TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS
2.2 Landasan Teoretis
2.2.15 Aspek-aspek Penilaian dalam Keterampilan Berbicara
Guru memang perlu melakukan penilaian terhadap unjuk kerja siswa dalam kegiatan berbicara. Tapi penilaian itu bukan semata-mata untuk mengukur dan memberikan nilai pada suatu kegiatan belajar, melainkan hendaknya juga diartikan sebagai usaha perbaikan mutu atau prestasi belajar siswa di samping untuk pembinaan motivasi belajar yang lebih kuat. Penilaian diagnosis, tujuannya bukan
semata-mata untuk mengetahui kekurangan dan kesalahan siswa. Tetapi pengetahuan guru tentang kekurangan dan kesalahan siswa itu justru sebagai bahan untuk dijadikan pertimbangan dalam merencanakan kegiatan-kegiatan selanjutnya yang diharapkan akan membantu memperbaiki kekurangan dan kelemahan siswa.
Perlu dikemukakan di sini bahwa di dalam menyampaikan hasil penilaian, guru hendaknya jangan hanya menekankan kekurangan-kekurangan siswa. Segi kemajuan dan keberhasilan mereka juga harus dikemukakan. Kecaman harus diimbangi dengan pujian. Dengan demikian akan timbul perasaan dikalangan siswa bahkan mereka telah sanggup melakukan sesuatu dan perasaan ini akan mendorong mereka melakukan tugas-tugas selanjutnya dengan penuh gairah (Efendy 2009:153).
Menurut Efendy (2009:153), adapun aspek-aspek yang dinilai dalam kegiatan berbicara, sebagaimana disarankan oleh para ahli, adalah sebagai berikut: (1) aspek kebahasaan, meliputi: (a) pengucapan (makhraj), (b) penempatan tekanan (mad, syiddah), (c) nada dan irama, (d) pilihan kata, (e) pilihan ungkapan, (f) susunan kalimat, dan (g) variasi. (2) aspek non-kebahasaan, meliputi: (a) kelancaran, (b) penguasaan topik, (c) keterampilan, (d) penalaran, (e) keberanian, (f) kelincahan, (g) ketertiban, (h) kerajinan, dan (i) kerjasama.
Menurut Burhan (Nurgiyantoro 2005:94) ada beberapa aspek yang dinilai pada saat anak berbicara diantaranya sebagai berikut:
a. Ketepatan pengucapan
Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perahatian pendengar. Sudah tentu pola ucapan dan artikulasi yang digunakan tidak selalu sama. Setiap orang mempunyai gaya tersendiri dan gaya bahasa yang dipakai berubah-ubah sesuai dengan pokok pembicaraan, perasaan, dan sasaran. Akan tetapi kalau perbedaan atau perubahan itu terlalu mencolok, dan menyimpang, maka keefektifan komunikasi akan terganggu.
Setiap penutur tentu sangat dipengaruhi oleh bahasa ibunya. Misalnya, pengucapan untuk akhiran kan yang kurang tepat, memasukkan. Memang kita belum memiliki lafal baku, namun sebaiknya ucapan kita jangan terlalu diwarnai oleh bahasa daerah, sehingga dapat mengalihkan perhatian pendengar. Demikian juga halnya dengan pengucapan tiap suku kata. Tidak jarang kita dengar orang mengucapkan kata-kata yang tidak jelas suku katanya. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang tidak tepat atau cacat akan menimbulkan kebosanan, kurang menyenangkan, atau kurang menarik sehingga dapat mengalihkan perhatian pendengar, mengganggu komunikasi, atau pemakainya dianggap aneh.
b. Ketepatan intonasi
Kesesuaian intonasi merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara dan merupakan faktor penentu. Walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan intonasi yang sesuai dengan masalahnya menjadi menarik. Sebaliknya jika penyampaiannya datar saja, hampir dapat dipastikan menimbulkan kejemuan dan keefektifan berbicara berkurang.
