• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

D. Ascaris equorum

Gambar 4.3. Telur Parasit Strongyloides westeri yang ditemukan pada Gastrointestinal Kuda di Berastagi (perbesaran 400x)

D. Ascaris equorum

Ascaris equorum memiliki bentuk telur bulat, berwarna kuning kecoklatan, memiliki selubung tiga lapis, mengandung sel embrio tidak bersegmen dan memiliki rongga. Menurut Natadisastra dan Agoes (2009), telur Ascaris berbentuk bulat, memiliki ukuran (45-70)x(35-50) µm. Bagian dalam telur terdapat sel telur yang tidak bersegmen, serta memiliki warna kuning kecoklatan karena menghisap empedu. Telur ascaris memiliki dinding 3 lapisan yaitu lapiran albuminoid, hyaline, dan vitelline/lipoid. Ditinjau dari ada atau tidaknya lapisan albuminoid dibagi menjadi dua yaitu :

a. Telur decorticated (tidak ada lapisan albuminoid) dan, b. Telur corticated (ada lapisan albuminoid)

Dinding Telur

Larva

18

Gambar 4.4. Telur Parasit Ascaris equorum yang ditemukan pada Gastrointestinal Kuda di Berastagi (perbesaran 400x)

E. Paramphistomum sp.

Paramphistomum sp. memiliki bentuk telur ellips, berwarna kuning muda, memiliki selubung selapis tipis, mengandung sel embrio bersegmen, tidak memiliki rongga, serta memiliki tonjolan kecil di ujung telur. Hal ini sesuai dengan Darmono (1983), telur Paramphistomum sp. memiliki bentuk ellips, panjangnya 113-175 µm dan lebar 73-100 µm, dinding berwarna sedikit kuning muda transparan, sel embrional dan operkulum jelas dan sering terdapat tonjolan kecil di ujung posterior.

Gambar 4.5. Telur Parasit Paramphistomum sp. yang ditemukan pada Gastrointestinal Kuda di Berastagi (perbesaran 400x)

Dinding Telur

Embrio Tidak Bersegmen

Dinding Telur

Embrio Operkulum

19

4.2. Tingkat Serangan Parasit

Berdasarkan hasil pemeriksaan feses kuda dapat dilihat rata-rata jumlah telur per gram feses (EPG) dari tiga kali ulangan pada tabel sebagai berikut :

Tabel 4.2. Tingkat Serangan Parasit Gastrointestinal Kuda Anakan di Peternakan Kuda Desa Sempajaya Berastagi Sumatera Utara

Kuda Jenis Parasit Rata-Rata Jumlah Telur (EPG)

Kategori Tingkat Serangan

1 - - -

2 Strongyloides westeri 162 Ringan

3 Haemonchus sp. 1365 Ringan

10 Strongyloides westeri 173 Ringan

Ket : - (tidak ditemukan parasit)

Pada Tabel 4.2. di atas dapat dilihat parasit gastrointestinal yang menyerang kuda anakan adalah Haemonchus sp., Strongyloides westeri, Ascaris equorum, dan Paramphistomum sp. Pada Tabel 4.3. ditemukan parasit yang menyerang kuda dewasa adalah Haemonchus sp., Strongyloides westeri, Ostertagia sp. dan Paramphistomum sp. Dari hasil pemeriksaan, parasit gastrointestinal yang sering menyerang ternak kuda adalah Haemonchus sp.

Menurut Mustika dan Ahmad (2004), Haemonchus sp. merupakan parasit yang terpenting karena dapat merugikan pada hewan ruminansia. Haemonchus sp.

menyebabkan penurunan bobot badan, diare, dan kekurusan.Haemonchus adalah cacing penghisap darah, setiap ekor per hari menghabiskan 0,049 ml darah sehingga menyebabkan anemia. Anemia berlangsung 3 tahap, yaitu tahap I setelah 3 minggu menginfeksi hewan ternak akan kehilangan darah dalam jumlah besar (tahap akut). Tahap II yaitu 3-8 minggu setelah infeksi kehilangan darah dan zat besi, dan tahap III terjadi penurunan sistem eritropoetik yang disebabkan kekurangan zat besi dan protein (tahap kronis) (Estuningsih dkk, 1996).

