ASAS-ASAS PENELITIAN TINDAKAN KELAS
C. Asas Resiko
Resiko adalah bahaya, akibat atau konsekuensi yang dapat terjadi akibat sebuah proses yang sedang berlansung atau kejadian yang akan dating. Dalam bidang asuransi, resiko dapat diartikan sebagai suatu keadaan ketidakpastian, dimana jika terjadi suatu keadaan yang tidak dikehendaki dapat menimbulkan suatu kerugian, (Eta, 2010).
Sifat kolaboratif penelitian tindakan menuntut pemrakarsa penelitian tindakan untuk meyakinkan semua anggota tim penelitiannya bahwa hal-hal yang sama pada hakikatnya terjadi pada semua yang terlibat dalam proyek penelitian terkait. Mereka semua akan memperoleh manfaat yang sama, mengalami hal-hal yang sama seperti kekhawatiran karena proses penelitian
58 akan mengubah kepercayaan dan asumsi yang selama ini dipegangnya, dan prosesnya akan menyita waktu dan tenaga mereka, (Arikunto, 2006: 97).
Oleh sebab itu, pemrakarsa penelitian hendaknya melakukan apa yang dianjurkannya. Jika dia menganjurkan agar seseorang bersedia diamati dalam mengajar, dia sendiri harus bersedia untuk diamati ketika mengajar, jika dia ingin menganalisis pekerjaan siswa dia sendiri hendaknya mengerjakan dengan saling tukar bahan dan tafsiran, dan jika dia ingin mengubah praktik orang lain sebagai konsekuensi hasil penelitian maka dia harus mengubah praktiknya sendiri terlebih dahulu, (Madya, 2007: 32).
Asas resiko mengacu pada keberanian peneliti untuk mangambil resiko dalam proses penelitiannya. Asas ini merupakankelanjutan asa sumber daya kolaboratif dan juga atas kritik reflektif dan dialektis. Asas resiko berarti bahwa pemrakarsa penelitian harus berani mengambil resiko melalui proses penelitiannya. Salah satu resikonya adalah melesetnya hipotesa. Hal-hal yang mungkin diinformasikan adalah :
1. Penafsiran sementara peneliti tentang situasinya, yang sekedar menjadi sumber daya bersama- sama dengan penafsiran anggota lainnya.
2. Keputusan peneliti yang terkait dengan persoalan yang dihadapi, dan dengan demikian tentang apa yang gayut dana pa yang tidak..
3. Antisipasi peneliti terhadap urutan kejadian yang akan dilalui dalam penelitiannya, (Zuriah, 2003: 66).
Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa melalui keterlibatannya dalam proses penelitian, peneliti mungkin berubah pandangan karena dapat melalui sendiri pertentangan dan kemungkinan untuk berubah dalam pandangannya.
Menurut Richard (1996), dengan adanya ciri resiko diharapakan dan dituntut agar peneliti berani mengambil resiko, terutama pada waktu proses penelitian berlangsung. Resiko yang mungkin ada diantaranya yaitu :
1. Melesetnya hipotesis
2. Adanya tuntutan untukmelakukan suatu transformasi. Selanjutnya, melalui keterlibatan dalam proses penelitian, aksi peneliti kemungkinan akan mengalami perubahan pandangan karena ia menyaksikan sendiri adanya diskusi atau pertentangan dari para kolaborator dan selanjutnya menyebabkan pandangannya berubah.
Asas ini berarti bahwa pemrakarsa penelitian harus berani mengambilresiko melalui proses penelitiannya. Salah satu resikonya adalah melesetnya hipotesis, kemungkinan adanya tuntutan melakukan transformasi, adalah:
1. Penafsiran sementara peneliti tentang situasinya yang sekedar menjadi sumber daya bersama- sama dengan penafsiran anggota lainnya.
2. Keputusan peneliti yang terkait dengan persoalan yang dihadapi, dengan demikian tentang apa yang gayut dan apa yang tidak.
59 D. Asas Dialektis
Penelitian tradisional yang mendasarkan diri pada faham positivisme menuntut peneliti untuk mengamati gejala secara menyeluruh dan membatasinya. Hal ini dimaksudkan agar peneliti dapat mengidentifikasi apakah sesuatu gejala itu merupakan sebab atau akibat. Dalam penelitian tindakan, peneliti diharapkan menerapkan pendekatan dialektis yang menuntut peneliti untuk memberikan kritik terhadap gejala yang dijumpainya. Untuk kepentingan tersebut, perlu dilakukan pemeriksaan terhadap konteks hubungan secara menyeluruh sebagai satu kesatuan, dan struktur kontadiksi internal yang memungkinkan adanya kecenderungan untuk berubah, (Arikunto, 2006: 52).