Demikian juga halnya dalam pemberian intonasi pada kata atau suku kata. Tekanan suara yang biasanya jatuh pada suku kata terakhir atau suku kata kedua dari belakang, kemudian ditempatkan pada suku kata pertama. Misalnya kata peyanggah, pemberani, kesempatan, diberi tekanan pada pe-, pem-, ke-, tentu kedengarannya janggal.
c. Pilihan kata (diksi)
Pilihan kata (diksi) hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Pendengar akan lebih terangsang dan lebih paham, kalau kata-kata yang digunakan sudah dikenal oleh pendengar. Misalnya, kata-kata populer tentu akan lebih efektif daripada kata-kata yang muluk-muluk dan kata-kata yang berasal dari bahasa asing. Kata-kata yang belum dikenal memang membangkitkan rasa ingin tahu, namun menghambat kelancaran komunikasi. Pilihan kata itu tentu harus disesuaikan
dengan pokok pembicaraan dan dengan siapa kita berbicara (pendengar).
d. Kelancaran
Seorang pembicara yang lancar berbicara memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraannya. Seringkali kita dengar pembicara berbicara terputus-putus, bahkan antara bagian-bagian yang terputus itu diselipkan bunyi-bunyi tertentu yang sangat mengganggu penangkapan pendengar, misalnya menyelipkan bunyi ee, oo, aa, dan sebagainya. Sebaliknya, pembicara yang terlalu cepat berbicara juga menyulitkan pendengar menangkap pokok pembicarannya. Aspek lainnya yang dinilai didalam berbicara terdiri atas aspek kebahasaan dan non kebahasaan. Aspek kebahasaan terdiri atas ucapan atau lafal, tekanan kata, nada, dan irama persendian, koskata atau ungkapan dan versi kalimat atau struktur kalimat. Aspek non kebahasaan terdiri dari kelancaran penguasaan materi, keberanian, keramahan, ketertiban semangat dan sikap. Dari pendapat di atas penilaian dapat dilakukan dengan melihat struktur kalimat, pilihan kata, intonasi, dan kelancaran.
Skala penilaian ini dapat dipergunakan untuk penilaian individual maupun kelompok. Tidak semua item penilaian harus diisi sekaligus. Guru dapat menyederhanakan daftar item tersebut atau menentukan item-item mana yang hendak dinilai dalam suatu kegiatan.
Nurgiyantoro (2010:282) mengatakan bahwa untuk dapat melakukan kegiatan berkomunikasi dengan bahasa, diperlukan penguasaan kosa kata dalam jumlah yang memadai. Penguasaan kosakata yang lebih banyak memungkinkan kita untuk menerima dan menyampaikan informasi yang lebih luas dan kompleks. Ada beberapa aspek yang dijadikan sebagai patokan penilaian dalam penguasaan kosakata, yaitu diantaranya harus mempertimbangkan masalah berikut:
(1) pemilihan bahan yang diujikan untuk tes kosakata. Pemilihan bahan untuk tes kosakata terdapat beberapa hal yang hendaknya dipertimbangkan diantaranya:
(a) segi tingkat dan jenis sekolah, isi kurikulum, buku pelajaran, tujuan tes, dan status bahasa yang diajarkan;
(b) bentuk tingkat kesulitan disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik. Tingkat kesulitan kosakata ditentukan bedasarkan kekerapan pemakaian;
(c) kosakata pasif dan aktif. Kosakata pasif adalah kosakata untuk penguasaan reseptif, kosakata yang hanya untuk dipahami dan tidak untuk dipergunakan, sedangkan kosakata aktif adalah kosa kata untuk penguasaan produktif, kosakata yang dipergunakan untuk menghasilkan bahasa dalam kegiatan berkomunikasi;
(d) kosakata umum, khusus, dan ungkapan. Kosakata umum adalah kosakata yang ada dalam suatu bahasa yang bukan merupakan istilah-istilah teknis atau kosakata khusus yang dijumpai dalam berbagai bidang keilmuan. Tes kemampuan kosakata pada umumnya diambil dari kosakata umum. Tes kosakata juga harus mempertimbangkan adanya kata yang bermakna denotative dan konotatif, atau ungkapan-ungkapan.
(2) Pembuatan tes kosakata.
Penyusunan tes kompetensi kosakata sebaiknya diusahakan melibatkan teks atau konteks karena penggunaan bahasa yang sesungguhnya selalu berada dalam konteks. Tes kompetensi kosakata dapat disiasati agar mendekati tes otentik, yaitu dengan cara meminta peserta didik untuk mengidentifikasi dan membetulkan kesalahan-kesalahan dalam sebuah wacana yang sengaja dibuat mengandung sejumlah kesalahan (Nurgiyantoro 2010:338-349).