20

Tabel 4.3. Tingkat Serangan Parasit Gastrointestinal Kuda Dewasa di Peternakan Kuda Desa Sempajaya Berastagi Sumatera Utara

Kuda Jenis Parasit Rata-Rata Jumlah Telur (EPG)

Kategori Tingkat Serangan

1 Strongyloides westeri 63 Ringan

2 Haemonchus sp.

Parasit gastrointestinal Haemonchus sp. yang menyerang kuda dewasa terdapat tingkatan serangan yang berbeda yaitu ringan dan sedang, sedangkan pada kuda anakan hanya terdapat tingkat serangan ringan. Hal ini dapat kemungkinan disebabkan karena panjang waktu infeksi yang terjadi pada kuda dewasa lebih lama daripada kuda anakan, kemudian dapat semakin parah karena tidak diberikannya obat cacing pada kuda yang terinfeksi. Tingkat serangan parasit juga dipengaruhi oleh kemampuan parasit tersebut menghasilkan telur.

Cacing betina dewasa Haemonchus sp. mampu bertelur sebanyak 5.000 – 10.000 butir setiap hari (Estuningsih dkk, 1996).

Menurut Subronto (2007), tiap parasit gastrointestinal memiliki sifat khusus dalam daur hidupnya dan kemampuan dari parasit untuk menghasilkan keturunannya. Parasit akan bertahan tergantung pada jumlah telur yang dihasilkan setiap harinya. Hal ini diperkuat oleh Koesdarto (2001), jumlah telur/g feses dari

21

suatu jenis parasit sangat tergantung pada lingkungan, kemampuan bertelur dari jenis parasit dan panjang pendeknya siklus hidup parasit. Setiap jenis parasit memerlukan lingkungan dengan kondisi tertentu. Apabila lingkungan tempat parasit hidup mendukung, maka parasit tersebut dengan cepat dapat berkembang.

Kemampuan bertelur tiap-tiap parasit berbeda antara satu dengan yang lainnya dapat mempengaruhi jumlah telur/g feses. Panjang pendeknya siklus hidup juga sangat menentukan jumlah telur EPG. Semakin pendek siklus hidup suatu cacing maka semakin cepat perkembangbiakan cacing tersebut.

4.3. Prevalensi

Berdasarkan hasil pemeriksaan dari 30 ekor kuda di Desa Sempajaya Berastagi prevalensi parasit pada kuda anakan dan dewasa yang dapat dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4. Prevalensi Parasit Gastrointestinal Kuda di Peternakan Kuda Desa Sempajaya Berastagi Sumatera Utara

Parasit gastrointestinal Prevalensi (%)

Anakan (<2 Tahun) Dewasa (>2 Tahun)

Haemonchus sp. 30 55

Ostertagia sp. 0 5

Strongyloides westeri 40 5

Ascaris equorum 10 0

Paramphistomum sp. 10 15

Pada Tabel 4.4. dapat dilihat bahwa prevalensi parasit gastrointestinal yang ditemukan pada kuda dewasa lebih tinggi dibandingkan kuda anakan yaitu, Haemonchus sp. (55 %) dengan kategori frequently (parasit tersebut sering sekali menginfeksi), Ostertagia sp. (5 %) dengan kategori occasionally (Parasit kadang-kadang menginfeksi), dan Paramphistomum sp. (15 %) dengan kategori often (parasit tersebut sering menginfeksi).

Prevalensi parasit gastrointestinal yang ditemukan pada kuda anakan lebih tinggi dibandingkan kuda dewasa yaitu Strongyloides westeri (40 %) dengan kategori commonly (parasit tersebut biasa menginfeksi) dan Ascaris equorum (10

%) dengan kategori often (parasit tersebut sering menginfeksi).

22

Menurut Laura (2015), Strongyloides westeri adalah cacing kremi usus yang signifikan lebih sering menginfeksi anak kuda daripada kuda dewasa. Anak kuda yang baru lahir serta yang menyusui ASI rentan terhadap infeksi telur berisi larva. Infeksi Strongyloides westeri pada anak kuda biasanya tidak memperlihatkan gejala-gejala yang jelas (asimtomatik). Strongyloides westeri dapat menyebabkan diare, penurunan berat badan, tidak nafsu makan (anoreksia), iritasi kulit, gangguan pernafasan serta pendarahan ekstrim.

Ascaris equorum merupakan jenis cacing yang sangat berbahaya pada anak kuda, ascariasis anak kuda menyebabkan mal nutrisi, pertumbuhan terhambat, imunitas menurun sehingga terlihat lemah dan rentan terkena penyakit.

Kuda muda terserang penyakit ascariasis karena belum mempunyai ketahanan tubuh yang bagus terhadap serangan cacing (Ratnawati, 2004).

