2.1. Stres Kerja
2.3.2 Aspek-Aspek Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja pada dasarnya meliputi kondisi fisik maupun kondisi nnon fisik (psikologis). Menurut Anoroga dan Widiyanti (1993), kondisi lingkungan kerja meliputi aspek-aspek sebagai berikut :
a. Kondisi Fisik, yaitu :
1. Musik, musik perlu diberikan disetiap ruangan agar menimbulkan suasana yang menyenangkan.
2. Pertukaran udara, yaitu agar setiap ruang diberi ventilasi yang cukup supaya karyawan merasa nyaman saat bekerja.
3. Penerangan yang cukup, untuk pekerjaan yang memerlukan ketelitian maka diperlukan penerangan yang cukup dan tidak menyilaukan.
4. Kebisingan, lingkungan kerja yang ramai dapat mengganggu konsentrasi dalam melaksankan pekerjaan.
b. Kondisi Non Fisik (psikologis), yaitu lingkungan kerja yang berhubungan dengan fasilitas untuk pelayanan karyawan (pelayanan makan/minum, pelayanan kesehatan, dan pengadaan kamar mandi/kamar kecil), hubungan antara karyawan dengan karyawan lain (human relation), dan hubungan antara karyawan dengan atasan.
Tiffin dan Mc Cormick dalam Trianasari (2005), mengemukakan beberapa aspek lingkungan kerja fisik yaitu :
1. Peralatan kerja, perlengkapan yang tersedia merupakan komponen yang menunjang aktivitas kerja
2. Sirkulasi udara, sirkulasi udara yang cukup didalam ruangan sangat diperlukan terutama jika didalam ruangan yang penuh dengan pegawai
3. Penerangan atau pencahayaan, fasilitas penerangan dalam ruangan yang cukup memadai akan mendukung kelancaran dalam bekerja
4. Kebisingan atau suara gaduh, bising yang ada dalam lingkungan kerja akan mengganggu konsentrasi
5. Tata ruang kerja, penataan, pewarnaan dan kebersihan setiap ruangan akan berpengaruh terhadap karyawan pada saat melakukan pekerjaan.
Menurut As’ad (1999), aspek dalam lingkungan kerja, yaitu :
a. Lingkungan fisik, merupakan jenis lingkungan yang berhubungan dengan kondisi fisik lingkungan kerja :
1) Tempat kerja di dalam atau di luar, jenis pekerjaan, pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan ruangan, serta suhu.
2) Kondisi-kondisi penerangan 3) Kondisi-kondisi ventilasi 4) Kondisi-kondisi keriuhan suara 5) Segi-segi berbahaya dan tak sehat.
b. Lingkungan non fisik, yaitu berhubungan dengan interaksi sosial, baik antara teman sekerja, atasan maupun dengan karyawan yang berbeda jenis pekerjaannya.
Moekijat (1989), mengungkapkan bahwa kondisi-kondisi kerja fisik meliputi penerangan, warna, musik dan suara. Lingkungan kerja merupakan salah satu penyebab dari keberhasilan dalam melaksanakan suatu pekerjaan, tetapi juga dapat menyebabkan suatu kegagalan dalam pelaksanaan suatu pekerjaan, karena lingkungan kerja dapat memengaruhi pekerja, terutama lingkungan kerja yang bersifat psikologis, sedangkan pengaruh itu sendiri dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif.
Menurut Nitisemito (1982), lingkungan kerja fisik meliputi :
1. Penerangan dalam suatu lingkungan kerja ditentukan oleh tingkat intensitas cahaya. Penerangan lingkungan kerja harus diatur cukup dan sesuai dengan karakteristik pekerjaan yang sedang dilakukan
2. Kebisingan dapat mengganggu ketenangan kerja dan konsentrasi dalam bekerja, serta dapat mengurangi kesehatan, sehingga berdampak pada timbulnya kesalahan kerja
3. Pewarnaan dapat memengaruhi jiwa seseorang yang ada disekitarnya. Warna dari suatu ruangan kerja dapat memengaruhi semangat dan unjuk kerja karyawan
4. Kebersihan kerja yang bersih akan membuat seseorang pekerja bekerja dengan senang dan lebih bersemangat
5. Musik diperdengarkan dalam suatu lingkungan kerja akan dapat menimbulkan suasana gembira dan mengurangi kelelahan kerja
6. Sirkulasi kerja yang baik akan memberikan kesegaran fisik kepada para pekerja, sehingga semangat dan gairah kerja muncul
7. Keamanan yang diberikan oleh perusahaan akan menimbulkan ketenangan dalam bekerja, sehingga semangat dan gairah kerja meningkat.
Selain lingkungan kerja juga terdiri atas lingkungan psikososial (non fisik) yang terdiri atas kondisi perusahaan dan hubungan personal didalamnya.
