• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1.5 ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA)

ATIGA merupakan kodifikasi atas keseluruhan kesepakatan ASEAN dalam liberalisasi dan fasilitasi perdagangan barang (trade in goods). Dengan demikian, ATIGA merupakan penggantiCommon Effective Preferential Tariff (CEPT)

Agreement serta penyempurnaan perjanjian ASEAN dalam perdagangan barang secara komprehensif dan integratif yang disesuaikan dengan kesepakatan ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint terkait dengan pergerakan arus barang (free flow of goods) sebagai salah satu elemen pembentuk pasar tunggal dan basis produksi regional. ATIGA terdiri dari 11 Bab, 98 Pasal dan 10 Lampiran, yang antara lain mencakup prinsip-prinsip umum perdagangan internasional ( non-discrimination, Most Favoured Nations-MFN treatment, national treatment),

liberalisasi tarif, pengaturan non-tarif, ketentuan asal barang, fasilitasi perdagangan, kepabeanan, standar, regulasi teknis dan prosedur pemeriksaan penyesuaian, SPS (Sanitary and Phytosanitary Measures), dan kebijakan pemulihan perdagangan (safeguards, anti-dumping, countervailing measures). ATIGA yang diharapkan mulai berlaku efektif 180 hari setelah penandatanganannya pada tanggal 27 Februari 2009 bertujuan untuk:

1. Mewujudkan kawasan arus barang yang bebas sebagai salah satu prinsip untuk membentuk pasar tunggal dan basis produksi dalam ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2015 yang dituangkan dalam AEC

Blueprint;

2. Meminimalkan hambatan dan memperkuat kerjasama diantara negara-negara anggota ASEAN;

3. Menurunkan biaya usaha;

4. Meningkatkan perdagangan dan investasi dan efisiensi ekonomi;

5. Menciptakan pasar yang lebih besar dengan kesempatan dan skala ekonomi yang lebih besar untuk para pengusaha di negara-negara anggota ASEAN; dan;

6. Menciptakan kawasan investasi yang kompetitif

Di dalam ASEAN Trade in Goods Agreement terdapat komitmen-komitmen utama dalam rangka mewujudkan kawasan perdagangan bebas di wilayah ASEAN melalui liberalisasi dan fasilitasi perdagangan barang, berikut adalah komitmen-komitmen utama di dalam ATIGA:

1. Penurunan dan Penghapusan Tarif

Penghapusan tarif termasuk border measures guna menghapuskan hambatan tarif sehingga perdagangan barang sangat kompetitif yang dapat meningkatkan daya saing. Penghapusan tarif seluruh produk intra-ASEAN, kecuali produk yang masuk dalam kategori Sensitive List (SL) dan Highly Sensitive List (HSL), dilakukan sesuai jadwal dan komitmen yang telah ditetapkan dalam persetujuan CEPT-AFTA dan digariskan dalam the Roadmap for Integration of ASEAN (RIA) yaitu pada tahun 2010 untuk ASEAN-6 dan tahun 2015 untuk Cambodia, Laos, Myanmar dan Vietnam (CLMV) (Tabel 3.1). Indonesia dan Thailand saat ini telah melaksanakan seluruh jadwal komitmen penurunan dan penghapusan tarif dalam ATIGAberdasarkan skema CEPT-AFTA, sehingga seluruh produk Indonesia dan Thailand yang masuk daftarinclusion listtelah diliberalisasi. Untuk lebih jelasnya akan disajikan dalam tabel berikut ini:

Tabel 3.1

Jadwal Penghapusan Tarif Produk Kategori Inclusion List (IL) Negara ASEAN

Negara ASEAN

Tahun Penghapusan Tarif IL

60% Pos Tarif 80% Pos Tarif 100% Pos Tarif

ASEAN-6 2003 2007 2010

Vietnam 2006 2010 2015

Laos dan Myanmar 2008 2012 2015

Cambodia 2010 - 2015*

Catatan: *fleksibilitas hingga 2018

Sumber:http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/Umum/Setditjen/Bu ku%20Menuju%20ASEAN%20ECONOMIC%20COMMUNIT Y%202015.pdf Diunduh pada 30 April 2014.