Dari hasil penelitian Setiawan dkk (2014), ditemukan 49 sampel positif terinfeksi cacing nematoda dari 50 sampel feses kuda penarik cidomo di Lombok Timur dengan prevalensi sebesar 98%. Setelah diidentifikasi lebih lanjut kuda-kuda ini terinfeksi oleh cacing tipe strongil 98% dengan masing-masing Strongylus spp 76%, Cyathostomes spp 56% dan Triodontophorus spp 32%, sedangkan prevalensi Strongyloides westeri 12%, Oxyuris equi 6% dan Parascaris equorum 2%. Prevalensi yang ditemukan pada feses kuda penarik cidomo di Lombok Timur lebih tinggi dibandingkan prevalensi yang ditemukan pada feses kuda di desa Sempajaya Berastagi Sumatera Utara. Hal itu dikarenakan sistem pemeliharaan kuda di Lombok Timur adalah semi intensif sedangkan sistem pemeliharaan kuda di desa Sempajaya Berastagi Sumatera Utara adalah intensif. Prevalensi Parascaris equorum di Berastagi Sumatera Utara lebih tinggi dibandingkan di Lombok Timur. Rendahnya prevalensi Parascaris equorum di Lombok Timur dapat disebabkan sampel kuda yang digunakan adalah kuda yang memiliki umur lebih dari 4 tahun.

Menurut Sugeng (2000), hewan yang dipelihara dengan sistem pemeliharaan semi intensif lebih rentan terinfeksi parasit daripada hewan yang dipelihara dengan intensif. Sistem pemeliharaan semi intensif dilakukan dengan cara digembalakan di padang pengembalaan pada siang hari, kemudian pada sore harinya dimasukkan ke dalam kandang dan diberi pakan tambahan. Berbeda dengan sistem pemeliharaan semi intensif, sistem pemeliharaan intensif pada

23

umumnya dilakukan dengan cara hewan ternak dikandangkan sepanjang hari.

Hewan ternak diberi pakan sebanyak dan sebaik mungkin, dan memperoleh perlakuan yang lebih teratur dalam hal pemberian pakan, pembersihan kandang, serta pengendalian penyakit.

Bentuk infeksi parasit terdapat dalam bentuk tunggal dan ganda seperti yang disajikan pada Tabel 4.5. Infeksi tunggal adalah serangan dan pembiakan satu jenis parasit di dalam satu individu, sedangkan infeksi ganda adalah serangan dan pembiakan dua jenis parasit di dalam satu individu (Akhira dkk, 2013).

Tabel 4.5. Bentuk Infeksi Parasit Gastrointestinal Kuda di Desa Sempajaya

Haemonchus sp. + Ostertagia sp. (Ganda) 3,3

Haemonchus sp. + Paramphistomum sp. (Ganda) 3,3 Strongyloides westeri + Ascaris equorum (Ganda) 3,3 Strongyloides westeri + Paramphistomum sp. (Ganda) 3,3

Dari 30 ekor kuda di Desa Sempajaya, Kabupaten Karo yang terinfeksi ditemukan sebanyak 40 % terinfeksi tunggal oleh Haemonchus sp., 10 % terinfeksi Strongyloides westeri, dan 3,3 % ekor terinfeksi Paramphistomum sp.

Kuda di Desa Sempajaya Berastagi juga terinfeksi ganda oleh Haemonchus sp.

dan Ostertagia sp., Haemonchus sp. dan Paramphistomum sp., sebesar 3,3 %, Strongyloides westeri dan Ascaris equorum, serta teinfeksi oleh Strongyloides westeri dan Paramphistomum sp masing-masing sebesar 3,3 %. Adanya infeksi ganda pada satu ekor kuda disebabkan oleh sifat parasit gastrointestinal tersebut infeksinya tidak menyebabkan kematian terhadap host namun hanya menyebabkan penurunan system imun sehingga memungkinkan terjadinya infeksi sekunder oleh jenis parasit gastrointestinal yang lain (Akhira dkk, 2013). Adanya infeksi ganda juga dapat disebabkan karena individu yang terserang parasit tunggal dalam tingkat serangan sedang sehingga tidak memungkinkan terjadinya infeksi parasit gastrointestinal jenis lainnya. Hal ini berkaitan dengan terbatasnya ketersediaan ruang tempat tinggal dan makanan, serta adanya kompetisi antara satu jenis parasit dengan parasit lainnya. Menurut Heddy dan Kurniati (1994),

24

ruangan habitat suatu organisme tidak hanya tergantung di mana organisme tersebut hidup, tetapi juga pada apa yang dilakukan organisme, bagaimana organisme mengubah energi, bertingkah laku, bereaksi, mengubah lingkungan fisik maupun biologi dan bagaimana organisme dihambat oleh spesies lain.

4.4. Intensitas

Dari hasil perhitungan intensitas parasit gastrointestinal pada kuda di Desa Sempajaya Berastagi dapat dilihat pada Tabel 4.6.

