BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.4 Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
Ridwan berpendapat bahwa “peraturan perundang-undangan
dapat dibentuk dengan mengambil bahan-bahan historis dari berbagai sistem hukum dan sumber hukum yang pernah ada pada waktu dan tempat tertentu dengan memperhatikan faktor-faktor sosial yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat”. (Ridwan, 2002: 45)
Siti Soetami berpendapat bahwa “sumber hukum adalah segala
sesuatu yang menimbulkan aturan-aturan yang mempunyai ketentuan yang bersifat memaksa, yakni aturan-aturan yang kalau dilanggar mengakibatkan timbulnya sanksi tegas dan nyata”. (Soetami, 2001: 21)
C.S.T. Kansil menyebutkan sumber-sumber hukum di Indonesia dapat ditinjau dari segi material dan segi formal., yaitu:
1) Sumber-sumber hukum material, yaitu sumber hukum yang dapat ditinjau dari berbagai sudut, misalnya sudut ekonomi, sejarah, sosiologi, filsafat, dan sebagainya. 2) Sumber-sumber hukum formal, antara lain :
a. Undang-Undang (statute)
Undang-Undang ialah suatu peraturan negara yang mempunyai kekuatan hukum yang mengikat, diadakan dan diperlihara oleh penguasa negara. Agar suatu undang-undang mempunyai kekuatan mengikat dan dapat berlaku, maka syaratnya harus diundangkan dalam Lembaran Negara dan yang mengundangkan adalah Sekretaris Negara. Bagi setiap undang-undang yang telah diundangkan dalam Lembaran Negara, berlaku asas ficite hukum,
yang artinya setiap orang dianggap mengetahui adanya suatu undang-undang yang telah diundangkan.
b. Kebiasaan (custom)
Kebiasaan adalah perbuatan yang tetap dilakukan manusia berulang-ulang dalam hal yang sama. Apabila suatu kebiasaan tertentu diterima oleh masyarakat dan jika terjadi tindakan yang berlawanan dengan kebiasaan itu dirasakan sebagai pelanggaran hukum, maka dengan demikian timbul kebiasaan hukum, yang oleh pergaulan hidup dipandang sebagai hukum.
c. Keputusan-Keputusan Hakim (jurisprudensi)
Jurisprudensi adalah keputusan hakim terdahulu yang diikuti oleh hakim dan dijadikan dasar keputusan hakim lain mengenai kasus yang sama. Keputusan hakim yang menjadi jurisprudensi akan menjadi sumber hukum bagi pengadilan. Ada 2 (dua) macam jurisprudensi, yaitu jurisprudensi tetap dan jurisprudensi tidak tetap. Jurisprudensi tetap adalah keputusan hakim yang tejadi karena rangkaian keputusan serupa dan menjadi dasar bagi pengadilan untuk mengambil keputusan, sedangkan jurisprudensi tidak tetap adalah keputusan hakim yang terjadi karena menjadikan keputusan hakim terdahulu sebagai pedoman dalam mengambil keputusan terhadap perkara yang serupa.
d. Traktat (treaty)
Traktat berarti perjanjian yang diadakan oleh dua negara atau lebih dan mengikat serta berlaku sebagai peraturan hukum bagi warganegara-warganegara dari negara-negara yang melakukan perjanjian (pacta sunt servanda). Jika traktat diadakan oleh dua negara, maka traktat itu adalah traktat bilateral, sedangkan jika traktar diadakan oleh lebih dari dua negara, maka traktat itu disebut traktat multilateral.
e. Pendapat Sarjana Hukum (doktrin)
Pendapat sarjana hukum yang ternama juga mempunyai kekuasaan dan berpengaruh dalam pengambilan keputusan-keputusan oleh hakim. Jadi, pendapat ahli/sarjana hukum itu menjadi sumber hukum melalui yurisprudensi. (Kansil, 1989: 46-51)
Berkaitan dengan sumber-sumber hukum diatas, maka terdapat beberapa asas pembentukan peraturan perundang-undangan, yaitu:
2.4.1 Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menurut I. C. Van der Vlies
I. C. Van der Vlies berpendapat bahwa asas-asas pembentukan peraturan negara yang baik (beginselen van behoorlijke regelgeving) dibagi dalam asas-asas yang formal dan material bagi pembentukan peraturan perundang-undangan. Asas-asas formal yang harus dipenuhi dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang diajukan oleh I.C. Van der Vlies, yaitu:
1) Asas tujuan yang jelas (beginsel van duetlijke doelstelling). Asas ini mencakup tiga hal yaitu mengenai ketepatan letak peraturan perundang-undangan yang akan dibentuk, kerangka kebijakan umum pemerintahan, tujuan khusus peraturan perundang-undangan yang akan dibentuk.
2) Asas organ/lembaga yang tepat (beginsel van het juiste organ). Asas ini memberikan penegasan tentang perlunya kejelasan kewenangan organ/lembaga yang menetapkan peraturan perundang-undangan.
