• Tidak ada hasil yang ditemukan

ASCARIDIASIS PADA UNGGAS

Dalam dokumen MODUL IDENTIFIKASI PARASIT CACING. Oleh : (Halaman 36-43)

PENYAKIT CACING PADA BABI

PENYAKIT CACING PADA AYAM

1. ASCARIDIASIS PADA UNGGAS

Ascaridiasis pada unggas adalah penyakit disebabkan oleh Ascaridia galli. Dimana penyakit ini dapat menyerang ternak ayam, mentog, angsa, itik dan berbagai burung liar di seluruh dunia. Cacing ini berperasit pada usus halus dari unggas.

Cara penularan

Infeksi cacing Ascaridia galli melalui makanan/minuman yang terkontaminasi oleh telur yang infektif (L2). Telur yang dihasilkan oleh cacing dewasa berbentuk ellips berdinding tebal, tidak bersegmen dan tidak berembrio pada saat dikeluarkan dari tubuh induk

37

semangnya, didalam telur embrio yang dihasilkan mengalami dua kali ecdisis sebelum menjadi telur infektif. Cacing tanah dapat juga membantu penyebaran cacing Ascaridia galli dan unggas terinfeksi bila memakan cacing tanah yang mengandung larva stadium 2 cacing Ascaridia galli.

Gejala klinis

Gejala klinis yang ditimbulkan tergantung dari tingkat infeksi apabila tingkat infeksi tinggi maka gejala klinis yang terlihat adalah nafsu makan menurun, bulu kasar, mencret, anemi, gangguan pertumbuhan, produksi telur menurun dan penyumbatan usus secara mekanis. Gangguan pertumbuhan ayam terutama disebabkan kurang efesiensinya penggunaan makanan dan akibat penyerapan makanan dalam usus oleh adanya kerusakan mukosa usus, terutama disebabkan pada saat larva cacing A. galli menembus mukosa dinding usus. Ayam muda lebih sensitif terhadap kerusakan yang ditimbulkan Ascaridia galli. Sejumlah kecil cacing Ascaridia galli yang berparasit pada ayam dewasa biasanya dapat ditolerir tanpa adnya kerusakan tertentu pada usus. Ayam yang terinfeksi Ascaridia galli dalam jumlah besar akan kehilangan darah, mengalami penurunan kadar gula darah, peningkatan asam urat, atrofi timus, gangguan pertumbuhan, dan peningkatan mortalitas.

Patogenesa

Intensitas infeksi Ascariasis tergantung dari beberapa faktor :

38

Makanan, mikroflora usus, infeksi coccidia, sex/jenis kelamin dan umur

Kerentanan meningkat bila dalam ransum kekurangan vit A, B dan B12 serta mineral dan protein. Lewat umur tiga bulan ayam lebih tahan, hal ini berkaitan dengan meningkatnya sel-sel goblet dalam usus.

Patogenitas yang ditimbulkan dari serangan cacing ini dapat meliputi 2 stadium :

a. pada saat larva cacing A. galli menembus mukosa usus sehingga akan mengakibatkan kerusakan pada dinding usus dan pada usus dapat terjadi perdarahan sehinngga menimbulkan enteritis, yang mengakibatkan penyerapan zat-zat makanan terganggu.

b. Pada saat cacing dewasa pada lumen usus. Cacing dewasa hidup bebas dalam lumen usus halus dan bila jumlah cacing dalam jumlah yang banyak akan dapat menyumbat dari usus halus. Cacing dewasa akan aktif memakan makanan yang dimakan unggas (kompetitif dengan hospes) sehingga efisiensi penyerapan makanan terganggu dan akibatnya pertumbuhan ayam juga terganggu.

Akumulasi infeksi cacing A. galli terjadi pada unggas yang dipelihara dalam kandang liter (sekam) yang tebal terutama karena terjadi peningkatan kelembaban. Infeksi berat A. galli menyebabkan penurunan produksi telur pada kandang litter di breeder dan layer komersial.

