• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Resiliensi

2. Aspek-aspek Resiliensi

Mengacu pada teori Connor dan Davidson (2003) mengungkapkan terdapat 5 aspek resiliensi, yaitu:

a. Kompetensi pribadi

Keyakinan terhadap diri terkait kemampuan dalam menentukan dan mencapai tujuan, serta memiliki kepercayaan diri. Seseorang yang resilien tidak mudah bimbang dan percaya bahwa dirinya mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.

b. Kepercayaan seseorang terhadap insting

Berpikir realistis dan pengalaman sukses di masa lalu memberikan motivasi untuk bertahan dalam menghadapi tekanan. Seseorang yang resilien mampu belajar dari pengalaman maupun situasi yang dia lihat sehingga hal tersebut menjadi pembalajaran bagi dirinya.

c. Penerimaan diri yang positif dan hubungan dengan orang lain

Memiliki dukungan sosial dan mendapatkan kasih sayang dari orang lain. Mampu menerima dengan baik dampak negatif dari suatu permasalahan sehingga hal tersebut berpengaruh terhadap

penerimaan dirinya. Serta mampu melihat suatu permasalahan dari sisi humoris. Seseorang yang resilien mampu menghadapi permasalahan yang terjadi dan mengubahnya menjadi penerimaan diri yang positif serta mampu menjaga hubungannya dengan orang lain tetap baik.

d. Kontrol

Kemampuan mengubah stres sebagai sebuah tantangan, tidak mudah menyerah meskipun peluang yang dimiliki sangat kecil, serta mengenali batas kontrol diri. Seseorang yang resilien mampu mengendalikan emosi dengan baik sehingga tidak mudah stres ketika dihadapkan pada suatu permasalahan serta mampu menyelesaikan dan mampu mengambil hikmah dari permasalahan tersebut.

e. Kepercayaan seseorang pada Tuhan atau takdir

Percaya bahwa iman atau takdir memiliki andil yang besar terhadap hidup seseorang. Hal tersebut membuat seseorang lebih mampu menghadapi dan menerima setiap permasalahan yang dialaminya.

Revich dan Shatte (2002) mengungkapkan ada 6 aspek resiliensi, yaitu:

a. Regulasi emosi

Kemampuan untuk tetap tenang dibawah tekanan. Individu yang memiliki kemampuan regulasi emosi dapat mengendalikan dirinya apabila sedang kesal dan dapat mengatasi cemas, sedih, marah sehingga dapat mempercepat penyelesaian masalah.

b. Optimisme

Individu yang resilien adalah individu yang optimis. Mereka memiliki harapan di masa sepan dan percaya bahwa mereka dapat mengontrol arah harapan di masa depan.

c. Empati

Empati menunjukkan kemampuan individu untuk membaca tanda-tanda kondisi dan psikologis orang lain. oleh karena itu, individu yang memiliki kemampuan resiliensi yang tinggi juga memiliki hubungan yang positif dengan orang lain.

d. Analisis penyebab masalah

Kemampuan individu secara akurat untuk mengidentifikasi penyebab masalah yang terjadi. Sehingga mereka tidak mengalami kesulitan dalam menerima perubahan situasi dan tidak kehilangan harapan.

e. Efikasi diri

Kemampuan diri untuk menghadi dan memecahkan masalah dengan efektif. Yakin bahwa dirinya akan berhasil dan sukses.

f. Peningkatan aspek positif (reaching out)

Individu mampu membedakan resiko yang realistis dan tidak realistis serta memiliki makna dan tujuan hidup serta mampu melihat gambaran besar dari kehidupan.

Berdasarkan pemaparan tersebut dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek resiliensi meliputi: kompetensi pribadi, kepercayaan seseorang terhadap insting, penerimaan diri yang positif dan hubungan dengan orang lain, kontrol dan kepercayaan seseorang pada Tuhan dan takdir.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Resiliensi

Menurut Reivich dan Shatte (2002), terdapat tiga faktor yang mempengaruhi resiliensi, yaitu: a) dukungan eksternal seperti keluarga, teman dan lingkungan sosial; b) dukungan internal seperti kepercayaan pada diri sendiri, locus of control; c) dukungan sosial yaitu kemampuan berkomunikasi dan problem solving.

Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa kemampuan resiliensi seseorang juga dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.

Dimana dalam faktor internal individu memiliki kepercayaan bahwa dirinya mampu menghadapi permasalahan yang tengah dihadapinya. Sedangkan pada faktor eksternal, dukungan dari orang-orang sekitar mampu menguatkan individu dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Seseorang yang resilien memiliki kepercayaan diri dan kemampuan bersosialisasi yang baik sehingga hal tersebut menjadikan individu tersebut menjadi lebih positif dalam menghadapi permasalahan.

B. Kebersyukuran 1. Pengertian Kebersyukuran

Syukur merupakan kata dasar dari kebersyukuran yang dalam KBBI berarti rasa terimakasih kepada Allah atau ucapan terimakasih.

Sedangkan menurut pengertian bahasa artinya mengakui kebajikan.

Emmons dan McClullough (2003) menyatakan bahwa kebersyukuran merupakan konseptualisasi emosi, sikap, kebaikan moral, kebiasaan, kepribadian dan respon individu dalam menghadapi kesulitan.

McClullough, Kilpatrick, Emmons dan Larson (2001)

mengkonseptualisasikan bahwa syukur mempengaruhi moral seseorang karena hal tersebut merangsang perilaku yang dimotivasi oleh kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain.

Emmons (Konig & Gluck, 2013) menyatakan bahwa kebersyukuran merupakan respon emosi positif terhadap kebaikan hati yang diberikan oleh orang lain. Wood, Joseph dan Linley (2007) mengungkapkan bahwa kebersyukuran merupakan coping positif yang mengurangi stress, akan tetapi hal tersebut juga tergantung seberapa kuat karakter individu dan situasi yang sedang dialaminya. Syukur berkorelasi positif dengan dukungan sosial emosional, reinterpretasi positif, dan perencanaan.

Sebaliknya, syukur berkorelasi negatif dengan perilaku menyalahkan diri sendiri dan perilaku negatif lainnya seperti mengkonsumsi narkoba.

Berdasarkan pemaparan tersebut, peneliti mengacu pada pendapat Emmons dan McCullough (2003) dapat dismpulkan bahwa kebersyukuran merupakan konseptualisasi emosi serta respon individu dalam menghadapi kesulitan dan kebaikan yang diterima dari orang lain.

2. Aspek-Aspek Kebersyukuran

Aspek-aspek gratitude atau kebersyukuran menurut McCullough, Emmons dan Tsang (2002) adalah sebagai berikut:

a. Intensitas (Intensity), seseorang yang mengalami peristiwa atau pengalaman positif sehingga mengungkapkannya dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Contohnya adalah mengucapkan terimakasih.

b. Frekuensi (Frequency), seseorang yang memiliki kecenderungan bersyukur akan merasakan banyak perasaan bersyukur setiap harinya. Bersukur terhadap hal-hal yang didapatkan bahkan untuk kebaikan yang sangat sederhana. Kalau dalam Islam contohnya adalah dengan berdzikir.

c. Span, merupakan jumlah dari peristiwa-peristiwa kehidupan yang membuat seseorang merasa bersyukur, misalnya bersyukur karena sekolah, keluarga, lingkungan, dan lain sebagainya.

d. Density, seseorang yang merasa bersyukur diharapkan mampu menuliskan lebih banyak daftar nama orang-orang yang membuatnya bersyukur

Watkins dkk (2003) menyebutkan bahwa syukur terdiri dari empat aspek:

a. Orang bersyukur memiliki perasaan berkelimpahan (sense of abundance)

b. Individu bersyukur mengapresiasi kontribusi orang lain untuk kesejahteraan mereka

c. Individu bersyukur menghargai kesenangan sederhana (simple pleasure) dalam hidup yang tersedia bagi kebanyakan orang

d. Individu bersyukur menyadari pentingnya mengalami dan mengapresiasikan rasa terima kasih.

Berdasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek kebersyukuran meliputi : intensitas, frekuensi, span dan density.

C. Penyakit Kanker

Shryock (1981) mengungkapkan bahwa kanker merupakan tumor yang mengancam manusia. Sedangkan tumor ialah pembesaran sebagian tubuh secara abnormal. Tumor terbagi menjadi dua macam, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Pada tumor ganas, sel-sel tumor terus berkembang biak dan tidak dapat dkendalikan. Sedangkan rumah sakit Dharmais mengungkapkan bahwa kanker merupakan istilah yang digunakan untuk penyakit di mana sel-sel abnormal membelah tanpa kontrol dan mampu menyerang jaringan lain. Sel-sel kanker dapat menyebar ke bagian lain dari tubuh melalui darah dan sistem limfe.

Nozari (2013) juga menyatakan bahwa kanker berkorelasi positif dengan gaya hidup tidak sehat.

Kanker bukan hanya satu penyakit tapi banyak penyakit. Ada lebih dari 100 berbagai jenis kanker. Sebagian besar kanker diberi nama untuk organ atau jenis sel di mana mereka mulai - misalnya, kanker yang dimulai di usus besar disebut kanker usus besar; kanker yang berawal di sel-sel basal kulit disebut karsinoma sel basal. Kanker dikelompokkan kedalam beberapa kategori yaitu :

1. Carcinoma - kanker yang dimulai di kulit atau pada jaringan yang mencakup garis atau organ internal.

2. Sarcoma - kanker yang dimulai di tulang, tulang rawan, lemak, otot, pembuluh darah, atau lainnya atau mendukung jaringan penghubung.

3. Leukemia - kanker yang dimulai di jaringan pembentuk darah seperti sumsum tulang dan menyebabkan sejumlah besar sel darah abnormal diproduksi dan masukkan darah.

4. Lymphoma and myeloma – kanker yang dimulai di sel-sel system kekebalan tubuh.

5. Central nervous system cancers - kanker yang dimulai di jaringan otak dan sumsum tulang belakang.

D. Hubungan antara Kebersyukuran dan Resiliensi pada Penderita Kanker

Sehat merupakan kondisi dambaan setiap orang karena seseorang yang sehat secara fisik maupun psikis dapat melakukan segala aktivitas dengan baik dan bahkan lebih produktif. Akan tetapi tidak semua orang selalu mendapatkan nikmat kesehatan. Pola hidup yang tidak teratur dan bersih dapat memicu penyakit. Bahkan saat ini banyak individu yang sebelumnya sehat tetapi tiba-tiba sakit. Kondisi tersebut tentu saja menimbulkan rasa tidak nyaman dan berpengaruh terhadap aktivitas yang dilakukan sehingga dibutuhkan kemampuan dalam menyikapi hal tersebut.

Penderita kanker tidak hanya merasakan sakit secara fisik tetapi juga harus mengalami masa-masa sulit secara psikis. Perubahan fisik yang terjadi akibat munculnya benjolan pada bagian tubuh tertentu, turunya berat badan, rambut rontok dan lamanya proses pengobatan yang dijalani. Berbagai upaya penyembuhan pun dijalani dan dibutuhkan kesabaran, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan atau kondisi baru dan juga bertahan dalam situasi sulit. Oleh karena itu kemampuan bersyukur sangat dibutuhkan dalam menjalani proses yang panjang tersebut.

Nozari dan Dousti (2013) mengungkapkan bahwa perasaan stres maupun sedih dapat menurunkan kualitas hidup dengan begitu dapat memacu penyebaran sel kanker. Berdasarkan hal tersebut, perasaan berkelimpahan atau rasa syukur sangat diperlukan oleh penderita kanker.