Tabel 4.6. Intensitas Parasit Gastrointestinal Kuda di Peternakan Kuda Desa Sempajaya Berastagi

Parasit gastrointestinal Intensitas (telur/individu)

Anakan (<2 Tahun) Dewasa (>2 Tahun)

Haemonchus sp. 1206 1046

Ostertagia sp. 0 143

Strongyloides westeri 161 63

Ascaris equorum 34 0

Paramphistomum sp. 58 32

Berdasarkan Tabel 4.6. intensitas parasit gastrointestinal pada kuda anakan di Desa Sempajaya Berastagi didapatkan intensitas Haemonchus sp. yaitu sebesar 1206 dengan ketegori super infeksi parasit, Strongyloides westeri sebesar 161 dengan kategori inventaris parasit sangat berat, Paramphistomum sp. sebesar 58 dengan kategori inventaris parasit berat, dan Ascaris equorum sebesar 34 dengan kategori inventaris parasit sedang. Pada kuda dewasa didapatkan intensitas Haemonchus sp. yaitu sebesar 1046 dengan kategori super infeksi parasit, Ostertagia sp. sebesar 143 dengan kategori inventaris parasit sangat berat, Strongyloides westeri sebesar 63 dengan kategori inventaris parasit berat, dan Paramphistomum sp. sebesar 32 dengan kategori inventaris parasit sedang.

Besarnya nilai intensitas yang didapatkan pada populasi kuda di peternakan kuda Desa Sempajaya Berastagi, Kabupaten Karo kemungkinan diakibatkan oleh pakan yang terkontaminasi oleh telur cacing. Dari hasil wawancara dengan pemilik peternakan kuda bahwa kuda yang terdapat di peternakan diberi pakan berupa rumput segar yang diambil pada pagi hari dan diberi tambahan dedak atau beras yang dicampur dengan vitamin. Pemilik juga

25

tidak pernah memberikan obat antihelmintik. Kuda dapat terinfeksi cacing saat menelan telur/larva infektif yang terdapat pada rumput segar yang diambil pagi hari dan masih basah. Larva menghindarkan diri dari cahaya matahari sehingga larva akan naik ke pucuk tanaman di pagi hari. Menurut Ratnawati (2004), untuk mengurangi dan mengatasi masalah kecacingan, dilakukan secara teratur pemeriksaan dan pengobatan, terutama pada anak kuda diberi obat mulai dari umur 1 bulan setiap 4-6 bulan sekali.

Suhu dan kelembapan juga sangat berpengaruh terhadap besarnya intensitas. Suhu dan kelembapan yang terdapat di peternakan kuda Desa Sempajaya Berastagi, kabupaten Karo, Sumatera Utara adalah 22° C dan 69 %.

Menurut Zulfikar (2012), suhu dan kelembapan sangat besar pengaruhnya terhadap kelangsungan hidup cacing. Suhu optimum tiap parasit dalam kehidupannya berbeda-beda tergantung dari spesiesnya. Kisaran suhu yang dibutuhkan oleh nematoda stadium bebas di alam adalah 18-38° C. Kelembapan yang tinggi sangat membantu untuk menghancurkan feses yang diduga mengandung telur cacing serta dapat menurunkan stadium infektif dari cacing.

Pada Tabel 4.6 dapat dilihat intensitas Haemonchus sp., Strongyloides westeri, Ascaris equorum, dan Paramphistomum sp. lebih tinggi pada anakan kuda, akan tetapi parasit Ostertagia sp. tidak ditemukan pada kuda anakan.

Tingginya intensitas parasit gastrointestinal pada kuda yang berumur kurang dari 2 tahun (kuda anakan) dikarenakan kuda anakan lebih rentan terhadap serangan parasit jika dibandingkan dengan kuda dewasa.

Menurut Maswarni dan Nofiar (2014), kuda anakan lebih banyak terinfeksi cacing parasit jika dibandingkan dengan kuda dewasa. Hal ini berkaitan dengan tingkat kekebalan tubuh ternak kuda dewasa lebih tinggi dibandingkan ternak kuda anakan, terutama pada anak kuda yang baru lahir dan anak kuda yang mendapatkan susu buatan. Hal ini dikuatkan oleh Levine (1990) dalam Zulfikar dkk (2012), yang menjelaskan bahwa faktor spesies, umur, daya tahan atau imunitas terutama umur yang lebih muda sangat rentan dan mempunyai kepekaan terhadap infeksi nematoda gastrointestinal. Umur berpengaruh terhadap konsentrasi imunitas alami (pasif) dan imunitas aktif yang terdapat pada tubuh ternak.

BAB 5

Dokumen terkait