Tabel 3.2

Komposisi Jumlah Pos Tarif Pada Kategori Produk Tahun 2009

Negara Anggota Jumlah Pos Tarif

IL TEL GEL SL/HSL Lainnya *) Total

Brunei D. (AHTN 2007) 8,223 - 77 - - 8,300 Indonesia (AHTN 2007) 8,632 - 96 9 - 8,737 Malaysia (AHTN 2007) 12,239 - 96 - - 12,335 Philippines (AHTN 2007) 8,934 - 27 19 - 8,980 Singapore (AHTN 2007) 8,300 - - - - 8,300 Thailand (AHTN 2007) 8,300 - - - - 8,300 ASEAN-6 54,628 - 296 28 - 54,952 Cambodia (AHTN 2002) 10,537 - 98 54 - 10,689 Lao PDR (AHTN 2007) 8,214 - 86 - - 8,300 Myanmar (AHTN 2007) 8,240 - 49 11 - 8,300 Vietnam (AHTN 2007) 8,099 - 144 - 57 8,300 CLMV 35,090 - 377 65 57 35,589 ASEAN 10 89,718 - 673 93 57 90,541

Catatan: *) 57 pos tarif dalam kategori produk CKD ini tidak terdapat dalam CEPT Legal Enactment Vietnam mengenai tarif bea masuk.

Sumber:

http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/Umum/Setditjen/Buku%20 Menuju%20ASEAN%20ECONOMIC%20COMMUNITY%202015.pdf Diunduh pada 30 April 2014.

Tabel 3.3

Jumlah Pos Tarif Pada Tingkat Tarif Produk ASEAN Tahun 2009

Negara Anggota Jumlah Pos Tarif Persentase

0-5% >5% Other Total 0-5% >5% Other Total Brunei D. (AHTN 2002) 8,223 - - 8,223 100.00 - - 100 Indonesia (AHTN 2007) 8,625 7 - 8,632 99.92 0.08 - 100 Malaysia (AHTN 2007) 12,173 32 34 12,239 99.46 0.26 0.28 100 Philippines (AHTN 2007) 8,857 77 - 8,934 99.14 0.86 - 100 Singapore (AHTN 2007) 8,300 - - 8,300 100.00 - - 100 Thailand (AHTN 2007) 8,287 13 - 8,300 99.84 0.16 - 100 ASEAN-6 54,465 129 34 54,628 99.70 0.24 0.06 100 Cambodia (AHTN 2002) 8,539 1,998 - 10,537 81.04 18.96 - 100 Lao PDR (AHTN 2007) 7,900 314 - 8,214 96.18 3.82 - 100 Myanmar (AHTN 2007) 8,240 - - 8,240 100.00 - - 100 Vietnam (AHTN 2007) 8.009 90 - 8.099 98.89 1.11 - 100 CLMV 32,688 2,402 - 35,090 93.15 6.85 - 100 ASEAN 10 87,153 2,531 34 89,718 97.14 2.82 0.04 100 Sumber: http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/Umum/Setditjen/Buku%20 Menuju%20ASEAN%20ECONOMIC%20COMMUNITY%202015.pdf Diunduh pada 30 April 2014.

Disamping itu, ATIGA juga mengamanatkan liberalisasi untuk 12 (dua belas) Priority Integration Sector (PIS) yaitu produk pertanian, angkutan udara, otomotif, e-ASEAN, elektronik, perikanan, kesehatan, produk karet, tekstil dan apparel, pariwisata, produk kayu dan jasa logistic pada tahun 2007 untuk ASEAN-6 dan tahun 2012 untuk CLMV, sebagaimana diamanatkan dalam Framework (amendment) Agreement for the PIS(http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/Umum/Setditjen/Buku% 20Menuju%20ASEAN%20ECONOMIC%20COMMUNITY%202015.pdf Diunduh pada 30 April 2014).