Ayam yang diberi pakan dengan kandungan protein 10% dan diinfeksi dengan 10, 100 dan 1000 telur A. galli per hari selam enam minggu tanpa diberi suplemen vitamin menunjukkan berat badan yang lebih rendah dibanding yang diberi suplemen vitamin

Perubahan Anatomis

Pada mukosa usus akan terlihat enteritis haemorrhagis dan dalam selaput lendir usus ditemukan telur cacing. Karkas akan terlihat kurus, pucat dan cacing dewasa ditemukan dalam usus. Kadang-kadang parasit cacing ditemukan dalam albumin telur cacing., diduga dari kloaka kesasar ke uterus dan terperangkap dalam putih telur

Diagnosa : berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan tinja Pengobatan :

- Penothiazine 220 mg/kg

- Piperazine citrat 300 –400 mg/kg bb.

-

39 Pencegahan :

Ayam yamg muda hendaknya dipisahkan dari yang dewasa. Kandang harus kering dan sering dibersihkan. Pemberian obat cacing secara teratur setiap 2 bulan sekali.

2. HETERAKIASIS

Kecacingan pada unggas yang disebabkan oleh cacing H. gallinarrum . cacing ini habitnya pada sekum ayam, itik, unggas dan kalkun.

Siklus Hidup

Di alam bebas telur berkembang dan mencapai tahap infektif (L2) dalam waktu 14 hari. Penularan terjadi bila telur infektif termakan oleh unggas, maka dalan usus ayam menetas dalam waktu 1-2 jam. Sampai hari keempat cacing muda sangat erat dengan mukosa sekum dan menimbulkan kerusakan pada kelenjar epitel. Selanjut menjadi L3 ( 6 hari) dan L4 (Hari ke 10) dan dewasa.

Patogenesis

Pengaruh langsung dari H. gallinarum tidak begitu berarti kecuali dalam jumlah yang banyak. Terjadi penebalan mukosa sekum serta perdarahan. Yang lebih berbahaya karena cacing ini merupakan vektor protozoa Histomonas Meleagridis yang menyebabkan Blachead atau enterohepatitis pada kalkun . protozoa ini hidup lama dalam telur H.

gallinarum.

Diagnosa : menemukan telur cacing dalam feses

3. TETRAMERIOSIS

ETIOLOGI : Tetrameres americana

Morfologi makroskopis : cacing dewasa hidup pada proventrikulus, mudah dibedakan antara yang jantan dan yang betina. Cacing jantan berwarna putih, gilik seperti benang dengan ukuran panjang hanya sekitar 5-6 mm, sebagian besar hidup bebas

40

di dalam lumen proventrikulus, tetapi sewaktu-waktu dapat mengunjungi cacing betina masuk ke dalam kelenjar untuk kawin dan setelah itu mati, berukuran panjang 5-5,5 mm (1,3,6). Cacing betina dewasa berbentuk hampir bulat, sedangkan bagian anterior dan posterior berbentuk kerucut, berwarna merah darah dengan ukuran panjang 3,5-4,5 X 3 mm, berpredileksi tertanam di dalam kelenjar proventriculus.

Morfologi mikroskopis: cacing jantan memiliki kutikula yang dipersenjatai dengan empat baris duri dan tidak ada cordon , sedangkan cacing betinanya memiliki empat alur longitudinal pada permukaannya . Telurnya berdinding tebal, berukuran 42-50 × 24 μm dan telah embrio (larva) saat keluar bersama tinja .

Spesies Tetrameres sp lainnya : T. mohtedai menginfeksi ayam di India dan Asia timur.

Hospes intermediernya adalah kecoa dan Belalang seperti Spathosternum prasiniferum, Oxya nitidula dan ngengat Setamorpha nutella (1). T. Fissispina menginfeksi : Itik, angsa, ayam.kalkun, merpati dan burung air liar lainnya, Hospes intermedier Krustacea air (Daphnia dan Gamarus), Belalang dan cacing tanah.

Siklus Hidup, telur akan keluar bersama tinja, memerlukan hospes antara serangga orthoptera yang cocok, seperti Melanoplus femurrubrum, M. differentialis dan Blatella germanica). Infeksi terjadi secara tidak langsung, karena memakan serangga terinfeksi .

Patogenesa dan Gejala Klinis, cacing betina mengisap darah, tetapi kerusakan terparah terjadi ketika cacing muda bermigrasi menembus dinding proventrikulus, menyebabkan iritasi dan peradangan, yang dapat membunuh anak ayam. Unggas terinfeksi mengalami anemia (balung dan pial pucat) dan kurus. Pada autopsi cacing betina dewasa dapat dilihat dari bagian luar proventrikulus berwarna gelap di dalam jaringannya .