Dialektik (dialektika) berasal dari kata dialog yang berarti komunikasi dua arah, istilah ini telah ada sejak masa Yunani Kuno ketika diintrodusir pemahaman bahwa segala sesuatu berubah (panta rei) yang digagas Heraklitos.Salah seorang filosof bernama Hegel menyempurnakan konsep dialektika dan menyederhanakannya dengan memaknai dialektika ke dalam trilogi tesis, yaitu:tesa, anti-tesis dan sintesis. Menurut Hegel tidak ada kebenaran yang absolut karena berlaku hukum dialektik, yang absolut hanyalah semangat revolusionernya. (perubahan/pertentangan atas tesis oleh anti-tesis menjadi sintesis).
Kritik dialektis dapat dilakukan dengan peneliti memusatkan pada salah satu atau tiga karakteristik dari perangkat gejala tersebut, menurut Sanjaya (2012: 92), yaitu :
1. Terpisah tapi dalam konteks hubungan yang perlu ada,
2. Ika tetap bhineka; peneliti-peneliti perlu mencari keikaan diantara perbedaan yang tampak jelas dan kontradiksi yang tersembunyi dibalik keikaan yang tampak jelas,
3. Cenderung berubah; peneliti menangkap isyarat bahwa sesuatu berubah di masa datang. Karakteristik pertama menuntut peneliti untuk menafsirkan data tertentu dengan mengingat konteks hubungan yang memang perlu ada. Misalnya, dalam menganalisis amatan tentang prestasi rendah perempuan dalam sains peneliti hendaknya menganalisis juga amatan tentang prestasi gemilang siswa perempuan dalam bahasa dan prestasi rendah laki-laki dalam PKK dan biologi. Dengan demikian peneliti akan lebih mudah memahami penormalan dalam konteksnya.
Karakteristik kedua menuntut peneliti untuk menganalisis kategori-kategori yang berbeda untuk menemukan keikaan yang tersembunyi dibalik perbedaan yang tampak jelas, dan kontradiksi yang tersembunyi dibalik keikaan yang tampak jelas. Misalnya, peneliti membedakan dua kelompok berdasarkan kategori “pembangkang” dan “setia”. Dia dituntut untuk tidak menutup kemungkinan bahwa dua kelompok ini memiliki dua kesamaan, dan kemungkinan bahwa dalam satu kelompok terdapat kontradiksi, (Zuriah, 2003: 67).
Karakteristik ketiga, menuntut peneliti untuk menangkap isyarat bahwa suatu gejala dapat berubah di masa mendatang. Mengambil contoh pembedaan kategori “pembangkang” dan “setia”, peneliti hendaknya menangkap isyarat bahwa ada kemungkinan ada kelompok “pembangkang” beralih ke kelompok “setia”. Hal itu mengisyaratkan bahwa peneliti dapat melakukan analisis yang mengarah pada pertemuan cara-cara yang mungkin di tempuh untuk mengubah gejala kearah
60 yang di inginkan. Dengan kata lain, pemahaman dialektis terhadap proses perubahan dapat memungkinkan peneliti dapat mengusulkan tindakan yang manjur setiap pemahaman sebagai criteria pemahaman yang valid, (Wiriatmadja, 2006: 78).
Metode positivisme menyarankan kita untuk mengamati gejala secara menyeluruh dan membatasi secara pasti agar dapat mengidentifikasi sebab dan akibatnya. Pendekatan ini mengharuskan peneliti melakukan kritik terhadap gejala yang ditelitinya. Dengan adanya kritik dialektik diharapkan penelitian besedia melakukan kritik terhadap fenomena yang ditelitinya. Selanjutnya peneliti akan bersedia melakukan pemeriksaan terhadap :
1. Konteks hubungan secara menyeluruh yang merupakan suatu unit walaupun dapat dipisahkan secara jelas.
2. Struktur kontradiksi internal, maksudnya dibalik unit kelas yang memungkinkan adanya kecenderungan mengalami perubahan meskipun sesuatu yang berada dibalik unit tersebut bersifat stabil, (Kusairi, 2010).