yang panjang telah berlangsung di bawah naungan UNCTAD (United Nations Conference on Trade and development), yang telah menghasilkan International Tropical Timber Agreement (ITTA) atau Perjanjian Kayu Tropis Internasional. ITTA melandasi pembentukan Organisasi Internasional Kayu Tropis (International Tropical Timber Organization/ITTO) pada tahun 1986. ITTO berfokus pada pengelolaan hutan berkelanjutan (Sustainable Forest Management (SFM).
Setelah 20 tahun Konferensi Stockholm, PBB kemudian menyelenggarakan United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) atau Konferensi tentang Masalah Lingkungan dan
144 Koesnadi Hardjasumantri, Hukum Tata Lingkungan, (Yogyakarta : Gadjah Mada Press, 2002)., hlm. 45.
Bab II. Hukum Kehutanan dan Kebijakan Hukum Pidana Kehutanan
Pembangunan atau yang lebih dikenal dengan KTT Bumi (Earth Summit) pada tahun 1992 di Rio de Janeiro, Brazil.
Masalah kehutanan lebih menjadi perhatian pasca KTT Bumi ini.
Komisi Ekonomi dan Sosial PBB (Economic and Social Commision/ECOSOC) membentuk Komisi Fungsional, Intergovernmental Panel on Forest/IPF (1995-1997). KTT Pembangunan Berkelanjutan (World Summit on Sustainable Development/WSSD) telah mengikat Indonesia untuk selalu melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan.
WSSD telah menghasilkan komitmen pembangunan berkelanjutan tingkat tertinggi secara global dan menempatkan masalah pengelolaan hutan dalam agenda prioritas masyarakat dunia. Johannesburg Plan of Implementation/JPOI oleh para Kepala Negara termasuk Presiden Republik Indonesia harus mengimplementasikannya ke dalam program aksi konkrit dan terinci di tingkat nasional. Keterikatan Indonesia sebagai pemilik hutan tropis memegang peran penting dalam menjaga dan mengamankan hutan agar dikelola berkelanjutan.
Konsep pembangunan berkelanjutan juga menjadi bahan kampanye agar lembaga keuangan seperti Bank tidak terkena risiko terhadap usahanya. Persyarat lunak bagi keberlanjutan (Weak Conditions of Sustainability) adalah memperbolehkan konversi dan ekstraksi sumber daya alam menjadi modal buatan manusia, dengan beberapa syarat, yaitu (1) memenuhi kriteria Social cost-Benefit Analysis (SCBA) dan kriteria lestari produksi, ekologi, dan sosial; (2) terdapat reinvestasi dalam jumlah yang
Bab II. Hukum Kehutanan dan Kebijakan Hukum Pidana Kehutanan
cukup dan distribusi yang optimal untuk mengkonpensasi eksternalitas negatif seperti deforestasi, dan lain-lain, (3) man-made capital dan hasilnya dijadikan sumber dana untuk menjamin tercapainya sustainability; (4) sumber daya alam mempunyai reseliensi terhadap gejolak (shocks) internal dan eksternal.145
Prasyarat utama bagi keberlanjutan (Strong Conditions of Sustainability) lingkungan adalah, secara absolut tidak memperbolehkan konversi dan ekstraksi sumber daya alam menjadi modal buatan manusia, dengan alasan : (1) sumber daya alam sudah jauh di bawah tingkat lestari, bahkan mendekati ambang batas kepunahan; (2) tidak tersedia sistem dan mekanisme yang memadai untuk menjamin investasi dalam jumlah yang cukup dan distribusi yang optimal; (3) kegagalan pemanfaatan man-made capital untuk menjamin kelestarian; (4) sumber daya alam (SDA) yang ada bersifat multifungsi (biodiversitas, daerah tangkapan air, dan lain-lain).146
Berdasarkan prinsip prudential bank dan 3 pilar pembangunan berkelanjutan, Bank dalam penyalurkan kreditnya, penilaian besarnya risiko usaha suatu grup usaha, perusahaan dan atau proyek oleh bank tidak hanya memperhatikan aspek lingkungan hidup dan skala ekonomi saja, tetapi juga dampak sosial yang ditimbulkan dari suatu kegiatan usaha. Oleh karena itu, dalam manajemen risiko, bank setidaknya memiliki kriteria dan indikator
145 Perbankan dan Lingkungan : Tantangan Dalam Mencapai Investasi Yang Berkelanjutan, dalam Heny dan Drajad Wibowo, Bank dan Lingkungan : Kebutuhan Pembiayaan Bagi Pembangunan Berkelanjutan Dan Risiko Terhadap Usaha Bank, Jakarta, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, 2005, hlm. 71.
146 Ibid.
Bab II. Hukum Kehutanan dan Kebijakan Hukum Pidana Kehutanan
yang jelas terhadap penilaian risiko dan keberlanjutan finansial perusahaan, maupun dampak pengusahaan suatu unit usaha terhadap kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sosial kemasyarakatan sekitar unit usaha tersebut berada.147
Hukum kehutanan, selain berdasarkan cita hukum Bangsa Indonesia tentunya tidak dapat mengesampingkan kesepakatan-kesepakatan internasional, karena hukum kehutanan sudah bersifat global dan terikat dengan kaidah hukum internasional. Sebagai perwujudannya, maka peraturan di bidang kehutanan selalu menempatkan kaidah-kaidah hukum internasional tersebut ke dalam hukum nasional (nominat primat national).
Kaidah hukum kehutanan yang terbentuk berkerangka pikir, untuk mewujudkan nilai keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum.
D. Kebijakan Hukum Pidana Dalam Peraturan Perundang-undangan