Seseorang yang memiliki kemampuan bersyukur yang baik dapat memberikan respon positif terhadap permasalahan yang sedang dihadapinya termasuk rasa sakit sehingga mampu menghambat penyebaran sel kanker. Perasaan berkelimpahan merupakan rasa syukur atas segala yang dimiliki sehingga pasien menyadari segala karunia yang telah diberikan Tuhan untuknya. Hal tersebut membentuk pengalaman positif sehingga pasien lebih intens dalam bersyukur (intensity). Rasa syukur menjadikan pasien lebih positif dalam menghadapi permasalahan yaitu mampu mengubah pemikiran negatif menjadi positif sehingga menjadi resilien.

Selain itu Mehnert dan Koch (Nozari, 2013) mengungkapkan hasil penelitian yang telah dilakukannya, bahwa penghargaan terhadap hal-hal kecil yang dimiliki atau kesenangan sederhana memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan. Penghargaan terhadap hal-hal kecil tersebut bisa diperoleh melalui rasa syukur secara terus-menerus (frequency). Seseorang yang memiliki kemampuan bersyukur yang baik mampu menerima segala permasalahan yang menimpanya sehingga mudah beradaptasi terhadap perubahan. Hal tersebut menjadikan seseorang lebih resilien.

Selanjutnya Wagnan (Dewi dkk, 2004) mengungkapkan bahwa kemoterapi dapat menimbulkan efek racun seperti rasa mual, kerontokan

rambut, dan keletihan. Reaksi psikis positif yang dapat muncul yaitu dapat meningkatkan penyesuaian diri pada diri penderita. Reaksi psikis negatif yang dapat muncul yaitu perubahan suasana hati (lebih emosional), stres, depresi. lingkungan keluarga, sekolah, maupun tempat kerja. Oleh karena itu dukungan dari keluarga, teman maupun lingkungan sangat dibutuhkan. Peristiwa yang dialami dan dukungan yang didapatkan membuat individu merasa bersyukur (span). Dukungan yang di dapat menjadikan individu lebih positif baik dalam bersosialisasi maupun memandang permasalahan sehingga mampu mengontrol diri dari hal-hal yang tidak menyenangkan dan menjadikannya resilien.

Aini (2015) dalam penelitiannya tentang ketahanan psikologis pada perempuan penderita kanker payudara mengungkapkan bahwa mengatasi dampak yang dialami dengan berbagai cara, yakni dengan menjadikan anak sebagai motivasi, teman-teman senasib, paramedis dan juga dukungan dari suami. Partisipan mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat sehingga menjadi termotivasi dan mampu menuliskan banyak daftar nama orang-orang atau kejadian-kejadian yang membuatnya bersyukur (density). Hal tersebut berpengaruh terhadap individu sehingga mampu bangkit dari kegagalan, lebih positif memandang hidup dan resilien.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti berasumsi bahwa rasa syukur meningkatkan penerimaan diri terhadap individu dan lebih positif dalam menyikapi permasalahan yang dihadapinya. Penerimaan diri yang positif tersebut juga berdampak pada bagaimana individu bersosialisasi dengan

orang lain dan memperoleh dukungan, sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan adanya rasa syukur akan meningkatkan resiliensi individu.

E. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini ialah, terdapat hubungan positif antara resiliensi dan kebersyukuran pada pasien kanker. Semakin tinggi kebersyukuran pasien, maka semakin tinggi pula kemampuan resiliensi yang dimiliki. Begitupun sebaliknya, semakin rendah kebersyukuran pasien, semakin rendah pula kemampuan resiliensi pasien.

26

A. Identifikasi variable-Variabel Penelitian 1. Variabel Tergantung : Resiliensi

2. Variabel Bebas : Kebersyukuran

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Resiliensi

Connor dan Davidson (2003) menyatakan bahwa resiliensi merupakan kualitas pribadi yang memungkinkan seseorang untuk berkembang dalam kesengsaraan.. Berdasarkan keterangan tersebut resiliensi bukan hanya kemampuan individu bertahan dalam situasi yang sulit dan menekan, tetapi juga bagaimana individu tersebut menyikapi segala permasalahan yang dihadapinya sehingga dapat berkembang menjadi individu yang positif.

