7 ) Pengembangan instrumen dan perluasan basis investor
PT ASKRINDO DAN PERUM JAMKRINDO DALAM PROGRAM PENJAMINAN KREDIT USAHA RAKYAT
Program penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan tindak lanjut Inpres Nomor 6 Tahun 2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan UMKMK. KUR disalurkan oleh bank-bank pelaksana yang dijamin oleh PT Askrindo dan Perum Jamkrindo.
Realisasi penjaminan KUR per 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut.
Program stimulus fiskal tahun 2009 memberikan tambahan PMN kepada kedua BUMN tersebut sebesar Rp500 miliar. Risiko terbesar program KUR adalah kemungkinan peningkatan non performing guarantee (NPG) sebagai dampak krisis keuangan global, yang akan mempengaruhi kinerja perusahaan penjaminan dan mengurangi PMN yang ditempatkan pada kedua perusahaan tersebut.
(dalam miliar rupiah)
Variabel Shock 2009 2010 2011 2012
Depresiasi Rupiah terhadap dolar 20 % 15.955 16.731 18.831 21.984
Harga minyak naik 25 USD per barel 33.899 23.568 24.248 26.357
Kenaikan suku bunga 3 % 1.869 2.489 3.483 4.528
Pertumbuhan ekonomi turun 1 % (14.377) (10.862) (9.281) (12.436)
Uraian PT Askrindo JamkrindoPerum Total Pokok kredit (miliar Rp) 8.528,00 2.454,13 10.982,13
Gearing ratio 10,03 kali 4,05 kali 7,6 kali Jumlah UMKMK (unit) 1.140.404 168.017 1.308.421 Jumlah tenaga kerja 3.233.071 255.962 1.489.033
Jumlah klaim (miliar Rp) 2,21 1,92 4,13
(dalam miliar rupiah) Keterangan 2006 2007 2008 Total Aktiva 907,2 1.793,3 1.962,3 Total Kewajiban 55,2 65,5 207,1 Total Ekuitas 852,0 1.727,9 1.755,3 Laba Bersih 87,3 48,7 36,7 Return on equity 10,25% 2,82% 2,09%
Debt to equity ratio 6,48% 3,79% 11,80%
Sumber: PT Askrindo, diolah.
Keterangan 2006 2007 2008 Total Aktiva 442,0 1.126,0 1.267,2 Total Kewajiban 147,0 180,4 209,0 Total Ekuitas 295,0 945,6 1.058,2 Laba Bersih 33,6 58,6 133,8 Return on equity 11,38% 6,20% 12,65%
Debt to equity ratio 49,83% 19,07% 19,75%
Sumber: Perum Jamkrindo, diolah.
(dalam miliar rupiah)
6.4.2 Risiko Utang Pemerintah Pusat
Salah satu risiko fiskal yang penting dan harus dikelola dengan baik oleh Pemerintah adalah risiko utang Pemerintah. Pengelolaan risiko utang Pemerintah sangat mempengaruhi kesinambungan fiskal Pemerintah pada tahun berjalan dan masa yang akan datang. Pengelolaan risiko utang Pemerintah akan mempengaruhi besarnya beban yang akan ditanggung Pemerintah di masa yang akan datang. Melalui pengelolaan risiko utang yang tepat Pemerintah tidak hanya berkosentrasi untuk mencapai target pembiayaan dengan biaya yang rendah pada APBN tahun berjalan, namun juga memperhatikan perkembangan tingkat risiko yang akan memengaruhi APBN ditahun yang akan datang.
Risiko yang dihadapi dalam pengelolaan risiko utang Pemerintah dapat muncul dari lingkungan eksternal maupun internal organisasi pengelola utang. Risiko-risiko dimaksud antara lain: (1) risiko keuangan yaitu risiko tingkat bunga, risiko nilai tukar, dan risiko
refinancing, serta (2) risiko operasional. Berbagai jenis risiko tersebut memiliki dampak
langsung terhadap efisiensi dan efektifitas pengelolaan utang secara keseluruhan.
Kondisi risiko keuangan portofolio utang Pemerintah selama tahun 2009 mengalami tantangan yang cukup hebat dari kondisi pasar finansial global yang mengalami krisis. Akibat pecahnya krisis finansial global yang merupakan kelanjutan dari krisis subprime mortgage di negara Amerika Serikat telah menyebabkan terjadinya krisis ekonomi global. Sebagai akibat dari terjadinya krisis adalah mengeringnya likuiditas pasar finansial dunia. Adanya
Secara umum kinerja keuangan dari PT Askrindo adalah sebagai berikut:
krisis ini telah memengaruhi juga pasar finansial domestik, termasuk pasar Surat Berharga Negara (SBN) antara lain turunnya harga SBN di pasar sekunder dan berkurangnya permintaan dalam Lelang SBN.
Penerbitan SBN di awal tahun 2009 (kuartal I) mengalami kesulitan akibat krisis yang menyebabkan penurunan toleransi investor akan risiko, sehingga permintaan akan SBN jangka menengah dan panjang hampir tidak ada, dan yang tersisa hanya permintaan untuk SBN yang bertenor sangat pendek. Untuk mengatasi kesulitan dalam memenuhi pembiayaan melalui penerbitan SBN di pasar domestik, maka Pemerintah melakukan penerbitan obligasi internasional di pasar global di tengah kondisi pasar yang sangat berat, dan berhasil menerbitkan global bond dalam jumlah yang cukup besar (sejumlah USD3 miliar ekuivalen Rp36 triliun). Keberhasilan penerbitan global bond tersebut telah menurunkan risiko pembiayaan yang dihadapi Pemerintah.