Diagnosa, pemeriksaan tinja untuk menemukan telur cacing dan menemukan cacing pada saat bedah bangkai

41 4. CESTODIOSIS

Etiologi, Cestodiosis pada ayam disebabkan oleh genus (Davainea, Raillietina dan Amoebotaenia), hidup di dalam usus halus

Siklus hidup,

secara umum dimulai dari hospes definitif terinfeksi akan mengeluarkan proglotid gravid dalam rangkaian strobila atau

tersendiri bersama tinja, kadang-kadang juga proglotid akan pecah di dalam usus sehingga telur keluar bersama tinja. Proglotid kemudian mengalami apolysis (hancur), sehingga telur berserakan mencemari lingkungan

.

Telur apabila termakan oleh hospes intermedier yang sesuai, karena pengaruh sekeresi (lambung, usus, hati dan pancreas) di dalam saluran pencernan, onkosfer akan tercerna, sehingga menyebabkan aktifnya embriofor. Ombriofor menggunakan kaitnya akan menembus dinding usus dan akhirnya bersama aliran darah atau linfe beredar keseluruh tubuh menuju tempat predileksinya dan berkembang lebih lanjut menjadi bentuk peralihan (“metakestoda).

42

Cara penularan karena termakannya Hospes Intermedier infektif

Patogenesa, Davainea proglottina merupakan cacing pita yang paling pathogen, karena rostelumnya dipersenjatai kait dan dapat masuk ke dalam villi duodenum, sehingga menyebabkan nekrosis dan enteritis hemoragika, sehingga menyebabkan penyerapan sari makanan tidak sempurna.. Raillietina echinobothrida, berukuran panjang bisa mencapai lebih dari 25 cm, juga pada rostelum dan acetabulanya dipersenjatai dengan kait yang bisa melukai permukaan usus, sehingga dapat menimbulkan nodul-nodul dan kadang-kadang dapat melubangi usus halus sehingga menyebabkan peritonitis. Jenis cacing pita yang lain umumnya tidak menimbulkan kerusakan yang nyata, hanya bersaing mendapatkan makanan dengan hospes definitif. Jika jumlahnya terlalu banyak dapat menyumbat usus halus .

Gejala klinis, sangat tergantung dari intensitas infeksi dan jenis cacing pita yang menginfeksi. Pada infeksi berat, ayam dewasa tampak : produksi menurun, pertumbuhan terhambat, gerakan lambat, mencret, bulu mudah lepas dan kering, selaput lendir pucat dan kurus. Pada anak ayam , nampak : pertumbuhan terhambat, berjalan tidak tegap, berdiri dengan tumit terangkat, keadaan lebih lanjut diikuti kekejangan pada kaki dan akhirnya lumpuh Diagnosa, yang paling awal berdasarkan gejala klinis, kemudian mengamati proglotid atau dalam rangkaian segmen yang keluar dari anus dan pengamatan bedah bangkai untuk menemukan cacing pita di dalam usus halus

Pengobatan, Butyronate 75-150 mg/kg, Niclosamide, Hexachlorophene, memberikan hasil baik.

Praziquantel, Benzimidazole, Albendazole dan Oxfendazole barangkali efektif (5,7). Dibutyltin dilaurate 250 mg/50 kg ransum diberikan selama 48 jam efektif terhadap Raillietina cesticellus dan dengan dosis 500 mg/kg ransum efektif untuk Davainea (3). Catatan : Niclosamide yang efektif digunakan untuk mengobati cacing pita pada mamalia, ternyata setelah dicbakan pada ayam di Bogor, tidak memberikan hasil yang diharapkan bahkan menimbulkan kematian karena toksik.

Fraziquantel dalam pakan 10 mg/kg efektif mengobati cacing pita pada ayam buras dengan efektivitas 98,16%

Kontrol, ditujukan untuk menghindarkan termakannya hospes intermedier yang infektif atau membunuh hospes intermedier dengan menggunakan obat yang ada.

43

Dalam dokumen MODUL IDENTIFIKASI PARASIT CACING. Oleh : (Halaman 36-43)

Dokumen terkait