3) Asas perlunya pengaturan (het noodzakelijkheids beginsel). Asas ini tumbuh karena selalu terdapat alternatif atau alternatif-alternatif lain untuk menyelesaikan suatu masalah pemerintahan selain dengan membentuk peraturan perundang-undangan. 4) Asas dapat dilaksanakan (het beginsel van
uitvoorbaarheid). Asas ini dinilai orang sebagai usaha untuk dapat ditegakkannya peraturan perundang-undangan. Sebab tidak ada gunanya suatu peraturan perundang-undangan yang tidak dapat ditegakkan. 5) Asas konsensus (het beginsel van consensus). Asas ini
menunjukkan adanya kesepakatan rakyat dengan pemerintah untuk melaksanakan kewajiban dan menanggung akibat yang ditimbulkan oleh peraturan perundang-undangan yang bersangkutan. (Roseno, 2004: 48)
Sedangkan asas-asas material dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, yaitu:
1) Asas tentang terminologi dan sistematika yang benar (het beginsel van duitdelijke terminologie en duitdelijke systematiek). Asas ini adalah agar peraturan perundang-undangan dapat dimengerti oleh masyarakat dan rakyat, baik mengenai struktur atau susunannya.
2) Asas tentang dapat dikenali (het beginsel van de kenbaarheid). Asas ini menekankan apabila sebuah peraturan perundang-undangan tidak dikenali dan diketahui oleh setiap orang, maka peraturan perundang-undangan tersebut akan kehilangan tujuannya sebagai peraturan.
3) Asas perlakuan yang sama dalam hukum (het rechsgelijkheids beginsel). Asas ini menunjukkan tidak boleh ada peraturan perundang-undangan yang hanya ditunjukkan kepada sekelompok orang tertentu, karena hal ini akan mengakibatkan adanya ketidaksamaan dan kesewenang-wenangan di depan hukum terhadap anggota-anggota masyarakat.
4) Asas kepastian hukum (het rechtszekerheidsbeginsel). Asas ini merupakan salah satu sendi asas umum negara berdasarkan hukum.
5) Asas pelaksanaan hukum sesuai keadaan individual (het beginsel van de individuale rechtsbedeling). Asas ini bermaksud memberikan penyelesaian khusus bagi hal-hal atau keadaan-keadaan tertentu sehingga peraturan perundang-undangan dapat memberikan jalan keluar bagi masalah umum juga masalah khusus. (Roseno, 2004: 49-50)
2.4.2 Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menurut A. Hamid S. Attamimi
A. Hamid S. Attamimi dikutip Yuliandri berpendapat bahwa
“asas-asas pembentukan undang-undang yang baik dalam pembentukan
peraturan perundang-undangan di Indonesia, yaitu: cita hukum Indonesia, asas negara berdasar atas hukum dan asas pemerintahan berdasar sistem konstitusi dan asas-asas lainnya”. (Yuliandri, 2010: 115)
Attamimi menjelaskan bahwa asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang patut juga meliputi asas tujuan yang jelas, asas perlunya pengaturan, asas organ/lembaga dan materi muatan yang tepat, asas dapat dilaksanakan, asas dapatnya dikenali, asas perlakuan yang sama dalam hukum, asas kepastian hukum, asas pelaksanaan hukum sesuai dengan kemampuan individual. Selain itu, asas-asas tersebut juga perlu dilandasi oleh asas-asas hukum umum yang di dalamnya terdiri dari asas negara berdasar atas hukum, pemerintahan berdasarkan sistem konstitusi dan negara berdasarkan kedaulatan rakyat.
Lebih lanjut A. Hamid S. Attamimi dikutip Maria Farida menyebutkan jika dihubungkan pembagian mengenai adanya asas-asas yang formal dan asas-asas yang material, maka pembagiannya adalah sebagai berikut:
a) Asas-asas formal, dengan perincian: 1. Asas tujuan yang jelas;
2. Asas perlunya pengaturan; 3. Asas organ/lembaga yang tepat; 4. Asas materi muatan yang tepat; 5. Asas dapat dilaksanakan; dan 6. Asas dapat dikenali.
b) Asas-asas materiil, dengan perincian:
1. Asas sesuai dengan cita hukum Indonesia dan norma fundamental negara;
2. Asas sesuai dengan hukum dasar negara;
3. Asas sesuai dengan prinsip negara berdasarkan hukum; dan
4. Asas sesuai dengan prinsip-prinsip pemerintahan berdasarkan konstitusi. (Maria, 2007: 228-230)
2.4.3 Asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Perspektif Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan
Asas pembentukan peraturan perundang-undangan perspektif Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan dirumuskan dalam Pasal 5 dan Pasal 6 yang berbunyi sebagai berikut:
Pasal 5
Dalam membentuk Peraturan Perundang-undangan harus dilakukan berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik, yang meliputi:
a. Kejelasan tujuan;
b. Kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; c. Kesesuaian antara jenis dan materi muatan; d. Dapat dilaksanakan;
e. Kedayagunaan dan kehasilgunaan; f. Kejelasan rumusan; dan
g. Keterbukaan.
Pasal 6
(1) Materi muatan Peraturan Perundang-undangan harus mencerminkan asas: a. pengayoman; b. kemanusiaan; c. kebangsaan; d. kekeluargaan; e. kenusantaraan; f. bhineka tunggal ika; g. keadilan;
h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;
i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.
(2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Peraturan Perundang-undangan tertentu dapat berisi asas lain sesuai dengan bidang hukum Peraturan Perundang-undangan yang bersangkutan.