Menurut Munandar (2001), kondisi lingkungan kerja meliputi :
a. Kondisi Fisik Kerja
Lingkungan fisik mencakup beberapa hal seperti fasilitas parkir di luar gedung perusahaan, lokasi dan rancangan gedung sampai jumlah cahaya dan suara yang menimpa meja kerja atau ruang kerja seorang tenaga kerja. Lingkungan kerja fisik yang spesifik antara lain meliputi :
1) Penerangan (Iluminasi). Sinar yang menyilaukan merupakan faktor lain yang mengurangi efisiensi visual dan meningkatkan ketegangan mata (eyestrain).
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam iluminasi adalah kadar (intensity) cahaya, distribusi cahaya, dan sinar-sinar yang menyilaukan.
2) Warna. Penggunaan warna atau kombinasi warna yang tepat akan meningkatkan produksi, menurunkan kecelakaan dan kesalahan, serta meningkatkan semangat kerja.
3) Bising (noise). Dalam kehidupan sekarang ini bising merupakan keluhan yang banyak didengar. Menurut Mc Cormick (Munandar, 2001), bising memengaruhi tingkat prestasi kerja pada tugas-tugas yang menuntut kewaspadaan tinggi, tugas tugas mental yang majemuk, tugas-tugas yang memerlukan ketrampilan dan kecepatan, serta tugas-tugas yang menuntut kemampuan perseptual pada tingkat yang tinggi.
4) Musik dalam bekerja. Musik memiliki pengaruh yang baik pada pekerjaanpekerjaan yang sederhana, rutin dan monoton, sedangkan pada pekerjaan yang lebih majemuk dan memerlukan konsentrasi yang tinggi pada
pekerjaan, pengaruhnya dapat menjadi sangat negatif. Musik menjadi suara yang bising dan mengganggu.
b. Kondisi Lama Waktu Kerja
Kondisi lamanya waktu kerja oleh Munandar (2001), dikelompokkan menjadi empat, yaitu :
1) Jam kerja. Jumlah jam kerja dalam satu minggu di Indonesia, pada umumnya 40 jam. Hasil penelitian yang dibahas oleh Schult (Munandar, 2001), menunjukkan bahwa hampir setengah dari minggu kerja merupakan waktu yang hilang bagi perusahaan. Dan hasil penelitian lain menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antar jumlah jam kerja nominal (sebagaimana ditetapkan oleh peraturan) dengan jumlah jam kerja aktual (sebagaimana dijalankan oleh tenaga kerja)
2) Kerja paro-waktu tetap. Pekerja biasanya bekerja selama 20 jam dalam satu minggu. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah para tenaga kerja muda yang menyukai gaya hidup yang lentur, yang dimungkinkan dengan bekerja paro waktu
3) Empat hari kerja/minggu. Pertengahan tahun 1970-an banyak pabrik, kantor, dan badan pemerintahan di Amerika Serikat mengubah jumlah hari kerja per minggu menjadi 4 hari kerja per minggu. Dan diharapkan perubahan ini akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi pekerja serta mengurangi jumlah absensi tenaga kerja. Dari hasil penelitian, penerapan empat hari kerja
per-minggu pada kebanyakan kasus (perusahaan) merupakan suatu keberhasilan, namun bukan tanpa kritikan
4) Jam kerja lentur. Para tenaga kerja dibiarkan menentukan sendiri pada jam berapa meraka ingin mulai kerja dan pada jam berapa mereka ingin pulang dan menghentikan kerja. Hasil penelitian pada British Civil Service menunjukkan bahwa 96% merasa senang dengan jam kerja lentur, dan tidak mau kembali ke sistem jam kerja lama.
Secara umum kondisi lingkungan kerja dalam suatu perusahaan merupakan kondisi lingkungan dimana karyawan melaksanakan tugas dan pekerjaannya sehari – hari. Sarwoto (1981), mengklasifikasikan lingkungan kerja ke dalam segi – segi sebagai berikut :
a. Suasana kerja (non physical working environment).
b. Lingkungan tempat kerja (non physical working environment).
c. Perlengkapan dan fasilitas.
Berdasarkan teori – teori di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek-aspek lingkungan kerja ada 2 yaitu :
a. Kondisi fisik yang terdiri dari tempat kerja didalam ataupun diluar, kondisi penerangan/pencahayaan, ventilasi (pertukaran udara), suara (kebisingan), warna, musik, kebersihan tempat kerja, tata ruang, keamanan, suhu, waktu kerja dan waktu istirahat.
b. Aspek non fisik yang terdiri dari pelayanan karyawan, interaksi sosial antara karyawan dengan karyawan, hubungan sosial antara karyawan dengan
pimpinan, struktur organisasi dan struktur kerja, deskripsi kerja, tanggung jawab kerja, tekanan kerja, kebebasan mengambil keputusan, kebersamaan, perhatian dan dukungan pimpinan, peluang menciptakan kebersamaan, serta komunikasi.