2. Rules of Origin (ROO)

Di dalam ATIGA ditetapkan mengenai Rules of Origin dimana suatu barangyang diimpor ke dalam wilayah negara anggota ASEAN lainnya wajibdiberlakukan sebagai suatu barang asal apabila barang tersebutmemenuhi dua persyaratan yaitu (i) suatu barang yang diproduksi ataudiperoleh secara keseluruhan di negara anggota ASEAN pengekspor,atau (ii) suatu barang yang tidak secara keseluruhan diproduksi ataudiperoleh di negara anggota ASEAN pengekspor (Ramlah, 2014: 73).

3. Penghapusan Non-Tariff Barriers (NTBs)

Penghapusan hambatan non-tarif bertujuan untuk: (1) meningkatkan transparansi dengan mematuhi ASEAN Protocol on Notification Procedure;(2) menetapkan ASEAN Surveillance Mechanism yang efektif; (3) tetap pada komitmen untuk standstill and roll-back;(4) menghapus

hambatan non-tarif; (5) meningkatkan transparansi Non-Tariff Measures

(NTMs); dan (6) konsisten dengan International Best Practices.

4. Trade Facilitation

Dengan adanya fasilitasi perdagangan ini diharapkan akan tercipta suatu lingkungan yang konsisten, transparan dan dapat diprediksi bagi transaksi perdagangan internasional sehingga dapat meningkatkan perdagangan dan kegiatan usaha termasuk usaha kecil dan menengah (UKM), serta menghemat waktu dan mengurangi biaya transaksi.

5. Customs Integration (Integrasi Kepabeanan)

Pengembangan Kepabeanan difokuskan pada: (a) pengintegrasian struktur kepabeanan, (b) modernisasi klasifikasi tarif, penilaian kepabeanan dan penentuan asal barang serta mengembangkan ASEAN e-Customs, (c) kelancaran proses kepabeanan, (d) penguatan kemampuan sumber daya manusia, (e) peningkatan kerjasama dengan organisasi internasional terkait, (f) pengurangan perbedaan sistem dalam kepabeanan diantara negara-negara ASEAN, dan (g) penerapan teknik pengelolaan resiko dan kontrol berbasis audit (PCA) untuk trade facilitation.

6. ASEAN Single Window

ASW sebagaimana tertuang dalam AEC Blueprint, merupakan suatu lingkungan di manaNational Single Window (NSW) dari sepuluh negara anggota beroperasi dan berintegrasi seperti diilustrasikan pada diagram 3.1 dan 3.2 dengan terintegrasinya NSW melalui ASW, diharapkan alur data dan informasi pemerintah dan pelaku usaha terkait proses ekspor dan

impor negara ASEAN dapat berlangsung secara cepat dan mudah. Oleh karenanya, untuk membuat dan mengoperasikan ASWdiperlukan kesiapan NSW dari tiap negara anggota ASEAN.

Sumber:http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/Umum/Setditjen/Bu ku%20Menuju%20ASEAN%20ECONOMIC%20COMMUNIT Y%202015.pdf Diunduh pada 30 April 2014.

Gambar 3.2

Mekanisme Pengintegrasian 10 NSW ke portal ASW

Sumber:http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/Umum/Setditjen/Bu ku%20Menuju%20ASEAN%20ECONOMIC%20COMMUNIT Y%202015.pdf Diunduh pada 30 April 2014.

7. Standard, Technical Regulation and Conformity Assessment Procedures Negara anggota ASEAN diharapkan dapat menetapkan dan menerapkan ketentuan mengenai standar, peraturan teknis dan prosedur penilaian kesesuaian sebagaimana diatur dalam ASEAN Framework Agreement on Mutual Recognition Arrangements dan ASEAN Sectoral Mutual Recognition Arrangements. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi hambatan perdagangan yang tidak diperlukan dalam membangun pasar tunggal dan basis produksi regional ASEAN.

8. Sanitary and Phytosanitary Measures

Kebijakan SPS dimaksudkan untuk memfasilitasi perdagangan dengan melindungi kehidupan dan kesehatan manusia, hewan atau tumbuhan sesuai dengan prinsip yang ada dalam Persetujuan SPS dalam WTO untuk mencapai komitmen-komitmen sebagaimana tercantum dalam ASEAN Economic Community Blueprint.