Kondisi pasar domestik dan global sedikit membaik memasuki kuartal II tahun 2009, yang ditandai oleh mulai turunnya yield SBN di pasar domestik maupun global. Di kuartal II Pemerintah menerbitkan Sukuk dalam denominasi valuta asing, serta mulai menerbitkan SBN dengan tenor yang lebih panjang. Perbaikan pasar pada kuartal II tahun 2009 telah membantu mengurangi tingkat risiko portofolio utang sepanjang semester I tahun 2009. Perbaikan kondisi risiko utang tahun 2009 sedikit tertahan akibat adanya krisis finansial global terutama untuk risiko refinancing yang sedikit meningkat akibat memendeknya tenor SBN yang diterbitkan, sementara risiko tingkat bunga tetap pada tren perbaikan tingkat risiko, dan risiko nilai tukar tetap stabil dan cenderung membaik bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dengan upaya yang optimal pada semester II tahun-tahun 2009 diharapkan risiko-risiko tersebut di atas dapat terus dikurangi.
Secara spesifik risiko tingkat bunga portofolio utang cenderung menurun sebagaimana dapat dilihat pada Tabel VI.15.
Pada tabel tersebut terlihat bahwa indikator risiko tingkat bunga tahun 2009 yaitu rasio
variable rate dan refixing rate terhadap total utang lebih rendah daripada tahun-tahun
sebelumnya dan secara trend terus menurun akibat adanya kebijakan dalam menetapkan strategi pembiayaan yang mengutamakan penerbitan SBN dan pengadaan pinjaman luar negeri yang memiliki bunga tetap. Rata–rata waktu yang dibutuhkan portofolio dalam mengeset kembali suku bunganya sedikit menurun sejalan dengan penurunan rata-rata jatuh tempo utang (ATM). Penurunan rasio ATR ini masih dapat ditoleransi mengingat bukan disebabkan oleh naiknya rasio variabel rate yang lebih sensitif terhadap perubahan bunga.
Risiko nilai tukar cenderung terus membaik sejalan dengan semakin turunnya rasio utang dalam denominasi valas (utang FX) dibandingkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB). Rasio ini penting mengingat semakin rendahnya rasio ini menunjukkan berkurangnya risiko nilai tukar secara relatif terhadap perekonomian. Rasio utang FX terhadap total utang juga menunjukkan tren yang sedikit menurun. Apabila tidak terjadi krisis finansial global selama tahun 2008 dan 2009 yang memicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap sejumlah mata uang asing, rasio utang FX terhadap total utang ini akan berada pada tingkat yang lebih baik (dikisaran 45 persen).
global yang mempengaruhi tenor SBN yang diterbitkan menjadi lebih pendek. Meningkatnya risiko refinancing dapat dilihat pada Tabel VI.15. ATM untuk total utang tahun 2009 menurun cukup signifikan menjadi 8,32 tahun dari 9,18 tahun pada tahun 2008. Penurunan angka ATM ini menunjukkan secara umum tenor utang Pemerintah mengalami pemendekkan. Untuk melihat lebih jauh risiko refinancing juga dapat dilihat melalui porsi utang yang jatuh tempo pada 1 tahun yang akan datang yang angkanya naik dari 6,97 persen pada tahun 2008 menjadi 7,40 persen pada tahun 2009. Tren kenaikan serupa juga terlihat dari porsi utang yang jatuh tempo dalam 2 tahun dan 5 tahun
Berdasarkan proyeksi utang yang jatuh tempo pada tahun 2010 akan melewati angka Rp130,0 triliun dengan memperhitungkan adanya penerbitan Surat Perbendaharaan Negara yang memiliki maturity di bawah 1 tahun pada semester ke II tahun 2009, sedangkan jumlah outstanding utang diperkirakan akan mencapai Rp 1.675,04 triliun, yang terdiri dari SUN sebesar Rp1.065 triliun dan PLN sebesar Rp610 triliun.
Uraian 2006 2007 2008 2009* 2010**
Outstanding (Rp triliun)
SBN 744,27 803,60 906,50 988,50 1065,50
PLN 576,86 584,40 718,57 645,00 610,00
Interest Rate Risk
Rasio Variable Rate (%) 28,63 26,65 23,66 21,90 19,66
Refixing Rate (%) 32,59 30,16 29,11 26,96 25,08
Average Time to Refix (tahun) 6,60 6,90 7,10 6,55 6,54
Exchange Rate Risk
Rasio Utang FX-PDB (%) 18,81 16,43 15,96 14,21 12,68
Rasio Utang FX-Total Utang (%) 48,77 46,94 49,96 49,13 49,25
Komposisi Currency Utang (%) 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00
USD 35,80 37,50 38,00 43,28 45,77
JPY 38,20 37,10 40,60 36,39 35,79
Euro 7,40 15,00 12,00 11,48 12,84
Others 18,70 10,30 9,40 8,85 5,57
Refinancing Risk (porsi dalam %)
Porsi utang Jatuh Tempo <1 th 4,90 5,65 6,97 7,40 8,23
Porsi utang Jatuh Tempo <3 th 18,39 17,86 19,59 19,79 20,26
Porsi utang Jatuh Tempo <5 th 30,36 29,00 30,89 32,88 33,72
Average to Maturity (ATM) (tahun)
SBN 9,41 9,95 10,48 9,04 8,92
PLN 8,75 8,56 7,56 7,22 6,71
Total 9,09 9,31 9,18 8,32 8,06
catatan:
*) angka 2009 proyeksi untuk akhir tahun 2009 berdasarkan realisasi semester I 2009 **) angka 2010 adalah proyeksi berdasarkan tren yang terjadi selama 2006 s.d 2009 Sumber: Departemen Keuangan
TABEL VI.15