Kondisi lingkungan kerja, dapat menyebabkan ketidaknyamanan seseorang dalam dalam menjalankan pekerjaannya misalnya suhu udara dan kebisingan, karena beberapa orang sangat sensitif terhadap kondisi lingkungan (Margiati,1999). Terdapat dua faktor penyebab atau sumber muncuinya stres atau stres kerja, yaitu faktor lingkungan kerja dan faktor personal. Faktor lingkungan kerja dapat berupa kondisi fisik, manajemen kantor maupun hubungan sosial di lingkungan pekerjaan. Sedang faktor personal bisa berupa tipe kepribadian, peristiwa atau pengalaman pribadi maupun kondisi sosial ekonomi keluarga di mana pribadi berada dan mengembangkan diri. Faktor kedua tidak secara langsung berhubungan dengan kondisi pekerjaan, namun karena dampak yang ditimbulkan pekerjaan cukup besar, maka faktor pribadi ditempatkan sebagai sumber atau penyebab munculnya stres.
(Dwiyanti, 2001).
Kondisi kerja yang lingkungannya tidak baik sangat pontesial untuk menimbulkan stress kerja. Stress di lingkungan kerja tidak dapat dihindari, yang dapat dilakukan adalah bagaimana mengelola, mengatasi atau mencegah terjadinya stress kerja tersebut, sehingga tidak mengganggu pekerjaan (Notoatmodjo, 2003).
c. Overload
Overload dapat dibedakan menjadi kuantitatif dan kualitatif. Overload secara kuantitatif, bila target kerja melebihi kemampuan pekerja yang bersangkutan akibatnya karyawan tersebut tersebut mudah lelah dan berada dalam emosional yang tinggi. Overload kualitatif, bila pekerja memiliki tingkat kesulitan atau kerumitan yang tinggi. Overload pada pekerja merupakan hal paling utama karena over kapasitas dari lapas itu sendiri, dimana 1 petugas pengamanan mengawasi 93 tahanan atau narapidana (Supardi, 2007).
1. Pekerjaan yang Sederhana
Pekerjaan yang tidak menantang dan kurang menarik bagi pekerja, pekerjaaan yang rutinitas sehingga menimbulkan kebosanan, ketidak puasan dan sebagainya.
Perasaan bosan dan jenuh inilah yang membuat seorang pekerja tidak menyenangi pekerjaannya atau terasing dari kerja (Supardi, 2007).
2. Pekerjaan berisiko tinggi
Pekerjaan yang beresiko tinggi dan berbahaya bagi keselamatan jiwanya.Kebutuhan akan rasa aman merupakan faktor utama didalam diri seseorang.
Bila seseorang merasa dirinya tidak aman, maka timbul reaksi- reaksi kejiwaan seperti cemas, takut tanpa alasan dan sebagainya (Anoraga, 2006). Peneliti merasa pegawai lapas selalu berinteraksi dengan tahanan dan narapidana untuk mengawasi tahanan dan narapidana mempunyai pekerjaan yang beriko tinggi bagi keselamatannya dan pekerjaannya.
2.4. Lembaga Pemasyarakatan 2.4.1. Pengertian
Secara umum Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) adalah tempat untuk melaksanakan pembinaan terhadap orang-orang yang dijatuhi hukuman penjara atau kurungan (hukuman badan) berdasarkan keputusan pengadilan, dengan kata lain pelaku kejahatan tersebut terbukti telah melakukan kejahatan atau pelanggaran.
Lembaga Pemasyarakatan adalah tempat pembinaaan terhadap orang-orang terhukum agar mereka dapat kembali ke dalam masyarakat dan diterima sebagaimana masyarakat lainnya maka proses pembinaan dan berbagai fasilitas penunjang lainnya perlu dilihat relevansinya sesuai dengan pencapaian tujuan pembinaan itu sendiri.
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dinyatakan bahwa negara melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
Pernyataan ini merupakan dasar yang kuat bagi setiap warganegara agar hak asasinya mendapatkan perlindungan dari negara. Dan negara mempunyai kewajiban untuk memenuhi perlindungan hak asasi setiap warganegaranya tanpa diskriminasi, termasuk bagi mereka yang sedang menghadapi proses hukum (pelanggaran hukum).
Dengan demikian, hak warganegara untuk tidak diperlakukan sewenang-wenang tersebut bukan saja merupakan hak asasi, tetapi juga sebagai hak konstitusional setiap warganegara Indonesia.
Proses penegakan hukum sangat berkaitan erat dengan eksistensi dari Pemasyarakatan. Pemasyarakatan sebagai salah satu penyelenggara negara yang mempunyai tugas dan fungsi dalam proses penegakan hukum. Pemasyarakatan
sendiri juga merupakan salah satu elemen dari sistem peradilan pidana di Indonesia melalui TAP MPR Nomor X/MPR/1998, yakni menciptakan ketertiban umum dan keadilan serta perlindungan terhadap hak asasi manusia.
Eksistensi pemasyarakatan sebagai instansi penegakan hukum telah diatur secara tegas di dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Dalam pasal 1 ayat (1) menyatakan bahwa:
Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan warga binaan pemasyarakatan berdasarkan sistem, kelembagaan dan cara pembinaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana.
Sedangkan dalam Pasal 1 butir 2 Bab I Ketentuan Umum Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan yang dimaksud dengan Sistem Pemasyarakatan adalah: Suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara pembina, yang dibina, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan, memperbaiki diri, dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, dapat aktif berperan dalam pembangunan, dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.