9. Trade Remedies

Setiap negara anggota diberikan hak dan kewajiban untuk menerapkan kebijakan pemulihan perdagangan antara lain berupa anti-dumping, bea imbalan (terkait dengan subsidi) dan safeguard. Selain kebijakan pemulihan perdagangan, negara anggota juga dapat menggunakan mekanisme penyelesaian sengketa yaitu Protocol on Enhanced Dispute Settlement Mechanism (http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/ UmumSetditjen/Buku%20Menuju%20ASEAN%20ECONOMIC%20CO MMUNITY%202015.pdf Diunduh pada 30 April 2014).

3.1.5.1 Manfaat dan Tantangan ATIGA Bagi Indonesia

Bagi Indonesia, ATIGA akan dapat mengatasi kesenjangan prinsip-prinsip utama dan disiplin seperti MFN, Non-Tariff, modifikasi konsesi dan lain-lain yang selama ini tidak terlihat dalam CEPT Agreement. Dengan demikian akan semakin memperkuat ketentuan CEPT Agreement yang selama ini terlalu sederhana dan tidak jelas seperti mekanisme safeguard dan ketentuan NTBs. Dengan ATIGA akan menjamin ketentuan-ketentuan prinsip pada elemen kunci lainnya dalam arus barang bebas seperti customs dan standards yang akan bersinergi dengan inisiatif lain dalam perdagagangan barang. Sehingga akan ada kesempatan untuk mengkaji konsistensi dari seluruh perjanjian yang ada khususnya perdagangan barang termasuk dalam penyelesaian sengketa (Ariyani, 2009:11-12)

Disamping manfaat, Indonesia juga akan menghadapi tantangan sebagai konsekuensi dari diterapkannya ketentuan arus barang bebas. Dengan semakin terintegrasinya pasar ASEAN, Indonesia harus meningkatkan daya saingnya dengan:

1. Meningkatkan efisiensi, efektifitas dan kualitas produksi;

2. Menciptakan iklim usaha yang kondusif dalam rangka meningkatkan daya saing;

3. Memperluas jaringan pemasaran, meningkatkan kemampuan dalam penguasaan teknologi informasi dan komunikasi termasuk promosi pemasaran dan lobby (http://ditjenkpi.kemendag.go.id/website_kpi/ Umum/Setditjen/Buku%20Menuju%20ASEAN%20ECONOMIC%20 COMMUNITY%202015.pdf Diunduh pada 30 April 2014).

3.1.5.2 Manfaat dan Tantangan ATIGA Bagi Thailand

ATIGA juga memberikan manfaat bagi negara Thailand yaitu: 1. Memperluas ekspor ke pasar yang lebih besar di ASEAN;

2. Impor bahan baku dari ASEAN dengan kualitas yang lebih tinggi dengan biaya yang lebih rendah;

3. Pasar yang lebih besar memberikan kontribusi bagi skala ekonomi; 4. Menurunkan biaya produksi;

5. Menetapkan/memperluas bisnis di negara-negara anggota ASEAN lainnya;

6. Dapat membeli lebih banyak jenis produk impor dari ASEAN dengan harga yang terjangkau;

7. Peningkatan barang dan jasa dengan harga yang terjangkau.

Disamping memberikan manfaat, Thailand juga akan menghadapi tantangan sebagai konsekuensi dari diterapkannya ketentuan arus barang bebas. Dengan semakin terintegrasinya pasar ASEAN, terdapat tantangan bagi negara Thailand yaitu:

1. Produk dari negara-negara ASEAN akan masuk lebih ke pasar;

2. Produk Thailand dengan kualitas rendah mungkin kehilangan pangsa pasar;

3. Negara anggota ASEAN lainnya juga dapat memanfaatkan skala ekonomi dan bersaing dengan pengusaha dalam negeri;

5. Produk-produk yang berkualitas rendah dapat masuk lebih banyak ke pasar domestik kecuali ada sistem monitoring yang tepat pada tempatnya (http://www.thaifta.com/trade/public/aecmmjul2013_malai.pdfDiunduh pada 16 Agustus 2014).

Dokumen terkait