Individu yang memiliki tingkat resiliensi yang baik merasa percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki dan memiliki kemampuan bersosialisasi dan kontrol diri yang baik. Semakin tinggi skor resiliensi yang diperoleh, maka semakin tinggi pula tingkat resiliensi yang dimiliki.

2. Kebersyukuran

Emmons dan McClullough (2003) menyatakan bahwa kebersyukuran merupakan konseptualisasi emosi, sikap, kebaikan moral, kebiasaan, kepribadian dan respon individu dalam mengahadapi kesulitan. Hal tersebut akan diukur melalui skala

kebersyukuran yang mengacu pada tiga empat yang diungkapkan oleh McCullough (2002) yaitu intensitas, frekuensi, span dan density.

Semakin tinggi skor kebersyukuran yang diperoleh, maka semakin tinggi pula tingkat kebersyukuran yang dimiliki.

C. Subjek Penelitian

Responden dalam penelitian ini ialah pasien kanker yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, sedang menjalani pengobatan non-herbal, telah melakukan teksonomi dan kemoterapi, berusia diatas 20 tahun dan berdomisili di Yogyakarta. Pengobatan non-herbal dijadikan pertimbangan karena memiliki dampak terhadap kondisi fisik dan psikis penderita kanker.

D. Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adakah pengaruh kebersyukuran terhadap resiliensi pada pasien kanker. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan metode penelitian kuesioner. Subjek dikumpulkan dengan teknik purposive sampling, yakni pengambilan sampel yang dilakukan dengan sengaja memilih subjek yang sesuai tujuan penelitian (Purwanto, 2010).

1. Skala Resiliensi Tabel1

Blue Print Skala Resiliensi

Aspek No Aitem Jumlah

Favourable Kompetensi Pribadi 4, 10, 21, 23,

24, 25

6 Kepercayaan terhadap insting 5, 11, 15, 20, 5

Skala tersebut keseluruhan terdiri dari 25 aitem favourable. Skala resiliensi tersebut terbagi ke dalam lima alternatif jawaban, pemberian skor aitem favourable yaitu; skor 1 untuk sangat tidak setuju, skor 2 untuk tidak setuju, skor 3 untuk kadang-kadang, skor 4 untuk setuju dan skor 5 untuk sangat setuju.

2. Skala Kebersyukuran

Skala kebersyukuran pada penelitian ini diadaptasi dari gratitude questionnaire (McCullough, 2001) Skala kebersyukuran ini disusun berdasarkan empat aspek yaitu: intensitas, frekuensi, span dan density.

Tabel2

Blue Print Skala Kebersyukuran

Aspek No Aitem No Aitem Jumlah unfavourable, sehingga total keseluruhan aitem dalam skala

22

kebersyukuran ini adalah 6 aitem. Skala kebersyukuran tersebut terbagi kedalam tujuh alternatif jawaban.

Tabel3

Skoring aitem skala kebersyukuran

Pilihan jawaban Skoring Pilihan jawaban Skoring

Favourable Unfavourable

Sangat tidak setuju 1 Sangat setuju 7

Tidak setuju 2 Setuju 6

Sedikit tidak setuju 3 Sedikit setuju 5

Ragu-ragu 4 Ragu-ragu 4

Sedikit setuju 5 Sedikit tidak setuju 3

Setuju 6 Tidak setuju 2

Sangat setuju 7 Sangat tidak setuju 1

E. Validitas dan Reliabilitas

Alat ukur dinyatakan valid dan reliabel jika telah terstandardisasi.

Validitas ialah ketepatan dan kecermatan yang dimiliki oleh suatu alat ukur. Seleksi aitem untuk setiap skala dilakukan dengan memilih aitem yang memiliki indeks diskriminasi aitem lebih dari 0,30 (Azwar, 2013).

Reliabilitas adalah keajegan alat ukur dimana hal tersebut menjadi landasan sejauh mana alat tersebut dapat dipercaya. Hasi pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa pengukuran hasil yang didapatkan relatif sama dengan melihat koefisien reliabilitasnya (Azwar, 2009).

Reliabilitas skala diuji dengan menggunakan tekhnik Alpha Cronbach’s. suatu alat dikatakan reliabel apabila koefisien reabilitasnya berkisar mulai 0 sampai dengan 1,00. Koefisien reabilitas dikatakan semakin tinggi jika angkanya mendekati 1,00 yang berarti pengukuran semakin reliabel. Namun dalam kenyataan pengukuran psikologi koefisien sempurna yang mencapai angka koefisien reliabilitas 1,00

belum pernah dijumpai (Azwar, 2013). Uji reliabilitas menggunakan SPSS 16.0 for windows.

F. Metode Analisa Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi menggunakan Product Moment Pearson yang bertujuan untuk mengungkapkan korelasi antara dua variabel penelitian. Seluruh perhitungan dilakukan menggunakan aplikasi SPSS 16.0 for windows.

31

A. Orientasi Kancah dan Persiapan Penelitian 1. Orientasi Kancah

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kebersyukuran terhadap resiliensi pada penderita kanker. Responden berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta dan pengambilan data dilakukan dia dua tempat, yaitu rumah sakit XX Yogyakarta dan Rumah Singgah XY yang terletak di Kabupaten Bantul, DIY.

Rumah sakit XX memiliki poli penyakit dalam (haematologist) yang khusus melayani keluhan penyakit dalam terutama kanker. Pertimbangan yang diambil dalam pemilihan lokasi penelitian ialah banyaknya pasien kanker yang berobat di XX dan mudahnya proses perizinan penelitian.

Praktek poli haematologist dilakukan setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu mulai pukul 10.00 sampai 12.00 WIB, namun antrian pasien sudah ada sejak pagi sehingga pengambilan data tidak mengganggu proses pengobatan responden.

Rumah Singgah XY merupakan yayasan yang mengelola sedekah untuk membantu kaum dhuafa dan terdapat beberapa RSXY yang tersebar di beberapa kota di Indonesia, salah satunya adalah Yogyakarta yang sampai saat ini aktif dalam penyaluran bantuan di berbagai bidang, seperti bidang pendidikan dan kesehatan. Bidang pendidikan meliputi biaya sekolah untuk yatim dan dhuafa dan pembangunan pondok pesantren. Penyaluran

sedekah pada bidang kesehatan ialah pada dhuafa yang menderita penyakit kronis, salah satunya adalah kanker.

RSXY juga menyediakan tempat tinggal sementara selama penderita menjalani pengobatan serta fasilitas kurir antar-jemput ke rumah sakit yang dirujuk. Kurir maupun semua relawan yang ada di RSXY tidak ada yang di gaji, semuanya dilakukan secara cuma-cuma atas dasar kemanusiaan. Saat ini terdapat sekitar 10 pasien yang tinggal di RSXY Yogyakarta dan sedang menjalani pengobatan, waktunya pun tidak dibatasi, ada yang telah tinggal selama 2-10 bulan bahkan lebih. Selain itu, pasien yang di RSXY terbagi menjadi dua, pasien yang memang tinggal di RSXY selama menjalani pengobatan dan ada yang rawat jalan atau hanya singgah selama satu sampai tiga hari untuk melakukan check up maupun kemoterapi. Pasien rawat jalan akan dijemput dikediamannya dan diantar ke rumah sakit.

Dikarenakan terbatasnya tenaga maupun peralatan medis, setidaknya pasien akan memakan waktu dua sampai tiga hari dalam proses pengobatan sehingga malamnya akan menginap di RSXY.

Selain itu RSXY juga memberikan bantuan pada bidang kemanusiaan lainnya. Sasarannya ialah pembangunan masjid, bantuan berupa kebutuhan alat ibadah (Qur’an, sarung dan mukena), janda-janda dhuafa, panti asuhan anak-anak cacat, panti asuhan bayi terlantar dan panti asuhan yantim piatu. Lingkungan yang peduli terhadap sesama membuat responden di RSXY mudah untuk bekerjasama dalam pengambilan data sehingga hal tersebut menjadi pertimbangan lokasi penelitian yang dilakukan.

2. Persiapan Penelitian

Agar pengambilan data dapat dilakukan dengan lancar, maka perlu adanya persiapan yang matang. Persiapan yang dilakukan antara lain ialah administrasi dan persiapan alat ukur.

a) Persiapan Administrasi

Persiapan administrasi diawali dengan mengajukan surat permohonan izin penelitian yang dikeluarkan oleh Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial budaya, Universitas Islam Indonesia kepada kepala rumah sakit XX Yogyakarta dan juga koordinator rumah singgah Sedekah Rombongan. Peneliti juga menyiapkan informed consent atau surat persetujuan untuk diisi dan disetujui oleh setiap responden sebelum menjadi subjek dalam penelitian.

b) Persiapan Alat Ukur

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala resiliensi Connor dan Davidson (CD-RISC) dan skala kebersyukuran McCullough. Pengukuran dilakukan dengan tryout terpakai. Skala CD-RISC terdiri dari 25 aitem, sedangkan skala kuesioner kebersyukuran terdiri dari 6 aitem.

Pada kedua alat ukur tersebut, peneliti mengadaptasi dari alat ukur yang telah ada. Adaptasi alat ukur dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu:

1) Menerjemahkan dari bahasa asli (Inggris) ke Bahasa Indonesia.

2) Melakukan revisi bila ada terjemahan yang tidak sesuai maknanya.

3) Setelah melakukan revisi, dilakukan pengecekan ulang kembali untuk melihat keseluruhan skala.

B. Laporan Pelaksanaan Penelitian

Pengambilan data di rumah singgah Sedekah Rombongan dimulai pada tanggal 15 April 2016 dan pelaksanaannya diperkirakan selama dua bulan. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar pasien SR adalah rawat jalan sehingga baru satu bulan sekali singgah ke SR dan itupun saat akan melakukan check up bulanan. Peneliti harus menghapalkan tanggal-tanggal pasien yang akan melakukan check up. Tidak sampai disitu, peneliti harus memperhatikan kondisi pasien sebagai bahan pertimbangan sebelum melakukan pengambilan data. Pengambil data yang dilakukan tidak selalu lancar, hal tersebut tergantung pada kondisi pasien, beberapa pasien menolak menjadi responden karena sedang tidak dalam keadaan yang baik.

Pengambilan data kedua ialah di rumah sakit XX, akan tetapi memerlukan proses administrasi yang cukup panjang. Pada tanggal 13 Mei 2016 peneliti memasukkan surat izin penelitian, dan baru pada tanggal 13 Juli 2016 bagian personalia XX mengkonfirmasikan izin pengambilan data. Karena adanya libur lebaran, peneliti baru mulai melakukan penelitian mulai tanggal 27 Juli 2016 sampai tanggal 9 Agustus 2016. Dibandingkan dengan SR, pengambilan data di XX dapat dikatakan sangat cepat apabila mengabaikan proses administrasi yang memakan waktu sampai dua bulan. Pasien kanker di XX cukup banyak, sehingga dalam sehari bisa mendapatkan tiga sampai delapan

Pengambilan data kedua ialah di rumah sakit XX, akan tetapi memerlukan proses administrasi yang cukup panjang. Pada tanggal 13 Mei 2016 peneliti memasukkan surat izin penelitian, dan baru pada tanggal 13 Juli 2016 bagian personalia XX mengkonfirmasikan izin pengambilan data. Karena adanya libur lebaran, peneliti baru mulai melakukan penelitian mulai tanggal 27 Juli 2016 sampai tanggal 9 Agustus 2016. Dibandingkan dengan SR, pengambilan data di XX dapat dikatakan sangat cepat apabila mengabaikan proses administrasi yang memakan waktu sampai dua bulan. Pasien kanker di XX cukup banyak, sehingga dalam sehari bisa mendapatkan tiga sampai delapan

Dokumen terkait